Test aja
Latest Entries »
Test upload
pertama denger tentang film ini jauh sebelum jiffest 2009. tapi aku berpikir,”ah, film apaan tuh? paling lagi-lagi film geje yang bikin kening berkerut-kerut memikirkan maknanya.” jadi aku urung mencari tahu lebih jauh tentang film ini, apalagi menontonnya.
lalu di jiffest 2009 aku mendengar salah satu theme song film ini yang berjudul ‘sweet disposition’. itu adalah cinta pada pendengaran pertama
lagu ini terus saja terputar ulang baik melalui mp3 player-ku maupun dalam benak. tapi aku tetap tak bergeming tergoda untuk menonton filmnya.
lalu di awal tahun 2010 ‘mantan’ pujaan hatiku menyebutkan film ini dan menyarankan padaku. ku sempat menggaruk telingaku yang tak gatal tak percaya ia menyebutkan film ini. yah, memang sih sejak kami ‘berpisah’ aku beberapa kali melihat dvd film-film perancis dan beberapa film festival dalam koleksinya. tapi itu aku tak tahu apa motif dia membeli film-film itu. setahuku saat pertama bertemu dia sangat alergi dengan film-film yang disebutnya ‘berat dan tak menghibur’ itu.
tapi baiklah, kupikir-pikir lagi toh beberapa kali dia menyarankan film padaku rata-rata memang cukup menghibur. maka pada satu kesempatan ku beli dvd film ini walau akhirnya hanya tergeletak nganggur selama beberapa hari sebelum akhirnya aku berhasil mengumpulkan niat untuk menontonnya.
wah, benar-benar menyesal aku tidak menontonnya dari dulu. benar-benar menghibur sekaligus menginspirasi. membuat berpikir tapi tak terasa menggurui. jauh dari bayangan berat yang ku sangka dulu.
tema film ini juga sangat mengena bagiku yang tak jua bisa lepas dari bayang ‘mantan’ pujaan hatiku. film ini berkisah tentang seorang pria yang jatuh cinta pada seorang wanita. dia yakin bahwa wanita itu adalah belahan jiwanya. tapi ternyata perasaannya itu tak berbalas. dan pria itu benar-benar terpukul ketika akhirnya wanita itu tiba-tiba menikah dengan pria lain. tapi toh apakah dengan itu semua lantas dunia berhenti? tonton aja sendiri kalo mau lengkapnya. VERY RECOMMENDED. sama sekali gak kacangan atau menye-menye layaknya film cinta pada umumnya.
menyegarkan dan mencerahkan.
testing post from email
sent from my deep red device
waktu liburan ada film ‘the holiday’ di tivi. kira-kira plotnya begini (diambil dari wikipedia) :
The two main characters are Amanda, a highly successful editor of movie trailers in Los Angeles, and Iris, a lovesick society column editor for The Daily Telegraph in England. The story is set in motion when each of them suffers a heartache: Amanda discovers that her boyfriend has cheated on her, while the object of Iris’ unrequited love announces his engagement at the office Christmas party. Seeking an escape, Iris proposes the home swap on the internet, posting an ad about her quaint cottage in the English countryside. Her offer is eagerly accepted by Amanda, who lives in a luxurious home in L.A. but is stressed over her break-up. (There are also hints that Amanda is a workaholic; there is a running gag that she imagines her life as being narrated by movie trailer narrator Hal Douglas.)
sebetulnya gak ada niatan untuk nonton. tivi udah lama kehilangan sihirnya padaku. tapi melihat tokoh iris yang diperankan kate winslet, “Wow!!! gw banget!” iris dihantui bayangan sang mantan, berharap akan ada keajaiban, pujaan hatinya akan datang kembali padanya. saat-saat indah ketika masih berdua terus terbayang, terasa begitu sempurna. kau berusaha keras untuk melupakannya, membuang semua citra semu itu dari kepalamu. tapi semuanya sia-sia, karena si dia, yang walaupun telah berpaling ke lain hati, masih juga terus menghubungimu. membuat bayang wajahnya yang lucu ketika tersenyum semakin sulit untuk dihapus dari benakmu. you just can’t let it go and move on.
aarggggggggh!!!!!!!
jiffest 2009 telah berlalu. apa yang tersisa darinya?
pastinya beberapa kenangan, baik yang manis maupun yang buruk. sebenarnya tahun ini tidak banyak film yang saya tonton. hanya ada beberapa film free screening. itu pun kebanyakan tanpa direncanakan alias setengah ngasal aja. hehehe.
kita mulai dari yang buruk terlebih dahulu. pertama adalah gangguan yang terjadi ketika pemutaran flm. hari sabtu 4/12/2009, di awal pemutaran film sempat terjadi tak terdengarnya suara apapun dari film tersebut.
