change your heart, look around you
change your heart, it will astound you
i need you loving like the sunshine
and everybody’s gotta learn sometime
and everybody’s gotta learn sometime

Awal Juli 2008 ini aku mengunjungi Pesta Buku Jakarta yang diselenggarakan oleh IKAPI. Tepatnya hingga 4 kali. Waw! Emangnya hobi banget ya? Nggak juga si. Ato ngecengin orang? Wah, nggak banget. Kalo taun lalu sih aku inget banget aku berulang kali datang ke pameran buku ikapi, beberapa kali hingga malam hari menjelang pameran tutup. Tapi waktu itu kan cintaku masih bekerja di satu penerbitan yg ikut serta dalam pameran, dan dia dapat giliran menjaga stand jadi wajarlah bila aku menyempatkan diri untuk datang berkali-kali. Kali ini tak ada lagi alasan seperti itu. Lalu kenapa sampai 4 kali? Nggak tau juga ya. Yang pasti 2 kali di antaranya aku membeli buku seri ‘Little House’ karya Laura Ingalls. Sebetulnya, terus terang aja, aku malah merasa asing berada di pameran itu. Antara prihatin, mual, dan sedikit waswas. Banyak banget buku-buku tentang nilai-nilai hidup, ‘panduan menjalani hidup yang benar dan sukses’. Tapi aku tak terlalu peduli pada semua itu. Yang agak mengganggu adalah buku-buku tentang pandangan hidup yang menyerang pandangan hidup orang lain. Oh ya, memang, semua orang berhak menyatakan pendapatnya, termasuk untuk menyanggah atau bahkan memaki. Cuman, cara-cara beberapa orang dalam memaknai kebebasan sepertinya berpotensi untuk menyakiti pihak tertentu. Kalau memang kau meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa pandangan hidup yang kau anut adalah kebenaran yang hakiki, bisikan dari surga, masih perlukah menjelek-jelekkan, mencari-cari kesalahan dari pandangan hidup yang berbeda dari yang kau percaya? Bukankah kalau memang semua pandangan hidup di luar apa yang kau yakini itu salah, maka dengan sendirinya keyakinan-keyakinan yang salah itu akan mati baik secara cepat ataupun perlahan. Nggak habis pikir deh apa yang ada di benak penulis-penulis buku semacam itu. Bukannya daripada bertengkar tentang satu hak yang amat privat dari manusia ini lebih baik membahas atau menyerang para koruptor brengsek yang menggerogoti bangsa? Tapi bagaimanapun orang punya haknya untuk menyatakan pendapatnya, meskipun itu berarti menyerang orang lain sekalipun. Yayaya. Untuk ini memang susah berargumen. Paling tidak masih ada beberapa stan masih menampilkan buku-buku yang sedikit menyejukkan, mendamaikan daripada menceraikan, nggak menyerang tapi lebih berinstrospeksi pada diri sendiri. Yah, masih cukup menghibur.

Yang jelas, aku tak tahu kenapa aku terpaku melihat display buku berjudul ‘ketika menikah jadi pilihan’. Sebenarnya aku tak terlalu peduli apapun isinya yang bagiku tak ada hubungan apapun denganku. Terserah apa kata orang-orang, apa pilihan hidup mereka, walau aku terus terang memang benci dengan orang-orang yang merasa dirinya paling benar-paling sempurna lalu menghasut orang lain untuk mengikuti jalannya. Mungkin yang tergambar dalam benakku ketika melihat buku itu hanyalah sosok mr.D2. Sekali lagi tertayang drama yang dulu pernah dimainkan sekitar 5 tahun lalu. Hanya, kini seharusnya tak sepahit dulu karena aku tahu pasti aku tak punya satu dasar pun untuk berharap, kecuali satu rasa ketergantungan yang lemah. Hal ini sangat lemah untuk menjadi dasar suatu hubungan macam apapun apalagi sebuah persahabatan yang sejati. Yah, aku tahu itu. Aku belum bisa mengerti dengan diriku sendiri yang masih mengharapkan hubungan persahabatan dengannya. Aku sudah memaki-makinya di blog. Aku menghela napas panjang saat dia menelpon malan-malam sekedar untuk menanyakan sesuatu yang baru akan terjadi keesokan harinya. Aku menggebrak mouse-ku saat terkejut pada buzzes-nya di ym. Aku nggak tau kenapa.

Lalu ada satu lagi buku lagi yang membuatku tertohok : ‘Cinta terlarang’. Dari judulnya pun pasti udah bisa menerka apa isinya. Tapi bukan cuman itu. Sinopsis ceritanya bener-bener menggambarkan kepahitan itu. Duh! Sempat tergoda ingin membeli buku ini, tapi setelah dipikir lagi buat apa. Toh cerita hidupku pun tak kalah tragisnya dengan apa yang dikisahkan di buku itu. Buat apa membaca tulisan orang tentang rasa sakit itu lagi?

Jadi pesta buku tahun ini sepertinya lebih banyak membangkitkan kenangan-kenangan sedih yang meremas-remas hati. Bayangan-bayangan indah dari pameran IKAPI tahun lalu sepertinya sudah tak membekas. Salah seorang pelakunya pun telah menolak untuk mengingat-ngingat memori yang hanya bisa dirasakan berdua. Aku lebih banyak merenung sendirian di bangku penonton stadium istora, menyaksikan orang lalu lalang berbelanja buku, iri pada keceriaan mereka yang dibagi dengan seseorang atau teman-teman.

the wheels of life keep turning
spinning without control
the wheels of the heart
keep yearning
for the sound of the singing soul
and nights are full with weeping
for sins of the past we’ve sown
but, tomorrow is ours for the keeping
tomorrow the future’s shown

lift your eyes and see the glory
where the circle of life is drawn
see the never ending story
come with me to the gates of dawn

and whose is the hand who raises
the sun from the heaving sea?
the power that ever amazes
we look, but never will see
who scaterred the seeds so life could be?
who coloured the fields of corn?
who formed the mould that made me
before the world was born?

lift your eyes and see the glory
where the circle of life is drawn
see the never ending story
come with me to the gates of dawn

(’gates of dawn’ by Secret Garden)

I gave you all the love I got
I gave you more than I could give
I gave you love
I gave you all that I have inside
And you took my love
You took my love
Didn’t I tell you
What I believe
Somebody say that
A love like that won’t last
Didn’t I give you
All that I’ve got to give baby
I gave you all the love I got
I gave you more than I could give
I gave you love
I gave you all that I have inside
And you took my love
You took my love
I keep crying
I keep trying for you
There’s nothing like you and I baby
This is no ordinary love
No ordinary love
This is no ordinary love
No ordinary love
When you came my way
You brightened every day
With your sweet smile
Didn’t I tell you
What I believe
Did somebody say that
A love like that won’t last
Didn’t I give you
All that I’ve got to give baby
This is no ordinary love
No ordinary love
This is no ordinary love
No ordinary love
I keep crying
I keep trying for you
There’s nothing like you and I baby
This is no ordinary love
No ordinary love
This is no ordinary love
No ordinary love
Keep trying for you
Keep crying for you
Keep flying for you
Keep flying I’m falling
I’m falling
Keep trying for you
Keep crying for you
Keep flying for you
Keep flying and I’m falling
and I’m falling

(’no ordinary love’ by Sade)

Hasil Perhitungan
Hari Lahir : Selasa
Tanggal Lahir : 02 February 1982
Zodiak : Aquarius
Shio : Anjing
Unsur : Air

Ramalannya:

Menurut Hari Lahir (Selasa)
Mudah terpengaruh, tidak mempunyai pendirian tetap, gampang naik darah, tidak sabaran dan selalu mau menang sendiri.

(kayaknya udah tau mana yang emang bener dan udah terbukti…hihihihi)

Menurut Tanggal Lahir (tanggal 2)
Anda sangat emosional dan sensitif terhadap sekitar Anda. Walaupun kadang-kadang gugup dan pelupa, Anda mudah sekali berteman dan mereka menyukai Anda. Anda memiliki sifat yang hangat dan membutuhkan kasih sayang yang ditunjukkan secara nyata. Dengan kata lain, Anda suka dengan orang yang “berepot-repot” untuk Anda. Penting bagi Anda untuk menghindari perubahan suasana hati dan segala sesuatu yang membuat Anda depresi. Meskipun Anda menyukai benda-benda materi, Anda tidak selalu bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Bakat ritmis Anda bisa diwujudkan dalam menulis puisi atau musik.

(soal emosional n sensi itu juga dah terbukti…dia bisa ngerasain hawa negatif dari mr.J sekecil apapun meski di luar dia berusaha cuek….. soal butuh kasih sayang dan perhatian yang nyata juga bueners banget…hahaha…ampe binun mau ketawa apa nangis baca ramalan ini….)

