Menulis? Whew! Yah, emang akhir-akhir ini gw jadi ‘agak’ hobi ‘nulis’. Tapi tentu aja cuman sekedar nulis di blog, itupun kebanyakan sebatas curhatan ato laporan jalan-jalan nggak mutu yang menjurus ke narsisme. Blog berisi curhatan ini pun tadinya cuman sekedar ’sampingan’ dari blog gw yang satunya yang isinya reviews pribadiku (yang cenderung bias, hehehe) tentang hape dan hal-hal yang berhubungan. Tapi dalam perkembangannya gw malah lebih rajin nulis di blog curhatan ini daripada di blog tentang hape. Ya, wajar lah. Menulis review tentang hape kan gw perlu sedikitnya pengalaman singkat secara personal (duh, bahasanya) dengan sang handset yang mau aku bahas, yang berarti tiap kali aku harus mengganti hape baru atau paling nggak mencari pinjaman hape milik teman-temanku. Beberapa teman malah dengan sukarela meminjamkan hapenya untuk aku coba-coba. Hehehe, thanks guys. Tapi, yaa, bahkan pinjeman pun ada batasnya. Apalagi untuk sampe meminjamkan hape untuk jangka waktu agak lama (minimal beberapa jam) pada orang lain kan membutuhkan ’satu tingkat pertemanan’ tertentu (whew, istilah apalagi ne? hihihi), yang semakin mempersempit dan mempersedikit cadangan hape yang bisa dibahas. Huahaha. Sementara menulis curhatan kan nggak membutuhkan apa-apa. Sekedar memerlukan niat dan tentu saja mood yang tepat. Menulis curhatan di blog malah menjadi semacam ‘terapi’ bagiku dari masalah-masalah hidup yang membelit.
Seperti ditulis Ray Douglas Bradbury di bukunya ‘Zen in the art of writing’ :
‘But what would happen is that the world would catch up with and try to sicken you. If you did not write every day, the poisons would accumulate and you would begin to die, or act crazy, or both. You must stay drunk on writing so reality cannot destroy you. For writing allows just the proper recipes of truth, life, reality as you are able to eat, drink, and digest without hyperventilating and flopping like a dead fish in your bed.’
Jadi menulis meskipun hanya tulisan nggak karuan (dan cuman sepotong) di blog bisa membersihkan racun-racun dari kenyataan hidup yang pahit(at least for me ya).
Lebih dramatis lagi, Ray Bradbury menyatakan begini :
Secondly, writing is survival. Any art, any good work, of course, is that. Not to write, for many of us, is to die.
Segitunya. Hehehe. Tapi kayaknya emang bener juga sih. Paling nggak buat orang-orang macam si Jeng Payung Merah yang emang pekerjaannya nulis kali ya. Kalo untuk gw sendiri sih mungkin gw bakal jadi gila kalo nggak bisa numpahin uneg-uneg yang menghantui pikiran. Tiap kata, kalimat, yang terucap oleh orang-orang yang berarti bagiku ataupun yang mendadak nongol begitu saja di alam khayalku sendiri, semua menunggu giliran untuk ditumpahkan.
Satu quote lagi dari ‘Zen in the art of writing’ yang sangat menghiburku sebagai seorang penulis amatiran nan nggak jelas :
And when a man talks from his heart, in his moment of truth, he speaks poetry.
PS : Btw kenapa gw mendadak mencuplik-cuplik dari buku (nggak gw banget deh, hehehe) sebenernya cuman karena satu alesan yang amat sepele. Gw ‘nemu’ mobipocket reader berbasis j2me untuk hape yang membangkitkan kembali semangat untuk membaca-baca e-books dari handset yang mensupport j2me. Untuk pembahasan lebih lengkap tentang mobipocket ini silaken buka blog gw yang tentang hape. I won’t review it here. Hehehe.