Sebuah gereja tua.

Barisan bangku kosong berderet panjang.

Sayup-sayup nyanyian latihan paduan suara.

Seorang lelaki terhenyak di satu bangku.

Air mata menuruni pipi.

‘Bapa, ampuni aku. Ampuni anakmu yang penuh dosa ini.’
‘Ampuni aku. Aku mencintai sahabat baikku sendiri. Salahkah aku, Bapa? Tak bolehkah aku mencintainya? Tak bisakah aku memilikinya? Meski hanya dalam kata? Kenapa kau pertemukan dia dengan Sekar? Kenapa harus Sekar, Tuhan? Kenapa Kau buat aku terjepit di antara 2 sahabatku? Kenapa Dimas dan Sekar, Bapa?’
‘Aku tahu aku seharusnya berbahagia untuk kedua sahabatku. Tapi bagaimana bisa ku berbahagia melihat mimpiku berlalu pergi? Senandung dalam hidupku. Cahaya terangku.’
‘Bapa, ampuni anakMu yang egois ini. Ajarkanlah padaku untuk mengasihi dengan ikhlas. Biarlah ku berbahagia untuk orang-orang yang kusayangi. Peganglah tanganku, oh, Tuhan. TanpaMu ku takkan bisa.’

‘Please, Lord, have mercy on me.’