Berjalan di lorong yang terbentuk oleh rak-rak penuh barang di Mirota Kampus yang tak lagi familiar kini, mencari-cari bagian yang berisi makanan-makanan khas untuk oleh-oleh. Mataku tertumbuk pada tumpukan kotak bakpia pathuk. Ya, ya, si mas-e kemaren bilang pengin makan bakpia, jadi ya sudahlah aku belikan aja sekotak sekedar pelepas rindu akan rasa khas itu. Aku juga mengambil sebungkus jenang kudus yang seingatku disukai oleh si ndut Mira, sahabatku di kantor. Aku mencoba mengingat apa yang disukai oleh cintaku sambil tak berhenti memutar-mutarkan pandangan di rak penuh bermacam makanan khas itu. Ah, rasanya nggak ada yang bener-bener dia sukai. Apapun yang aku bawa biasanya dia pasti mau minimal sekedar mencoba. Jadi aku putuskan untuk beralih dari rak makanan untuk oleh-oleh dan berputar di gang-gang lain yang penuh dengan manusia. Tak satupun benda menangkap minatku, aku berjalan dengan malas menuju kasir. Di depan barisan kasir yang berjejer rapi itu ada semacam ruang kosong yang memang sengaja tidak diisi, mungkin untuk memberi tempat bila terjadi antrean panjang di kasir-kasir. Di situlah langkahku terhenti. Mataku bagaikan berlari mendahului langkahku ke seberang tempat lowong itu, terpaku pada sosok seseorang yang amat kukenal. Dulu. Segera ku berbalik arah menjauhi kasir. Berputar-putar tak tentu arah, tak tahu hendak mencari apa, sekedar menghabiskan menit demi menit. Hampir seperempat jam kemudian aku baru berani beranjak kembali ke kasir. Aman kini. Segera aku bayar belanjaanku dan bergegas pula aku menuju lapangan parkir. Mobilku nyaris menyentuh bis transjogja ketika aku bersusah payah mengeluarkan diri dari halaman Mirota Kampus. Perjalanan pendek antara supermarket itu ke rumahku terasa berabad lamanya. Kembali ke kesunyian rumah yang dingin sepi. Termometer menunjukkan suhu 26 derajad Celcius.
Juli 2008
Juli 31, 2008
Juli 31, 2008
Kembali ke dunia nyata…kembali ke rutinitas….
Hari pertama…
Kegembiraan melihat senyum cintaku yang samar dalam kegelapan pagi subuh
Kengerian menyaksikan darah menetes dari lubang telinga teman tersayang
Hancurnya semangatku melihat kemacetan di jalan Supomo
Kelegaan sesaat ketika bus 116 melintas
Arghh!!!
Pekerjaan sudah menghadang, bahkan sebelum sempat meletakkan pantat di kursi kantor
Oh ya,hari ini Astrid ulang tahun.
Juli 29, 2008
Dia nggak pernah ngadu tentang itu lho….
(Kami berbicara, bercanda seperti biasa, seperti tak terjadi apa-apa…)
Mungkin memang itulah bedanya lelaki ‘beneran’ dengan yang bukan….
