Hmm, ternyata reaksinya biasa aja.
Yah, seperti yang sudah ku bayangkan sebelumnya.
Lagian aku juga salah, memberikannya dalam situasi seperti itu. Bagaimanapun, dalam satu sisi, dia cukup peka, minimal terhadap suasana yang membuatnya merasa tidak nyaman. Meski sepertinya ada usaha untuk menutupi ‘kesadaran’ itu dari orang lain. Meski pekanya hanya untuk hal-hal yang sekiranya dapat mengganggu keberadaan dan kenyamanannya. Seperti dia pernah bilang, dia tidak suka tipe orang Jogja (jawa??) yang sok beramah tamah di luar, tapi menusuk diam-diam dari belakang (memangnya ada ya yg suka dengan tipe orang begitu?) (lagi-lagi stereotipe kedaerahan/suku…). Itu kan menunjukkan bahwa dia cukup peka, walau diperlakukan dengan baik di luar tapi dia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres (atau itu malah menunjukkan ‘insecurity’ atau ‘paranoid’-nya ya? wanda deh…). Yang jelas temboknya kayaknya memang setebal tembok-tembok reruntuhan di Tamansari Jogja. Kata kadang lepas, itu pun sekelebat dan samar, bahkan dengan berusaha fokus pun tetap sulit untuk mengerti. Sepenggal kalimat pengakuan tersamar akan persahabatan pernah lepas. Tapi tak cukup kuat tanpa pondasi, lebih seperti membangun gubuk bambu di atas sungai berarus deras. Kata-kata tak pernah bisamembuktikan apa-apa, meski kata-kata memang bisa menguatkan dan memberi dorongan. Menghadapi situasi semacam ini aku bagai berkaca melihat diriku sendiri. Apa yang sudah kulakukan selama ini pada orang-orang yang kuakui sebagai sahabat? Aku lebih banyak berkata daripada menolong dengan nyata. Memberi saran, nasehat, penghiburan. Tindakan nyata jarang sekali kulakukan. Kalopun melakukan sesuatu, rasanya tidak ada yang benar-benar berarti. Memalukan memang. Aku tahu aku terlalu penuh pesimisme dan rendah diri. Mungkin karena itu pula aku kadang memandang sinis pada orang lain. Termasuk padanya. Terutama pada orang-orang macam itu, yang menyembunyikan rasa dan emosi di balik suatu keseragaman reaksi yang tertebak dan nyaris datar. Orang-orang yang menghasilkan rasa gamang. Mungkin juga seperti tipe orang yang dibencinya : ramah ceria di luar, dengki dan penuh kepahitan di dalam. Semoga saja tidak.