‘Oh, wahai, cermin ajaib di dinding.’
‘Ya, tuanku yang mulia ratu.’
‘Katakan padaku, oh, cermin, mengapa engkau tak pernah menyapaku dengan senyuman?’
‘Ampuni aku, tuanku. Tapi aku adalah sebuah cermin.’
‘Kau selalu menyambut anak tiriku, si Putri Salju, dengan senyuman lebar nan hangat! Kenapa tidak begitu juga padaku?’
‘Ampuni aku. Aku hanyalah sebuah cermin.’
‘Dasar mahluk tolol! Aku mau kau tiap kali menyapaku dengan ramah!’
‘Ampun, tuanku. Aku hanyalah sebuah cermin. Aku hanya bisa membalas dengan apa yang kau hadapkan padaku. Engkau selalu datang ke depanku dengan wajah kusut, bersungut-sungut dan penuh amarah. Jadi itu pula yang kau lihat padaku. Itulah tugas sebuah cermin. Menunjukkan apa yang ada dan terjadi pada tiap orang yang menghadapnya’
Januari 25, 2008
cermin ajaib
Posted by aito under cerita, curahan hati | Tag: ajaib, benci, Cermin, dengki, ibu, iri, tiri |1 Comment
Januari 30, 2008 at 1:37 am
Apakah memang selalu begitu? Bagaimana dengan cermin ajaib yang memang sedang kusut apakah sang ratu harus tetap tersenyum melihat dirinya yang juga kusut?? Atau bahkan hampir retak, tapi si cermin tidak dapat mengatakan apa-apa karena cermin sendiri sudah merasa terintimidasi terlebih dahulu oleh yang mulia. hihihi