‘Semua ada waktunya, Ndi. Sabar sih boleh-boleh aja, tapi kalo gini terus lama-lama kan kamu ndiri yang ancur.’
Andi cuman terbelalak bingung memandang Bimo yang duduk di sebelahnya. Bimo dengan cueknya menghembuskan asap rokok yang sedang dinikmati. Piring di hadapan Bimo sudah licin tandas sementara hotdog pesanan Andi merana baru dilahap separuh tanpa ada tanda akan dihabiskan. Andi cuma bisa mengaduk-ngaduk kopi dinginnya yang sudah nyaris ludes, sementara Bimo terus berbicara, atau lebih tepatnya mengomel.
‘Kamu nggak bisa gini terus, Ndi.’
‘Yah aku tahu itu juga, Bim. Tadi malam juga Anita udah ngomel panjang lebar lewat telpon.’ Andi mendesah dalam hati.
‘Aku bukannya menyuruhmu untuk berhenti bersabar. Sabar itu memang perlu. Tapi semua kan ada batasnya. Ada situasi-situasi tertentu di mana kamu harus bertindak. Bukannya diem terus gini.’
‘Aku tahu. Tapi nggak semudah itu kan. Ngomong emang selalu lebih gampang. Tapi gimana cara nglakuinnya?’
Dalam hati Andi teringat obrolannya dengan Anita,’Kamu harus mengambil jarak, Ndi.’
‘Mengambil jarak? Gimana tuh? Nggak bisa lebih abstrak lagi ya, Ta?’
‘Bukannya menjauh secara harafiah, Ndi. Jarak di sini lebih berarti ada batasan.’
‘Batasan apa? Gw bener-bener nggak bisa mikir.’
Suara berat Bimo mengembalikan Andi pada dunia nyata di masa kini.
‘Kamu harus membatasi diri, Ndi. Kamu nggak harus selalu menurut dan berkompromi dengan semua kemauannya.’
Andi masih terdiam, larut dalam kenangan akan percakapan tadi malam, tapi dipaksakannya dirinya untuk terus menatap Bimo dengan penuh perhatian, mengamati detil-detil pada diri Bimo, mencoba untuk memusatkan diri pada sahabatnya itu.
‘Aku nggak tahan aja liat kamu gini terus. Kamu juga punya hak untuk menjalani hidupmu dengan bahagia.’
‘Deja vu! Nyaris plek ama yang dibilang Anita!’ Andi menjerit dalam hati, bahkan tak tahu harus merasa apa saat itu. Bahagia karena memiliki teman-teman yang begitu mengasihinya? Atau menangis atas kesadaran akan masalah yang ada di depan mata?
‘Yah, intinya sih gitu, Ndi. Tapi ya semua terserah kamu.’
Andi cuma bisa mengangguk pelan, menatap mata Bimo dalam-dalam, seakan berusaha mencari penghiburan.
‘Makasih, ya, Bim.’ bisiknya lirih terbata.
‘Santai ajalah. Kan aku selalu bilang, itulah gunanya teman.’ Bimo tersenyum lebar sambil membuang sisa rokoknya, sedikit mencerahkan gelapnya mendung dalam hati Andi.