Agustus 2008


there is simply no ‘us’

Akhirnya bisa nonton juga ‘persepolis’-nya Marjane Satrapi. Keren buangets. Gaya animasinya unik en nyeni abis. Dari segi cerita juga kuat. Aku suka waktu Marjane protes di satu pertemuan mahasiswa ‘kenapa harus perempuan yang menutup dirinya rapat-rapat sementara pria bebas menggunakan pakaian yang mereka suka?’ atau saat dia sedang mengikuti kuliah praktek melukis dengan model seorang wanita yang berkostum ‘amat sangat tertutup’, Marjane berpendapat bahwa si model itu terlihat sama dari berbagai sudut. Aku nggak tahu apa memang begitu parahnya yang terjadi di negara asal Satrapi ini (atau malah lebih parah?). Tapi yah bisa dikira2 lah begitu jadinya kalau fundamentalisme yang menguasai. Polisi moral berkeliaran, dengan semena-mena menghakimi dan menghukum orang yang menurut mereka salah. Gak perlu liat jauh-jauh ke tanah seberang, disini pun udah terlihat banyak gejalanya. Hipokrit bergentayangan, mengaku-ngaku suci hingga bisa menyalahkan orang lain dengan seenak penafsiran mereka sendiri. Lebih parah lagi bila kekerasan mulai dipakai untuk memaksakan nilai dan aturan yang mereka percaya.

je pleure encore

et encore

kami toh masih sempat mencuri waktu untuk pergi berdua sebelum berpisah…
My hipocrisy
and his?

I know that i’ve BEEN MAD IN LOVE before
And how it could be with you
Really hurt me baby, really cut me baby
How can you have a day without a night
You’re the book that I have opened
And now i’ve got to know much more
The curiousness of your potential kiss
Has got my mind and body aching
Really hurt me baby, really cut me baby
How can you have a day without a night
You’re the book that I have opened
And now I’ve got to know much more
Like a soul without a mind
In a body without a heart
I’m missing every part
(x5)

(‘unfinished sympathy’ by Massive Attack)