lalu ketika menonton ‘adela’ gambar yang tertampil di di layar tampak kasar bergaris-garis. oleh panitia hal ini disebutkan karena adanya perbedaan sistem pal-ntsc (kok kayak tv ya ternyata??) antara negeri asal film itu dengan di indonesia. huh.
yang menyebalkan lagi antara lain ketika kami tidak kebagian tiket ‘indonesia short films. padahal kami datang kira-kira 1 3/4 jam sebelum pemutaran film itu. ternyata tiket yang seharusnya dibagikan sejam sebelum pemutaran film telah dibagikan 1 1/2jam sebelumnya dan sialnya kami tak menyadari bahwa panitia melanggar aturan main yang dibuatnya sendiri.
lalu apa kenangan manis yang tersisa?
sudah pasti yang pertama adalah film-film karya yasmin ahmad yang inspiratif namun tetap menghibur. campuran yang pas antara komedi dengan kegalauan. kentalnya unsur-unsur pertentangan dan komunikasi antar suku dan etnis sangat menarik untuk disimak.
kedua adalah hadirnya 2 orang yang sangat aku sayangi menonton bersamaku, meski hanya pada hari pertama. hehehe.
lalu, film-film festival, entah kenapa, meski yang sangat membosankan dan lambat sekalipun selalu berhasil memasukkan sesuatu dalam benakku.
misalnya film ‘adela’ yang memang oleh produser dan sutradaranya sengaja dibuat tanpa musik latar dan menonjolkan keaslian suara-suara alami membuatku pada satu pagi merenungi berbagai suara yang mampir di kupingku saat ku berjalan menuju halte bus. kicauan burung, anak-anak berteriak-teriak senang, suara batu dipukuli oleh tukang, berbagai jenis bunyi-bunyian yang selama ini aku tak pernah perhatikan. ah, indahnya musik kehidupan.
bahkan film super boring dan geje (menurut saya) ‘here’ yang bercerita tentang kehidupan orang di sebuah mental institution pun membuatku tercenung akan kewarasan, keragaman sudut pandang manusia, dan kehidupan itu sendiri.
oh ya, lalu memori terakhir yang sangat manis adalah ‘sweet disposition’, lagu tema dari film ’500 days of summer’ yang juga menjadi lagu latar trailer jiffest. lagu yang dibawakan grup band asal negeri kangguru ‘temper trap’ ini langsung menancap dalam ingatan sejak pertama saya mendengarnya dan seakan tak mau berhenti berdengung di sekitar pendengaranku
‘dealing with grief of loss’ Dang! i felt like i was stabbed right into my heart as i saw a title of a thread in a forum for ‘queer’ folks. ternyata bnyk yg ngalamin gt. not really an homoerotic love, but further beyond than just bestbuddies. is it platonic love? not really sure about the definition. pokoknya satu perasaan dekat yg aneh, susah dijelaskan dg kata2 yg bukan hubungan pacaran sesama jenis tapi juga jauh lebih dalam dari skedar sahabat. ah, binun dah. hehe
hehehe. lucu juga ketemu berdua emang. lucuan lagi pake alesan2 segala kenapa suka off mendadak.
“eee itu aku bukan off. itu internetna aja yang edan suka disconnect mendadak en gak mau reconnect lagi”
so what? dah bosan rasanya denger alesan2. lagian, ternyata dia kerasa juga ya walo gw cuman berani ngomel lewat status fb en ym?
hihihi. aneh emang.
dah gitu pake alesan pula kenapa semakin ndud (mana pake acara pamer peyut ndudna yang makin berlipet2 itu segala..wekekeke)…
uhuhuhu, yayaya gw selalu cinta dia.
walau semakin hari gw semakin gak menemukan dimana letak kecakepannya.
bukan. sama sekali bukan karena fisiknya makin ndud dan nggak bentuk.
entahlah.
suatu penyadaran bahwa kesemuan dan kerapuhan hubungan ini makin menjadi agaknya.
dengan marah andi menulis di ponselnya “ah, ternyata omdo lagi ya? ya sutra lah dah bosen digituin mulu. cuman kalu butuh doang emg. capedeeeee X(“. dikliknya tombol ‘update status’. lalu dicampakkannya ponselnya dengan kasar ke atas tempat tidur.
belum lagi 5 menit berlalu, ponselnya berbunyi-bunyi lirih. ada pesan masuk via messenger-nya facebook. dari bimo.
>ndi
andi terpaku melihat layar ponselnya. agak lama baru kemudian diketiknya jawaban.
>napa, bim???
