Juni 2008


Suddenly something has happened to me
As I was having my cup of tea
Suddenly I was feeling depressed
I was utterly and totally stressed
Do you know you made me cry
Do you know you made me die

And the thing that gets to me
Is you’ll never really see

And the thing that freaks me out
Is I’ll always be in doubt

It is a lovely thing that we have
It is a lovely thing that we
It is a lovely thing, the animal
The animal instinct
So take my hands and come with me
We will change reality
So take my hands and we will pray
They won’t take you away
They will never make me cry, no
They will never make me die
And the thing that gets to me
Is you’ll never really see
And the thing that freaks me out
Is I’ll always be in doubt
The animal, the animal, the animal instinct in me
It’s the animal, the animal, the animal instinct in me
It’s the animal, it’s the animal, it’s the animal instinct in me

(‘animal instinct’ as performed by the Cranberries)

I haven’t slept at all in days
It’s been so long since we’ve talked
And I have been here many times
I just don’t know what I’m doing wrong

What can I do to make you love me
What can I do to make you care
What can I say to make you feel this
What can I do to get you there

There’s only so much I can take
And I just got to let it go
And who knows I might feel better
If I don’t try and I don’t hope

What can I do to make you love me
What can I do to make you care
What can I say to make you feel this
What can I do to get you there

No more waiting, No more aching
No more fighting, No more trying

Maybe there’s nothing more to say
And in a funny way I’m calm
Because the power is not mine
I’m just gonna let it fly

What can I do to make you love me
What can I do to make you care
What can I say to make you feel this
What can I do to get you there

(‘what can i do’ by the Corrs)

It’s every day
I’m in this place
I feel this way
I feel the same
It’s every day
I’m in this place
I feel this way
I feel the same

Is it all inside my head
Is it all inside my head
I’ll view the list
And take my pick
I view my faith
And make a choice
‘Cause it’s nobody else’s but mine

But you are in my heart
I can feel your beat
And you move my mind
From behind the wheel
When I lose control
I can only breathe your name
I can only breathe your name

So many days within this race
I need the truth
I need some grace
I need the path
To find my place
I need some truth
I need some grace
The part of you
That’s part of me
We’ll never die
We’ll never leave
And it’s nobody else’s but mine

You are in my heart
I can feel your beat
And you move my mind
From behind the wheel
When I lose control
I can only breathe your name
I can only breathe your name

You’ll view the list
And take your pick
You’ll view my faith
And make a choice
‘Cause it’s nobody else’s but yours

And you’re in my heart
I can feel your beat
And you move my mind
From behind the wheel
When I lose control
I can only breathe your name

‘Cause you’re in my heart
I can feel your beat
And you move my mind
From behind the wheel
When I lose control
I can only breathe your name
I can only breathe your name
I can only breathe your name
I can only breathe your name

(‘breathe your name’ by sixpence none the richer)

‘Kapan kawin?’ ‘Sapa nih calonnya?’ ‘Kenalin donk.’

Kata-kata itu dengan menyebalkannya selalu menghantui. Aku rasanya bisa mengerti perasaan miss Ra yang sering ditanyain pertanyaan-pertanyaan STD kayak contoh di atas. Miss Ra diserbu pertanyaan-pertanyaan itu utamanya dari keluarga besarnya. Indonesiawi sekali. Aku juga sama sih, kebanyakan dari keluarga besar. Dari temen-temen juga, apalagi di acara-acara yang berhubungan dengan pernikahan. Contoh paling up-to-date mungkin acara pemberkatan pernikahan Miam beberapa minggu silam. Habislah diriku dihajar pertanyaan-pertanyaan : ‘Kapan nyusul?’ ‘ Lho, calonnya kok gak dibawa si?’ dll, dsb.
Arggh, bodo deh! Emang gw pikirin. Terus terang hingga menjelang kepala tiga ini pun aku belum kepikiran untuk itu. Kebayang pun tidak. Maybe it isn’t my cup of coffee. Nggak semua orang harus menjalani itu. Or is it? Yah, sayang sekali sepertinya Indonesia memang penuh dengan pembodohan dan pemaksaan nilai. Lihat aja di tv maupun media lain. Iklan-iklan komersial itu pun banyak yang merupakan pemaksaan nilai-nilai hidup baik secara terselubung maupun eksplisit. Apalagi acara-acara infotainment itu. Huaduh! Bener-bener memuakkan! Sok-sok bermoral sekali hingga bisa menghakimi. Serasa Tuhan aja. Memangnya orang-orang itu begitu sucinya ya hingga bisa menunjuk oh artis itu salah, artis ini geblek, bejat dsb dsb. Halah! Urusin aja moral kalian masing-masing dulu sebelum ngurusin orang! Dan sialnya masyarakat Indonesia sepertinya memang banyak yang mau saja dibodohin dan ‘dijejelin’ dengan sampah-sampah macam gitu. Bagi mereka (yang mau menerima pemaksaan nilai-nilai itu) bahwa memang yang disebut di tv-tv dan media-media pop lain itu benar adanya. Nilai-nilai ketimuran yang luhur. Bullshit! Gw dah lama nggak respek atau bahkan nggak percaya lagi kalo nilai luhur ketimuran itu ada).

Lebih sialnya lagi, bila yang percaya akan hal-hal tersebut adalah orang yang deket denganmu. Dalam hal ini adalah mr.D2 (Waduh, kok akhir-akhir semua postingan tentang dia ya? Mana bernada menyerang lagih. Hihihi. Mungkin emang bener aku terlalu deket ama dia. Gw jadi terlalu banyak menganalisa dia. Gotta make a limit!)
Akhir-akhir ini dia sering banget nanyain aku ‘Kapan merid?’ dll dll.
Semua ini bermula dari keinginannya sendiri untuk segera menikah. Dia bilang, ‘Nggak enak ngelangkahin kamu. Yang senior dulu lah.’ Dia memang lagi gencar pdkt dengan cewe ini, dengan temen cewe yang itu, yang di sana, di sini. Biar bisa cepet merid katanya. Dia juga bercerita betapa temen-temen seangkatannya sebagian besar sudah berkeluarga, terutama justru temen-temen akrabnya. Jadi dia pun harus segera menyusul.  Kalo aku sih,’ So what gitu loh?’ Tapi dia kan sama sekali nggak kaya gitu. Dia itu adalah manifestasi dari seorang pria yang sangat indonesiawi komplit dengan segala stereotype-nya. Dia sangat penurut pada nilai-nilai yang ditanamkan oleh masyarakat tempat dia dibesarkan, oleh teman-teman baiknya, pada terpaan pemaksaan nilai dan pembodohan oleh media-media populer. Being different and distinctive kayaknya nggak ada dalam kamus di kepalanya. Bagaimana dia bisa akrab denganku aja sebenernya cukup mengherankan secara kami sangat berlawanan selayaknya magnet yang sama kutubnya.
Jujur, kadang merasa sedih menyaksikan temanmu melihat hidup dengan cara yang amat berbeda darimu. Tapi bagaimanapun sudut pandang itu adalah hak pribadi yang tidak boleh diintervensi oleh siapapun, apalagi oleh sekedar teman. Memang dunia ini tak akan pernah satu dalam keseragaman.

‘Bukankah itu keindahan dunia ini? Ada berbagai macam variasi dan pilihan.’ kata orang. Yah, memang. Tapi mungkin bukan itu yang kuinginkan. Setidaknya bukan untuk orang yang aku merasa dekat. Tapi bila aku memaksakan nilai-nilai hidupku, aku akan jadi sama persis seperti pecundang-pecundang itu di luar sana. Jadi ya sudahlah. Lupakan aja.

