Iya, ya. Aku nggak pernah mencoba untuk melihat dari sudut pandangnya. Aku nggak pernah mikir bagaimana perasaannya. Bagaimanapun dia toh seorang manusia yang bisa merasa juga kan? Walau ketidakpedulian yang utama terlihat, toh cercah kekecewaan juga tak terbantahkan pada raut mukanya. Saat dia ‘terusir’ dan ‘terpinggirkan’. Mungkinkah dia pernah merasa diperlakukan sebagai yang kedua? Atau mungkin kebingungan pada sikapku yang selalu mendua? Satu saat begitu perhatian dan penuh sayang padanya, namun tak ada sedikit pun usaha untuk membela saat dia ‘terbuang’. Yah, mungkin aja dia juga merasa bingung dan gamang. Sama bingungnya denganku atau bahkan lebih parah. Sialnya lagi dia nggak punya posisi tawar atau paling nggak dia merasa begitu. Jadi agak sulit untuk membuat perkiraan sebagaimana dan apa yang sebenarnya dia rasakan. Walau dia selalu berkata kalau saja kamarnya cukup nyaman alias bersirkulasi udara memadai dia nggak bakal sering-sering nongkrong di kamar tetangga, entah kenapa aku nggak yakin. Dia sama sekali bukan tipe soliter, tak bakal bisa dia hidup sendiri. Sementara berada di kamar tetangga aku tahu kerap membuatnya tertekan akibat sensitivitasnya yang kadang berlebihan. Tapi paling nggak dia punya banyak teman lain yang sepertinya nggak keberatan ditelpon kapan aja hingga berjam-jam saat dia perlu dukungan moral atau sekedar melampiaskan keinginannya untuk berbicara. Jadi sepertinya nggak ada yang perlu dikhawatirkan ya, hon? Seperti biasa, akulah yang selalu paranoid memikirkan perasaan orang lain. Hehehe.