Kamu bilang kedongkolanku yang terlampau membara adalah satu lagi bukti betapa aku mencintainya. Yah, mungkin memang ini cinta. Sepertinya memang gitu. Tapi semakin hari aku semakin sadar bahwa rasa ini tak punya dasar yang kuat sama sekali. Bukan cuma karena situasi yang memang tak memungkinkan dan perasaan yang tak berbalas, dari sisiku sendiri pun aku merasa ada terlalu banyak hal yang tidak bisa dikompromikan. Mulai masalah sepele seperti selera hingga masalah-masalah yang menjurus ke arah prinsip. Akhir-akhir ini kami sering bertengkar. Beberapa berakhir dengan perasaan jengkel yang amat sangat. Dari dulu memang dia suka menggoda dengan sindiran dan ejekan, dan aku juga hampir selalu membalas, paling tidak selama aku bisa. Belakangan ‘peperangan’ ini udah nggak lagi terasa ‘manis’ layaknya candaan yang akrab. Yang ada rasa masam atau malah pahit yang nggak kunjung hilang bahkan jauh setelah pembicaraan selesai. Apakah ini akibat meningkatnya keakraban kami? Kami jadi makin saling mengenal, atau setidaknya merasa kenal. Sejujurnya sih aku sama sekali tidak berhak mengklaim seperti itu. Aku sama sekali buta tentang dia. Dia adalah satu misteri bagiku, sama seperti yang dia inginkan : menjadi misteri. Sementara dia agaknya merasa sudah mengetahui sebagian besar dari diriku. Karena itu dia sering membuat ‘remarks’ tentang aku. ‘Kamu ini bayi banget sih’, ‘Ah, kamu nggak bisa dipercaya.’ ‘Ah, kamu manja gitu, mana bisa?’, ‘Aku udah tahu kamu bakal gitu.’, ‘Kamu sinetron banget sih. Cemen!’ adalah sebagian kalimat yang sering terlontar dari mulutnya. Lagi-lagi aku merasa berada dalam posisi sama seperti dalam hubungan antara aku dengan cintaku. Aku merasa dihakimi. Orang-orang lebih tahu tentang aku daripada aku sendiri.
Disamping itu dia berujar padaku untuk berhenti mengasihaninya. Oh, ya, akhirnya dia merasakan juga perhatianku padanya dan agaknya risih akan hal itu. Ya ya ya, pasti akan jauh lebih mudah bagiku untuk tak peduli bila dia juga berhenti berkeluh kesah dan merengek-rengek tentang ini itu padaku. Sulit untukku berlagak cuek sementara dia terus berceloteh tentang betapa lelahnya dia, betapa sakit, betapa stress dan banyak keluhan lainnya. Dia selalu mengkhayalkan enaknya punya seorang istri yang bakal mengurusnya dengan baik dan penuh sayang (hahaha). Aku ingat kami sering berdiskusi tentang persahabatan, tentang arti seorang teman dan bagaimana seharusnya seorang teman bertindak. Tanpa bermaksud apa-apa dan masih dalam kerangka pertemanan aku menawarkan untuk melakukan apa aja sepanjang aku masih bisa. Dia berkata itu tak perlu. Tak mengerti aku apa maksudnya. Mungkinkah tak perlu melakukan hal-hal yang penting baginya? Toh selama kami masih berdekatan sebagai manusia kemungkinan kami akan saling membutuhkan bantuan yang lain sebagaimanapun sepelenya. Apakah pernyataan ini sekedar hardikan untuk membuatku mundur dan menjaga jarak? Aku sudah pernah mencoba mengurangi frekuensi komunikasi kami, yang toh tak membuahkan apa-apa. Tapi belakangan hubungan kami memang makin berjarak. Jalinan komunikasi makin berkurang. Entah kenapa. Mungkin memang karena hal-hal yang aku sudah sebut di atas : dia mulai merasa jengah pada perhatianku yang berlebih, dia makin menemukan betapa tidak cocoknya kami bahkan sekedar sebagai teman, atau mungkin karena dia sudah menemukan orang-orang baru yang lebih bisa diandalkan untuk menjadi ‘gantungan’. Atau ada faktor lain yang mendukung? Tidak available-nya aku baik sebagai teman yang bisa diajak pergi seenaknya atau malah lebih mungkin bisa disebut sebagai salah satunya. Aku masih ingat dengan jelas dia mengatakan bahwa tiap kali dia ingin mengajakku pergi dia merasa tidak enak pada cintaku, yang dia yakini bakal amat sangat ‘terganggu’ dengan kepergianku apalagi berdua dengannya. Bahkan tidak perlu bepergian berdua pun, saat berada di rumah jelas sekali dia terlihat lebih sebagai dirinya sendiri saat tak ada cintaku di dekat kami. Yang lebih ekstrem lagi mungkin apa yang diceritakan oleh cintaku dalam blog-nya yang menyingkap hubungan misterius antara arti persahabatan dan tempat sampah : dia (sang pujaan terlarang, bukan cintaku )menganggap kami (terutama aku) semata sebagai teman cadangan yang kesekian, yang hanya didekati saat teman-teman yang lain terlalu sibuk untuk mengurusi segala keluhan dan rengekannya.
Aku tak merasa begitu sedih saat kali ini dia pergi ke luar daerah untuk jangka waktu yang agak lama. Oh, ya tetap ada rasa kosong di hati saat melihatnya mengucap selamat jalan dan berlalu, tapi kesedihan itu segera ternoda oleh berbagai pikiran buruk yang memenuhi benak, tak henti-hentinya memutar-mutarkan hati dari rasa cinta ke benci dan sebaliknya.

antara benci dan cinta memang batasnya nyaris tak terlihat

begitu mudahnya 2 hal itu silih berganti

Girl meets boy, girl goes crazy
Boy backs away, she gets her heart broken
No words are spoken
Boy comes back and acts
As if everything is cool
Soon she’s got him back on a pedestal
She only sees what she wants to see
Love is blind, love is so misleading

I see the light, oh what a light
And I am sober
All that you served to me
No longer will I drink it in
I took the time to think it over
I see the you that I never knew
Now it’s finally sinking in
I am sober
Girl wakes up and smells the coffee one day
Realizes she’s on her own again
All alone again
Boy takes every opportunity
To play on every insecurity
Get her back on track
She’s in a daze, back in the fire
But will she cave into her old desires

(‘Sober’ performed by Jennifer Paige)

No matter how much i claimed that i hate him
You know i will always see him in a different light
Maybe no longer of such importance
but still special
even only a little bit.

