‘Kapan kawin?’ ‘Sapa nih calonnya?’ ‘Kenalin donk.’
Kata-kata itu dengan menyebalkannya selalu menghantui. Aku rasanya bisa mengerti perasaan miss Ra yang sering ditanyain pertanyaan-pertanyaan STD kayak contoh di atas. Miss Ra diserbu pertanyaan-pertanyaan itu utamanya dari keluarga besarnya. Indonesiawi sekali. Aku juga sama sih, kebanyakan dari keluarga besar. Dari temen-temen juga, apalagi di acara-acara yang berhubungan dengan pernikahan. Contoh paling up-to-date mungkin acara pemberkatan pernikahan Miam beberapa minggu silam. Habislah diriku dihajar pertanyaan-pertanyaan : ‘Kapan nyusul?’ ‘ Lho, calonnya kok gak dibawa si?’ dll, dsb.
Arggh, bodo deh! Emang gw pikirin. Terus terang hingga menjelang kepala tiga ini pun aku belum kepikiran untuk itu. Kebayang pun tidak. Maybe it isn’t my cup of coffee. Nggak semua orang harus menjalani itu. Or is it? Yah, sayang sekali sepertinya Indonesia memang penuh dengan pembodohan dan pemaksaan nilai. Lihat aja di tv maupun media lain. Iklan-iklan komersial itu pun banyak yang merupakan pemaksaan nilai-nilai hidup baik secara terselubung maupun eksplisit. Apalagi acara-acara infotainment itu. Huaduh! Bener-bener memuakkan! Sok-sok bermoral sekali hingga bisa menghakimi. Serasa Tuhan aja. Memangnya orang-orang itu begitu sucinya ya hingga bisa menunjuk oh artis itu salah, artis ini geblek, bejat dsb dsb. Halah! Urusin aja moral kalian masing-masing dulu sebelum ngurusin orang! Dan sialnya masyarakat Indonesia sepertinya memang banyak yang mau saja dibodohin dan ‘dijejelin’ dengan sampah-sampah macam gitu. Bagi mereka (yang mau menerima pemaksaan nilai-nilai itu) bahwa memang yang disebut di tv-tv dan media-media pop lain itu benar adanya. Nilai-nilai ketimuran yang luhur. Bullshit! Gw dah lama nggak respek atau bahkan nggak percaya lagi kalo nilai luhur ketimuran itu ada).
Lebih sialnya lagi, bila yang percaya akan hal-hal tersebut adalah orang yang deket denganmu. Dalam hal ini adalah mr.D2 (Waduh, kok akhir-akhir semua postingan tentang dia ya? Mana bernada menyerang lagih. Hihihi. Mungkin emang bener aku terlalu deket ama dia. Gw jadi terlalu banyak menganalisa dia. Gotta make a limit!)
Akhir-akhir ini dia sering banget nanyain aku ‘Kapan merid?’ dll dll.
Semua ini bermula dari keinginannya sendiri untuk segera menikah. Dia bilang, ‘Nggak enak ngelangkahin kamu. Yang senior dulu lah.’ Dia memang lagi gencar pdkt dengan cewe ini, dengan temen cewe yang itu, yang di sana, di sini. Biar bisa cepet merid katanya. Dia juga bercerita betapa temen-temen seangkatannya sebagian besar sudah berkeluarga, terutama justru temen-temen akrabnya. Jadi dia pun harus segera menyusul. Kalo aku sih,’ So what gitu loh?’ Tapi dia kan sama sekali nggak kaya gitu. Dia itu adalah manifestasi dari seorang pria yang sangat indonesiawi komplit dengan segala stereotype-nya. Dia sangat penurut pada nilai-nilai yang ditanamkan oleh masyarakat tempat dia dibesarkan, oleh teman-teman baiknya, pada terpaan pemaksaan nilai dan pembodohan oleh media-media populer. Being different and distinctive kayaknya nggak ada dalam kamus di kepalanya. Bagaimana dia bisa akrab denganku aja sebenernya cukup mengherankan secara kami sangat berlawanan selayaknya magnet yang sama kutubnya.
Jujur, kadang merasa sedih menyaksikan temanmu melihat hidup dengan cara yang amat berbeda darimu. Tapi bagaimanapun sudut pandang itu adalah hak pribadi yang tidak boleh diintervensi oleh siapapun, apalagi oleh sekedar teman. Memang dunia ini tak akan pernah satu dalam keseragaman.
‘Bukankah itu keindahan dunia ini? Ada berbagai macam variasi dan pilihan.’ kata orang. Yah, memang. Tapi mungkin bukan itu yang kuinginkan. Setidaknya bukan untuk orang yang aku merasa dekat. Tapi bila aku memaksakan nilai-nilai hidupku, aku akan jadi sama persis seperti pecundang-pecundang itu di luar sana. Jadi ya sudahlah. Lupakan aja.