Enigmatic.
Kata itu pernah terucap pada seorang sahabat tersayang (hihihi).
Tapi memang kalau dipikir-pikir lagi, bukankah kebanyakan manusia memang seperti itu.
Membingungkan bagai teka-teki.
Seperti sahabatku itu, yang bahkan tidak tahu apa warna favoritnya sendiri. Hahaha (Oops, sorry, darling).
Seperti juga aku sendiri, yang hingga kini pun belum tahu pasti apa yang sebenarnya ingin aku lakukan dalam hidup ini, tidak yakin siapa sebenarnya yang aku cintai, ragu akan membeli handphone apalagi kali ini dan banyak lagi ketidakpastian lainnya.
Pathetic. Tapi memang begitu kenyataannya.
Dengan mengetahui kenyataan seperti itu, entah kenapa aku masih juga suka gamang dalam menghadapi berbagai tipe orang yang membawa teka-tekinya masing-masing.
Seperti temanku yang satu lagi, yang entah kenapa akhir-akhir ini sering merasuk ke dalam benakku (mungkin karena saking bingungnya aku menghadapi teka-teki yang dia sodorkan padaku). Bila diandaikan suatu puzzle yang terberai, yang satu ini mungkin bisa dibayangkan seperti puzzle yang terdiri dari ratusan ribu potongan gambar, berantakan kacau balau, masih untung bila tak ada potongan gambar yang hilang. Di satu sisi dia layaknya stereotip seorang pria pada umumnya : tidak begitu ekspresif, tidak emosional (minimal secara kasat mata), seakan acuh tak acuh dalam menghadapi berbagai masalah (kalau mau lebih bernada lebih positif mungkin bisa disebut berlagak ‘cool’ terhadap apapun yang menghadang). Yah, pokoknya bila kau perhatikan dia dan segala tingkah lakunya sepertinya akan melihat kecenderungan yang datar-datar aja. Variasi ekspresi mukanya sebatas senyum samar, senyum lebar, terbahak-bahak dan tampang ngantuk. Tapi itu pada situasi publik alias ramai (yah, minimal 3-4 orang-lah, hihihi). Pada tataran yang lebih pribadi, seperti antara 2 orang misalnya, baru muncul sisi-sisi lain yang lebih gelap : ada rasa murung, sedih, kecewa, marah, frustasi, kebingungan. ‘Gloominess’ ini memang hanya muncul secara amat sangat jarang sekali (Waduh! Berlebihan! Hehehe), itupun, seperti sudah disebut, hanya pada momen-momen yang cenderung privat.Aku sempat terkejut dan bingung ketika pertama kali menemukan sisi-sisi gelap temanku yang satu ini. Baru dari saat itu aku mulai berpikir bahwa manusia itu bukan seperti lukisan yang terpajang di dinding yang hanya dilihat dari satu sisi. Selama ini aku selalu mengira (dengan naifnya) bahwa aku sudah cukup mengenal teman-temanku, bahwa apa yang aku persepsikan tentang mereka itu adalah mereka yang sesungguhnya.
Di balik tawanya yang nyaring itu ada kemurungan. Sifat cerah ceria dipakai untuk menutupi keremangan dalam hati. Di luar seperti batu karang yang tak tersentuh, kuat kokoh, di dalam ada sejuta kegelisahan yang ingin dicurahkan dan dibagi.
Membingungkan, sekaligus begitu indah. Begitu cantik Tuhan menciptakan manusia dengan segala rahasia di dalamnya.
Jadi, kumohon dengan rendah hati kepada sahabat-sahabatku yang kusayangi (i really mean it, darlings), maafkan bila aku terkesan suka memberi penilaian atau membuat persepsi tentang kalian secara dangkal. Couldn’t help it. But next time, I promise I’ll try to be more careful and deliberate in that, paling tidak kalo pas aku ingat. Hahaha.

PS : Btw ada satu teman lagi yang tak kalah anehnya. Tapi untuk menceritakannya di sini, aku terus terang nggak berani. Takut ada sendal melayang nanti. Hahaha. Mungkin teman-teman juga beberapa sudah bisa menebak siapa orangnya. Orang ini juga di satu sisi mirip dengan persona yang sudah aku ceritakan di atas : punya sisi-sisi yang bertentangan atau bahkan berkebalikan, tapi kali ini bahkan lebih ’seram’ karena ada kecenderungan untuk ‘meledak’ secara tiba-tiba. Tapi bagaimanapun, memang 2 orang ini ( yang di ’sini’ dan yang di ‘atas’) sebenarnya memiliki cukup banyak kemiripan meski aku yakin sekali mereka berdua tak akan sudi untuk mengakuinya. Wakakak.