Hampir jam 7 pagi. Kamarnya masih lelap dalam gelap. Dia kelewatan sholat subuh lagi hari ini. Aku agak merasa bersalah.
Apa aku sudah merusak pola hidup orang dengan gayaku sendiri? Pola hidup yang kata seseorang nggak sehat dan menghancurkan raga? Ah, tapi toh aku nggak tidur semalem miss Ra yang hampir selalu lewat dari tengah malam, aku berusaha membela diri. Aku setuju banget dengan miss Ra yang menyatakan tentang perasaan bersalah membuang-buang waktu beberapa jam untuk tidur. Gelitik-gelitik untuk menuangkan kata-kata itu memang sering muncul di tengah jauh malam. Saat suasana mulai sepi. Usai mr.D2 mengucap selamat malam. Kala pikiran mengejang memikirkan dan menganalisa apa saja yang sudah berlangsung hari ini dan kemarin-kemarin.
Kembali ke soal merusak, aku juga nggak pernah memaksa dia untuk menemani aku menonton atau apapun. Walau kadang aku bisa mengindera rasa sungkannya untuk meninggalkanku sendirian. Tapi itu adalah pilihan yang dia buat sendiri. Sekali lagi, aku tak pernah memaksa. Meminta atau memohon-mohon pun tidak. Soal dia bisa mendeteksi rasa sedihku atau kehilangan itu adalah urusan dia.
Ceramah seseorang tentang pola hidup sehat sempat membuat tercenung. Tapi aku tak pernah bisa merasa hidup lebih sehat dengan tidur lebih banyak. Justru dengan merenung malam-malam membuat denyut hidup jadi lebih terasa. Kadang ada pemahaman dan sudut pandang baru yang didapat. Lagipula, aku juga tak tiap hari tidur larut malam, meskipun bisa dibilang cukup rutin.
Apapun itu, pola hidup tiap orang memang berbeda. Itu adalah pilihan pribadi masing-masing individu. Bahkan seorang pasangan hidup sekalipun tak bisa memaksakan hal satu ini.

(But, please don’t overdo it, ok, miss Ra? Hehehe. I mean it, baby. Don’t want to lose you that soon)

easy to say

really hard to do

Huahem.
Jam 10.55. ‘The good night’ baru aja kelar diputar. Mr.D2 bergegas mematikan dan membereskan dvd player. “Sudah ngantuk banget.” katanya. Dia sering beralasan bahwa menonton dvd pada malam hari menjelang waktu tidur ini membuat tidurnya lebih nyaman dan nyenyak. Apalagi bila film yang ditonton macam film-film koleksiku : film-film festival, film prancis, drama komedi yang cenderung gelap berbau ironi, film-film yang baik sedikit atau banyak menyangkut kehidupan tokoh-tokoh gay. Nggak tahu pernyataan ini dimaksudkannya sebagai pujian atau sindiran pada koleksi dvd filmku yang tidak umum, apalagi dibandingkan koleksinya yang terdiri dari film-film drama romantis dan chicklits (hahaha).
Tapi toh begitupun dia tetap juga menonton film-film yang menurut istilah dia ‘membuat ngantuk’ itu. Ya, akhir-akhir ini memang aku jadi agak giat lagi menonton dvd bersama mr.D2, dan kebanyakan yang kami tonton ya memang film-film milikku yang ‘agak berat’. Dulu, sebelum dvd playerku yang mungil dan berwarna ijo norak rusak, kami memang suka nonton bareng. Tapi seingatku dulu lebih didominasi film-film ringan yang kebanyakan adalah pilihannya. Sesudah aku membeli player baru hobi menonton ini diteruskan lagi. Duluuuu sekali, ketika masih belum kost di tempat sekarang, menonton dvd maupun tv sendirian adalah hal yang amat biasa bagiku. Akhir-akhir ini, menonton sendirian bener-bener terasa hambar. Bahkan untuk menonton film-film kartun Ghibli atau Disney yang sangat aku gemari sekalipun. Kebetulan mr. D2 adalah seorang partner menonton yang cukup baik. Dia tidak keberatan tidur malam dan cukup penurut dalam masalah pemilihan film yang mau ditonton. Hehehe.
Beberapa film yang sebetulnya menurut aku sendiri juga ‘aneh dan berat’ yang aku ingat kami tonton akhir-akhir ini antara lain adalah blueberry nights, silk, chansons d’amour, kinky boots, dan the good night. Kebanyakan, di menit-menit awal pemutaran film-film itu bakal terdengar : ” Apaan sih ini?”, “Haduh, maksudnya apa ya?”, “Bener-bener nggak nangkep deh ceritanya apa.”, “Lambat bener sih.”, dan banyak lagi keluhan lainnya. Hihihi. Tapi ya teteup, nonton jalan terus hingga film kelar (kebanyakan sih gitu, hehehe). Maklumlah penonton awam. Termasuk aku tentunya, meskipun suka berlagak doyan nonton film-film festival, hehehe.
Sebenernya, apa sih esensi menonton film-film yang kata sebagian orang sulit dicerna itu? Kalo aku sendiri sih, jujur aja aku nonton ya asal nonton aja. Sedikit berharap akan terhibur atau paling tidak mendapat sedikit penyegaran atau mungkin inspirasi. Dari 5 film yang disebut di atas sih kayaknya yang memenuhi kriteria itu ‘Kinky boots’ dan ‘The good nights’. Yang lainnya hampir bener-bener nggak nancep dan nyaris sekedar pengantar tidur aja seperti kata mr.D2. Kalopun ada yang merasuk ke dalam memori itu sekedar penggalan-penggalan citra atau atmosfer (yang sialnya kebanyakan gelap) yang meninggalkan kesan kuat pada dunia nyata. Tapi ini semua cuman pemahamanku yang dangkal selaku seseorang yang hobi membeli dvd film tapi suka lupa untuk menontonnya. Hahaha. Pastinya akan beda banget dari kesan dan pesan orang-orang penikmat film sejati macam miss Ra. Hahaha.

