If you wanna be my friend
You want us to get along
Please do not expect me to
Wrap it up and keep it there
The observation I am doing could
Easily be understood
As cynical demeanour
But one of us misread…
And what do you know
It happened again
A friend is not a means
You utilize to get somewhere
Somehow I didn’t notice
friendship is an end
What do you know
It happened again
How come no-one told me
All throughout history
The loneliest people
Were the ones who always spoke the truth
The ones who made a difference
By withstanding the indifference
I guess it’s up to me now
Should I take that risk or just smile?
What do you know
It happened again
What do you know
(‘Misread’ by Kings of Convenience)
‘A friend is not a means
You utilize to get somewhere
Somehow I didn’t notice
friendship is an end’
Yah, menurutku si betul banget. Temen tu bukan satu alat untuk mencapai satu tujuan. Aku si gak pernah temenan karena ingin dapet ’sesuatu’, baik fisik/materi maupun abstrak (ilmu, pemikiran, ide, dll, dsb). Temenan ya temenan aja. Asal orangnya ngga rese, nyambung diajak omong udah deh. Masalah beda prinsip sih masi bisa lah di kompromikan. Tapi aku liat sendiri di sekitarku, kebanyakan orang menjalin relasi memang karena ada maunya, entah secara material atau bukan. Jadi begitu ngga merasa dapet apa-apa dari si temen ini ya udah buang aja, lupain seakan-akan ngga kenal. Dan yang seperti ini banyaknya sih justru dari orang-orang yang berlagak sok profesional dan cenderung ambisius. Aku inget keluh kesah temenku, Rina, tentang teman kami (atau mantan teman kami) si Putri yang begitu telah pindah kerja, lebih sukses lagi dan (yang penting) sepertinya udah nggak butuh apa-apa lagi dari kami jadi berlagak seperti orang asing aja. Di telpon, di sms apalagi cuman di ym…wah gak ada yang dibales deh… Aku sendiri udah ngerasa ini sejak lama sebelum Rina mengeluhkannya. Kalo ada perlunya aja si Putri mau menghubungi. Tanya ini lah, itu lah. Kalo nggak ya boro-boro dah mau kontak. Kita berusaha kontak aja gak dibales. Banyak contoh lain. Beberapa malah lebih menyedihkan secara orang-orang itu masih ada dekat di sekitar kita, masih sering bertemu atau kontak fisik. Namun keliatan jelas lah orang-orang yang memang bener-bener ‘efisien’ en ‘profesional’ itu : nggak mau rugi sama sekali! Sedikit di antaranya jadi makin menyebalkan karena melibatkan emosi yang lebih mendalam (contoh paling gampang si mas-e. Hiksssss).
Lagi-lagi aku inget omongan cintaku tentang ‘menjadi tempat sampah’. Bener banget kamu, say. Emang orang-orang itu kayak gitu. Matre. Bukan sekedar matre dalam arti mata duitan. Tapi matre dalam artian maunya dibantu, diberi saran, masukan, dll, dsb. Tapi begitu kita yang perlu bantuan mereka langsung ngacir ato lepas tangan, dengan entengnya bilang : wah kalo soal itu aku nggak bisa bantu..ato aku nggak berani komen…
Bukannya aku nggak ikhlas membantu. Oh, aku sih selama masih bisa membantu sapa aja dengan apa aja yang aku bisa lakuin si ayo aja (apalagi sama mas-e..huhuhuh..dasar cinta buta…hahaha), terhadap teman-teman yang ’sibuk’ mengejar tujuan hidup masing-masing, begitu sibuknya mungkin sampe bener-bener cuman fokus ama dirinya sendiri.
Ah, ya sutralah, cintaku. Memang manusia itu macem-macem, seperti kamu sering bilang. Beberapa memang ‘nyebelin’ in their own way, tapi toh teman yang baik juga gak kurang. Miam, temenku, mungkin salah satu contoh yang mendekati sempurna, yang meski udah berkeluarga tak pernah melupakan orang-orang lain di sekitarnya. Ato bahkan Rina yang keliatan jutek dan egois di luarnya tapi toh lebih peka dibanding beberapa temen lain yang sering mengagung-agungkan idealisme dan inspirasinya sendiri. Ya ya, kami memang bukan siapa-siapa. Nggak kaya, nggak pinter, nggak inspiratif atao apalah. Tapi toh hidup tetap berjalan tanpa relasi dengan orang-orang yang aslinya super ego tapi ngaku-ngaku idealis, super profesional en ambisius menggapai tujuan ampe gak punya waktu sedikit pun buat toleh-toleh liat hidup yang berjalan di sekitarnya.
Merasa rugi? Yah, sejujurnya pasti ada rasa itu. Rasa ‘habis manis sepah dibuang’. Boong kalo bilang gak ada dendam sama sekali. Tapi lagi dan lagi : ya, sutralah…. Satu-satunya yang bisa kami lakukan hanya tersenyum mengenang masa lalu yang sepertinya penuh persahabatan indah (walau beberapa terbukti ternyata semu belaka) dan merelakannya berlalu.