Menurut Bulan Lahir (bulan Februari)
Mempunyai hati yang tulus, Perasaannya peka dan mudah tersinggung, Senang dipuji dan selalu menuruti apa yang diinginkannya, Suka humor dan hormat pada siapa saja, Keras hati dan mempunyai pendirian tetap, Agak pemalas dan suka mengingkari janji

(yang bagian ini gak terlalu jelas ya…kurang nyata mungkin….atau akunya aja yang gak peka?? kalo bagian mudah tersinggungnya dan peka si emang benerssss…)

Menurut Zodiak (Aquarius)

Nomor Keberuntungan: 8, 14, 29, 35, 40, 47
Aroma Keberuntungan: Lavender, Lemon, Kayu Pinus
Planet Yang Mengitari: Uranus

Bunga Keberuntungan: Bunga Narsis, Bunga Pansy
Warna Keberuntungan: Hijau, Kuning Muda
Batu Keberuntungan: Batu Permata Berwarna Hijau Lumut
Elemen Keberuntungan: Udara

Pasangan Serasi: Leo

(too bad pasangan serasinya bukan Libra….hahahaha…)


Para Aquarius bersifat progresif, inovatif dan penuh gagasan.

(masa sih? menurutku kok terlau manutan ya? plin plan lagih…huh!)

Individu ini sangat progresif dalam cara berpikir, cenderung individualistik dan enggan mengikuti keramaian. Walaupun pada dasarnya mereka tidak antusias untuk menjadi pemimpin, beberapa diantaranya berhasil menjadi pemimpin. Sikapnya eksentrik, penuh keyakinan, namun keras kepala. Mereka cenderung bersikap adil. Dalam bekerja selalu penuh keseriusan, walaupun dari luar mereka nampak tenang, namun di dalam hatinya mereka sangat takut dan gugup.

(bagian ini sama sekali nggak cocok…kecuali gugupannya…soal eksentrik….hmmmm nggak banget..menurutku yang bener untuk dia : seorang pengikut sejati!)

Aquarius suka barang-barang mewah, namun tidak serakah. Mereka tidak menyukai adat istiadat dan peraturan-peraturan kuno dalam keluarganya dan cenderung melanggar peraturan. Mereka suka mengikuti kata hatinya bila menyangkut masalah perasaan. Mereka cenderung menyakiti dirinya sendiri daripada menyakiti orang lain. Aquarius dapat menyelesaikan masalah karena mereka mampu keluar dari dilema. Mereka peduli pada hal-hal besar dan sangat manusiawi. Aquarius pribadi yang senang menyendiri, perlu banyak waktu untuk mengenal mereka karena mereka hanya membuka diri pada orang yang mereka percaya, hormati dan cintai

(senang menyendiri??? oh my God!! nggak banget yaaaaa!! he just can’t survive alone!!!! not him!!!! tapi kalo soal hanya membuka diri ama orang tertentu si kayana emang bener….)

Asmara para Aquarius: Kaum Aquarius tertarik pada pasangan yang memiliki kepandaian. Mereka senang mencoba termasuk mencoba hal baru dalam hal percintaan dan romantisme. Kaum Aquarius kadnag bersikap dingin dan acuh namun dibalik semuanya itu dia sangat pasangan yang penuh kasih yang selalu mencoba hal baru dan lain dari yang biasanya.

(soal bergaya acuh di luar tapi penuh kasih di dalam gimana yaaaaaaa? ada benernya siiii….emang dia bukan tipe yang gampang menunjukkan perasaan siiii)

Menurut Shio (Anjing)
Jam Anjing: 19.00 - 20.59
Menurut leluhur Tionghoa, orang kelahiran tahun Anjing umumnya jujur, cerdas, dan terus-terang. Ia adalah manusia yang tidak sombong, yang memiliki naluri kemanusiaan yang amat mendalam. Rasa kesetiaannya dan kecenderungannya untuk memprioritaskan persamaan hak dan memperjuangkan keadilan membuatnya sangat populer, terutama di kalangan kaum lemah. Watak dasarnya ramah, rendah hati, dan tidak terlalu menuntut, dan semua ini membuat Anjing mudah bergaul dengan orang lain. Ia selalu bersedia kompromi dan dapat dipercaya untuk mengerjakan tugas-tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya.
Seperti juga kawannya yang manusiawi, Macan, maka Anjing juga jarang menunjukkan amarahnya secara pribadi kepada seseorang. Yang penting bagi Anjing adalah prinsip keadilan. Jika perbuatan Anda sampai melukai hatinya, perbuatan itulah yang akan ditunjukkan oleh dia, tanpa dembel-embeli maksud tidak baik, tanpa dendam atau iri hati. Kalau semuanya sudah selesai ditumpahkan dan perbaikan yang layak sudah dikerjakan, maka dia bisa saja berdamai lagi dengan Anda seolah tidak ada apa-apa.

(sampe sini belum bisa nyimpulin apa-apa…masih terlalu abstrak….kayaknyajuga gak terlalu masuk….)

Sekalipun dalam usia muda, anak Anjing sudah belajar untuk mencium mana orang yang baik dan mana orang yang jahat. Bahkan setiap warga Anjing, apakah dia sendiri mengakui atau tidak, cenderung membagi orang ke dalam dua kategori, yaitu “musuh” atau “teman”, hitam atau putih. Baginya, tak ada warna kelabu atau campuran antara kedua warna itu. Namun, sekalipun Anda berhasil memenangkan kepercayaannya, Anjing akan setia untuk selamanya. Walaupun kekayaan, kekuasaan, dan kesuksesan mungkin sangat berarti bagi orang lain, hal-hal tersebut tidak berarti apa-apa bagi Anjing bila tanpa kekasih, teman, atau keluarga yang bisa ikut menikmatinya.

(well, ya jelaslah secara dia amat tergantung ama orang laen…duduts)

Sangatlah beruntung orang yang kebetulan mempunyai teman bershio Anjing, sebab warga Anjing umumnya tidak tega mengabaikan suara teman memohon pertolongan.
Namun, adakalanya Anjing malah bisa melindungi kepentingan orang lain lebih daripada kepentingannya sendiri. Seperti binatang lambang shio ini, Anjing berpegang teguh pada orang yang dikasihinya, tak peduli betapa tidak bermutunya pun orang itu. Anjing yang setia lebih cenderung mempertahankan situasi yang sama tak peduli betapa tidak menyenangkannya daripada harus menghadapi sesuatu yang tidak dikenal dan harus mulai lagi dari nol. Dan seumpamanya dia terpaksa dengan hati yang berat untuk meninggalkan rumah, yaah, jangan salahkan dia. Tempat itu barangkali benar-benar menyedihkan baginya kalau dia sampai melakukan hal itu.
Tidak jarang Anjing sulit menyesuaikan diri terhadap perubahan. Meskipun penampilannya biasanya ramah dan riang, pada dasarnya dia adalah binatang yang pesimis.

(mungkin ya….??)

Situasi yang tidak terduga bisa membuatnya cemas tanpa sebab yang jelas. Oleh karena dia sering melihat sesuatu dari segi negatifnya, dia bisa mengundang kesulitan atau merusak kenikmatan yang sebenarnya dapat diperoleh dari hal itu. Kalau dia dapat belajar berpikir lebih positif, gangguannya biasanya sangat berkurang.
Secara umum, Anjing adalah manusia yang tidak materialistis dan tak menyenangi kemegahan. Kata-kata dan bahasa yang muluk-muluk malah mencurigakan baginya. Dia lebih suka pembicaraan maupun gaya hidup yang tidak dibuat-buat. Dan walaupun dia tidak begitu mempedulikan uang, namun umpamanya dia sedang membutuhkan, tak ada yang lebih lengkap sarananya untuk mendapatkan itu, selain dia. Sekalipun dia terlahir dalam keluarga pas-pasan, Anjing yang bermoral tinggi mampu meningkatkan statusnya dalam hidup atas upayanya sendiri tanpa berusaha menyembunyikan asal-usulnya.

(ah masa sih..kayana yang dipikirin cuman duit..duit..duit…just like almost everybody else…terlalu berlebihan..ngayal!!!)


