“Betapapun besarnya aku mencintainya, kamu tahu tak ada apa jua yg bakal terjadi.
Tak akan ada pernyataan cinta. Apalagi kelanjutan.
Kamu pasti sudah tahu aku : diam terpaku melihatnya pergi.
Yang kulakukan sekedar menghabiskan waktu sebelum saatnya tiba.
Mencicip saat-saat indah bersamanya.
Aku tahu aku menipu diri sendiri. Melakukan hal yang sia-sia. Tapi ku tak bisa
melawan. Tak bisa berhenti.
Mencintai sebuah bayangan. Meski sudah kesekian kali. Rasa tak bisa dibendung.”
Andi menutup buku sketsanya yang kini lebih banyak berisi tulisan daripada
gambar.
‘Nulis apa kamu, Ndi? Catetan pengeluaran yak?’ Bimo meringis sok tahu.
‘Enak aje. Ada deeeh. Mau tau aja sih, lu. Dah sana balik! Kembali ke alammu!
Dah ampir jam 12 tau.’
Bimo beringsut keluar sambil tetap menyeringai ceria.