Jam 2 pagi lewat 21 menit. Kau berdiri di luar pintu dengan pakaianmu yang berantakan. Di dalam, pandangku masi kabur oleh kantuk yang sangat. Tak ada senyum di wajahku seperti biasanya bila aku melihatmu, meski aku lihat secercah senyum di mukamu saat kau mengucap maaf karena telah membangunkanku di kala malam telah lebih mengarah ke pagi.

Jam 11 esoknya, ketika kita akhirnya bertemu dalam cerahnya sinar mentari, kata maaf itu terucap lagi olehmu, beserta kumpulan kata yang membentuk alasan pembelaan. Senyum kecil, hanya itulah yang bisa kulakukan.