Sebelum punya Hopit si anjing yang kalo ga salah dibawa dari rumah Opung di Jakarta, kami sempat memelihara beberapa ekor kucing. Tapi tentunya lebih cenderung sekedar ngasi makan (meski teratur juga), dibanding Hopit yang bener-bener disayang (sampe bokap aja manggilnya ‘nyo’, hehehe).Yang pertama adalah seekor kucing betina belang tiga yang sering datang untuk mengais makanan dari tempat sampah kami (aih, bahasanya, hehe). Apa aja dilahapnya, sampe-sampe pepaya yang udah empuk banget karena terlalu mateng aja dimakannya. Karena kasian kami mulai sering ngasi makan kucing ini. Kucing ini rupanya merasa betah dan menetap hingga melahirkan anak-anaknya di rumah kami. Entah karena si kucing ini kurang gizi waktu hamil ato emang dia bego banget dalam ngerawat anak, nyaris smua bayinya mati kecuali satu jantan yang cacat : matanya entah seperti bersaput lapisan putih. Kami pesimis si kecil yang buta ini bisa bertahan hidup, tapi toh nyatanya dia sempat hidup hinggu 5 tahunan sebelum satu hari hilang entah kemana. Kami sebenarnya cenderung protektif pada si buta ini, kami berusaha menahannya agar selalu berada di dalam rumah ato di halaman belakang, tapi bahkan kucing buta ini tak mau dikekang dan bisa belajar kabur dengan memanjat tembok halaman belakang yang tinggi (meski untuk masuk lagi ke belakang dia harus mengaong-ngaong di pintu depan agar dibukakan pintu).
Selain si buta, kucing-kucing peliharaan kami yang masih kuingat yaitu seekor kucing betina berwarna kuning keemasan, seekor jantan berwarna hitam legam. Dua kucing ini mati dengan mulut berbusa-busa, sepertinya keracunan. Seekor betina belang berwarna abu-coklat mati pada satu hari hujan deras. Lalu satu betina berwarna hitam legam dengan sedikit bercak kuning dan putih yang sempat hidup hingga Hopit mulai berada di rumah kami. Si hitam yang ini sempat menikmati hidup bermanja-manja, dia sering tidur di dalam rumah, dibanding kucing-kucing lain yang tidur di halaman belakang. Dibanding Hopit yang cenderung setia dan lebih mudah diatur(maklum anjing gituloh, hehehe), kucing-kucing itu memang manja dan susah diajak kompromi. Apalagi kucing-kucing kampung yang hidupnya cenderung liar alias gak bisa diem lama di rumah. Tapi bagaimanapun juga hingga sekarang, walopun kami udah nggak miara kucing lagi, aku tetep punya semacam ketertarikan pada kucing. Kucing-kucing ras yang bosan di balik kaca petshop, kucing liar yang duduk menguap malas di atas atap rumah orang. Emang kucing mahluk yang lucu, meskipun sering juga menyebalkan, terutama saat-saat musim kawin dimana mereka bersuara berisik lalu seenaknya berantem di atas atap seng yang berbunyi bagai badai saat dipakai untuk ajang kejar-kejaran.
Oktober 14, 2008