hampir jam 12 malam. Kelopak mata terasa berat namun tetap kupaksa untuk terbuka. Layar tivi memampangkan ‘my blueberry nights’. Terus terang aku udah agak jenuh melihat perjalanan dan pencarian Lizzie yang aneh (dan makin aneh dalam tangkapan-tangkapan gambar yg hampir selalu suram ditingkahi permainan warna-warni neon). Kantuk makin ganas menyerang. Aku melihat sahabatku. Dia masih dengan tekun menyimak adegan demi adegan. Tak tega aku menyerah pada panggilan pulau kapuk dan meninggalkannya sendiri. Toh tadi akulah yang berkeras meyakinkan untuk memutar dvd satu ini. Padahal tadi ku dengar dia mengeluh tak kunjung menemukan inti cerita film ini. (ya ya. Aku tahu kamu selalu bilang kamu nggak begitu suka film drama. Meski yg terlihat olehku kamu selalu membeli dvd drama komedi romantis dan film-film a la chicklit. Hahaha. Maaf, sob!) Bagiku film ini adalah cerita satu perjalanan hidup yang cukup menarik. Pelarian dan pencarian. Hal-hal yang dialami Lizzie pun cukup realistis dalam segala keganjilannya. Aku hanya tak begitu suka dengan gambar-gambarnya yang nyaris gelap selalu, terlalu banyak pengambilan dari sudut pandang aneh macam dari balik jendela yang penuh tulisan. Jadi, bagiku film ini agak terlalu berlagak memproklamirkan diri sebagai film ‘nyeni’. Nggak perlu segitunya pun aku rasa penonton udah bisa merasakan film ini ‘nyeni’. Hal-hal yang aku keluhkan itu malah agak membuyarkan konsentrasi dari cerita film yang sebenarnya sudah kuat ini.
Mei 21, 2008
my blueberry nights
Posted by aito under Review, curahan hati | Tag: blueberry, my, nights |Leave a Comment