September 2008


Kadang..bukan..sebenarnya sering…aku membuat penyesalan-penyesalan, lalu pengandaian, yang sering bahkan begitu khayali dan menjurus konyol.

Aku menyesal telah bertemu denganmu, mengenalmu. Tapi bila aku tak pernah mengenalmu, apakah aku akan tetap menjadi manusia seperti aku sekarang? Tanpa mengenalmu mungkin aku tak akan pernah tahu akan segala jenis rasa aneh yang menggelora di dalam dada macam cinta yang membabibuta ini.

Andai saja aku dilahirkan sebagai seorang wanita, tentunya akan lebih mudah bagiku untuk menyatakan dan memanifestasikan cintaku padamu tanpa khawatir tentang pandangan aneh orang-orang lain, dan aku akan jauh lebih optimis dalam mengharapkan balasan cintamu. Tapi bila aku dilahirkan sebagai seorang perempuan, sebagai seorang lain, belum tentu jalan hidup kita akan bersilangan seperti yang terjadi sekarang. Bilapun kita bertemu dan mengenal, belum tentu aku akan tetap memiliki rasa ini terhadapmu. Lalu misalnya sebagai wanita aku mencintaimu pun belum tentu juga rasa itu akan berbalas.

Sesal. Kenapa penyesalan itu sering justru bersumber dari hal-hal yang amat dihargai, begitu disayangi? Apa memang benar cinta yang berlebih itu tidak sehat? Mungkin juga. Kenapa begitu sulit untuk mengimbangi rasa sayang yang membara itu dengan perasaan bersyukur, berterimakasih atas karunia besar itu, sang cinta itu sendiri?

Oleh karena Miam, temanku, aku sempat menggeneralisir bahwa semua orang berzodiak Aquarius itu baik hati dan penuh perhatian. Tapi pertemuan dengan 2 ’spesimen’ Aquarius lain langsung membuyarkan teori baruku itu. Perhatian dan kasih sayang bagi 2 ‘mahluk’ tersebut adalah hak mutlak mereka, tak pernah sebagai kewajiban. Secara konstan mereka menunjukkan kebutuhan mereka akan rasa sayang. Itu pun tak cukup berasal dari satu orang, tak cukup dari orang-orang dalam satu lingkungan. Dahaga mereka akan rasa cinta sepertinya tak terpuaskan. Entah kenapa mereka bisa merasa begitu berhak atas segala rasa sayang itu. Yang satu mungkin posisinya memberi alasan untuk rasa berhak itu, tapi yang satu lagi rasanya nggak punya alasan kuat sama sekali.

Nggak! Aku nggak termakan ilusi itu lagi kok ketika kamu menunjuk aku dan dia lalu membentuk jantung hati dengan jari-jarimu. Nggak peduli apa yang kamu bilang atau kamu lihat. Betapa aku masih betah juga meladeninya dengan penuh perhatian pun nggak membuktikan apa-apa. Sebagaimanapun kamu melihat kami bercengkrama dan saling melayani dan berbagi. Aku tahu di mana posisiku. Bahkan harapan atau impian pun sudah pupus dari dalam hati. Apakah ini berarti aku ‘kalah’?
Hmm, setidaknya dalam permainan ‘tahan-tahanan untuk tidak memulai percakapan via YM’ aku menang. Yap, selalu dia yang mulai kok. Walau akhir-akhir ini memang frekuensinya makin sedikit dan biasanya hanya bila dia sedang perlu bertanya tentang sesuatu. Paling nggak ini mengindikasikan kalo aku nggak butuh dia lebih dari dia butuh bantuanku.

‘Tapi dia berhak penuh untuk gak memberitahumu tentang itu.’
Nah, itu dia kata kuncinya : ‘dia berhak’. Dia berhak ini itu. Banyak hal. Terlampau banyak. Tak ada kewajiban. Tak ada penyeimbang. Semuanya bergerak mencari keseimbangan. Meski itu berarti menuju hancur berantakan.

Mau enaknya aja.
Sorry ya, love is NOT BLIND!
Nggak lagi!

If you wanna be my friend
You want us to get along
Please do not expect me to
Wrap it up and keep it there
The observation I am doing could
Easily be understood
As cynical demeanour
But one of us misread…
And what do you know
It happened again
A friend is not a means
You utilize to get somewhere
Somehow I didn’t notice
friendship is an end
What do you know
It happened again
How come no-one told me
All throughout history
The loneliest people
Were the ones who always spoke the truth
The ones who made a difference
By withstanding the indifference
I guess it’s up to me now
Should I take that risk or just smile?
What do you know
It happened again
What do you know

(‘Misread’ by Kings of Convenience)

‘A friend is not a means
You utilize to get somewhere
Somehow I didn’t notice
friendship is an end’

