bantal berbau khas dirimu
hawa sejuk yang nyaris membuat menggigil
musik indah mengalun samar
titik-titik air hujan berjatuhan riang di luar sana
wangi aroma teh hijau menyaput ringan
warna biru muda lembut bercampur abu ditingkahi kilasan kuning, hijau muda, dan putih di sana-sini
susu coklat kental yang hangat beruap
senyum ramah yang tak kunjung terhapus dari wajahmu
hmm, what a wonderful feel good time
cinta memang satu bentuk energi yang kuat ya?
ia mampu menggerakkan manusia untuk melakukan hal-hal yang tak pernah disangka bisa mereka lakukan
di antaranya adalah menulis
puja-puji, cacian dan makian, jeritan atau bisikan
saat cinta itu membeku, layulah tenaga yang menggerakkan tangan ini
meski sekedar untuk mengetik satu dua patah kata
cinta
sebenarnya malu juga memiliki hati yang keras lagi sempit. berulangkali sudah aku dengar bisikan agar aku lebih berbelas kasih dan pemaaf. tiap kali aku niatkan diri untuk memaafkan, aku akan lepaskan semua. tapi itu semua hanya sebatas niat kosong yang tak pernah jadi nyata selain di angan. hanya karena kejadiaan kecil saja, atau bahkan sekedar melihat muka, amarah bisa mendadak berkobar. ah, maaf. mudah memang diucap, sungguh sulit untuk dilakukan.
rasanya ngilu
sakiiiiiiiit buangeeet
tapi toh aku tahu beginilah yang benar
di sela-sela nyeri yang berkuasa
ada satu perasaan damai yang menyejukkan
lembar-lembar halaman buku catatan berjatuhan
file-file foto yang di-delete dari micro sd card ponsel
rasa nyeri yang menjalar mulai dari dalam dada ke seluruh penjuru tubuh
senyum ramah berganti tatapan kaku, dingin macam balok es
tangan yang tak mau jua bergerak meski telah memegang pena yang menyentuh lembaran lembut kertas
lamunan demi lamunan melayang-layang, berlari kecil berkejaran dalam benak, terutama di saat-saat sepi
berlalunya sapaan-sapaan kecil yang biasanya menyegarkan hari nan panas
sms-sms pendek dan history dari yahoo messenger yang tak lagi manis seperti isinya
rasa dingin menggigit saat menyadari ketiadaanmu
alunan lagu-lagu cinta yang kini terdengar bagai requiem
gemetar jari-jari tangan yang tak lekas berhenti
satu gumpalan besar yang terasa menyumbat tenggorokan
daun-daun merona keemasan, berjatuhan memenuhi halaman
sepasang mata yang tak bisa lagi membasahi diri dengan air mata
hancur sudah
semua rasa manis itu
If only you read my mind
You’d see I was hurt inside
A thousand times I’ve told myself it’s over (it’s over)
But the story has just begun
And darling whats done is done
It’s time to change and leave the past behind
Why should we know all the answers
Or how the story ends (so baby)
Let’s take a chance on a happy ending
(Let’s) turn the page and stop pretending
The past can stop a heart from mending
It’s time to let go ‘cos baby you know
Some things are better best forgotten
And baby we can’t pretend
In time the scars will mend
Please believe me theres a chance
let’s take it (let’s take it)
And maybe at last we’ll find
That love should be true not blind
You can’t decieve a heart that’s open wide
(And) even now it’s not to late
To change the story’s end (so baby)
Let’s take a chance on a happy ending
(Let’s) turn the page and stop pretending
The past can stop a heart from mending
It’s time to let go ‘cos baby you know
Some things are better best forgotten
The story has just begun
Darlin’ what’s done is done
It’s time to leave the past behind
(‘Better best forgotten’ by STEPS)
Cintaku,
meski kita enggan untuk mengakuinya, sebenarnya kemiripan kita dalam karakter jauh lebih banyak daripada yang kita mau akui bersama.
Kita sama-sama tahu kalo kita berdua sama emosionalnya.
Tapi dalam satu hal kamu jauh lebih baik daripadaku. Kau mudah marah, namun marahmu tak pernah lama membakar hati. Sementara bara itu tak pernah mau padam dari hatiku. Meski telah segalon air aku tuang untuk menghabisi nyala kecil ini.
