Maret 2008


Tiba di Jogja senja sudah menjelang. Dari stasiun Tugu kita langsung menyusuri malioboro, tentunya setelah sahabat-sahabatku menunaikan sholat dulu. Jalan kaki hingga perempatan kantor pos besar.
Bergaya di bawah cemerlangnya lampu yang menerangi senja. Hihihi…
0001.jpg

Hari berikutnya kami pergi ke candi Borobudur.
0002.jpg

Mengagumi masa-masa keemasan yang telah lalu berabad-abad.
Edi berpose bak Indiana Jones, tapi kini bersenjatakan GPS device. Huahaha…
0003.jpg
0003a.jpg
Aku mana mau kalah, bergaya nggak jelas…
0004.jpg

 

Cuaca muram, mendung. Hujan mulai rintik berjatuhan.
Kabut menggantung di sekeliling wilayah candi.

0005.jpg

0006.jpg

 Hujan seperti enggan berhenti, kami pun tak mau berhenti bergaya di depan kamera (wakaka)

0007.jpg

 

 Hari berikutnya kami menjelajahi kraton kesultanan Yogyakarta. Ada orang yang terlalu ‘excited’ dan gembiranya bisa berada di situ.

0008.jpg

Seperti biasa, aku pun turut bergaya…hehehe…

0008a.jpg

 

Cuaca amat cerah, panas berdebu. Sangat berkebalikan dengan kemarin sewaktu mendaki Borobudur yang selalu dibayangi awan mendung gelap dan air hujan.

Capek bercampur haus saat menjelajahi istana yang lumayan luas juga ini.

0009.jpg

Dari kraton kami langsung berjalan kaki ke Tamansari. Melihat lorong-lorong gelap dan reruntuhan yang indah nan misterius (ceile…hehehe)

0010.jpg

 

 

Nah.
Lagi.
Dia berbicara tentang teman.
Tentang persahabatan.
Tentang ‘what friends are for’.
Tentang berbagi masalah dengan teman.
Hmmm…
Nggak ada yang salah ya di sini?
Wowowowow…
Tunggu dulu…
Nggak tau deh
Mungkin memang benar
Himpitan permasalahan bisa membuka
Paling tidak untuk beberapa orang
That’s what friends are for
Dia ngomong tentang berbicara dengan teman
Satu topik yang baru aja aku cerca di posting sebelumnya
Aku tau aku salah
Tak semudah itu untuk berbicara
Untuk berbagi
Butuh kebesaran hati untuk melakukannya
Apalagi untuk mengatakan sejujurnya
Dan mendengarkan tanpa prasangka

(And so he’s leaving)
(Bye-bye)

Hmm, ternyata reaksinya biasa aja.
Yah, seperti yang sudah ku bayangkan sebelumnya.
Lagian aku juga salah, memberikannya dalam situasi seperti itu. Bagaimanapun, dalam satu sisi, dia cukup peka, minimal terhadap suasana yang membuatnya merasa tidak nyaman. Meski sepertinya ada usaha untuk menutupi ‘kesadaran’ itu dari orang lain. Meski pekanya hanya untuk hal-hal yang sekiranya dapat mengganggu keberadaan dan kenyamanannya. Seperti dia pernah bilang, dia tidak suka tipe orang Jogja (jawa??) yang sok beramah tamah di luar, tapi menusuk diam-diam dari belakang (memangnya ada ya yg suka dengan tipe orang begitu?) (lagi-lagi stereotipe kedaerahan/suku…). Itu kan menunjukkan bahwa dia cukup peka, walau diperlakukan dengan baik di luar tapi dia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres (atau itu malah menunjukkan ‘insecurity’ atau ‘paranoid’-nya ya? wanda deh…). Yang jelas temboknya kayaknya memang setebal tembok-tembok reruntuhan di Tamansari Jogja. Kata kadang lepas, itu pun sekelebat dan samar, bahkan dengan berusaha fokus pun tetap sulit untuk mengerti. Sepenggal kalimat pengakuan tersamar akan persahabatan pernah lepas. Tapi tak cukup kuat tanpa pondasi, lebih seperti membangun gubuk bambu di atas sungai berarus deras. Kata-kata tak pernah bisamembuktikan apa-apa, meski kata-kata memang bisa menguatkan dan memberi dorongan. Menghadapi situasi semacam ini aku bagai berkaca melihat diriku sendiri. Apa yang sudah kulakukan selama ini pada orang-orang yang kuakui sebagai sahabat? Aku lebih banyak berkata daripada menolong dengan nyata. Memberi saran, nasehat, penghiburan. Tindakan nyata jarang sekali kulakukan. Kalopun melakukan sesuatu, rasanya tidak ada yang benar-benar berarti. Memalukan memang. Aku tahu aku terlalu penuh pesimisme dan rendah diri. Mungkin karena itu pula aku kadang memandang sinis pada orang lain. Termasuk padanya. Terutama pada orang-orang macam itu, yang menyembunyikan rasa dan emosi di balik suatu keseragaman reaksi yang tertebak dan nyaris datar. Orang-orang yang menghasilkan rasa gamang. Mungkin juga seperti tipe orang yang dibencinya : ramah ceria di luar, dengki dan penuh kepahitan di dalam. Semoga saja tidak.