Juli 28, 2008
Your heart is not open
so I must go
The spell has been broken
I loved you so
Freedom comes when you learn to let go
Creation comes when you learn to say no
You were my lesson I had to learn
I was your fortress you had to burn
Pain is a warning that something’s wrong
I pray to God that it won’t be long
Walk away
There’s nothing left to try
There’s no place left to hide
There’s no greater power than the power of goodbye
Your heart is not open
so I must go
The spell has been broken
I loved you so
You were my lesson I had to learn
I was your fortress
There’s nothing left to lose
There’s no more heart to bruise
There’s no greater power than the power of goodbye
Learn to say goodbye
I yearn to say goodbye
There’s nothing left to try
There’s no place left to hide
There’s no greater power than the power of goodbye
There’s nothing left to lose
There’s no more heart to bruise
There’s no greater power than the power of goodbye
(‘power of goodbye’ performed by Madonna)
Juli 24, 2008
Sebut aja namanya Nina. Langsing, putih, cantik dengan rambut lurus tergerai. Wiiih, stereotype cewe di iklan-iklan produk kecantikan deh. Pastinya sih bukan aku aja yang mendeteksi ‘keindahan’ ini. Nggak cuman temen-temen cowo sekelas aja, anak-anak kelas lain pun tahu Nina. Dari segi sifat Nina sedikit banyak adalah seorang pengkhayal, meski khayalannya agak-agak klise. Aku ingat dia begitu menggemari komik ‘Rose of Versailles’ yang berkisah tentang Marie Antoinette dan Oscar itu si tentara crossdresser itu. Aku sendiri kebetulan juga menyukai komik yang berlatar belakang sejarah Perancis ini. Sementara Nina sepertinya sangat tergila-gila pada tokoh Oscar. Aku sendiri sebenernya agak-agak antipati sama Oscar yang menurutku aneh(pada waktu itu tentunya), cewe kok pake baju laki-laki, jadi tentara udah gitu pake nama laki-laki pula (maaf ya temen-temen yang feminis, bukannya bermaksud anti emansipasi atau gimana. Cuman menurutku waktu itu emang aneh aja) Pada satu episode malah diceritakan Oscar berkeinginan menikahi seorang wanita! Ampun deh. Aku sendiri sih nggak punya tokoh favorit di buku ini, kecuali mungkin sedikit simpati pada Marie-Antoinette yang terlihat tolol dan plin plan. Hehehe. Kembali ke Nina, antara aku dan dia sebetulnya nggak pernah bener-bener akrab. Kedekatan kami lebih karena kesamaan hobi yaitu menggambar dan membaca komik. Aku mengagumi kepandaian dia menggambar dan begitu pula sebaliknya. Apakah aku naksir dia? Yah, pada satu titik sempat terpikir bahwa dia adalah tipe perempuan yang mendekati ideal menurut penilaianku masa SMP waktu itu. Senyumnya yang selalu mengembang cerah bahkan masih terbayang sampai sekarang (meski udah samar banget! hehehe). Kalo digambarin di komik mungkin tiap kali dia tersenyum di sekelilingnya bakal bermekaran bunga-bunga aneka warna, kupu-kupu beterbangan, burung-burung menyanyi membentuk satu simfoni…Halah! Hahaha. Tapi tentu saja seperti semua orang, Nina juga punya kelemahan. Ada satu yang mengganggu : sikap plin-plan dan tidak tegasnya terutama dalam urusan yang berhubungan dengan lelaki. Sebagai ’sang bunga’ dia selalu dikelilingi ‘lebah-lebah’ yang ingin mengisap madunya. Dan sepertinya Nina sering kesulitan untuk mengambil keputusan (eh, kok sama ya ma aku? hehehe) untuk memilih. Nggak jarang dia terlibat akrab dengan beberapa pria sekaligus.Aku nggak mau menghakimi apa yang dia lakukan itu salah, karena aku tahu memilih itu adalah satu proses yang sangat sulit terutama untuk beberapa orang. Udah gitu dia sering dengan cepat dan entengnya berubah pikiran tentang deksripsi pria ideal. Agaknya ini yang membuatnya sering banget gonta-ganti idaman, meskipun sekedar taksiran. Sialnya, seperti sudah tersurat nasib bagiku, seperti biasa akulah yang menjadi tempat penampungan curhat dan keluh kesah tentang berbagai jenis laki-laki itu. Minggu ini dia cerita betapa dia naksir si mas A. Minggu depan mas A adalah seorang yang norak dan kampungan, lebih cakepan juga si B. Ampuuuuun. Lebih sinting lagi waktu dia naksir sohibku yang udah aku kenal sejak TK. Nina dengan entengnya bilang,’Si D tu cakep juga ya.’ Hueeekkkkk. Plis deh. Mungkin si D tu emang agak-agak indo (indo jawa kali, hahahah), tapi ya ampun, emang segitunya ? Denger dia omong gitu aku langsung jadi agak eneg. Mungkin karena inilah yang terpatri di benakku sampai kini adalah Nina yang gampang banget jatuh cinta. Sikap inilah yang membuatku mencibir sekaligus kagum padanya. Dan mungkin, sampai kini pun, kelebatan bayangnya masih menyisa, membentuk satu standar di otakku dalam menilai wanita. Kadang, sosok perempuan yang kulihat di bus atau di manapun yang mirip dengan penggambarannya membuatku tak sadar berbisik,’Nina??’
Juli 24, 2008
Oh, my God, hon. Aku bener-bener gak tahan melihat tatapan mata itu.
Hancur.
Sakit.
Bingung.
Rasa bersalah.