Sekarang pun begitu. Hanya karena masalah sms yang tak berbalas, mendadak hatiku bagai disiram minyak- berkobar-kobar membakar segala yang ada. Aku memang tak pernah mengaku-ngaku sebagai orang yang pemaaf meski Yesus telah mengajariku agar maafmu tiada batasnya. Tapi biasanya tak separah ini aku berkeras untuk tak mau memaafkan. Katanya memang kalo terlalu sayang biasanya kalo sampai berbalik bakal jadi benci setengah mati. Apa memang begitu? Hehehe. Andai aku bisa meneladani kesabaranmu, cintaku? Tapi tidak. Meski aku tahu , some things are better best forgotten.
Sebelum punya Hopit si anjing yang kalo ga salah dibawa dari rumah Opung di Jakarta, kami sempat memelihara beberapa ekor kucing. Tapi tentunya lebih cenderung sekedar ngasi makan (meski teratur juga), dibanding Hopit yang bener-bener disayang (sampe bokap aja manggilnya ‘nyo’, hehehe).Yang pertama adalah seekor kucing betina belang tiga yang sering datang untuk mengais makanan dari tempat sampah kami (aih, bahasanya, hehe). Apa aja dilahapnya, sampe-sampe pepaya yang udah empuk banget karena terlalu mateng aja dimakannya. Karena kasian kami mulai sering ngasi makan kucing ini. Kucing ini rupanya merasa betah dan menetap hingga melahirkan anak-anaknya di rumah kami. Entah karena si kucing ini kurang gizi waktu hamil ato emang dia bego banget dalam ngerawat anak, nyaris smua bayinya mati kecuali satu jantan yang cacat : matanya entah seperti bersaput lapisan putih. Kami pesimis si kecil yang buta ini bisa bertahan hidup, tapi toh nyatanya dia sempat hidup hinggu 5 tahunan sebelum satu hari hilang entah kemana. Kami sebenarnya cenderung protektif pada si buta ini, kami berusaha menahannya agar selalu berada di dalam rumah ato di halaman belakang, tapi bahkan kucing buta ini tak mau dikekang dan bisa belajar kabur dengan memanjat tembok halaman belakang yang tinggi (meski untuk masuk lagi ke belakang dia harus mengaong-ngaong di pintu depan agar dibukakan pintu).
Selain si buta, kucing-kucing peliharaan kami yang masih kuingat yaitu seekor kucing betina berwarna kuning keemasan, seekor jantan berwarna hitam legam. Dua kucing ini mati dengan mulut berbusa-busa, sepertinya keracunan. Seekor betina belang berwarna abu-coklat mati pada satu hari hujan deras. Lalu satu betina berwarna hitam legam dengan sedikit bercak kuning dan putih yang sempat hidup hingga Hopit mulai berada di rumah kami. Si hitam yang ini sempat menikmati hidup bermanja-manja, dia sering tidur di dalam rumah, dibanding kucing-kucing lain yang tidur di halaman belakang. Dibanding Hopit yang cenderung setia dan lebih mudah diatur(maklum anjing gituloh, hehehe), kucing-kucing itu memang manja dan susah diajak kompromi. Apalagi kucing-kucing kampung yang hidupnya cenderung liar alias gak bisa diem lama di rumah. Tapi bagaimanapun juga hingga sekarang, walopun kami udah nggak miara kucing lagi, aku tetep punya semacam ketertarikan pada kucing. Kucing-kucing ras yang bosan di balik kaca petshop, kucing liar yang duduk menguap malas di atas atap rumah orang. Emang kucing mahluk yang lucu, meskipun sering juga menyebalkan, terutama saat-saat musim kawin dimana mereka bersuara berisik lalu seenaknya berantem di atas atap seng yang berbunyi bagai badai saat dipakai untuk ajang kejar-kejaran.
‘freedom comes when you learn to let go..’
madonna sang away
‘but the worst things are bitterness and revenge..’
oh, God, i wish i had such wisdom
Apakah cinta yang telah diberikan akan berakhir dalam kesia-siaan?
Rasanya tidak.
Energi tak pernah lenyap begitu saja, mereka hanya berubah bentuk.
Jadi, jangan pernah menyesal telah mencintai.