Di infotainment ada ribut-ribut nggak penting apa lagi hari ini? Owh, ada soal Dewi Persik dan pelecehan seksual. Ampyun. Jadi si Dewi menuduh dilecehkan dalam satu acara yang diadakan satu asosiasi apa gitu (asosiasi pengusaha sok ngaku-ngaku muda kali ya? Lupa….). Orang-orang dari asosiasi itu membela diri. Menurut mereka Dewi terlalu melebih-lebihkan, itu sama sekali bukan pelecehan. Mereka malah balik menyerang : kalo nggak mau dilecehin kenapa bergaya dan bertingkah sensual di panggung. Seperti kita tahu memang artis yang satu ini sering berpenampilan ‘wow’. Tapi apakah lalu ini berarti justifikasi bagi orang lain untuk melecehkan? Toh sebelum menyewa sang artis asosiasi ini tentu sudah tahu tentang kebiasaan si artis yang seronok. Jadi kenapa pula mereka menyewa artis tersebut? Sudah bisa ditebak kan kenapa? Sanggahan stereotype yang sudah basi. Kalo ada wanita dilecehkan atau bahkan diperkosa orang malah mencibir si wanita : ah, pasti si wanitanya menggoda, atau berpenampilan seksi. Kira-kira sama aja kan seperti itu?
Bukan berarti menghalalkan orang berpenampilan vulgar, tapi, hey, paling nggak harusnya kan ada usaha dari dua sisi? Bukan cuman satu sisi aja yang dikekang sementara kaum patriakal itu mengumbar nafsu syahwatnya dengan semena-mena, seenaknya menyalahkan wanita-wanita seksi yang membuat mereka terangsang. Harusnya semua pihak melakukan introspeksi dan mengendalikan diri. Bukan cuman satu pihak aja yang dipaksa harus menjaga diri. Tak akan pernah berhasil apapun yang dilakukan sepihak macam begitu, apalagi bila dipaksakan. Secara fisik mungkin bisa memaksa orang menurut, tapi hati manusia tak bisa dikekang.

Sore hari saat sedang berdua saja mungkin adalah sedikit waktu yang tersisa bagi kami untuk saling bercerita tentang apa aja : uneg-uneg tentang pekerjaan hari ini, rasa kesal melihat isi siaran tivi lokal yang makin nggak mutu, kekonyolan teman di kantor, apa aja. Hari itu cintaku berkisah bahwa dia baru saja diramal oleh seorang teman dengan menggunakan kartu. Awalnya aku tak begitu berminat dengan ramalan-ramalan yang menurutku nonsens belaka. Tapi mendengar satu bagian dari ramalan itu mau tak mau aku aku jadi tertarik juga. Disebutkan bahwa ada dua figur pria yang berada dekat dengan cintaku. Seorang berkulit gelap sangat menyayangi cintaku. Seorang lagi berkulit putih agaknya merasa sirik terhadap cintaku. Aku tak langsung menangkap siapa-siapa yang dimaksud dalam ramalan ini bila tidak dijelaskan oleh cintaku. Ujarnya sosok yang berkulit gelap itu adalah aku (wow! Thanks darling!). Lalu siapa pria berkulit putih itu? Aku sama sekali tak memiliki alternatif untuk dijadikan tersangka meski cintaku ternyata sudah menunjuk seseorang. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah mr.D2! Hahaha. Sebenernya cintaku juga tak memiliki dasar kuat kenapa tuduhan itu langsung mengarah ke orang ini. Sempat berpikir sesaat, lalu mulai teringat beberapa kali mr.D2 memang pernah beberapa kali berkata sinis tentang cintaku. Ditambah lagi dengan keengganannya yang berlebih untuk membicarakan cintaku. Ah, mungkin memang bener sosok di ramalan itu dia, tapi toh itu nggak penting. Yang utama bagiku sekarang ramalan ini malah sedikit banyak membawa perasaan dekat kepada cintaku, satu hal yang sempat memburuk akhir-akhir ini.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »