Maret 2008


Menulis? Whew! Yah, emang akhir-akhir ini gw jadi ‘agak’ hobi ‘nulis’. Tapi tentu aja cuman sekedar nulis di blog, itupun kebanyakan sebatas curhatan ato laporan jalan-jalan nggak mutu yang menjurus ke narsisme. Blog berisi curhatan ini pun tadinya cuman sekedar ’sampingan’ dari blog gw yang satunya yang isinya reviews pribadiku (yang cenderung bias, hehehe) tentang hape dan hal-hal yang berhubungan. Tapi dalam perkembangannya gw malah lebih rajin nulis di blog curhatan ini daripada di blog tentang hape. Ya, wajar lah. Menulis review tentang hape kan gw perlu sedikitnya pengalaman singkat secara personal (duh, bahasanya) dengan sang handset yang mau aku bahas, yang berarti tiap kali aku harus mengganti hape baru atau paling nggak mencari pinjaman hape milik teman-temanku. Beberapa teman malah dengan sukarela meminjamkan hapenya untuk aku coba-coba. Hehehe, thanks guys. Tapi, yaa, bahkan pinjeman pun ada batasnya. Apalagi untuk sampe meminjamkan hape untuk jangka waktu agak lama (minimal beberapa jam) pada orang lain kan membutuhkan ’satu tingkat pertemanan’ tertentu (whew, istilah apalagi ne? hihihi), yang semakin mempersempit dan mempersedikit cadangan hape yang bisa dibahas. Huahaha. Sementara menulis curhatan kan nggak membutuhkan apa-apa. Sekedar memerlukan niat dan tentu saja mood yang tepat. Menulis curhatan di blog malah menjadi semacam ‘terapi’ bagiku dari masalah-masalah hidup yang membelit.

Seperti ditulis Ray Douglas Bradbury di bukunya ‘Zen in the art of writing’ :

But what would happen is that the world would catch up with and try to sicken you. If you did not write every day, the poisons would accumulate and you would begin to die, or act crazy, or both. You must stay drunk on writing so reality cannot destroy you. For writing allows just the proper recipes of truth, life, reality as you are able to eat, drink, and digest without hyperventilating and flopping like a dead fish in your bed.’

Jadi menulis meskipun hanya tulisan nggak karuan (dan cuman sepotong) di blog bisa membersihkan racun-racun dari kenyataan hidup yang pahit(at least for me ya).

Lebih dramatis lagi, Ray Bradbury menyatakan begini :

Secondly, writing is survival. Any art, any good work, of course, is that. Not to write, for many of us, is to die.

Segitunya. Hehehe. Tapi kayaknya emang bener juga sih. Paling nggak buat orang-orang macam si Jeng Payung Merah yang emang pekerjaannya nulis kali ya. Kalo untuk gw sendiri sih mungkin gw bakal jadi gila kalo nggak bisa numpahin uneg-uneg yang menghantui pikiran. Tiap kata, kalimat, yang terucap oleh orang-orang yang berarti bagiku ataupun yang mendadak nongol begitu saja di alam khayalku sendiri, semua menunggu giliran untuk ditumpahkan.

Satu quote lagi dari ‘Zen in the art of writing’ yang sangat menghiburku sebagai seorang penulis amatiran nan nggak jelas :

And when a man talks from his heart, in his moment of truth, he speaks poetry.

PS : Btw kenapa gw mendadak mencuplik-cuplik dari buku (nggak gw banget deh, hehehe) sebenernya cuman karena satu alesan yang amat sepele. Gw ‘nemu’ mobipocket reader berbasis j2me untuk hape yang membangkitkan kembali semangat untuk membaca-baca e-books dari handset yang mensupport j2me. Untuk pembahasan lebih lengkap tentang mobipocket ini silaken buka blog gw yang tentang hape. I won’t review it here. Hehehe.

‘You must let go your heart.’
He said.
‘You just cannot control it.’
Yeah, I know he’s right.
Never will I be able to

Ah, hon,
Kata-katamu begitu mengena
‘Sebatang pohon pisang terapung di lautan gelap’
Pas banget
Dalem banget
Sakit banget
Oh, damn!
Thanks anyway

What you never know
won’t hurt you
What you never know
won’t lie
What you never know
won’t desert you
What you never know
won’t say goodbye

What you never know
won’t make you cry

What you never know
unless you try

From ‘What you never know’ by Sarah Brightman

Ya,
Ku sadar
Ku seharusnya bersyukur
Karena telah tahu
Meski tahu membawa rasa perih yang mengiris-iris
(Ku tak menyesal telah mengenalmu)
(Meski hati tercabik-cabik tiap kali senyummu terlintas dalam benak)
(Berjuta kata dan rasa terpendam)

Terimakasih, Tuhan
Karena telah membiarkanku
Tahu

Cache-cache!
Oh, bon dieu!
Il me fait fatigue!
Si jeune il est
Et moi?
Peux plus courir

Such a baby he is
Must keep an eye on him
Always
Or else
Something’s gonna go wrong

(Oh, what a weekend)

If blood will flow when flesh and steel are one
Drying in the colour of the evening sun
Tomorrow’s rain will wash the stains away
But something in our minds will always stay
Perhaps this final act was meant
To clinch a lifetime’s argument
That nothing comes from violence and
nothing ever could
For all those born beneath an angry star
Lest we forget how fragile we are
On and on the rain will fall
Like tears from a star,
like tears from a star
On and on the rain will
SEE
How fragile we are, how fragile we are
On and on the rain will fall
Like tears from a star, like tears from a star
On and on the rain will say
How fragile we are, how fragile we are
How fragile we are, how fragile we are