Menurut Unsur (Air)
Mereka yang lahir pada tahun yang didominasi unsur Air mempunyai kemampuan besar untuk berkomunikasi dan melaksanakan ide-ide mereka justru dengan mempengaruhi orang lain untuk mewujudkannya. Pada dasarnya, mereka dikendalikan oleh perasaan dan akan mengekspresikannya sesuai dengan tingkatan yang dimungkinkan oleh shio mereka. Mereka berbakat dalam menentukan hal-hal yang akan menjadi penting dan mampu mengukur potensi-potensi masa depan dengan tepat. Mereka mencapai keinginannya dengan menunjukkan dan memanfaatkan bakat serta kemampuan orang lain. Meskipun demikian, pendekatan mereka tidak pernah membuat orang lain merasa telah dimanfaatkan.
“Sama seperti unsurnya, Air, mereka menyingkirkan penghalang terbesar dengan tenang disertai usaha yang terus-menerus. Mereka berbakat dalam membuat orang menginginkan apa yang ingin mereka capai — dengan kata lain, mendorong daripada memaksa orang untuk melakukan suatu tindakan.
Karena naluri mereka yang peka terhadap perasaan orang dan suasana lingkungan, mereka berubah-ubah seperti unsur yang mewakilinya. Salah satu sisi negatif adalah terlalu mudah terbawa lingkungan atau cenderung untuk memilih jalan termudah. Ciri terburuk mereka adalah dapat bersikap labil dan pasif atau terlalu menggantungkan diri pada orang lain. Agar dapat berhasil, mereka harus bersikap lebih meyakinkan dan menggunakan kemampuan persuasif mereka yang besar untuk mewujudkan ide-ide mereka. Orang lain semestinya bersedia mengikuti intuisi mereka.”

(dari yang ini yang ketangkep : mudah terbawa, labil, ketergantungan, suka jalan mudah…..)

Semua ramalan disini diambil dari situs penyedia jasa ramal arkana milik arcos del sol dan primbon.com, dimana segala hak cipta dari ramalan-ramalan tersebut adalah milik pembuatnya.

Lalu,
apakah dia lebih mudah untuk dicintai?
Nggg…rasanya si sama aja ya..
Tapi memang dia lebih penurut, tidak terlalu melawan.
Di tengah sikap kekanakan dan manjanya kadang muncul satu optimisme dan keceriaan yang bisa jadi sangat menghibur dan menguatkan, terutama di saat-saat depresi dan kesulitan.
Dan lagi, secara tak terduga memang ia bisa berubah menjadi sangat romantis dan sentimental.
Yang jelas sikapnya yang sering tergantung pada orang lain ini seperti mata uang yang mempunyai dua sisi : membuatnya menyebalkan karena mengganggu sekaligus membuatmu merasa dibutuhkan yang buntutnya mengarah ke rasa sayang.
Toh, sifat buruk dan sifat baiknya tetap selalu bergulat mencari keseimbangan, seperti kebanyakan manusia pada umumnya.
Tak ada manusia yang sempurna.

Pada satu waktu tertentu, mungkin memang dia terlihat lebih mudah untuk dicintai.
Nah, aku telah menjawab pertanyaanmu, kawanku. Meski aku harus meng-quote hasil ramalan sekedar untuk membantu menganalisa. Hehehe. Tapi toh lebih mudah dicintai bukan berarti lantas mencintainya…. itu perkara yang sama sekali lain

Untukmu sahabatku, dan untuk memuaskan keingintahuanku sendiri.

What would I give to live where you are?
What would I pay to stay here beside you?
What would I do to see you smiling at me?

Where would we walk?
Where would we run?
If we could stay all day in the sun
Just you and me, and I could be
Part of your world

I don’t know when, I don’t know how
But I know something’s starting right now
Watch and you’ll see, someday I’ll be
Part of your world

(’part of your world reprise’ from disney’s movie ‘the little mermaid’)

Siang hari, sesudah waktu sholat Jumat. Percakapan dunia virtual yang sempat terhenti dimulai kembali.
‘Cah, besok jadi cari tiket kereta nggak?’
‘Ya jadi lah. Harus!’
‘Ngg..sebenernya agak males pulang.’
‘Ah, payah kamu. Kamu harus pulang! Durhaka banget sih ama orang tua. Cuman nengokin gitu aja males!’
‘Tapi…’
‘Ayolah…’
‘Ya udah deh.’
‘Nah, gitu dong. Hehehe.’
‘Ah, kamu ini. Yang pengin banget pulang kan kamu….’

Jumat sekitar jam makan malam. Masih juga percakapan dunia virtual.
‘Nggak pulang, cah?’
‘Iya. Bentar lagi. Masi nunggu temen bentar.’
‘Oh.’

Jumat jam 22.43. Menunggu result show Indonesian Idol yang sepertinya tak kunjung diputar juga. Mungkin karena terpaksa menanti sambil menonton sinetron yang tak jelas juntrung ceritanya.
‘Aku tidur dulu ah. Ngantuk banget.’
‘Eh, besok jadi kan?’
‘Iya lah. Gimana si?’
‘Tapi aku besok pagi ke atm dulu ya? Nggak punya duit sama sekali nih.’
‘Ya sama lah. Aku juga besok ke atm dulu kok. Sekalian aja.’
‘Ok.’

Sabtu pagi menjelang jam 8.
‘Hoi! ………. Eh, si boss masih ada di sini. Tumben nggak lari pagi?’
Tak ada jawab. Yang diajak omong malah sibuk membereskan tempat tidur. Lalu ada dialog kilat lewat tatapan dua pasang mata sebelum ada pelarian ke area netral.
‘Gimana? Mau berangkat jam berapa? Aku mandi sekarang aja ya?’
‘Emang jam berapa sekarang?’
‘Jam 9an kayaknya.’
‘Masih jam setengah 9 kurang gitu. Ntaran lagi deh. Ngapain pagi-pagi banget. Tar kan gak bisa sekalian mampir-mampir kalo kepagian.’
‘Ya deh.’
Aroma tembakau terbakar segera merusak kesegaran pagi. Kesunyian hancur oleh obrolan tanpa ujung pangkal dan tawa-tawa yang terasa dangkal.
‘Duh, mahal banget ya tiket kereta sekarang? Lagi-lagi naek. Duduts banget nih pt kai.’
‘Apa sih yang nggak mahal sekarang? Apalagi tiket pesawat. Huaduh.’
‘Iya ya.’
‘Eh kamu kok bisa dapet daftar harga itu?’
‘Ya ngeprinnt donk. Kan tinggal buka website-na reservasi tiket. Pilih kereta ma jadwalnya, udah. Gitu aja kok.’
‘Iya tau. Yang kamu kirim alamat website-na kemaren siang itu kan? Aku dah liat sih cuman gak kepikir aja mau di print segala.’
‘Uh..tiket balik ke sininya lebih mahal sepuluh rebu daripada berangkatnya ke sana.’
‘Tiket balik ke sini?’
‘Iya? Napa? Kamu gimana? Mahal mana tiket balik atau berangkatnya?’
‘Aduh! Lupa! Aku nggak liat harga tiket balik sininya!’
‘Ya ampyun! Bayi banget sih kamu! Nih cepetan buka sitena pake hape aku ajah!’
Sunyi beberapa saat dengan sibuknya satu orang memandangi layar ponsel.
‘Nah, udah! 230rebu! Duh, kan. Kebanyakan ngobrol sih. Dah hampir setengah sepuluh nih! Mandi dulu ah. Trus cari makan.’
‘Ya udah sana cepetan. Aku nyusul dikit lagi.’

Usai bermain air sejenak menyegarkan tubuh yang kepanasan. Yang satu masih asyik mematut-matut diri di depan cermin saat yang lain masuk ke kamarnya.
‘Gimana? Mau makan sekarang?’
‘Tar dulu dong. Aku pake pelembab muka dulu ya.’
‘Aduh! Ampun dah! Ya udah aku tunggu di depan aja!’
‘Pasti ngerokok…’
‘Heheheh…’

Sekejap kemudian, di teras.
‘Lho kok pake celana pendek?’
‘Ya kan cuman mau makan doang deket situ.’
‘Oh, gak langsung pergi ya? Kirain langsung lanjut pergi cari tiket.’
‘Santai aja lah. Libur ini kan.’
‘Mau makan apa?’
‘Apa nih enaknya? Yang biasanya aja?’
‘Warung Jatim? Ya udah deh. Kayaknya nggak ada pilihan ya?’
‘Hehehe.’
‘Aku mau pesen nasgor aja ah.’
‘Tumben nggak rawon?’
“Abis yang kita makan sabtu minggu lalu aku agak-agak nggak tega de liat dagingnya. Warnanya masi pink-pink gimana gitu. Udah gitu kayaknya nggak bersih. Hiiy.’
‘Haha.’

Sebuah warung tenda dengan beberapa pramusaji bertampang jutek.
‘Mas, nasi gorengnya 2 ya. Makan di sini aja.’
‘Lho kok jadi ikut-ikut nasgor? Tadi katanya mau soto.’
‘Pengin aja.’
‘Minumnya apa, mas?’
‘Estee dingin aja 2.’
Menunggu datangnya masakan sudah pasti diisi dengan obrolan ringan. Kata-kata tertumpah, kalimat-kalimat yang seakan tak bermakna mengkhianati tuannya dengan melepaskan rahasia-rahasia kecil kehidupan sang pembicara.
Makanan yang dipesan tiba, segera disantap hingga tandas, masih dalam belitan pertukaran kata, yang karena belum berada terlampau jauh dari rumah maka lebih berkutat di seputaran kehidupan di tempat tinggal. Usai makan mereka kembali ke rumah, yang satu untuk berganti pakaian, yang lain untuk mengulang memakai segala macam pelindung kulit dari sengatan sinar matahari.

