“Ah, bahagianya yang separuh nyawanya udah pulang. Pasti lega en bisa tidur nyenyak lagi deh.”
Senang gundulmu! Kayak nggak tau aja, tiap melihatnya, sesuatu hancur di dalamku, tersembunyi oleh senyum dan tawa cerah di wajah.
Agustus 29, 2008
“Ah, bahagianya yang separuh nyawanya udah pulang. Pasti lega en bisa tidur nyenyak lagi deh.”
Senang gundulmu! Kayak nggak tau aja, tiap melihatnya, sesuatu hancur di dalamku, tersembunyi oleh senyum dan tawa cerah di wajah.
Agustus 26, 2008
“Rasain aja deh…Kan demi pacarnya trus bergadang, bgn pagi hehe..”
“Yang dugem sapa, yang bukain pintu sapa? Yang seneng-seneng sapa, yang jadi ikut kurang tidur sapa? Kasian banget sih kamu?”
“Sms-nya nggak sopan banget sih? Emangnya kamu apaan? Satpam? Suru jaga pintu ampe malem. Mau-maunya.”
“Ah, kayak nggak tau kamu aja, pasti besok pagi buta bakal bangun kan anterin pacarnya berangkat?”
“Ampun deh, pacarnya belum berangkat pergi aja udah mau nangis gitu…..”
Agustus 24, 2008
Esok harinya lagi, saat kita menyantap sarapan berdua saja, lagi-lagi kau utarakan alasanmu untuk malam itu.
Agustus 23, 2008
Jam 2 pagi lewat 21 menit. Kau berdiri di luar pintu dengan pakaianmu yang berantakan. Di dalam, pandangku masi kabur oleh kantuk yang sangat. Tak ada senyum di wajahku seperti biasanya bila aku melihatmu, meski aku lihat secercah senyum di mukamu saat kau mengucap maaf karena telah membangunkanku di kala malam telah lebih mengarah ke pagi.
Jam 11 esoknya, ketika kita akhirnya bertemu dalam cerahnya sinar mentari, kata maaf itu terucap lagi olehmu, beserta kumpulan kata yang membentuk alasan pembelaan. Senyum kecil, hanya itulah yang bisa kulakukan.
Agustus 23, 2008
Kamu bilang kamu butuh pertimbanganku. Untuk beli sepatu baru? Hah? Yah, seperti biasa-katamu. Ya ya, seperti saat beli tas, saat memilih sepatu, topi, kaos, kemeja, dan lain-lain dan lain-lain. Tapi itu tadi siang, saat kamu masih sibuk membujukku untuk pergi bersamamu akhir pekan ini.
Sore menjelang, bersama memudarnya cahaya surya hilang pula kata-katamu tadi. Terburu-buru kau mengucap pamit menyudahi percakapan virtual kita, meninggalkanku tenggelam dalam sejuta pertanyaan tentang keberadaanmu.
Tirai hitam telah lama dibentangkan. Mataku terasa makin berat. Desis kipas angin membujuk untuk segera beranjak ke alam mimpi. Tapi kedamaian hancur oleh dering ponsel tanda masuk sms-mu. Seperti biasa kau minta aku bukakan pintu. Nanti. Entah jam berapa. Mata terasa agak panas. Terbayang kau berujar siang tadi : ‘Kamu terlalu sensitif, kayak cewe aja.’ Terbayang kau mengucap pamit tadi sore, tanpa satu petunjuk pun kemana kau bakal singgah. Terbayang siang tadi kau bilang tak suka pergi menghabiskan malam di luar. Citra demi citra silih berganti tampil di benak. Aku tahu aku tak punya hak apa-apa atasmu. Ya ya ya. Aku cuma bertanya-tanya, dalam hati.
Sudah lewat jauh dari tengah malam. Tak ada tanda apapun darimu. Aku telah yakin kau tak akan pulang malam ini, tapi mata ini sulit dipejamkan. Lewat sudah jam-jam mengantukku. Imajinasi berlarian liar dalam kepala, penuh dengan sosokmu. Tidak. Aku tidak menangis. Meski aku mendengarkan lagu ending ‘Howl’s moving castle’ yang beraroma Perancis itu di tengah malam sunyi. Amarahkah yang kurasa ini? Bukan juga. Mungkin sekedar kelelahan yang akut, kelelahan emosional, dicampur satu dosis keputusasaan yang pekat kental.
Aku melihat keluar jendela kepada kegelapan malam yang sepertinya tak tergoyahkan.
‘Ah, indahnya hidup ini.’
Agustus 17, 2008
Cinta yang tulus
Cinta yang tak mengharap balasan
Oh, Tuhan, kan terus kuserukan pada-Mu
Ajari aku untuk mencintai dengan ikhlas
Agustus 17, 2008
nothing that happens,is ever forgotten,even if you can’t remember it
(from ’spirited away’)
Agustus 17, 2008
Duh! Le voila! More excuses. I don’t need his explanation anyway. Je m’en fou. Why should I care for the reasons why he signed out all so sudden from our virtual conversation that night, without saying goodbye nor any notice. He just kept making excuses i don’t need to hear.
Agustus 17, 2008
you are IN LOVE
sighing away like that
Agustus 14, 2008
hambar…
makin hambar…
Agustus 14, 2008
Ain’t no sunshine when he’s gone
It’s not warm when he’s away
Ain’t no sunshine when he’s gone
And he’s always gone too long
Wonder this time where he’s gone
Wonder if he’s gone to stay
Ain’t no sunshine when he’s gone
And this house just ain’t no home
Anytime he goes away
I know, I know, I know, I know
I know, I know, I know, I know
I know, I know, I know, I know
I know, I know
Gonna leave him alone
Ain’t no sunshine when he’s gone
It’s not warm when he’s away
Ain’t no sunshine when he’s gone
And he’s always gone too long
(‘Ain’t no sunshine’ as performed by Lenny Mcdowell)