From ‘fragile’ by Sting & the Police

‘Run away with me.’
Flashing eyes said.
‘Leave all behind, including the most precious thing you have.’
‘Abandon.’
‘Forget.’
Whispers are fizzing.
Abandon all for what?
For your uncertainties?
Damn you, devilish cyclone!
Stop your fizzles right away!
Don’t want to be tangled
No more

Kali ini tentang
Melarikan diri
(Kata terpeleset jatuh dari mulutnya)

Oh, yeah
Just go
Let go

Will I dare to

Give me a second
I’ll catch you up

Enigmatic.
Kata itu pernah terucap pada seorang sahabat tersayang (hihihi).
Tapi memang kalau dipikir-pikir lagi, bukankah kebanyakan manusia memang seperti itu.
Membingungkan bagai teka-teki.
Seperti sahabatku itu, yang bahkan tidak tahu apa warna favoritnya sendiri. Hahaha (Oops, sorry, darling).
Seperti juga aku sendiri, yang hingga kini pun belum tahu pasti apa yang sebenarnya ingin aku lakukan dalam hidup ini, tidak yakin siapa sebenarnya yang aku cintai, ragu akan membeli handphone apalagi kali ini dan banyak lagi ketidakpastian lainnya.
Pathetic. Tapi memang begitu kenyataannya.
Dengan mengetahui kenyataan seperti itu, entah kenapa aku masih juga suka gamang dalam menghadapi berbagai tipe orang yang membawa teka-tekinya masing-masing.
Seperti temanku yang satu lagi, yang entah kenapa akhir-akhir ini sering merasuk ke dalam benakku (mungkin karena saking bingungnya aku menghadapi teka-teki yang dia sodorkan padaku). Bila diandaikan suatu puzzle yang terberai, yang satu ini mungkin bisa dibayangkan seperti puzzle yang terdiri dari ratusan ribu potongan gambar, berantakan kacau balau, masih untung bila tak ada potongan gambar yang hilang. Di satu sisi dia layaknya stereotip seorang pria pada umumnya : tidak begitu ekspresif, tidak emosional (minimal secara kasat mata), seakan acuh tak acuh dalam menghadapi berbagai masalah (kalau mau lebih bernada lebih positif mungkin bisa disebut berlagak ‘cool’ terhadap apapun yang menghadang). Yah, pokoknya bila kau perhatikan dia dan segala tingkah lakunya sepertinya akan melihat kecenderungan yang datar-datar aja. Variasi ekspresi mukanya sebatas senyum samar, senyum lebar, terbahak-bahak dan tampang ngantuk. Tapi itu pada situasi publik alias ramai (yah, minimal 3-4 orang-lah, hihihi). Pada tataran yang lebih pribadi, seperti antara 2 orang misalnya, baru muncul sisi-sisi lain yang lebih gelap : ada rasa murung, sedih, kecewa, marah, frustasi, kebingungan. ‘Gloominess’ ini memang hanya muncul secara amat sangat jarang sekali (Waduh! Berlebihan! Hehehe), itupun, seperti sudah disebut, hanya pada momen-momen yang cenderung privat.Aku sempat terkejut dan bingung ketika pertama kali menemukan sisi-sisi gelap temanku yang satu ini. Baru dari saat itu aku mulai berpikir bahwa manusia itu bukan seperti lukisan yang terpajang di dinding yang hanya dilihat dari satu sisi. Selama ini aku selalu mengira (dengan naifnya) bahwa aku sudah cukup mengenal teman-temanku, bahwa apa yang aku persepsikan tentang mereka itu adalah mereka yang sesungguhnya.
Di balik tawanya yang nyaring itu ada kemurungan. Sifat cerah ceria dipakai untuk menutupi keremangan dalam hati. Di luar seperti batu karang yang tak tersentuh, kuat kokoh, di dalam ada sejuta kegelisahan yang ingin dicurahkan dan dibagi.
Membingungkan, sekaligus begitu indah. Begitu cantik Tuhan menciptakan manusia dengan segala rahasia di dalamnya.
Jadi, kumohon dengan rendah hati kepada sahabat-sahabatku yang kusayangi (i really mean it, darlings), maafkan bila aku terkesan suka memberi penilaian atau membuat persepsi tentang kalian secara dangkal. Couldn’t help it. But next time, I promise I’ll try to be more careful and deliberate in that, paling tidak kalo pas aku ingat. Hahaha.

PS : Btw ada satu teman lagi yang tak kalah anehnya. Tapi untuk menceritakannya di sini, aku terus terang nggak berani. Takut ada sendal melayang nanti. Hahaha. Mungkin teman-teman juga beberapa sudah bisa menebak siapa orangnya. Orang ini juga di satu sisi mirip dengan persona yang sudah aku ceritakan di atas : punya sisi-sisi yang bertentangan atau bahkan berkebalikan, tapi kali ini bahkan lebih ’seram’ karena ada kecenderungan untuk ‘meledak’ secara tiba-tiba. Tapi bagaimanapun, memang 2 orang ini ( yang di ’sini’ dan yang di ‘atas’) sebenarnya memiliki cukup banyak kemiripan meski aku yakin sekali mereka berdua tak akan sudi untuk mengakuinya. Wakakak.

so,

where do you go?

anyway, wherever you go, please don’t forget me

eventhough i know i mean nothing to you

quelle tristesse de vivre sans toi

the world might stop turning for me

meme si tu sais pas de cette amitie

du sentiment

qui mourra jamais

j’ai peur a continuer

cette vie

sans toi pres de moi

alors, ami

embrasses-moi

encore une fois seulement

enfin

Halaman Berikutnya »