Sebut aja namanya Nina. Langsing, putih, cantik dengan rambut lurus tergerai. Wiiih, stereotype cewe di iklan-iklan produk kecantikan deh. Pastinya sih bukan aku aja yang mendeteksi ‘keindahan’ ini. Nggak cuman temen-temen cowo sekelas aja, anak-anak kelas lain pun tahu Nina. Dari segi sifat Nina sedikit banyak adalah seorang pengkhayal, meski khayalannya agak-agak klise. Aku ingat dia begitu menggemari komik ‘Rose of Versailles’ yang berkisah tentang Marie Antoinette dan Oscar itu si tentara crossdresser itu. Aku sendiri kebetulan juga menyukai komik yang berlatar belakang sejarah Perancis ini. Sementara Nina sepertinya sangat tergila-gila pada tokoh Oscar. Aku sendiri sebenernya agak-agak antipati sama Oscar yang menurutku aneh(pada waktu itu tentunya), cewe kok pake baju laki-laki, jadi tentara udah gitu pake nama laki-laki pula (maaf ya temen-temen yang feminis, bukannya bermaksud anti emansipasi atau gimana. Cuman menurutku waktu itu emang aneh aja) Pada satu episode malah diceritakan Oscar berkeinginan menikahi seorang wanita! Ampun deh. Aku sendiri sih nggak punya tokoh favorit di buku ini, kecuali mungkin sedikit simpati pada Marie-Antoinette yang terlihat tolol dan plin plan. Hehehe. Kembali ke Nina, antara aku dan dia sebetulnya nggak pernah bener-bener akrab. Kedekatan kami lebih karena kesamaan hobi yaitu menggambar dan membaca komik. Aku mengagumi kepandaian dia menggambar dan begitu pula sebaliknya. Apakah aku naksir dia? Yah, pada satu titik sempat terpikir bahwa dia adalah tipe perempuan yang mendekati ideal menurut penilaianku masa SMP waktu itu. Senyumnya yang selalu mengembang cerah bahkan masih terbayang sampai sekarang (meski udah samar banget! hehehe). Kalo digambarin di komik mungkin tiap kali dia tersenyum di sekelilingnya bakal bermekaran bunga-bunga aneka warna, kupu-kupu beterbangan, burung-burung menyanyi membentuk satu simfoni…Halah! Hahaha. Tapi tentu saja seperti semua orang, Nina juga punya kelemahan. Ada satu yang mengganggu : sikap plin-plan dan tidak tegasnya terutama dalam urusan yang berhubungan dengan lelaki. Sebagai ’sang bunga’ dia selalu dikelilingi ‘lebah-lebah’ yang ingin mengisap madunya. Dan sepertinya Nina sering kesulitan untuk mengambil keputusan (eh, kok sama ya ma aku? hehehe) untuk memilih. Nggak jarang dia terlibat akrab dengan beberapa pria sekaligus.Aku nggak mau menghakimi apa yang dia lakukan itu salah, karena aku tahu memilih itu adalah satu proses yang sangat sulit terutama untuk beberapa orang. Udah gitu dia sering dengan cepat dan entengnya berubah pikiran tentang deksripsi pria ideal. Agaknya ini yang membuatnya sering banget gonta-ganti idaman, meskipun sekedar taksiran. Sialnya, seperti sudah tersurat nasib bagiku, seperti biasa akulah yang menjadi tempat penampungan curhat dan keluh kesah tentang berbagai jenis laki-laki itu. Minggu ini dia cerita betapa dia naksir si mas A. Minggu depan mas A adalah seorang yang norak dan kampungan, lebih cakepan juga si B. Ampuuuuun. Lebih sinting lagi waktu dia naksir sohibku yang udah aku kenal sejak TK. Nina dengan entengnya bilang,’Si D tu cakep juga ya.’ Hueeekkkkk. Plis deh. Mungkin si D tu emang agak-agak indo (indo jawa kali, hahahah), tapi ya ampun, emang segitunya ? Denger dia omong gitu aku langsung jadi agak eneg. Mungkin karena inilah yang terpatri di benakku sampai kini adalah Nina yang gampang banget jatuh cinta. Sikap inilah yang membuatku mencibir sekaligus kagum padanya. Dan mungkin, sampai kini pun, kelebatan bayangnya masih menyisa, membentuk satu standar di otakku dalam menilai wanita. Kadang, sosok perempuan yang kulihat di bus atau di manapun yang mirip dengan penggambarannya membuatku tak sadar berbisik,’Nina??’