Hampir jam 7 pagi. Kamarnya masih lelap dalam gelap. Dia kelewatan sholat subuh lagi hari ini. Aku agak merasa bersalah.
Apa aku sudah merusak pola hidup orang dengan gayaku sendiri? Pola hidup yang kata seseorang nggak sehat dan menghancurkan raga? Ah, tapi toh aku nggak tidur semalem miss Ra yang hampir selalu lewat dari tengah malam, aku berusaha membela diri. Aku setuju banget dengan miss Ra yang menyatakan tentang perasaan bersalah membuang-buang waktu beberapa jam untuk tidur. Gelitik-gelitik untuk menuangkan kata-kata itu memang sering muncul di tengah jauh malam. Saat suasana mulai sepi. Usai mr.D2 mengucap selamat malam. Kala pikiran mengejang memikirkan dan menganalisa apa saja yang sudah berlangsung hari ini dan kemarin-kemarin.
Kembali ke soal merusak, aku juga nggak pernah memaksa dia untuk menemani aku menonton atau apapun. Walau kadang aku bisa mengindera rasa sungkannya untuk meninggalkanku sendirian. Tapi itu adalah pilihan yang dia buat sendiri. Sekali lagi, aku tak pernah memaksa. Meminta atau memohon-mohon pun tidak. Soal dia bisa mendeteksi rasa sedihku atau kehilangan itu adalah urusan dia.
Ceramah seseorang tentang pola hidup sehat sempat membuat tercenung. Tapi aku tak pernah bisa merasa hidup lebih sehat dengan tidur lebih banyak. Justru dengan merenung malam-malam membuat denyut hidup jadi lebih terasa. Kadang ada pemahaman dan sudut pandang baru yang didapat. Lagipula, aku juga tak tiap hari tidur larut malam, meskipun bisa dibilang cukup rutin.
Apapun itu, pola hidup tiap orang memang berbeda. Itu adalah pilihan pribadi masing-masing individu. Bahkan seorang pasangan hidup sekalipun tak bisa memaksakan hal satu ini.
(But, please don’t overdo it, ok, miss Ra? Hehehe. I mean it, baby. Don’t want to lose you that soon)