Campur aduk jadi satu rasa yang kata tak mampu mendeskripsikannya dengan akurat.
Yah, begitulah, hon. Pokoknya susah dijelaskan deh. Rasa aneh tiap kali pandang kami bertemu.
Saat ia memamerkan foto-foto perjalanannya padaku.
Saat aku berusaha menyabarkan diri menerangkan lembar-lembar materi yang menanti untuk diterjemahkan olehnya yang tak kunjung memahami inti materi tersebut.
Saat dia pulang dari kerja malam-malam dalam keadaan letih dan mendapatiku terlalu asyik bermain game dengan yang lain hingga tak memperhatikan.
Pandang mata bersaput kelegaan saat akhirnya tak ada gangguan.
Tatapan penuh tanda tanya itu.
Menusuk jauh ke dalam.
Moga-moga hanya imajinasiku belaka.
I’m really good at it-imagining.
Bagaimanapun, apapun itu, sulit rasanya untuk mengabaikan.
It’s even harder, after i made this resolution to stop playing with my own heart.
Damn it!
Hey, padahal kalau dikalkulasi secara matematis apa sih yang aku dapet dari hubungan ini?
Bukan aku yang butuh kepastian untuk boleh nongkrong di kamar depan.
Aku nggak perlu temen ngobrol tentang rencana merid atau apapun-yang-mau-kamu-lakukan-dengan-masa-depanmu.
Aku nggak butuh dianterin pergi ke satu tempat yang aku belum tahu.
Aku nggak butuh diajarin apalagi dibantuin untuk nerjemahin dari atau ke bahasa Inggris.
Aku nggak merasa perlu ditemenin untuk makan, nonton atau jalan-jalan ke mall.
Aku nggak butuh nitip beliin ini itu cuman karena aku nggak tahu harus cari kemana.
Aku nggak butuh bantuan untuk nge-search apa aja yang masih bisa dicari via Google.
Aku nggak perlu saran dan pertimbangan sekedar untuk meyakinkan apa saja yang aku akan lakukan (terlebih, nggak darinya).
Aku nggak perlu seseorang hanya untuk digoda dan digangguin siang-siang saat tak ada kesibukan dan merasa bosan.
Aku nggak perlu diingetin untuk makan tepat waktu dan minum obat saat aku membutuhkannya.
Hey, aku udah biasa hidup terisolasi dengan hanya kontak sosial yang amat minim. Mengisi waktu luang usai jam kantor dengan membaca hingga jauh malam sudah biasa aku lakoni. Dulu. Sebelum aku pindah ke tempat ini. Tempat di mana aku juga mulai mengenalmu.
Lalu apa yang aku dapat darinya? Ketenangan batin? Rasa nyaman? Sama sekali nggak. Malah yang ada kecemasan dengan seribu satu variasinya.
Lalu sedemikian ruginyakah aku dalam hubungan ini? Apa sungguh tak ada satu apapun yang aku peroleh darinya? Baiklah aku coba untuk berpikir positif sejenak.Alih-alih menandai semua kejelekan dia, aku akan berusaha menemukan kebaikan-kebaikan apa yang dia berikan.
Dia menenangkan aku saat aku panik.
Dia menghiburku saat aku merasa kesal atau jatuh.
Dia mengajariku beberapa hal tentang komputer (sebetulnya, kami saling mengajari).
Dia mencarikan dan men-download-kan lagu-lagu yang aku ingin miliki (hal yang sama pula, kami saling mencarikan).
Lagi-lagi, kami saling menemani saat sedang merasa suntuk dan tak tahu harus melakukan apa.
(Kok rasanya daftar kebaikan dirinya ini terlalu dicari-cari ya? Apa aku yang terlalu pongah untuk mengakui kebaikan orang lain? Hihihi.)
Aarggggggggggggghhhhh…Rasanya berjuta-juta postingan aku tulis tentang ini pun nggak akan menyelesaikan apa-apa. Aku sekedar mengulang-ulang analisa yang aku sudah tahu pasti dari awal. Mungkin dengan sedikit tambahan detail baru. Dalam hal ini tatapan matanya yang menurutku makin menusuk akhir-akhir ini, justru saat aku mulai merasa menjauh darinya. Dalam kasus ini aku menyerah, hon. Rasanya nge-blog nggak bisa menyelesaikan apa-apa untuk ini. Analisaku makin mengarah ke kebuntuan. Tertumpulkan oleh emosi yang membuta. Sia-sia rasanya resolusiku untuk menghentikan semua ini. Semakin ditahan makin tak terkendali.