Matahari sudah memancarkan sinarnya yang menusuk-nusuk kulit saat akhirnya dua orang itu berjalan perlahan meninggalkan tempat mereka tinggal. Berhenti dulu pada kantor cabang sebuah bank untuk mengambil uang di atm. Berjalan lagi. Berhenti sekali lagi pada cabang bank lain.
‘Ambil duit berapa ya? Tiketnya aja kira-kira 500an. Mana hari ini jadwal bayar kost lagi.’
‘Ambil yang banyak aja sekalian. Aku siap kok disuruh mbantuin ngabis-abisin uangmu. Hahaha.’
‘Uuh. Berapa ya? Mau ambil 900 tapi tatut ah. Serem gak sih bawa-bawa duit banyak naek bis?’
‘Ya udah ambil buat beli tiket aja dulu. Tar ambil lagi kan bisa?’
‘Tapi ntar males kesini lagi..’
‘Halah. Cuman tinggal jalan dikit ini. Gitu aja kok repot?’
‘Ya udah deh. Aku ambil buat beli tiket ajah. Ngg, tapi tar pengin liat-liat dulu. Aaah, binun deh.’
Setelah pertengkaran kecil di atm yang ac-na terasa amat dingin, mereka berjalan keluar.
‘Trus ni enaknya naek apa?’
‘Naek busway aja gitu?’
‘Nah, tapi darimana? Kalo dari manggarai kan tar brati harus ganti dulu di Matraman? Ribet deh. Tapi kalo ke Kampung Melayu berarti harus jalan dulu balik lagi ke dalem nunggu bis 68 di sana.’
‘Males ah jalan lagi ke dalam.’
‘Eh, tapi kan ada 612 lewat sini ya? Dia kan ke Kampung Melayu juga.’
“Yakin kamu? Aku nggak tau lho. En nggak pernah liat.’
‘Lumayan yakin si. Cuman emang agak lama itu bis lewatnya.’
“Ah, udah lah. Ke manggarai aja yuk. Naek 62 aja.’
‘Ya udah. Terserah. Yuk.’

Bus jurusan Pasarminggu-Manggarai itu agak kosong, mereka memilih duduk dua baris dari belakang. Sang sopir membawa busnya dengan serampangan, melaju seperti kesetanan menembus jalanan yang padat oleh kendaraan.
BRAKK!!
Semua mata penumpang tertuju ke sebelah kanan. Spion kanan bis remuk akibat berhantam dengan sebuah mobil box. Terdengar maki-maki adu mulut kernet bus dengan sopir mobil box.
‘Duh, lama nih. Mana panas banget lagih. Dodols.’
‘Nggak kayanya. Tuh si sopir mobil boxnya udah bayar buat ganti spion.’
‘Padahal benernya si sopir bus aja yang gila. Udah jelas ada mobil di samping situ juga belok aja. Dodols ah.’
‘Emang di sini pada gila smua. Hahaha.’
‘Eh, udah ampe manggarai ya? Turun di mana kita?’
‘Dikit lagi. Tar deket halte busway situ aja.’

Di dalam halte busway yang lumayan sepi namun panas oleh teriknya matahari.
‘Ke Matraman berarti ke arah sana kan ya?’
‘Eh, enggg…bukannya ke sana Dukuh atas ya?’
‘Ihh, ngawur deh. Dukuh atas mah ke sana kali.’
‘Salah ya? Hehehe. Maklum baru sekali lewat yang koridor ini. Itu aja karena kebablasan. Dulu waktu aku abis ngurus paspor di imigrasi kan aku iseng naek busway. Pengen nyobain aja. Harusnya kan turun aja di Kuningan, tapi kebablasan ampe Dukuh atas. Mau balik lagi pake busway udah penuh banget ya udah aku balik kantor naek taksi lewat Sudirman. Hehehe.’
‘Ampyuuuun!’
“Tenang aja. Aku punya peta jalur-jalurnya kok.’
‘Mana?’
‘Ya di laptop dong. Di rumah.’
‘Yee. Itu mah nggak ngefek. Kalo cuman pdf-an jalur-jalurnya aku juga punya di hapeku. Noh!’
‘Hehehe. Bener kan dari sini ke Matraman? Tar ganti trus ganti lagi…’
‘Haa? Aduh, nggak tau deh. Binun aku!’
‘Hahaha. Santai aja lagi. Kalo nyasar juga kan tinggal mbalik. Takut amat sih kamu. Tuh busnya dateng. Yuk.’

Bus Transjakarta dari Manggarai menuju ke Pulogadung, cukup penuh oleh penumpang walau tak sampai berdesakan hingga ke pintu bus.
‘Sini aja. Nggak usah jauh-jauh ke dalem. Tar susah lagi kalo mau turun.’
‘Di dalem lebih kerasa ac-nya. Hehehe.’
‘Ah, dasar. Btw, kok gak disebutin ya nama halte yang mau disinggahin mana.’
‘Rusak kali alat pembacanya.’
‘Khas banget sarana pemerintah. Tar bisa salah turun ne.’
‘Ah, nggak mungkin lah nggak tau halte Matraman. Kan tar harus nyebrangin jalan gede dulu. Trus ada jalan layangnya gitu. Lagian tadi sapa yang bilang sante aja?’
‘Hahaha.’
‘Tuh dia. Ngeliat jembatan penghubungnya yang panjang itu aja gak bakal ketuker kan?’
‘Hehe. Iya sih.’

Halte busway Matraman, penuh sesak dengan penumpang yang hendak pergi ke arah Ancol.
‘Aduhhh. Penuh banget nih.’
‘Ya mau gimana lagi. Antri aja lah.’
‘Duh, panasnyaa…Kayaknya bakal lama neh. Sebanyak gini orangnya, busnya lewatnya jarang-jarang.’
‘Santai…’
‘Yayaya. Aku tau. Santai aja. Huhuh.’
‘Namanya juga jalan-jalan. Gimana sih? Kayak yang keburu-buru banget deh.’
‘Huhuhu.’
‘Eh, sst..’
‘Apa?’ yang satu agak nggak ngeh dengan kedipan mata yang lain, bahkan tidak juga mengerti arti tepukan di pundaknya.
‘Antri di situ aja yuk.’
‘Itu kan arah balik.’
‘Ah, gimana sih kamu. Masa nggak ngerti juga? Kita balik dulu 1-2 halte, cari yang sepi. Trus naek lagi yang ke arah Ancol.’
‘Ooo. Ngobrol kek dari tadi.’
‘Ah, payah. Kamu sih dari tadi dibilangin santai ngeyel aja. Hahaha.’

Halte busway di depan Gramedia Matraman. Tidak terlalu ramai tapi rupanya ada beberapa orang yang berpikiran sama sudah lebih dulu mengantre di situ.
‘Ssst..’
‘Apa lagi sih? Oh!’
Rupanya di depan mereka ada 2 orang lelaki muda yang tadi juga mengantri di halte matraman. Sepertinya 2 orang itu sudah lebih dulu berpikir untuk naik bus dari halte ini.
‘Kalah cepet kita.’
‘Kamu sih processing-nya lama. Hehehe.’
‘Huuu. Eh, bus gandeng!’
‘Naek yuk.’
‘Penuh bangeeet.’
‘Udah ayo cepetan. Sini! Ke sini!’
Bus gandeng itu memang sudah penuh tapi sebenarnya masih ada cukup tempat untuk 2 orang lagi berdiri di dekat sopir.
Mereka baru aja bertatapan dengan perasaan sedikit lega karena masih mendapat tempat saat bus memelankan lajunya hendak berhenti di halte selanjutnya. Sang satgas wanita yang menjaga pintu bus berteriak kencang mengagetkan beberapa penumpang di dekatnya,’Yang mau turun harap lewat PINTU TENGAH! PINTU TENGAH!’
Mereka bertatapan lagi, kini dengan gurat panik yang cukup nyata. Untuk mencapai pintu tengah dari tempat mereka berdiri, mereka harus melalui hampir satu kali panjang bus transjakarta yang normal (bukan gandeng) dan penuh sesak dengan manusia, berdempet-dempet bagai sardin dalam kalengnya.
‘Oh my Lord! It’s just so dodols.’
Senyuman sang teman sedikit mengurangi rasa lelah yang mulai memenangkan pertarungan.
‘Yah, paling-paling kita nggak bisa turun dan harus mutar balik lagi. Nggak bakal lebih buruk dari itu kan?’
‘Yah…’
‘Pulogadung. Harmoni. Yang mau transit harap turun di halte Senen. Harap turun lewat pintu tengah!’ satgas kembali berteriak. Tak ada waktu lagi untuk berbicara lagi apalagi berdebat. Mereka hanya bisa berusaha menembus lautan manusia yang sulit untuk diurai.
‘Aduh. Maaf. Permisi. Permisi.’
Tubuh-tubuh bersentuhan rapat saat melalui gang sempit di antara baris-baris penumpang. Untungnya banyak juga penumpang yang turun di halte Senen. Walau begitu mereka tetap saja tak bisa bergerak cepat dan terhimpit-himpit di antara sisa penumpang yang tak beranjak dan yang bergegas ingin keluar.
‘Huaaah! Akhirnyaaa!’
‘Hahaha. Gila!’
“Kenapa sih harus turun lewat pintu tengah sialan itu?’
‘Yah, biar gak tabrakan sama yang mau naek kali? Eh, lho kok keluar dari halte?’
‘Lho kan jadi mau pesen tiket kan?’
‘Iya. Di stasiun Senen aja kan?’
‘Oh, kirain mau ke Gambir.’
‘Nggak ah. Gak sanggup aku suruh ganti lagi naek busway yang ke Gambir. Sama aja kok. Toh online ini kan?’
‘Ya udah. Aku juga belum pernah si ke sini. Kayaknya tiap kali pergi ama kamu selalu muter-muter ke tempat baru ya?’
‘Hahaha. Segitunya. Berlebihan deh.’