Sebuah padang yang indah oleh jalinan warna-warna bunga dan sesemakan. Seorang anak laki-laki kecil berlari riang menerjang rumput-rumput liar, menyanyi mengikuti suara tawa angin di sela dedaunan. Namun sekejap tawa ceria itu terhenti, terhenyak ke arah satu semak yang merunduk sedih. Anak itu berjongkok untuk melihat ada apa di sana.
Sosok tubuh kecil tergeletak lemah, seekor burung mungil berwarna cerah.
‘Ah, burung ! Kenapa tidur di tempat seperti ini?’
Mahluk itu berusaha menggerak-gerakkan sayapnya yang kusut.
‘Jangan beristirahat di sini, burung. Tempat ini berbahaya.’
Si burung hanya menatap anak kecil dengan pasrah. Sayapnya terkepak lemah. Bercak merah menodai bulu-bulunya yang kekuningan.
‘Ah, kamu terluka rupanya. Kasihan sekali kamu, burung kecil.’
Perlahan si anak meletakkan burung di dalam dekapan tangannya. Si burung mengepak-ngepakkan sayap dengan panik, mencicit lemah.
‘Jangan takut, kecil, aku akan merawatmu sampai kamu sembuh.’

Rumah kecil di tepian padang luas itu.
‘Mau kamu apakan burung mati itu?’
‘Burung ini masih hidup, bu. Akan ku rawat dia sampai sayapnya sembuh dan dia bisa terbang lagi.’
‘Memangnya kamu tahu cara memelihara seekor burung, apalagi yang sakit ?’
‘Tidak. Tapi aku akan berusaha sebisaku. Aku yakin kasih sayang akan membimbingku, ibu.’
‘Ya sudah. Terserah kamu saja. Yang jelas ibu nggak akan ikut campur atau membantumu merawatnya.’

Beberapa hari berlalu, ibu terheran-heran melihat burung kuning kecil itu mencericit riang di sangkarnya, mengepak-ngepakkan sayapnya yang rapuh dengan penuh semangat.
‘Nak, sepertinya kamu berhasil merawat burung ini. Dia sudah sembuh agaknya.’
‘Iya, bu.’
‘Saatnya untuk mengembalikannya ke alam bebas.’
‘….’

Tengah-tengah hamparan bunga-bunga biru yang mekar semerbak. Anak kecil memegangi sangkar burung yang diletakkan di atas rumput.
‘Ibu benar. Kamu harus kembali ke tempatmu, ke alam bebas. Tapi kenapa aku merasa berat? Bagaimana bila kau celaka nanti? Bagaimana bila kucing nakal penjaga padang ini menangkapmu? Apa kamu bisa menemukan makan yang cukup untuk bertahan hidup? Bagaimana bila badai salju mendadak menyerang daerah ini?
Aaah, katakan padaku, burung kecil, apakah kau merasa bahagia bersamaku?’
Burung itu tentu saja tidak menjawab pertanyaan si anak. Tatapan kosong namun tajam saja yang dia bisa balik berikan.
Hangat terasa mata dan pipi si anak, air mata meleleh melintas ke bawah sebelum jatuh ke tanah saat dia membuka pintu sangkar burung itu.
‘Pergi! Pergilah, burung kecil! Kembalilah ke tempat seharusnya kau berada.’
Ragu sejenak sebelum melesat keluar dari sangkar, terbang berputar-putar merasai kembalinya kebebasan, lalu hinggap di dahan sebuah pohon tak jauh dari situ.
Terdiam, berpandangan.
Mata anak kecil kembali terasa panas, sengat-sengat perih membuatnya tak kuasa menahan jatuhnya air mata.
‘Ingat-ingatlah, burung kecil, bahwa pernah ada seorang anak yang menyayangimu, begitu sayang hingga dia merelakanmu pergi.’
Si burung masih terpaku, melihat beberapa saat, sebelum terbang dan hilang di balik rerimbunan pohon.
‘Pergilah, hadapi hidup ini dengan tegar.’