Let it go. Let it flow.
Itukah yang terbaik yang bisa kusimpulkan untuk dilakukan? Kalo cuman gitu rasa-rasanya gak perlu pake analisa panjang lebar segala deh. Huh!
Kenapa aku menjadi gila
Hanya karena tatapan mata itu
Juli 22, 2008
i don’t know what i’m supposed to say
when now suddenly you feel so far away
and you’re not prepared to talk
and if you’re now afraid to listen
then i don’t want to do this anymore
oh i don’t know which way that i should turn
seems the more we love
the more we have to learn
and i keep staring into space
like it somehow has the answer
so don’t let the music end
oh, my darling
symphony
it’s gone quiet around us now
how i wish you would hold me
and that you never told me
that it’s better if you leave
look at the sun
we’re starting to lose all of the light
where we once burnt so brightly
tell me we might be throwing it away
well you don’t know what you’ve got
until it’s gone
but then nothing ever hurt like holding on
i am scared and unprepared
and i feel like i’m falling
so can you tell me
where did we go wrong?
symphony
it’s gone quiet around us now
how i wish you would hold me
and that you never told me
that it’s better if you leave
look at the sun
we’re starting to lose all of the light
where we once burnt so brightly
tell me we might be throwing it away
well you don’t know what you’ve got
until it’s gone
if everything is broken
then it’s better that we give up
and remember how we once had
something beautiful
symphony
it’s gone quiet around us now
how i wish you would hold me
and that you never told me
that it’s better if you leave
look at the sun
we’re starting to lose all of the light
where we once burnt so brightly
tell me we might be throwing it away
well you don’t know what you’ve got
until it’s gone
(’symphony’ by Sarah Brightman)
Juli 22, 2008
Iya, ya. Aku nggak pernah mencoba untuk melihat dari sudut pandangnya. Aku nggak pernah mikir bagaimana perasaannya. Bagaimanapun dia toh seorang manusia yang bisa merasa juga kan? Walau ketidakpedulian yang utama terlihat, toh cercah kekecewaan juga tak terbantahkan pada raut mukanya. Saat dia ‘terusir’ dan ‘terpinggirkan’. Mungkinkah dia pernah merasa diperlakukan sebagai yang kedua? Atau mungkin kebingungan pada sikapku yang selalu mendua? Satu saat begitu perhatian dan penuh sayang padanya, namun tak ada sedikit pun usaha untuk membela saat dia ‘terbuang’. Yah, mungkin aja dia juga merasa bingung dan gamang. Sama bingungnya denganku atau bahkan lebih parah. Sialnya lagi dia nggak punya posisi tawar atau paling nggak dia merasa begitu. Jadi agak sulit untuk membuat perkiraan sebagaimana dan apa yang sebenarnya dia rasakan. Walau dia selalu berkata kalau saja kamarnya cukup nyaman alias bersirkulasi udara memadai dia nggak bakal sering-sering nongkrong di kamar tetangga, entah kenapa aku nggak yakin. Dia sama sekali bukan tipe soliter, tak bakal bisa dia hidup sendiri. Sementara berada di kamar tetangga aku tahu kerap membuatnya tertekan akibat sensitivitasnya yang kadang berlebihan. Tapi paling nggak dia punya banyak teman lain yang sepertinya nggak keberatan ditelpon kapan aja hingga berjam-jam saat dia perlu dukungan moral atau sekedar melampiaskan keinginannya untuk berbicara. Jadi sepertinya nggak ada yang perlu dikhawatirkan ya, hon? Seperti biasa, akulah yang selalu paranoid memikirkan perasaan orang lain. Hehehe.
Juli 21, 2008
Pria itu duduk terpaku menghadap layar laptop. Dia duduk bersebelahan dengan temannya secara begitu berdekatan dia dapat merasakan semburan udara hangat dari napas orang di sisinya itu tiap kali temannya memalingkan muka padanya. Layar laptop menampilkan foto demi foto, diiringi cerita yang mengalir lancar dari mulut sang teman. Rupanya mereka sedang mengagumi foto-foto dari perjalanan tugas terakhir sang teman, diselingi tawa-tawa renyah tak berkesudahan, meski dalam hati sebenarnya dia masih mencari-cari hal apa yang cukup menggelikan hingga menggelitiknya untuk tertawa. Ponselnya yang tergeletak di atas ranjang berbunyi,”Tik!Tik!’ penanda pesan singkat masuk. Sedikit curi-curi diambilnya ponsel itu untuk membaca isi sms. Ah, dari si abang menanyakan satu hal yang berhubungan dengan ponsel. Melihat barisan isi inbox sms, matanya berhenti pada nama karibnya tempat ia selalu berbagi cerita. Segera diputuskan untuk berbagi saat itu juga.