>kamu mau pergi nggak hari ini?
>nggak kayaknya. emang napa?
>aku ke tempatmu ya? sekarang?
>oh
andi terdiam lagi, kemudian melanjutkan mengetik.
>ok. dateng aja
>ok deh aku jalan sekarang.
andi tak menjawab. ia terus menatap layar ponsel. menunggu bimo hilang dari daftar kontak yang sedang online di messenger.
tapi nama bimo terus berada di belakang bulatan hijau.
kira-kira 10 menit kemudian ada pesan masuk lagi dari bimo
>jangan lupa sediain snack yang banyak ya
>ya. emang kamu ni dah berangkat belum sih?
>udah dari tadi. napa?
>oh
andi baru teringat pada BB gemini milik bimo yang dia juga yang bantu untuk mengaktifkan BIS-nya. pantas nama bimo tak hilang juga dari daftar kontak online.
mereka lalu terlibat percakapan seru penuh canda via messenger. sampai mendadak bulatan hijau di depan nama bimo berubah menjadi abu-abu.
“ah, kebiasaan”
andi memaki dalam hati
“offline gak pernah pamit. dodols”
tapi sejenak kemudian andi nyaris terlompat kaget mendengar suara,”ndi.”
bimo telah berdiri di depan pintunya, mulutnya tersenyum lebar, menyapa andi dengan wajahnya yang cerah ceria.
“oh, ya ampun, bim. bikin kaget aja. masuk! masuk!”
kemarahan yang menyala-nyala membakar hatinya dan dilampiaskan lewat update status facebook tadi langsung lumer saat melihat wajah bimo yang tak henti-hentinya tersenyum.
“huah, panas banget.” bimo mengipas-kipaskan selembar kertas sambil menyeka dahinya yang basah. dia melihat-lihat ke sekeliling.
“haus ya, mas? mau teh botol dingin?”
“mau banget dong. haus banget keringetan ampe basah kuyup gini.”
“tar aku beli di warung depan. bentar kok.”
“yee, kirain ada.’
“bentar kok. gapapa. cuman di warungnya ibu kos situ.”
andi berlari keluar setelah menyambar dompetnya, dan segera kembali membawa sebotol teh dan beberapa buah teh gelas dingin.
“buset! banyak amat.”
“katanya tadi haus banget.”
setelah tadi larut dalam candaan via dunia virtual, kini mereka asyik bercengkrama dalam dunia nyata. sebenarnya lebih banyak bimo yang berbicara sementara andi mendengarkan dengan penuh perhatian. namun andi memang tak pernah merasa keberatan akan dominasi bimo dalam berbagai hal. sambil mendengarkan celoteh bimo, andi tak henti-hentinya menatap bimo. melihatnya dari ujung kepala hingga kaki. mengagumi wajahnya yang menurutnya sebenarnya tak tampan namun selalu muncul dalam benaknya. tak terasa waktu jadi berlari begitu cepat. bimo yang menyadari itu ketika melihat jam di ponselnya.
“wah, udah jam 5 lebih. wih, mana mendung banget lagi. aku balik dulu deh ya, ndi. gapapa kan?”
“cepet amat, bim.” andi masih ingin berlama-lama berduaan dengan bimo. saat-saat mereka berdua adalah momen yang menyenangkan bagi andi. menyaksikan betapa lepasnya bimo bergurau dengannya, bercerita sambil tak henti-hentinya tertawa. hal seperti tak terjadi saat ada orang lain. bimo selalu menahan diri dalam kehadiran orang lain di sekitar mereka. bimo terlihat begitu nyaman. dan ini juga membuat andi sangat merasa nyaman, dia tak ingin momen-momen ini berlalu. tapi dia tahu bimo harus kembali. besok mereka akan bekerja lagi. kembali hilang tenggelam dalam kesibukan masing-masing. hingga kerinduan mempersatukan mereka lagi. meski hanya lewat dunia virtual.
lord,
help me through this.
or else
just let me go
……..
andi duduk gelisah di bangku sebuah restoran prasmanan dengan menu sundaan. berulangkali dia melihat ke arah pintu masuk rumah makan itu. diliriknya layar ponselnya. sudah jam 12 lebih. padahal seharusnya jam setengah 12 acara makan siang bersama itu sudah dimulai. hari itu adalah hari ulang tahun andi dan andi bermaksud mentraktir beberapa sahabat dekatnya. 4 orang temannya sudah hadir, masing-masing menghadapi piring-piring berisi makanan pesanan mereka. bau masakan sungguh menggoda selera. namun tak seorang pun mulai menikmati hidangan. mereka semua menunggu andi. sementara andi masih menanti kehadiran seorang lagi. tak sabar, jari-jari andi bagai menari di atas keypad qwerty ponselnya.
