Kamu bilang kamu butuh pertimbanganku. Untuk beli sepatu baru? Hah? Yah, seperti biasa-katamu. Ya ya, seperti saat beli tas, saat memilih sepatu, topi, kaos, kemeja, dan lain-lain dan lain-lain. Tapi itu tadi siang, saat kamu masih sibuk membujukku untuk pergi bersamamu akhir pekan ini.

Sore menjelang, bersama memudarnya cahaya surya hilang pula kata-katamu tadi. Terburu-buru kau mengucap pamit menyudahi percakapan virtual kita, meninggalkanku tenggelam dalam sejuta pertanyaan tentang keberadaanmu.

Tirai hitam telah lama dibentangkan. Mataku terasa makin berat. Desis kipas angin membujuk untuk segera beranjak ke alam mimpi. Tapi kedamaian hancur oleh dering ponsel tanda masuk sms-mu. Seperti biasa kau minta aku bukakan pintu. Nanti. Entah jam berapa. Mata terasa agak panas. Terbayang kau berujar siang tadi : ‘Kamu terlalu sensitif, kayak cewe aja.’ Terbayang kau mengucap pamit tadi sore, tanpa satu petunjuk pun kemana kau bakal singgah. Terbayang siang tadi kau bilang tak suka pergi menghabiskan malam di luar. Citra demi citra silih berganti tampil di benak. Aku tahu aku tak punya hak apa-apa atasmu. Ya ya ya. Aku cuma bertanya-tanya, dalam hati.

Sudah lewat jauh dari tengah malam. Tak ada tanda apapun darimu. Aku telah yakin kau tak akan pulang malam ini, tapi mata ini sulit dipejamkan. Lewat sudah jam-jam mengantukku. Imajinasi berlarian liar dalam kepala, penuh dengan sosokmu. Tidak. Aku tidak menangis. Meski aku mendengarkan lagu ending ‘Howl’s moving castle’ yang beraroma Perancis itu di tengah malam sunyi. Amarahkah yang kurasa ini? Bukan juga. Mungkin sekedar kelelahan yang akut, kelelahan emosional, dicampur satu dosis keputusasaan yang pekat kental.
Aku melihat keluar jendela kepada kegelapan malam yang sepertinya tak tergoyahkan.
‘Ah, indahnya hidup ini.’