Berjalan di bawah cerahnya matahari siang yang tak lagi ramah, menyusuri trotoar yang berbau masam oleh pasar di sampingnya. Hawa yang tak bersahabat dan kaki yang semakin pegal berulang kali menggoda untuk memuntahkan keluhan dan makian, namun tertahan oleh pembicaraan tak tentu arah, saling goda dan tawa yang nyaris tak berkeputusan. Meski sempat bingung tentang pintu masuk stasiun, akhirnya sampai juga mereka di ruang reservasi tiket.
‘Wow. Penuhnya.’
‘Yah, musim libur gitu. Trus gimana?’
‘Pertama ambil dulu form pemesanan tiket, isi sesuai nama kereta dan jadwal yang dimau. Lalu ngantri deh di situ tuh.’
‘Diisi ya?’
‘Iya lah, masa diliatin aja?’
‘Hemm..nggak bawa bolpen ya? Bolpennya dipake smua…Terus jadwalnya?’
‘Sini, cah. Ngisina disini aja. Ni ada jadwal bulan juli disini. Tinggal liat aja di sini : jam keberangkatan, harganya juga ada.’
‘Euh, terus kalo aku mau turunnya bukan yang di stasiun yang ditulis disini aku tulisnya apa?’
‘Ya kamu tulis aja kamu mau turun di stasiun mana. Tar paling kalo keretanya nggak berhenti di situ kamu bakal dibilangin.’
“Dah. Terus?’
“Antrilah di belakang barisan orang-orang berisik itu.’
‘Tar aja deh. Nunggu kamu aja.’
‘Kamu duluan aja sana. Tar makin rame kelamaan jadinya.’
‘Toh harus tetep nunggu kamu juga kan?’
‘Ih, sudah sana cepetan antri! Aku dikit lagi kok.’
Agak ragu yang satu berdiri di belakang barisan orang-orang yang gaduh asyik dengan urusan masing-masing.
‘Eh, salah kamu. Bukan antri situ. Itu antri untuk tiket kereta ekonomi. Sini!’
‘Tadi bilangnya suru berdiri di belakang barisan aja.’
‘Ya tapi bukan disitu, dul! Barisan yang ini. Sini lebih sepi kan? Karena sini bagian kereta bisnis dan eksekutif yang muahals gak karuan! Tuh bentar lagi giliran kamu.’
‘Gimana?’
‘Ya udah formnya langsung kamu kasiin aja ama mbaknya.’
‘Oh. Ok.’
Sang mbak yang duduk bosan melayani pemesanan tiket menerima form pemesanan yang diulurkan kepadanya, melihat dengan dahi berkerut, lalu tanpa ekspresi berkata dingin,’Yang tanggal ini sudah habis, mas. Yang tiket baliknya kami nggak bisa layani karena sedang tidak online.’
Paniklah sudah yang satu. Segera berbalik dan bertanya, ‘Aduh,habis ni. Gimana ya?’
‘Yang laen ada nggak? Tanya dulu.’
‘Yang laen? Maksudnya?’
‘Ya kereta laen. Ah kamu. Sini. Mbak, ada kereta laen nggak yang tanggal segini?’
‘Adanya yang bisnis, mas.’
‘Tuh, ada yang bisnis. Gimana?’
‘Bisnis ya? Ee..gimana ya..beda banget nggak sih ama yang eksekutif?’
‘Berapa harga tiket yang bisnis,mbak?’
‘130rebu.’
‘Gimana?’
‘Ya terserah kamu lah. Kan kamu yang mau pulang. Yang jelas si nggak ada ac kalo bisnis. Duduknya juga nggak seenak yang ekse.’
‘Brati nggak bisa tidur ya?’
‘Ya tergantung kamu sih. Udah, cepetan. Nggak enak ni antrinya masi panjang di belakang kita. Huhuhu.’
‘Ya udah deh, mbak, yang bisnisnya satu. Siap-siap nggak bisa tidur nih.’
‘Haha. Kan pulang ini. Sampe rumah tinggal ‘ngalem’ ama nyokap.’
‘Hehe.’
Yang satu lalu juga memesan tiket untuk dirinya sendiri untuk tujuan dan waktu yang berbeda dan bernasib sama juga tidak mendapatkan tiket baliknya.
‘Yah, alamat ngrepotin orang rumah lagi nih buat mesenin tiket. Dasar payah. Pelayanan publik kok angot-angotan gini.’
‘Masi mending lah masi ada yang bisa direpotin. Lha aku nggak mungkin nitip bonyok beliin tiket. Jauuuuuuh. Bisa 3 jam kali ke stasiun.’
‘Lha, terus kamu balik ke sininya gimana?’
‘Ah, gampang tar aku naek bus aja.’
‘Wuih, bus malem? Apa nggak cape banget tuh?’
‘Ya gimana lagi? Udah pasti ‘hancur’ sih ini badan sesampainya di sini. Capek banget emang naek bus. Kaki pegel.’
‘Gara-gara reservasi tiket dodol nih.’
‘Ya udah ah. Haus banget ni. Cari minum dulu yuk di luar.’
‘Minum apa? Dimana ya? Ih warung-warungnya jorok gini.’
‘Eh, ada es kelapa muda tuh. Mau gak?’
‘Wah, asik juga kayana. Yuk. Hemm…lebih asik lagi kalo ada sop buah kayak yang di amba dulu tu. Hehehe.’
‘Haha.’
‘Mas, es kelapa mudanya dua ya.’
Maka untuk sementara mereka mendamparkan diri di warung kecil di suatu pojokan stasiun. Seperti biasa tiap saat berdua, berbicara nyaris tiada henti, memaki-maki pt. kai dan pelayanannya yang tak kunjung membaik, lalu melebar ke hal-hal lain yang sebenarnya tak ada hubungannya. Saat bahan pembicaraan menipis yang satu melihat wajah yang lainnya lekat-lekat, berusaha menganalisa adakah kemiripan dengan orang yang dulu pernah dikenalnya dekat. Lalu suasana telah menjadi sedemikian canggungnya hingga yang satu berbicara, ‘Yuk udahan. Jalan lagi.’
‘Kemana kita?’
‘Katamu tadi mau ke atrium dulu.’
‘Oh, gapapa ne? Kirain kamu buru-buru. Bukannya kamu mau pergi ya?’
‘Kan masih ntar malem. Santai aja kok. Sekalian jalan-jalan mengenal dunia. Hehehe.’
‘Oh, ok deh kalo gitu. Aku si cuman pengin liat-liat aja.’
‘Aku si benernya pengin cari sabuk ama topi. Tapi ya kalo ada aja.’

Atrium Senen entah kenapa belum terlalu ramai meski hari itu adalah hari Sabtu dan sedang dalam musim liburan sekolah pula.
‘Mau ke mana dulu?’
‘Ke 61 dulu ya? Aku pengin liat-liat baju. Tapi dah asar lho, kamu gak sholat dulu?’
‘Tar aja abis itu. Masi panas banget ne badan.’
‘Mang apa hubungannya.’
‘Tauk deh. Hehehe. Eh, si 61 tu di mana?’
‘Naik. Tu dia di sono.’