‘Gw geblek bgd gak c, hon? Ud maki2 dan nyumpah2 sgtuna, tp bgtu ktemu orgnya lgsg lumer gt aj. Huaah! Damn!’ begitu tulisnya, dan langsung dikirimnya sms itu. Ya, dalam hati memang sebetulnya sedang berkecamuk satu peperangan besar. Satu pergulatan yang menghantui dan membuatnya begitu mudah merasa lemah dan capek beberapa hari terakhir. Pertarungan antara keinginan untuk menghentikan rasa-rasa yang aneh dengan ketidakmauan untuk menyadari kenyataan dan memupus semua perasaan terlarang ini. Dua kesadaran yang terus bergantian menguasai benak dan hatinya.
“Tik! Tik!’” ponsel berbunyi lagi, sementara di latar belakang suara sang teman masih terus menceritakan perjalanannya. Karibnya membalas. Dia menyatakan bahwa makian-makian itu adalah cinta. Tersambar petir rasanya sang pria membaca pernyataan itu. Diletakkannya ponselnya sejenak. Dia mengembalikan perhatiannya pada sang teman yang masih asyik memamerkan foto. Tercenung dia pada foto temannya sedang bergaya di depan satu papan penunjuk yang menunjukkan nama suatu tempat.
“Apa yang membuat aku begitu peduli padanya? Fisiknya sama sekali nggak luar biasa. Mukanya apalagi. Sifat dan sikapnya juga nggak ada yang istimew, malah selalu membuatku kesal dan menangis. Aku jadi merasa lebih lemah bila bersamanya, hilang daya untuk berusaha sendiri.”
Dilihat-lihatnya lagi tampang sang teman di foto pada layar laptop.
“Hmm, nggak! Nggak!” namun rasa hangat itu terus menyerang untuk melingkupi sekujur tubuhnya.
“Kumohon…” hangat itu rasanya akan segera melelehkan dirinya.
“Yah, aku tahu semuanya percuma. Satu-satunya yang aku dan kau miliki bersama hanyalah baris-baris lagu yang segera memudar ditelan perjalanan waktu. Saat mulutmu berkhianat menyebut lagu-lagu itu milik kita.”
Juli 20, 2008
bayangnya selalu menghantui.
Whew! I need an exorcist here!
S’il vous plait.
Oh, Lord, please do have mercy on me!
Juli 20, 2008
Bahkan banjir bandang sekalipun tak mampu memadamkan bara ini.
Segala maki dan penyesalan itu nggak mampu membekukan hati yang terus terbakar.
Yup, i know, darling. Kamu pasti akan bilang padaku untuk lebih menghargai diri sendiri. Lebih menghargai rasa cinta yang bergejolak dalam hati ini. Bagaimanapun cinta itu. Menyakitkan dan tak berbalas.
Toh itu hanyalah satu elemen kecil yang menyusun puzzle besar bernama kehidupan. Meski saat ini terasa amat berarti. Bara itu mungkin tak akan pernah padam. Atau akhirnya akan mati juga? Tak penting. Damn! I just can”t understand that love could be so violent as such. Another mystery to solve, huh, hon?
Yup, tapi aku ragu bakal mereda dalam waktu dekat ini. Bahkan mungkin nanti jauh setelah dia pergi pun akan tetap ada pendar samar sisa bayang bara itu (kau tau kan, hon, bahkan 5 tahun tak juga sepenuhnya menghapus citra sempurna sosok pujaanku dulu. Hehe).
Masi ingat nggak, hon, ketika kita berbagi cerita tentang pria-pria yang sepertinya obsesif itu? Kurasa aku termasuk salah satunya. Merah mukaku menyadari hal ini. Tapi ya, nyatanya memang begitu. We, men, are just little kids anyway. Haha. I just wished that the Lord had teached me to let it go. It’s just so hard to do so.