Pria itu duduk terpaku menghadap layar laptop. Dia duduk bersebelahan dengan temannya secara begitu berdekatan dia dapat merasakan semburan udara hangat dari napas orang di sisinya itu tiap kali temannya memalingkan muka padanya. Layar laptop menampilkan foto demi foto, diiringi cerita yang mengalir lancar dari mulut sang teman. Rupanya mereka sedang mengagumi foto-foto dari perjalanan tugas terakhir sang teman, diselingi tawa-tawa renyah tak berkesudahan, meski dalam hati sebenarnya dia masih mencari-cari hal apa yang cukup menggelikan hingga menggelitiknya untuk tertawa. Ponselnya yang tergeletak di atas ranjang berbunyi,”Tik!Tik!’ penanda pesan singkat masuk. Sedikit curi-curi diambilnya ponsel itu untuk membaca isi sms. Ah, dari si abang menanyakan satu hal yang berhubungan dengan ponsel. Melihat barisan isi inbox sms, matanya berhenti pada nama karibnya tempat ia selalu berbagi cerita. Segera diputuskan untuk berbagi saat itu juga.
‘Gw geblek bgd gak c, hon? Ud maki2 dan nyumpah2 sgtuna, tp bgtu ktemu orgnya lgsg lumer gt aj. Huaah! Damn!’ begitu tulisnya, dan langsung dikirimnya sms itu. Ya, dalam hati memang sebetulnya sedang berkecamuk satu peperangan besar. Satu pergulatan yang menghantui dan membuatnya begitu mudah merasa lemah dan capek beberapa hari terakhir. Pertarungan antara keinginan untuk menghentikan rasa-rasa yang aneh dengan ketidakmauan untuk menyadari kenyataan dan memupus semua perasaan terlarang ini. Dua kesadaran yang terus bergantian menguasai benak dan hatinya.
“Tik! Tik!’” ponsel berbunyi lagi, sementara di latar belakang suara sang teman masih terus menceritakan perjalanannya. Karibnya membalas. Dia menyatakan bahwa makian-makian itu adalah cinta. Tersambar petir rasanya sang pria membaca pernyataan itu. Diletakkannya ponselnya sejenak. Dia mengembalikan perhatiannya pada sang teman yang masih asyik memamerkan foto. Tercenung dia pada foto temannya sedang bergaya di depan satu papan penunjuk yang menunjukkan nama suatu tempat.
“Apa yang membuat aku begitu peduli padanya? Fisiknya sama sekali nggak luar biasa. Mukanya apalagi. Sifat dan sikapnya juga nggak ada yang istimew, malah selalu membuatku kesal dan menangis. Aku jadi merasa lebih lemah bila bersamanya, hilang daya untuk berusaha sendiri.”
Dilihat-lihatnya lagi tampang sang teman di foto pada layar laptop.
“Hmm, nggak! Nggak!” namun rasa hangat itu terus menyerang untuk melingkupi sekujur tubuhnya.
“Kumohon…” hangat itu rasanya akan segera melelehkan dirinya.

“Yah, aku tahu semuanya percuma. Satu-satunya yang aku dan kau miliki bersama hanyalah baris-baris lagu yang segera memudar ditelan perjalanan waktu. Saat mulutmu berkhianat menyebut lagu-lagu itu milik kita.”