‘Oh, wahai, cermin ajaib di dinding.’
‘Ya, tuanku yang mulia ratu.’
‘Katakan padaku, oh, cermin, mengapa engkau tak pernah menyapaku dengan senyuman?’
‘Ampuni aku, tuanku. Tapi aku adalah sebuah cermin.’
‘Kau selalu menyambut anak tiriku, si Putri Salju, dengan senyuman lebar nan hangat! Kenapa tidak begitu juga padaku?’
‘Ampuni aku. Aku hanyalah sebuah cermin.’
‘Dasar mahluk tolol! Aku mau kau tiap kali menyapaku dengan ramah!’
‘Ampun, tuanku. Aku hanyalah sebuah cermin. Aku hanya bisa membalas dengan apa yang kau hadapkan padaku. Engkau selalu datang ke depanku dengan wajah kusut, bersungut-sungut dan penuh amarah. Jadi itu pula yang kau lihat padaku. Itulah tugas sebuah cermin. Menunjukkan apa yang ada dan terjadi pada tiap orang yang menghadapnya’