Oh, my God, hon. Aku bener-bener gak tahan melihat tatapan mata itu.
Hancur.
Sakit.
Bingung.
Rasa bersalah.
Campur aduk jadi satu rasa yang kata tak mampu mendeskripsikannya dengan akurat.
Yah, begitulah, hon. Pokoknya susah dijelaskan deh. Rasa aneh tiap kali pandang kami bertemu.
Saat ia memamerkan foto-foto perjalanannya padaku.
Saat aku berusaha menyabarkan diri menerangkan lembar-lembar materi yang menanti untuk diterjemahkan olehnya yang tak kunjung memahami inti materi tersebut.
Saat dia pulang dari kerja malam-malam dalam keadaan letih dan mendapatiku terlalu asyik bermain game dengan yang lain hingga tak memperhatikan.
Pandang mata bersaput kelegaan saat akhirnya tak ada gangguan.
Tatapan penuh tanda tanya itu.
Menusuk jauh ke dalam.
Moga-moga hanya imajinasiku belaka.
I’m really good at it-imagining.
Bagaimanapun, apapun itu, sulit rasanya untuk mengabaikan.
It’s even harder, after i made this resolution to stop playing with my own heart.
Damn it!

Hey, padahal kalau dikalkulasi secara matematis apa sih yang aku dapet dari hubungan ini?
Bukan aku yang butuh kepastian untuk boleh nongkrong di kamar depan.
Aku nggak perlu temen ngobrol tentang rencana merid atau apapun-yang-mau-kamu-lakukan-dengan-masa-depanmu.
Aku nggak butuh dianterin pergi ke satu tempat yang aku belum tahu.
Aku nggak butuh diajarin apalagi dibantuin untuk nerjemahin dari atau ke bahasa Inggris.
Aku nggak merasa perlu ditemenin untuk makan, nonton atau jalan-jalan ke mall.
Aku nggak butuh nitip beliin ini itu cuman karena aku nggak tahu harus cari kemana.
Aku nggak butuh bantuan untuk nge-search apa aja yang masih bisa dicari via Google.
Aku nggak perlu saran dan pertimbangan sekedar untuk meyakinkan apa saja yang aku akan lakukan (terlebih, nggak darinya).
Aku nggak perlu seseorang hanya untuk digoda dan digangguin siang-siang saat tak ada kesibukan dan merasa bosan.
Aku nggak perlu diingetin untuk makan tepat waktu dan minum obat saat aku membutuhkannya.
Hey, aku udah biasa hidup terisolasi dengan hanya kontak sosial yang amat minim. Mengisi waktu luang usai jam kantor dengan membaca hingga jauh malam sudah biasa aku lakoni. Dulu. Sebelum aku pindah ke tempat ini. Tempat di mana aku juga mulai mengenalmu.
Lalu apa yang aku dapat darinya? Ketenangan batin? Rasa nyaman? Sama sekali nggak. Malah yang ada kecemasan dengan seribu satu variasinya.
Lalu sedemikian ruginyakah aku dalam hubungan ini? Apa sungguh tak ada satu apapun yang aku peroleh darinya? Baiklah aku coba untuk berpikir positif sejenak.Alih-alih menandai semua kejelekan dia, aku akan berusaha menemukan kebaikan-kebaikan apa yang dia berikan.
Dia menenangkan aku saat aku panik.
Dia menghiburku saat aku merasa kesal atau jatuh.
Dia mengajariku beberapa hal tentang komputer (sebetulnya, kami saling mengajari).
Dia mencarikan dan men-download-kan lagu-lagu yang aku ingin miliki (hal yang sama pula, kami saling mencarikan).
Lagi-lagi, kami saling menemani saat sedang merasa suntuk dan tak tahu harus melakukan apa.
(Kok rasanya daftar kebaikan dirinya ini terlalu dicari-cari ya? Apa aku yang terlalu pongah untuk mengakui kebaikan orang lain? Hihihi.)

Aarggggggggggggghhhhh…Rasanya berjuta-juta postingan aku tulis tentang ini pun nggak akan menyelesaikan apa-apa. Aku sekedar mengulang-ulang analisa yang aku sudah tahu pasti dari awal. Mungkin dengan sedikit tambahan detail baru. Dalam hal ini tatapan matanya yang menurutku makin menusuk akhir-akhir ini, justru saat aku mulai merasa menjauh darinya. Dalam kasus ini aku menyerah, hon. Rasanya nge-blog nggak bisa menyelesaikan apa-apa untuk ini. Analisaku makin mengarah ke kebuntuan. Tertumpulkan oleh emosi yang membuta. Sia-sia rasanya resolusiku untuk menghentikan semua ini. Semakin ditahan makin tak terkendali.
Let it go. Let it flow.
Itukah yang terbaik yang bisa kusimpulkan untuk dilakukan? Kalo cuman gitu rasa-rasanya gak perlu pake analisa panjang lebar segala deh. Huh!

Kenapa aku menjadi gila
Hanya karena tatapan mata itu