aaargh!
Ternyata nggak gampang ya mengurangi frekuensi dan kuantitas komunikasi. Apalagi untuk orang nggak tegaan kayak gw.
Meski telah merasa aman tersembunyi, saat sore menjelang, panggilan-panggilannya lewat dunia virtual muncul di layar ponsel. Tak tega aku membiarkannya berbalas sunyi. Walau dengan sedikit kesal pada keyakinannya bahwa tiap kata yang dia lontarkan padaku pasti akan dibalas, jari-jariku toh tetap mengetikkan jawaban demi jawaban. Kata-kata dan komentar. Hanyut dalam pembicaraan dangkal tak tentu arah.
Tak tahu apa dia menikmati obrolan macam ini. Aku sendiri sudah bosan, walau tetap saja dengan tololnya terus meladeni. Oh, kumohon. Saat-saat begini aku terpikir bahwa sifat nggak tegaanku adalah satu kutukan yg diturunkan dari nyokap. Nggak tahu napa masih juga kumasukkan kata-katanya yang mengeluhkan betapa lelahnya dia, betapa tak enaknya badannya yang katanya sakit itu ke dalam telingaku yg sebenarnya sudah menolak untuk mencerna hal-hal macam itu.
Toh apa peduliku akan hal itu? Apa urusanku?
Suaranya yang terdengar serak dan berat dan napasnya yang berbunyi-bunyi aneh itu memang sempat membangkitkan rasa iba. Tapi sekali lagi, apa urusanku?
Oh, God! Aku terdengar seperti seorang ego mania yang sama sekali nggak mau mikirin orang lain. Ini sama sekali bukan aku. Tentu saja aku peduli bahwa dia sedang sakit, capek. Aku nggak bisa bohong tentang itu. Tapi lagi dan lagi, apa urusanku? Salahkah bila aku bertanya begitu? Perlukah aku sekhawatir itu pada seorang teman? Atau malah aku kurang menunjukkan perhatian dan belas kasih? Masih pantaskah aku mengaku-ngaku sebagai sahabatnya?
Aaarghh!