>mas, kamu jadi dateng gak sih? udah ditungguin nih. kasian dah pada laper.
lincah jari-jari andi mengetik pesan lalu segera mengirimkan lewat messenger di ponselnya.
>ya bentar. gi jln. dikit lg
menit-menit terus berlalu. andi makin tak sabar. dipilihnya sebuah nomor telepon lalu ditekannya tombol dial. layar ponsel menampilkan nama : Bimo, disertai foto seorang pria muda tersenyum ramah.
“tuuut….tuuut…..” tak ada reaksi dari nomor yang dituju. andi kembali pada messenger-nya
>mas, kami mulai duluan ya. tar kamu kalo nyampe langsung pesen makanan aja ok?
>ok
andi pun segera mempersilakan tamu-tamunya untuk menyantap hidangan. dipaksakannya dirinya untuk ikut makan meski hatinya terasa gundah.
lepas dari pukul setengah satu siang baru sosok yang ditunggu-tunggu itu tiba. bimo mendekati meja dengan muka sedikit kusut, senyumnya pada semua orang terlihat agak dipaksakan. disalaminya andi dengan sedikit kaku, segera ditariknya kembali tangannya begitu bersentuhan dengan tangan andi. bimo duduk di kursi yang berhadapan dengan andi. andi baru menyadari bahwa sejak tadi kursi di depannya itu kosong, tak seorang pun teman yang lainnya duduk di situ. dia tak henti-hentinya menatap bimo. terakhir mereka bertemu dua bulan yang lalu saat andi mengantarkan bimo berbelanja untuk memperbarui isi lemari pakaiannya. yah, walau mereka tak lagi tinggal di bawah satu atap, entah kenapa bimo masih melakukan hal yang dulu memang biasa mereka jalani. saat ini, dengan bimo duduk dalam jarak kurang dari satu meter darinya, jantung andi berdegup kencang. selalu begini tiap kali dia bertemu lagi dengan bimo. meski ia telah berulang kali berusaha mengubur dalam-dalam rasa sayangnya pada bimo.
pada pertemuan siang itu bimo sedikit sekali berbicara. sesekali dia berbicara pada andi atau menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya, berkali-kali andi mendapati bimo melihat kepadanya dengan pandangan tajam, raut mukanya menunjukkan rasa bosan sementara dua teman andi yang lain asyik berdiskusi tentang wakil rakyat dan tingkah polahnya. tak ada gunanya mencoba lagi mengajak bimo berbicara, dia lebih banyak menjawab dengan bunyi-bunyian yg seperti gumaman. yang bisa andi lakukan hanyalah menyudahi acara hingga semua bisa pergi ke tempat masing-masing.
tapi ternyata tidak begitu, di depan restoran salah seoran teman andi mengusulkan untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. yang lain setuju kecuali seorang yang harus pergi karena ada acara keluarga. bimo terdiam sejenak.
“ikut ya, mas?” andi melihatnya dengan penuh harap.
“ya.’ lirih jawaban bimo.
di dalam mobil, andi duduk bersebelahan dengan bimo. tanpa sadar dia merapat pada bimo. yah, hanya saat seperti inilah yang tersisa baginya untuk merasakan kedekatan dan kehangatan tubuh bimo. bimo diam saja walau pasti ia merasakan bahwa andi mendempel-dempel terus padanya. tatapan matanya lebih lembut kini, tak segarang tadi sewaktu masih di restoran. ia menjawab pertanyaan-pertanyaan bimo dengan suara lembut.
di pusat perbelanjaan, andi nyaris tak pernah bisa jauh dari bimo. tiap kali ada hal yang menarik perhatian bimo, pasti andi ditarik ke sisinya untuk ikut melihat. begitu pula bila bimo hendak membeli sesuatu, hampir selalu andi ada di sampingnya untuk memberi saran atau sekedar untuk berkata,”bagus” pada setiap pilihan bimo. bimo lalu biasanya akan tersenyum lebar dan langsung menyuruh pelayan toko untuk membungkus barang pilihannya. andi dengan senang hati menjadi ‘satelit’ bagi orang yang tak bisa juga berhenti dipujanya. andi yang biasanya pemalu dan penakut itu bisa dengan tegarnya bertanya ini-itu pada penjaga toko, menanyakan perihal benda yang akan dibeli bimo.
tapi seperti juga semua mimpi, rasa hangat itu pun memiliki akhir. saat bimo keluar dari mobil di depan rumahnya, andi hanya bisa mengusap punggung bimo sambil memandang wajahnya dengan sedih. berharap ini bukan untuk terakhir kalinya.