Un jour il viendra

Ben, il est venu, mais pas pour moi

I’ve seen this place a thousand times
I’ve felt this all before
And every time you call
I’ve waited there as though you might not call at all
I know this face I’m wearing now
I’ve seen this in my eyes
And though it feels so great, I’m still afraid
That you’ll be leaving anytime
We’ve done this once and then you closed the door
Don’t let me fall again
nothing more

Don’t say you love me unless forever
Don’t tell me you need me, if you’re not gonna stay
Don’t give me this feeling, I’ll only believe it
Make it real or take it all away

I’ve caught myself smiling alone
Just thinking of your voice
and dreaming of your touch
it’s all too much
you know I don’t have any choice

Don’t say you love me unless forever
Don’t tell me you need me, if you’re not gonna stay
Don’t give me this feeling, I’ll only believe it
Make it real or take it all away

(‘don’t say you love me’ by the corrs)

Duh, lengang ini mencekam
membunuhku perlahan
ketiadaan ini sungguh
memaksaku berada
ke gamang yang kian samar
yang kau cipta untukku
tahukah
kau bawa senandung itu
keluar dari hidupku

Kau tutup pintu hati
membutakan mata
menulikan telinga
dan keberadaan cinta
saat takut hadir
kau bekukan hati
hilang dalam sendiri
dingin kala senandung itu pergi

(‘kala senandung’ as performed by Titi DJ)

Kungfu panda emang sangat menghibur. Momen-momen penuh haru dan gelak tawa silih berganti dengan cepat dalam sajian grafis yang menarik. Pokoknya puasssh banget deh nonton ni film. Tapi sesudah kekocakan-kekocakan yang bahkan masih terbayang lama setelah film itu usai, kok ada muncul sedikit rasa nggak enak, semacam penyesalan.
Saat mr. D2 (terpaksa dikasi ‘2′ untuk menghindari kebingungan dengan mr.D yang asli nan sejati hehehe) mengajakku menonton film ini, aku sedikit ragu untuk menjawab kalo aku sudah menontonnya bersama mr.J. Ada semacam keterkejutan berbaur kecewa semburat di wajah mr.D2. Lalu esok siangnya, saat sedang asyik tidur-tiduran di kamar mr. J, telepon genggamku berbunyi. Dari mr.E. Dia mengajak kami (aku dan yang lain) untuk menonton kungfu panda. Lagi aku harus menjawab kalo sudah nonton. Lagi aku harus mendeteksi satu rasa kaget campur kecewa yang kali ini tergambar melalui satu kata seruan ‘Oh.’ yang dalam diiringi jeda cukup lama. Aduh, rasanya kok jadi gak enak gini ya? Dulu aku sempat terbenam dalam pikiran (sok) romantis yang mengimajinasikan kami sebagai the three musketeers plus d’artagnan. Tapi itu dulu. Kecuali aku dan mr.J toh kami semua nggak ada ikatan apa-apa kecuali pertemanan yang rapuh. Baru kusadari bahwa d’artagnan ternyata tidak berminat untuk bergabung bersama the three musketeer. Dan Athos ternyata lebih tertarik untuk bersolo karir. Lalu, kenapa menyesal? Gak napa-napa kan? Iya ya. Kenapa ya? Nah, lho.

Halaman Berikutnya »