Lagu ‘Paranoid Android’ sebagai penanda ada panggilan masuk berbunyi. Aku terlompat dari tidur yang dalam. Nomor tak dikenal, tapi jelas pengguna layanan Indosat bila dilihat dari awalan nomornya. Hanya sekejap, ringtone tak berbunyi lagi. Aku melihat jam di layar ponsel. Jam 4 pagi lewat 4 menit. Aku lihat call records. Ada beberapa misscalls dari nomor yang sama. Karena tak mengerti nomor siapa dan tak bisa berpikir jernih saking ngantuknya, aku putuskan untuk kembali lelap. Berbaring beberapa menit, ‘Paranoid Android’ terdengar kembali. Sekejap kemudian langsung berhenti, bahkan sebelum aku sempat mendekati ponselku. Tanda ketidakseriusan sang penelpon.
“Dasar orang usil gelo’!’ makiku dalam hati.
Kuraih lagi ponselku. Kuaktifkan software blacklist untuk menghadang telepon usil nan pengecut ini lalu segera berbaring lagi untuk meneruskan tidur. Tapi aku malah sibuk mengingat-ingat apa yang sedang kumimpikan tadi sebelum aku terbangun oleh misscall pengganggu itu.
“Oh, my God!” Baru kuteringat. Tadi aku memimpikan si dia. Dia mengucapkan selamat tinggal! Yang bisa kuingat, aku terpaku macam orang lumpuh, lemas tak berdaya. Ah, jadi kalau dipikir-pikir lagi, misscall keparat tadi itu malah menghentikan mimpi buruk yang membuatku hancur berkeping-keping. Jadi haruskah aku berterimakasih pada si pengganggu?