‘Wah, kaosnya keren juga neh.’
‘Apaan? Kaos buntung itu?’
‘Yep, kayanya enak nih buat maen futsal.’
‘Kasian temenmu tar bauk kelek. Hihihi.’
‘Hush. Sirik ya kamu. Makanya olahraga donk. Bisanya cuman jalan pagi doank.’
‘Ih, biarin. Yang penting kan murah.’
‘Dasar pelit! Pokoknya aku mau beli kaos ini ah.’
‘Ya udah diambil aja dulu. Tar dibeli orang lho.’
‘Gak ah. Aku mau liat kamu dulu. Kan yang ngajakin ke sini tadi kamu. Kalo kamu gak beli apa-apa aku juga gak jadi beli kaos tadi.’
‘Yee! Kok gitu sih? kalo emang mau beli ya beli aja. Ngapain pake nunggu aku segala?’
‘Biarin. Pokoknya Aku nggak mau terjebak lagi.’
‘Terjebak lagi? Kamu ngomong seakan-akan aku rentenir. Aneh deh.’
‘Tertipu. Terperangkap. Apapun itu. Eh, kaos ini bagus lho. Cocok banget ama kamu. Centil-centil gitu warnanya.’
‘Dodols ah. Nggak segitunya kali.’
‘Nih jaket yang lagi in kan? Ada capuchon-nya lagi. Kesukaanmu.’
‘Nggak ah. Kan aku baru beli jaket yang kayak gituan 2 minggu lalu. Terlalu mirip.’
‘Tapi yang ini kan pinky. Pinky! Woi!’
‘Bodo!’
‘Nih kemeja keren banget lho! Murah lagi!’
‘Nggak!’
‘Celana jeansnya murah-murah nih. Katanya kamu pengin beli jeans baru.’
‘Ogaaaah!!’
Beberapa saat mereka ‘bermain petak umpet’ di toko itu sampe akhirnya yang satu berdiri di depan tumpukan kaos berwarna marun, warna kesukaannya, agaknya siap untuk menyerah.
‘Tu kaos lucu lhoo. Marun-marun imut favoritmu. Hehehe.’
‘Iya! Tau! Kayaknya aku mau beli kaos ini aja deh. Murah en lumayan lucu.’
‘Asik! Aku ambil kaos yang kumau dulu ah.’
‘Ya udah. Aku ke kasir dulu ya?’
‘Tar! Tunggu lah! Aku cuman bentar kok.’
Akhirnya mereka berdua keluar dari toko itu, masing-masing dengan sebuah bungkusan. Yang satu berisi sebuah kaos marun berpotongan pas badan, yang lain berisi 2 kaos tanpa lengan berwarna abu-abu dan hitam.
‘Trus kemana nih?’
‘Ke Matahari dulu mau gak? Biasanya suka ada sale.’
‘Boleh. Boleh.’
‘Kamu katanya mau cari apa tadi? Sabuk?’
‘Yep. Ama topi. Tapi tadi kayaknya di lantai 2 ada konternya Eiger ya?’
‘Iya.’
‘Tar cari topi di situ aja ah.’
‘Di Matahari kan suka ada juga tu topi.’

Di toko yang dimaksud itu, mereka berkeliling cukup lama. yang satu mencari apa yang diinginkannya, yang lain mengikuti sembari menunjuk-nunjuk apa yang sekiranya menarik untuk dilihat. Kembali terjadi perdebatan kecil ketika yang satu ingin membeli kaos namun tak mau melakukaknya bila yang lain tak juga membeli. Ketika yang lain akhirnya mengalah dan memutuskan untuk juga membeli terjadi benturan lain.
‘Aku mau yang ini ah. Cute.’
‘Aku yang ini aja. Kereeen. Merahnya bagus. Ada stripes ini sporty banget.’
‘Oh, my God!’
‘Napa?’
‘Tulisan en gambarnya sama persis! Beda warna doank!’
‘Eh, iya. Waduh, gawat tar kalo pergi bareng ternyata pake baju yang sama. Bisa-bisa..’
‘Huuh.’
‘Kamu yang coklat itu aja. Lucu kok.’
‘Lucu sih. Tapi aku pengin yang ada stripes-nya juga. En warnanya yang imut.’
‘Duh susah deh.’
Tempat pajangan kaos itu langsung berantakan begitu keduanya sibuk mengaduk-aduk mencari kaos seperti yang diinginkan tadi.
‘Aku pengin yang biru muda culun gini. Tapi yang ada stripes-nya. tapi tulisannya nggak mau sama ama punyamu.’
‘Nggak ada deh kayana. Udah diliatin smua juga.’
‘Yaaah. Sedihnaa.’
‘Kamu pengin banget ya yang biru itu?’
Tak ada jawaban. Akhirnya si penanya menyimpulkan sendiri,’ Ya udah kamu ambil aja yang biru itu. Aku cari yang lain aja deh.’
Yang ditanya terpaku, nggak mau menerima sikap mengalah si penanya.
‘Nggak ah. Pasti ada lah yang lain. Kamu ambil aja yang itu.’
‘Nggak papa kok. Aku cari yang lain aja.’
Yang ditanya terdiam lagi, terus mengaduk tempat kaos-kaos itu hingga makin mirip tumpukan sampah.
‘Nah! Ketemu! Tuh kan! Apa kubilang. Pasti ada.’
Mereka saling menatap penuh senyum, jelas keduanya merasa lega tidak ada yang harus mengalah dan tetap sama-sama mendapat yang diinginkan.

Keluar dari Matahari mereka menuju ke mushola yang terletak berdekatan dengan area parkir mobil.
‘Aduh, kebelet pis ni.’
‘Deket mushola biasana ada kok. Ngomong-ngomong tempat wudhu-nya dimana ya?’
‘Tu ke bawah situ.’
‘Mana?’
‘Ah. Ayuk.’
Usai menunjukkan tempat wudhu yang satu mengambil posisi, duduk menunggu di sebuah bangku. Keheranan memandang yang lain menyimpan bawaan dan sendalnya di tempat penitipan sebelum wudhu.
Saat mereka berjalan kembali ke dalam mall, ia menanyakannya,
‘Kok pake nitip segala sih? Kan ada aku? Jadi mbayar kan?’
‘Ah, gapapa lah itung-itung amal. Tadi aku kira kamu mau ke toilet dulu.’
‘Yeee.’
‘Terus mau ke mana lagi sekarang?’
‘Katanya tadi mau liat Eiger.’
‘Oh iya.’
‘Ke sana berarti.’
‘Eh ada toko buku ya?’
‘Ya. Napa?’
‘Tar aku mau cari sesuatu dulu di situ.’
‘Aku ke toilet dulu ya.’
‘Ya. Tar aku tunggu di dalem.’
‘Eeh, nitip bawaanku dong.’
Mereka terpisah hanya sejenak karena di dalam toilet, di ujung barisan urionoir ada seorang security yang berdiri tegak seperti mengawasi. Ini membuat rasa kebelet jadi berganti dengan curiga dan dongkol. Maka segera saja yang satu masuk ke dalam toko buku, menyusul yang lain. Ternyata yang disusul sudah hampir menyelesaikan urusannya di tempat itu, membeli sebuah kitab Al Quran bersampul keperakan.

Dari situ mereka berpindah ke toko peralatan outdoor. Yang satu mencoba-coba topi.
‘Gimana? Bagus nggak?’
‘Lumayan. Tapi kayaknya lucuan yang coklat itu deh.’
‘Modelnya biasa aja. Aku emang mau cari yang model gini.’
‘Ooh.’
‘Aduh, tapi udah pas belum sih? Nggak ada kaca ya? Bingung juga nih.’
‘Kayaknya si nggak liat ya ada kaca. Udah oke kok. Ato mau aku poto aja ya pake hape?’
‘Boleh deh.’
Click!
‘Nih.’
‘Kayanya si udah oke ya.’
‘Trus jadi yang itu?’
‘Tar. Mbak, topi yang ini ada warna yang lain gak?’
‘Nggak mas. Adanya yang di display ini aja.’
‘Ooh….Eh, ya ampun, di meja sini ternyata ada cermin!’
‘Hahaha. Norak banget sih. Udah pake poto-poto segala lagi.’

‘Nah, puas kan sekarang udah dapet topi?’
“Ya lumayan. Ke mana lagi berikutnya?’
‘Ke Sport Warehouse liat sepatu. Tapi kayaknya mending mam dulu deh. Kan tempat mamnya di atas. Daripada tar naik-naik lagi.’
‘Terserah kamu lah. Aku kan nggak tau tempat ini. Ngikut aja.’
‘Mau mam apa? Fast food?’
‘Apa ya? Ada ide? Aku sih ngikut aja pokonya.’
‘Kayaknya si nggak fast food ah. Bosen. Eh kalo chicken story aja mau gak? Fastfood juga si tapi menunya semi tradisional. Ayam bakar gitu.’
‘Ya boleh. Boleh.’
‘Yakin?’
‘Ya coba dulu lah. Kalo nggak enak kan ada yang disalahin.’
‘Huuu.’