Nyeri jantung terasa
Sang bayu berlalu
Tiada sudah
Hangat belainya

Masi ada hubungannya ama yg kemaren. Aku cuma pengin tau, say, gimana perasaanmu kalo dia ikut dalam perjalanan liburan ini? Hihihi.

Yak, udah gw putusin, say. Makin yakin gw.
Gw bakal beli quelque chose special pour lui de Jogja.
Kenapa? Napa pula harus spesial? Dari Jogja?
Ya namanya juga oleh-oleh, ya mustinya dari kampung halaman dong.
Kenapa pula urusan oleh-oleh ini? Buat dia?
Ah, kamu pasti dah ngira yang bukan-bukan ya, say?
Nggak kok. Oleh-oleh ini bukan pernyataan cinta gw ke dia. Sama sekali bukan. Terus, buat apa dong?
Whew.
Sebenernya aku juga nggak begitu yakin.
Mungkin aku cuman mau mengadakan tes kecil-kecilan.
Mungkin juga aku cuman mau membikinnya merasa sedikit bersalah (andai rasa itu memang ada padanya).
Memang, persahabatan itu bukan cuman semata dalam hal oleh-oleh. Itu terlalu dangkal. Tapi, oleh-oleh itu pun menunjukkan sesuatu : perhatian.
Aku sendiri sih sebelumnya nggak pernah bermaksud apa-apa tiap kali membawakan teman-teman oleh-oleh. Sekedar ‘rasa ingat’ yang menggelitik untuk membawa dan membagikan sesuatu dari tempat yang gw datangi.
Gw nggak berharap orang lain akan melakukan hal yang sama padaku. Nggak. Aku tau kamu sendiri juga malas kan, say, membawakan oleh-oleh untuk siapapun (meskipun akhirnya kamu paksain juga beliin aku tempat hape lucu dari aceh itu. hihihi. Thanks, babe)
Cuman. Entah kenapa ya, gw merasa yang satu ini agak-agak gimana gitu? Apa karena gw terlalu berharap dia ada perhatian pada kita? Hihihi. Mungkin. Kenapa? Udah deh, jangan mulai mikir yang nggak-nggak ya, say.
Hehehe. Mungkin emang percuma ya, say, ngomongin (apalagi mikirin) temen kita yang oedipus complex itu.
Mending kita konsen ke liburan kita aja deh. Hahaha.

Woiii! Layang-layang!!
Berhenti kamu!!
Mulai kurang ajar ya, kamu! Kamu tu layang-layang, harus nurut sama aku!
Seorang anak bermain layang-layang. Mana ada : layang-layang memainkan seorang anak. Ngaco tu. Di dunia dongeng sekalipun rasanya belum pernah denger yang kayak gitu. Kamu harus mengikuti gerak tanganku, layang-layang. Kalo aku belokkan kamu ke kiri ya berpalinglah ke kiri, jangan malah lari ke kanan. Apa kamu sudah jadi begitu besarnya, sampe aku nggak bisa lagi mengendalikan.
Kenapa malah aku yang babak belur dan lintang pukang ngikutin gerakanmu yang liar macam ular keselomot api itu? Ini nggak bener, layang-layang. Samasekali salah! Apa maumu, layang-layang?

