Kungfu panda emang sangat menghibur. Momen-momen penuh haru dan gelak tawa silih berganti dengan cepat dalam sajian grafis yang menarik. Pokoknya puasssh banget deh nonton ni film. Tapi sesudah kekocakan-kekocakan yang bahkan masih terbayang lama setelah film itu usai, kok ada muncul sedikit rasa nggak enak, semacam penyesalan.
Saat mr. D2 (terpaksa dikasi ‘2′ untuk menghindari kebingungan dengan mr.D yang asli nan sejati hehehe) mengajakku menonton film ini, aku sedikit ragu untuk menjawab kalo aku sudah menontonnya bersama mr.J. Ada semacam keterkejutan berbaur kecewa semburat di wajah mr.D2. Lalu esok siangnya, saat sedang asyik tidur-tiduran di kamar mr. J, telepon genggamku berbunyi. Dari mr.E. Dia mengajak kami (aku dan yang lain) untuk menonton kungfu panda. Lagi aku harus menjawab kalo sudah nonton. Lagi aku harus mendeteksi satu rasa kaget campur kecewa yang kali ini tergambar melalui satu kata seruan ‘Oh.’ yang dalam diiringi jeda cukup lama. Aduh, rasanya kok jadi gak enak gini ya? Dulu aku sempat terbenam dalam pikiran (sok) romantis yang mengimajinasikan kami sebagai the three musketeers plus d’artagnan. Tapi itu dulu. Kecuali aku dan mr.J toh kami semua nggak ada ikatan apa-apa kecuali pertemanan yang rapuh. Baru kusadari bahwa d’artagnan ternyata tidak berminat untuk bergabung bersama the three musketeer. Dan Athos ternyata lebih tertarik untuk bersolo karir. Lalu, kenapa menyesal? Gak napa-napa kan? Iya ya. Kenapa ya? Nah, lho.
Juni 23, 2008