Mereka memesan paket menu yang sama persis, makan di meja yang terletak di tengah-tengah ruang restoran yang separo terisi itu.
‘Gimana? Lumayan kan? Sambelnya pedes ya?’
‘Nggak kerasa ah?’
‘Nggak kerasa? Pedes kayak gitu? Gila!’
‘Hehehe. Eng, sebenernya nasgornya kayaknya menggiurkan juga ya yang di poto itu.’
‘Tapi tadi pagi kan udah mam nasgor.’
‘He eh.’
‘Kalo sini si emang menunya kebanyakan berbau ayam. Namanya juga chicken. Kalo BMK tu kan sop iga kayaknya juga ada ya.’
‘Nggak doyan aku yang daging gede-gede gitu. Tulang-tulang. Sop buntut dll gitu.’
‘Kayak coto makasar gitu juga brati gak doyan ya?’
‘Wih itu apalagi. Kapan tu ada acara kantor menunya itu, huuuh, bauknya aja aku dah mual. Heran juga liat anak-anak pada doyan.’
‘Hahaha. Brati banyak juga ya gak doyannya? Ikan juga gak doyan.’
‘Ya gitu deh.’
‘Aneh kamu ni. Anak pantai kok gak doyan ikan. Kalo aku kan emang orang gunung. Udah gitu dari kecil gak pernah dibiasain mam ikan. Jadi ya wajarlah kalo aku gak gitu doyan.’
‘Ya aku juga dari kecil juga gak dibiasain. Kalo deket pantai gitu kan kalo lagi musim udang rebon bauknya minta ampun. Wiiiih, dari jarak agak jauh pun dah kecium. Dari rumahku juga kecium. Mungkin karena itu juga.’
‘Udang kan enak? Aku masih doyan sih kalo udang.’
‘Coba aja deh membau udang rebon yang dijemur kalo kamu nggak pingsan.’
‘Hihihi. Emang bauk banget ya?’
‘Bweek. Udah deh mending kamu dateng aja ke rumahku pas lagi musimnya. Dijamin.’
‘Hahaha. Nggak ah. Tar tewas aku repot deh.’

Dari tempat makan mereka turun ke lantai bawah ke sebuah toko peralatan olahraga.’
‘Wow. Sepatu!’
Awalnya yang satu hanya mengekor yang lain yang sudah lebih tahu. Berkomentar tiap kali yang satu mendekati satu benda. Tapi kemudian mereka berpencar. Cukup lama sebelum yang satu memanggil,’
‘Hoi! Cah, liat ini.’
Yang dipanggil melihat dengan mata berbinar-binar mendeteksi sepatu khusus untuk olahraga yang disukainya.
‘Wow.’
‘Keren yah?’
‘Berapa harganya? Waduh..mahal amats.’
‘Coba liat yang di situ. Kayaknya agak lumayan murah tu.’
Mereka berdua langsung sibuk kembali dalam pencarian, terlebih saat yang satu menentukan pilihan : sebuah sepatu berwarna biru cerah.
‘Ini bagus nggak?’
‘Bagus. Cerah banget.’
‘Aduh. Tapi agak kekecilan.’
‘Emang yang ini ukuran berapa?’
‘42. Kayaknya harus yang 43 ni.’
‘Buset.’ Salah satu berlutut di dekat yang lain meraba-raba ujung kaki yang terbalut sepatu berwarna mencolok itu.
‘Emang si sisanya dikit banget.’
‘Terlalu pas. Belum kaos kakinya.’
Mereka lalu mencari sepatu bertipe serupa dengan ukuran 43 di antara tumpukan kotak-kotak yang berjajar rapi secara bentuk tapi tidak secara susunan jenis.
‘Duh, kayanya mending nanya deh. Pusing aku carinya. Terlalu banyak. Mana random banget gini natanya.’
‘Mana sih masnya. Mas! Mas, yang ini yang 43 ada nggak?’
Perlu waktu beberapa saat bahkan untuk sang penjaga toko untuk mencari ukuran yang diminta.
‘Gimana? Nggak terlalu longgar ya?’ lagi-lagi yang satu berlutut, melihat dari dekat, memijit-mijit bagian depan sepatu yang sedang dicoba.
‘Nggak. Pas kok. Enak.’
‘Sisanya nggak kebanyakan ya?’
‘Kan nanti pasti pake kaos kaki juga.’
‘O. Ya udah. Trus jadi ambil yang ini.’
‘Yap. Eh, tapi, kok, pinggirannya jelek gini ya?’
‘Mana? Coba aku liat.’
Di bagian perbatasan antara bagian alas karet dengan bahan kain sepatu itu memang ada sedikit bentuk tak beraturan jelek yang tak rapi.
‘Iya ya. Apaan nih? Kok jelek banget gini. Gimana? Coba tanya lagi deh yang 43 ada yang laen gak?’
‘Mas, ada yang laen nggak yang 43?’
‘Wah, tinggal itu, mas.’
‘Gimana ya?’
‘Ya terserah kamu. Agak jelek ya? Tapi kalo emang pengin sih…’
‘Ngg..’
‘Coba liat yang sebelah kirinya. Kayaknya yang kiri rapih ya, brati yang kan itu emang jelek. Gimana? Masi mau juga?’
‘Gimana ya?’
‘Kalo nggak yakin nggak usah aja deh.’
‘Ya deh.’
Maka mereka pun berlalu dari toko itu. Yang satu bisa merasakan kekecewaan di mata yang lain, karena itu ketika terlihat ada toko perlengkapan olahraga lain di lantai atasnya, dia segera mengajak yang lain masuk ke dalamnya, dengan cepat menyapu rak demi rak mencari sepatu lain yang menarik hati. tapi toko yang satu ini jauh lebih kecil dari toko sebelumnya. Jenis sepatu yang disediakan pun jauh lebih sedikit. Terduduk kelelahan di bangku yang diperuntukkan bagi orang yang mau mencoba sepatu, keduanya di ambang putus asa.
‘Kayaknya nggak ada yang bagus di sini.’
‘Trus?’
‘Ya udah pulang aja. Nggak terlalu penting juga kok.’
Tapi yang satu tak yakin mendengar kata-kata itu, dia mengulang lagi memandangi rak-rak itu dari posisi duduknya ketika matanya tertumbuk pada suatu benda berwarna biru di satu sudut yang terhalang oleh rak di depannya. Nyaris melompat dia ke arah itu dan hampir tak tahan lagi untuk berteriak memanggil,
‘Eh! Sini! Liat sini.’
Yang dipanggil mulanya sedikit malas untuk bergerak, baru saat terlihat olehnya benda biru di tangan temannya matanya berbinar kembali.
‘Kayaknya semua sepatu jenis ini emang nggak rapih di bagian sininya.’
‘Sama aja ya berarti?’
‘Iya. Sama persis. Harganya juga sama. Lalu?’
Mereka berpandangan sesaat, baru kemudian yang satu mendekati penjaga toko, menanyakan sepatu itu dengan ukuran 43. Senyum lebar terpampang di wajah yang satu saat dia membawa bungkusan besar berisi sepatu yang baru dibelinya. Melihat itu yang lain teringat masa-masa kecilnya dulu, betapa senangnya dia saat ibunya membelikan satu set miniatur kebun binatang lengkap dengan segala binatang dan kandang-kandangnya.
Kini mereka bisa pulang dengan perasaan lega. Minimal salah seorang dari keduanya. Tapi sebelum pulang mereka duduk dulu di bibir kolam di luar mal, yang satu merapikan bawaannya yang terberai dalam beberapa kantong plastik.
‘Sini aku pegangin dulu. Bisa nggak?’
‘Bisa kok. Ntar.’
‘Terus mau pulang naek apa? Naek angkot biasa aja ya?’
‘Iya. Naek busway pasti penuh banget.’

Bus 17 berjalan perlahan meski jalanan sepi oleh kendaraan, menembus udara sore yang masih juga panas menyengat.
Dua orang itu duduk dalam kesunyian. Masing-masing larut dalam pikiran sendiri.
‘Ngantuk.’ gumam yang satu.
‘Ya udah tidur aja. Masi lumayan jauh juga.’
Mereka berdua sama-sama lelah, mengantuk, tapi entah kenapa mata-mata mereka tak kunjung terpejam juga.
Suasana begitu sunyi. Sedikit sekali kata dipertukarkan dalam perjalanan itu. Anak kecil yang mengamen dalam bis sedikit memberikan suasana gaduh meski hanya sekejap.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 5 sore ketika mereka akhirnya tiba di rumah. Lemas dan cape namun tetap bersemangat. Hawa sudah mulai agak bersahabat dibanding ketika dalam perjalanan pulang tadi. Mereka belum lagi membuka pintu ketika yang satu mendadak berkata,
‘Nyemil dulu yuk.’
‘Hah? Apaan?’
‘Siomay deket pasar.’
‘Aku cuci muka ma pis dulu ya.’
‘Iyalah. Aku juga mau ganti dulu bentar.’