Whew!
Kata seru itu akhir-akhir ini sering banget aku ucapkan.
Kamu pasti udah tau sebabnya, Ren.
Aku juga yakin kamu pasti udah nebak ke mana arah tulisan ini menuju, dan kamu udah boseeeeen banget dengernya (atau baca).
Yak, betul banget. This old boy’s gonna cram you with some more grumbles. Fortunately (at least), this time it isn’t about mellow love things. Still, it can be considered as a series of unfortunate events. Hehehe.
2 minggu lalu, abis seneng-seneng jalan-jalan ke tamanmini, dengan bodohnya aku terpeleset(atau memelesetkan diri?). Sesudahnya pergelangan kaki kananku mulai terasa nyut-nyut-an. Awalnya nggak begitu terasa, tapi makin hari malah terasa makin menyiksa. Bahkan hingga kini, 2 minggu kemudian, pergelangan kaki kananku masih terasa ngilu, terutama bila digunakan untuk berjalan jauh. Kata temen-temen sih cedera macam gini harus diurut. Kayaknya memang iya. Udah aku gosok pake counterpain, balsem, minyak tawon, zheng gu shui(bener gak ya nulisnya?) teteup sakitnya gak mau pigi. Penderitaan ini masih ditambah lagi dengan flu berat yang dengan kurang ajar menyerangku kira-kira dari 4 hari yang lalu. Tau sendirilah rasanya dihajar oleh flu : kepala pening, mata berair, hidung buntu, tenggorokan sakit, batuk berdahak dsb. Padahal dalam 4 hari aku akan pergi liburan bersama temen-temenku!
Beteeeeeeeeeee!!!!
Yah, mungkin beginilah rasanya menderita karena cinta…(lho apa hubungannya? Hehehehew)
Uuupsss…soriiii…padahal tadi aku udah bilang kalo kali ini nggak mau ngomongin cinta-cintaan (can’t help it, it’s a reflect).
So, I think I’d better stop now, or else I’ll be talking things you don’t wanna hear.

Sit Still, and close your eyes
What’s behind the other door
No more silence, don’t kill this thing we got called love
Just searching for the perfect drug
When Love comes calling
Don’t look back
When love comes calling
Don’t look away
And I’m standing over here
Watching you over there
Smiling, happy, unaware
Oh, life is spinning round
You’re going underground,
forgetting who we were
Let’s try and keep it just one
more day
When Love comes calling
Don’t look back
When love comes calling
Don’t look away
You take your love
And throw it all around
Like it’s nothing special
Just a sound
Let me say one more thing
I don’t think you realize
That a day is like a year sometimes

When Love comes calling
Don’t look back
When love comes calling
Don’t look away

From ‘Don’t look back’ by Telepopmusik

Sebuah warung makan saat waktu makan malam.
‘Ya ampun, Andi?’
‘Renita? Ngapain lu di sini?’
‘Ya cari makan lah. Emang gw mau fotokopi di sini?’
‘Garing deeh!’
‘Kamu baru dateng?’
‘Yap. Baru aja.’
‘Kok nggak bareng Abim sih? Barusan gw ketemu dia di depan gang sana. Kayaknya sih dia abis dari sini juga secara dia bawa bungkusan gitu.’
‘Ah, masa?’
‘Iye, sumpeh! Nggak mungkin gw salah liat anak cakep kayak gitu. Lagian tadi sempet basabasi bentar kok. Jadi gak mungkin salah orang dong. Hahaha!’
‘Ah, norak lu, Ren. Dulu lu bilang dia gak cakep. Btw gw sih emang belum ketemu dia dari tadi pagi.’
‘Ihhh, payah amat sih kalian. Masa makan malem sendiri-sendiri. Nggak romantis deh kamu, Ndi.’
‘Kumat deh lu! Gw jitak ya!’
‘Abis kamu gitu amat sih ma temen. Kasian tau temen lu itu. Gw liat tampangnya gimana gitu. Loneliness is there.’
‘…’
‘Lu pesen apa emangnya?’
‘Ayam bakar ma tempe.’
‘Tuh kan. Ampe menunya aja plek sama persis! Tadi kan gw iseng nanya dia beli apa. Kalian emang sehati kali ya?’
‘Cuih! Cuih! Gw akuin lu emang paling jago dalam urusan imajinasi kayak gini, Ren.’
‘Ya ya ya. Terserah apa katamu deh, Ndi. Gw akuin emang dari dulu gw paling suka ngayal sok romantis gitu, dan kamu…kamu paling jago menyangkali perasaan.’ Renita kabur menjauh.
‘Gila kamu, Renitaaaaa!!!!”

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »