Sebuah padang yang indah oleh jalinan warna-warna bunga dan sesemakan. Seorang anak laki-laki kecil berlari riang menerjang rumput-rumput liar, menyanyi mengikuti suara tawa angin di sela dedaunan. Namun sekejap tawa ceria itu terhenti, terhenyak ke arah satu semak yang merunduk sedih. Anak itu berjongkok untuk melihat ada apa di sana.
Sosok tubuh kecil tergeletak lemah, seekor burung mungil berwarna cerah.
‘Ah, burung ! Kenapa tidur di tempat seperti ini?’
Mahluk itu berusaha menggerak-gerakkan sayapnya yang kusut.
‘Jangan beristirahat di sini, burung. Tempat ini berbahaya.’
Si burung hanya menatap anak kecil dengan pasrah. Sayapnya terkepak lemah. Bercak merah menodai bulu-bulunya yang kekuningan.
‘Ah, kamu terluka rupanya. Kasihan sekali kamu, burung kecil.’
Perlahan si anak meletakkan burung di dalam dekapan tangannya. Si burung mengepak-ngepakkan sayap dengan panik, mencicit lemah.
‘Jangan takut, kecil, aku akan merawatmu sampai kamu sembuh.’

Rumah kecil di tepian padang luas itu.
‘Mau kamu apakan burung mati itu?’
‘Burung ini masih hidup, bu. Akan ku rawat dia sampai sayapnya sembuh dan dia bisa terbang lagi.’
‘Memangnya kamu tahu cara memelihara seekor burung, apalagi yang sakit ?’
‘Tidak. Tapi aku akan berusaha sebisaku. Aku yakin kasih sayang akan membimbingku, ibu.’
‘Ya sudah. Terserah kamu saja. Yang jelas ibu nggak akan ikut campur atau membantumu merawatnya.’

Beberapa hari berlalu, ibu terheran-heran melihat burung kuning kecil itu mencericit riang di sangkarnya, mengepak-ngepakkan sayapnya yang rapuh dengan penuh semangat.
‘Nak, sepertinya kamu berhasil merawat burung ini. Dia sudah sembuh agaknya.’
‘Iya, bu.’
‘Saatnya untuk mengembalikannya ke alam bebas.’
‘….’

Tengah-tengah hamparan bunga-bunga biru yang mekar semerbak. Anak kecil memegangi sangkar burung yang diletakkan di atas rumput.
‘Ibu benar. Kamu harus kembali ke tempatmu, ke alam bebas. Tapi kenapa aku merasa berat? Bagaimana bila kau celaka nanti? Bagaimana bila kucing nakal penjaga padang ini menangkapmu? Apa kamu bisa menemukan makan yang cukup untuk bertahan hidup? Bagaimana bila badai salju mendadak menyerang daerah ini?
Aaah, katakan padaku, burung kecil, apakah kau merasa bahagia bersamaku?’
Burung itu tentu saja tidak menjawab pertanyaan si anak. Tatapan kosong namun tajam saja yang dia bisa balik berikan.
Hangat terasa mata dan pipi si anak, air mata meleleh melintas ke bawah sebelum jatuh ke tanah saat dia membuka pintu sangkar burung itu.
‘Pergi! Pergilah, burung kecil! Kembalilah ke tempat seharusnya kau berada.’
Ragu sejenak sebelum melesat keluar dari sangkar, terbang berputar-putar merasai kembalinya kebebasan, lalu hinggap di dahan sebuah pohon tak jauh dari situ.
Terdiam, berpandangan.
Mata anak kecil kembali terasa panas, sengat-sengat perih membuatnya tak kuasa menahan jatuhnya air mata.
‘Ingat-ingatlah, burung kecil, bahwa pernah ada seorang anak yang menyayangimu, begitu sayang hingga dia merelakanmu pergi.’
Si burung masih terpaku, melihat beberapa saat, sebelum terbang dan hilang di balik rerimbunan pohon.
‘Pergilah, hadapi hidup ini dengan tegar.’