Yah, menurutku si betul banget. Temen tu bukan satu alat untuk mencapai satu tujuan. Aku si gak pernah temenan karena ingin dapet ’sesuatu’, baik fisik/materi maupun abstrak (ilmu, pemikiran, ide, dll, dsb). Temenan ya temenan aja. Asal orangnya ngga rese, nyambung diajak omong udah deh. Masalah beda prinsip sih masi bisa lah di kompromikan. Tapi aku liat sendiri di sekitarku, kebanyakan orang menjalin relasi memang karena ada maunya, entah secara material atau bukan. Jadi begitu ngga merasa dapet apa-apa dari si temen ini ya udah buang aja, lupain seakan-akan ngga kenal. Dan yang seperti ini banyaknya sih justru dari orang-orang yang berlagak sok profesional dan cenderung ambisius. Aku inget keluh kesah temenku, Rina, tentang teman kami (atau mantan teman kami) si Putri yang begitu telah pindah kerja, lebih sukses lagi dan (yang penting) sepertinya udah nggak butuh apa-apa lagi dari kami jadi berlagak seperti orang asing aja. Di telpon, di sms apalagi cuman di ym…wah gak ada yang dibales deh… Aku sendiri udah ngerasa ini sejak lama sebelum Rina mengeluhkannya. Kalo ada perlunya aja si Putri mau menghubungi. Tanya ini lah, itu lah. Kalo nggak ya boro-boro dah mau kontak. Kita berusaha kontak aja gak dibales. Banyak contoh lain. Beberapa malah lebih menyedihkan secara orang-orang itu masih ada dekat di sekitar kita, masih sering bertemu atau kontak fisik. Namun keliatan jelas lah orang-orang yang memang bener-bener ‘efisien’ en ‘profesional’ itu : nggak mau rugi sama sekali! Sedikit di antaranya jadi makin menyebalkan karena melibatkan emosi yang lebih mendalam (contoh paling gampang si mas-e. Hiksssss).
Lagi-lagi aku inget omongan cintaku tentang ‘menjadi tempat sampah’. Bener banget kamu, say. Emang orang-orang itu kayak gitu. Matre. Bukan sekedar matre dalam arti mata duitan. Tapi matre dalam artian maunya dibantu, diberi saran, masukan, dll, dsb. Tapi begitu kita yang perlu bantuan mereka langsung ngacir ato lepas tangan, dengan entengnya bilang : wah kalo soal itu aku nggak bisa bantu..ato aku nggak berani komen…
Bukannya aku nggak ikhlas membantu. Oh, aku sih selama masih bisa membantu sapa aja dengan apa aja yang aku bisa lakuin si ayo aja (apalagi sama mas-e..huhuhuh..dasar cinta buta…hahaha), terhadap teman-teman yang ’sibuk’ mengejar tujuan hidup masing-masing, begitu sibuknya mungkin sampe bener-bener cuman fokus ama dirinya sendiri.
Ah, ya sutralah, cintaku. Memang manusia itu macem-macem, seperti kamu sering bilang. Beberapa memang ‘nyebelin’ in their own way, tapi toh teman yang baik juga gak kurang. Miam, temenku, mungkin salah satu contoh yang mendekati sempurna, yang meski udah berkeluarga tak pernah melupakan orang-orang lain di sekitarnya. Ato bahkan Rina yang keliatan jutek dan egois di luarnya tapi toh lebih peka dibanding beberapa temen lain yang sering mengagung-agungkan idealisme dan inspirasinya sendiri. Ya ya, kami memang bukan siapa-siapa. Nggak kaya, nggak pinter, nggak inspiratif atao apalah. Tapi toh hidup tetap berjalan tanpa relasi dengan orang-orang yang aslinya super ego tapi ngaku-ngaku idealis, super profesional en ambisius menggapai tujuan ampe gak punya waktu sedikit pun buat toleh-toleh liat hidup yang berjalan di sekitarnya.
Merasa rugi? Yah, sejujurnya pasti ada rasa itu. Rasa ‘habis manis sepah dibuang’. Boong kalo bilang gak ada dendam sama sekali. Tapi lagi dan lagi : ya, sutralah…. Satu-satunya yang bisa kami lakukan hanya tersenyum mengenang masa lalu yang sepertinya penuh persahabatan indah (walau beberapa terbukti ternyata semu belaka) dan merelakannya berlalu.

month of ultimate hypocrisy, that is

It’s late at night
And I’m feeling down
There’re couples standing on the street
Sharing summer kisses and silly sounds
So I step inside
Pour a glass of wine
With a full glass and an empty heart
I search for something to occupy my mind
But you are in my head
Swimming forever in my head
Tangled in my dreams
Swimming forever
So listen to the radio (listen to the radio)
And all the songs we used to know, oh, oh
So listen to the radio (listen to the radio)
Remember where we used to go…
Now it’s morning light
And it’s cold outside
Caught up in a distant dream
I turn and think that you are by my side
So I leave my bed
And I try to dress
Wandering why my mind plays tricks
And fools me into thinking you are there
But you’re just in my head
Swimming forever in my head
Not lying in my bed
Just swimming forever
So listen to the radio (listen to the radio)
And all the songs we used to know, oh, oh
So listen to the radio (listen to the radio)
Remember where we used to go…
I listen to the radio (listen to the radio)
And all the songs we used to know, oh, oh
I listen to the radio (listen to the radio)
Remember where we used to go…
You are in my head
Swimming forever in my head
Tangled in my dreams
Swimming forever
(Swimming forever)
Swimming forever
So listen to the radio (listen to the radio)
And all the songs we used to know, oh, oh
So listen to the radio (listen to the radio)
Remember where we used to go…
I listen to the radio (listen to the radio)
And all the songs we used to know, oh, oh
I listen to the radio (listen to the radio)

(‘Radio’ by the Corrs)

M U N A F I K !!