Warung siomay itu kosong tanpa pengunjung lain hingga mereka berdua saja yang duduk di warung yang terdiri dari 2 meja reyot itu.
‘Aduh, kamu mau siomaynya nggak?’
‘Mau aja. Emangnya kenapa?’
‘Aku kan nggak doyan apapun yang berbau amis. Abangnya si tadi tau-tau aku dikasi 2 siomay. Padahal aku kan mau minta dibanyakin kolnya aja.’
‘Hahaha.’
‘Nih, aku taruh langsung di piringmu ya?’
‘Lha! Lha! Kok semua si? Banyak amat!’
‘Pangsitnya juga amis ternyata. Hehehe.’
Jadilah lagi-lagi acara makan plus ngobrol ngalor-ngidul sore itu. Mungkin sebagai kompensasi saat perjalanan pulang tadi di mana mereka nyaris tak saling bicara sama sekali.

Tirai kegelapan mulai menutupi hari. Sudah lewat cukup lama dari saat berkumandangnya azan Maghrib. Satu kepala melongok ke kamar milik yang lain. Yang berada di kamar mengangkat kepala dari laptop yang sedang ia hadapi.
‘Berangkat?’
‘Yap.’
‘Daah.’
‘Yuk. Berangkat dulu.’
Sosok itu lenyap di dalam keheningan sore yang menyayat, meninggalkan rasa kehilangan aneh yang tak terjelaskan.

Suddenly something has happened to me
As I was having my cup of tea
Suddenly I was feeling depressed
I was utterly and totally stressed
Do you know you made me cry
Do you know you made me die

And the thing that gets to me
Is you’ll never really see

And the thing that freaks me out
Is I’ll always be in doubt

It is a lovely thing that we have
It is a lovely thing that we
It is a lovely thing, the animal
The animal instinct
So take my hands and come with me
We will change reality
So take my hands and we will pray
They won’t take you away
They will never make me cry, no
They will never make me die
And the thing that gets to me
Is you’ll never really see
And the thing that freaks me out
Is I’ll always be in doubt
The animal, the animal, the animal instinct in me
It’s the animal, the animal, the animal instinct in me
It’s the animal, it’s the animal, it’s the animal instinct in me

(’animal instinct’ as performed by the Cranberries)

I haven’t slept at all in days
It’s been so long since we’ve talked
And I have been here many times
I just don’t know what I’m doing wrong

What can I do to make you love me
What can I do to make you care
What can I say to make you feel this
What can I do to get you there

There’s only so much I can take
And I just got to let it go
And who knows I might feel better
If I don’t try and I don’t hope

What can I do to make you love me
What can I do to make you care
What can I say to make you feel this
What can I do to get you there

No more waiting, No more aching
No more fighting, No more trying

Maybe there’s nothing more to say
And in a funny way I’m calm
Because the power is not mine
I’m just gonna let it fly

What can I do to make you love me
What can I do to make you care
What can I say to make you feel this
What can I do to get you there

(’what can i do’ by the Corrs)

It’s every day
I’m in this place
I feel this way
I feel the same
It’s every day
I’m in this place
I feel this way
I feel the same

Is it all inside my head
Is it all inside my head
I’ll view the list
And take my pick
I view my faith
And make a choice
‘Cause it’s nobody else’s but mine

But you are in my heart
I can feel your beat
And you move my mind
From behind the wheel
When I lose control
I can only breathe your name
I can only breathe your name

So many days within this race
I need the truth
I need some grace
I need the path
To find my place
I need some truth
I need some grace
The part of you
That’s part of me
We’ll never die
We’ll never leave
And it’s nobody else’s but mine

You are in my heart
I can feel your beat
And you move my mind
From behind the wheel
When I lose control
I can only breathe your name
I can only breathe your name

You’ll view the list
And take your pick
You’ll view my faith
And make a choice
‘Cause it’s nobody else’s but yours

And you’re in my heart
I can feel your beat
And you move my mind
From behind the wheel
When I lose control
I can only breathe your name

‘Cause you’re in my heart
I can feel your beat
And you move my mind
From behind the wheel
When I lose control
I can only breathe your name
I can only breathe your name
I can only breathe your name
I can only breathe your name

(’breathe your name’ by sixpence none the richer)

‘Kapan kawin?’ ‘Sapa nih calonnya?’ ‘Kenalin donk.’

Kata-kata itu dengan menyebalkannya selalu menghantui. Aku rasanya bisa mengerti perasaan miss Ra yang sering ditanyain pertanyaan-pertanyaan STD kayak contoh di atas. Miss Ra diserbu pertanyaan-pertanyaan itu utamanya dari keluarga besarnya. Indonesiawi sekali. Aku juga sama sih, kebanyakan dari keluarga besar. Dari temen-temen juga, apalagi di acara-acara yang berhubungan dengan pernikahan. Contoh paling up-to-date mungkin acara pemberkatan pernikahan Miam beberapa minggu silam. Habislah diriku dihajar pertanyaan-pertanyaan : ‘Kapan nyusul?’ ‘ Lho, calonnya kok gak dibawa si?’ dll, dsb.
Arggh, bodo deh! Emang gw pikirin. Terus terang hingga menjelang kepala tiga ini pun aku belum kepikiran untuk itu. Kebayang pun tidak. Maybe it isn’t my cup of coffee. Nggak semua orang harus menjalani itu. Or is it? Yah, sayang sekali sepertinya Indonesia memang penuh dengan pembodohan dan pemaksaan nilai. Lihat aja di tv maupun media lain. Iklan-iklan komersial itu pun banyak yang merupakan pemaksaan nilai-nilai hidup baik secara terselubung maupun eksplisit. Apalagi acara-acara infotainment itu. Huaduh! Bener-bener memuakkan! Sok-sok bermoral sekali hingga bisa menghakimi. Serasa Tuhan aja. Memangnya orang-orang itu begitu sucinya ya hingga bisa menunjuk oh artis itu salah, artis ini geblek, bejat dsb dsb. Halah! Urusin aja moral kalian masing-masing dulu sebelum ngurusin orang! Dan sialnya masyarakat Indonesia sepertinya memang banyak yang mau saja dibodohin dan ‘dijejelin’ dengan sampah-sampah macam gitu. Bagi mereka (yang mau menerima pemaksaan nilai-nilai itu) bahwa memang yang disebut di tv-tv dan media-media pop lain itu benar adanya. Nilai-nilai ketimuran yang luhur. Bullshit! Gw dah lama nggak respek atau bahkan nggak percaya lagi kalo nilai luhur ketimuran itu ada).

Lebih sialnya lagi, bila yang percaya akan hal-hal tersebut adalah orang yang deket denganmu. Dalam hal ini adalah mr.D2 (Waduh, kok akhir-akhir semua postingan tentang dia ya? Mana bernada menyerang lagih. Hihihi. Mungkin emang bener aku terlalu deket ama dia. Gw jadi terlalu banyak menganalisa dia. Gotta make a limit!)
Akhir-akhir ini dia sering banget nanyain aku ‘Kapan merid?’ dll dll.
Semua ini bermula dari keinginannya sendiri untuk segera menikah. Dia bilang, ‘Nggak enak ngelangkahin kamu. Yang senior dulu lah.’ Dia memang lagi gencar pdkt dengan cewe ini, dengan temen cewe yang itu, yang di sana, di sini. Biar bisa cepet merid katanya. Dia juga bercerita betapa temen-temen seangkatannya sebagian besar sudah berkeluarga, terutama justru temen-temen akrabnya. Jadi dia pun harus segera menyusul.  Kalo aku sih,’ So what gitu loh?’ Tapi dia kan sama sekali nggak kaya gitu. Dia itu adalah manifestasi dari seorang pria yang sangat indonesiawi komplit dengan segala stereotype-nya. Dia sangat penurut pada nilai-nilai yang ditanamkan oleh masyarakat tempat dia dibesarkan, oleh teman-teman baiknya, pada terpaan pemaksaan nilai dan pembodohan oleh media-media populer. Being different and distinctive kayaknya nggak ada dalam kamus di kepalanya. Bagaimana dia bisa akrab denganku aja sebenernya cukup mengherankan secara kami sangat berlawanan selayaknya magnet yang sama kutubnya.
Jujur, kadang merasa sedih menyaksikan temanmu melihat hidup dengan cara yang amat berbeda darimu. Tapi bagaimanapun sudut pandang itu adalah hak pribadi yang tidak boleh diintervensi oleh siapapun, apalagi oleh sekedar teman. Memang dunia ini tak akan pernah satu dalam keseragaman.

‘Bukankah itu keindahan dunia ini? Ada berbagai macam variasi dan pilihan.’ kata orang. Yah, memang. Tapi mungkin bukan itu yang kuinginkan. Setidaknya bukan untuk orang yang aku merasa dekat. Tapi bila aku memaksakan nilai-nilai hidupku, aku akan jadi sama persis seperti pecundang-pecundang itu di luar sana. Jadi ya sudahlah. Lupakan aja.

Next Page »