Awal Juli 2008 ini aku mengunjungi Pesta Buku Jakarta yang diselenggarakan oleh IKAPI. Tepatnya hingga 4 kali. Waw! Emangnya hobi banget ya? Nggak juga si. Ato ngecengin orang? Wah, nggak banget. Kalo taun lalu sih aku inget banget aku berulang kali datang ke pameran buku ikapi, beberapa kali hingga malam hari menjelang pameran tutup. Tapi waktu itu kan cintaku masih bekerja di satu penerbitan yg ikut serta dalam pameran, dan dia dapat giliran menjaga stand jadi wajarlah bila aku menyempatkan diri untuk datang berkali-kali. Kali ini tak ada lagi alasan seperti itu. Lalu kenapa sampai 4 kali? Nggak tau juga ya. Yang pasti 2 kali di antaranya aku membeli buku seri ‘Little House’ karya Laura Ingalls. Sebetulnya, terus terang aja, aku malah merasa asing berada di pameran itu. Antara prihatin, mual, dan sedikit waswas. Banyak banget buku-buku tentang nilai-nilai hidup, ‘panduan menjalani hidup yang benar dan sukses’. Tapi aku tak terlalu peduli pada semua itu. Yang agak mengganggu adalah buku-buku tentang pandangan hidup yang menyerang pandangan hidup orang lain. Oh ya, memang, semua orang berhak menyatakan pendapatnya, termasuk untuk menyanggah atau bahkan memaki. Cuman, cara-cara beberapa orang dalam memaknai kebebasan sepertinya berpotensi untuk menyakiti pihak tertentu. Kalau memang kau meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa pandangan hidup yang kau anut adalah kebenaran yang hakiki, bisikan dari surga, masih perlukah menjelek-jelekkan, mencari-cari kesalahan dari pandangan hidup yang berbeda dari yang kau percaya? Bukankah kalau memang semua pandangan hidup di luar apa yang kau yakini itu salah, maka dengan sendirinya keyakinan-keyakinan yang salah itu akan mati baik secara cepat ataupun perlahan. Nggak habis pikir deh apa yang ada di benak penulis-penulis buku semacam itu. Bukannya daripada bertengkar tentang satu hak yang amat privat dari manusia ini lebih baik membahas atau menyerang para koruptor brengsek yang menggerogoti bangsa? Tapi bagaimanapun orang punya haknya untuk menyatakan pendapatnya, meskipun itu berarti menyerang orang lain sekalipun. Yayaya. Untuk ini memang susah berargumen. Paling tidak masih ada beberapa stan masih menampilkan buku-buku yang sedikit menyejukkan, mendamaikan daripada menceraikan, nggak menyerang tapi lebih berinstrospeksi pada diri sendiri. Yah, masih cukup menghibur.
Yang jelas, aku tak tahu kenapa aku terpaku melihat display buku berjudul ‘ketika menikah jadi pilihan’. Sebenarnya aku tak terlalu peduli apapun isinya yang bagiku tak ada hubungan apapun denganku. Terserah apa kata orang-orang, apa pilihan hidup mereka, walau aku terus terang memang benci dengan orang-orang yang merasa dirinya paling benar-paling sempurna lalu menghasut orang lain untuk mengikuti jalannya. Mungkin yang tergambar dalam benakku ketika melihat buku itu hanyalah sosok mr.D2. Sekali lagi tertayang drama yang dulu pernah dimainkan sekitar 5 tahun lalu. Hanya, kini seharusnya tak sepahit dulu karena aku tahu pasti aku tak punya satu dasar pun untuk berharap, kecuali satu rasa ketergantungan yang lemah. Hal ini sangat lemah untuk menjadi dasar suatu hubungan macam apapun apalagi sebuah persahabatan yang sejati. Yah, aku tahu itu. Aku belum bisa mengerti dengan diriku sendiri yang masih mengharapkan hubungan persahabatan dengannya. Aku sudah memaki-makinya di blog. Aku menghela napas panjang saat dia menelpon malan-malam sekedar untuk menanyakan sesuatu yang baru akan terjadi keesokan harinya. Aku menggebrak mouse-ku saat terkejut pada buzzes-nya di ym. Aku nggak tau kenapa.
Lalu ada satu lagi buku lagi yang membuatku tertohok : ‘Cinta terlarang’. Dari judulnya pun pasti udah bisa menerka apa isinya. Tapi bukan cuman itu. Sinopsis ceritanya bener-bener menggambarkan kepahitan itu. Duh! Sempat tergoda ingin membeli buku ini, tapi setelah dipikir lagi buat apa. Toh cerita hidupku pun tak kalah tragisnya dengan apa yang dikisahkan di buku itu. Buat apa membaca tulisan orang tentang rasa sakit itu lagi?
Jadi pesta buku tahun ini sepertinya lebih banyak membangkitkan kenangan-kenangan sedih yang meremas-remas hati. Bayangan-bayangan indah dari pameran IKAPI tahun lalu sepertinya sudah tak membekas. Salah seorang pelakunya pun telah menolak untuk mengingat-ngingat memori yang hanya bisa dirasakan berdua. Aku lebih banyak merenung sendirian di bangku penonton stadium istora, menyaksikan orang lalu lalang berbelanja buku, iri pada keceriaan mereka yang dibagi dengan seseorang atau teman-teman.