Sometimes I find myself sittin’ back and reminiscing
Especially when I have to watch other people kissin’
And I remember when you started callin’ me your miss’s
All the play fightin’, all the flirtatious disses
I’d tell you sad stories about my childhood
I don’t why I trusted you but I knew that I could
We’d spend the whole weekend lying in our own dirt
I was just so happy in your boxers and your t-shirt

Dreams, Dreams
Of when we had just started things
Dreams of you and me
It seems, It seems
That I can’t shake those memories
I wonder if you have the same dreams too.
The littlest things that take me there
I know it sounds lame but it’s so true
I know it’s not right, but it seems unfair
That the things are reminding me of you
Sometimes I wish we could just pretend
Even if only for one weekend
So come on, Tell me
Is this the end?

Drinkin’ tea in bed
Watching DVD’s
When I discovered all your dirty grotty magazines
You take me out shopping and all we’d buy is trainers
As if we ever needed anything to entertain us
the first time that you introduced me to your friends
and you could tell I was nervous, so you held my hand
when I was feeling down, you made that face you do
There’s no one in the world that could replace you

Dreams, Dreams
Of when we had just started things
Dreams of me and you
It seems, It seems
That I can’t shake those memories
I wonder if you feel the same way too
The littlest things that take me there
I know it sounds lame but its so true
I know its not right, but it seems unfair
That the things reminding me of you
Sometimes I wish we could just pretend
Even if only for one weekend
So come on, Tell me
Is this the end?

(‘Littlest things’ by Lily Allen)

Sabtu pagi sekitar jam 10an. Suasana sunyi. Cintaku sedang pergi mewawancarai seseorang untuk penelitiannya. Si Mas-e juga ada acara dengan teman kantornya. Bingung harus apa aku menyetel dvd film kartun Disney ‘Pocahontas’. Belum ada separuh film diputar aku mendengar suara gaduh dari belakang rumah. Suara maki-maki yang menyakitkan telinga dan mengiris-iris hati. Aku tak pernah suka mendengar orang bersuara keras kepada orang lain. Oleh siapapun. Dalam keadaan apapun. Apalagi dalam situasi seperti ini yang menurutku cenderung idylic. Si ibu kos rupanya sedang memarahi salah satu pembantunya dengan makian-makian nada tinggi yang menurutku tidak sepantasnya dikeluarkan seorang yang waras dan beradab (kalo yang bersuara gitu anjing atau babi sih aku maklum ya. Binatang gitu loh.). Yang lebih ‘irritating’ lagi terdengar suara pembantu yang satu lagi memperkeruh suasana dengan menambah-nambahi bukti yang memberatkan pembantu malang yang sedang dimaki-maki itu. Cintaku memang pernah bercerita bahwa sudah kebiasaan si ibu kos, tiap pagi, seputaran jam 10, mengomel-omel, mencari-cari salah, dan memaki-maki pembantunya. Oh my God. Please dong, bu. Muak aku nginget-nginget betapa si ibu tua itu selalu membangga-banggakan dirinya sebagai seorang yang terpandang, seorang priyayi, seorang yang terdidik. Dalam makian-makiannya dia selalu menekankan pembedaan tingkat dan kelas antara dirinya dengan pembantunya. Dia selalu membodoh-bodohkan si pembantu, menganggap mereka mahluk tolol tak berotak, malas dan tak berguna bagai sampah. Adakah orang beradab, apalagi yang terdidik, yang melakukan hal yang sangat merendahkan martabat manusia macam itu? Nggak tahu deh. Aku cuma bisa mengelus dada. Bulan puasa sepertinya memang tidak ada artinya selain menahan lapar dan dahaga bagi orang-orang macam itu. Yang lebih menyedihkan lagi si pelaku pelecehan martabat adalah seorang yang mengklaim dirinya relijius, seorang yang sudah pernah naik haji dua kali!!! Tak tahu aku apa artinya, apalagi dalam posisiku sebagai orang luar yang tak menganut kepercayaan itu. Bagiku seperti tak ada maknanya. Paling nggak buat orang-orang macam ibu kos yang tak bisa mencerminkan apapun dari relijiusitasnya selain kata-kata kosong yang tak ada buktinya.

Halaman Berikutnya »