November 2008


>pulang!pulang!
>yoo
>aku pulang dulu ya
>y ud cepetan. aq dah di rmh dr td

Tak membutuhkan waktu lama bagi Andi untuk menunggu Bimo karena kurang dari setengah jam kemudian Bimo sudah berdiri di ambang pintu kamar kostnya, tersenyum lebar begitu cerah.
“Kenapa si kamu?”
“Aku kenapa?”
“Senyum-senyum jelek gitu? Proyek ada yg cair lagi ya?”
“Nggak kok. Nggak napa-napa.” Bimo terus tersenyum lebar sambil melepas sepatunya di luar kamar.
“Nggak mungkin de gak ada apa-apa. Kamu ceria banget sore ini.”
Bimo tak menyahut kata-kata Andi. Dia memilih duduk di tepi ranjang dan menghidupkan televisi, menonton acara sinetron kesukaannya.
“Laper nih. Makan yuk.”
“Tar dulu lah. Ambil napas dulu. Aku juga belum mandi.”
“Mandi ntar aja abis mam.”
“Ogah ah. Gak nyaman aja rasanya.” Bimo mengatur bantal-bantal kemudian merebahkan diri di ranjang.
“Kok malah tiduran? Tar kebablasan deh pasti.” Andi bersungut sementara menyibukkan diri dengan setumpuk koran yang sudah kusut.
“Nggak mungkin tidur juga. Ada kamu.” Bimo tersenyum nakal dengan wajah ngantuknya. Andi cuma bisa membalas dengan tatapan galak. Ia tahu percuma mencoba berdebat dengan Bimo.
Tapi untuk masalah makan malam lain lagi persoalannya. Satu perdebatan kecil adalah semacam ritual yang harus dilakukan sebelum makan malam. Malam itu diskusi mereka menghasilkan pemilihan soto sebagai menu.
Andi dan Bimo menikmati makan malam mereka dengan santai. Usai melahap habis soto yang terhidang mereka tak juga beranjak dari warung makan itu. Entah kenapa kali ini Bimo berlama-lama saat mereka makan berdua saja. Memang mereka selalu ngobrol ngalor ngidul ketika makan bareng, maupun pada kesempatan-kesempatan bersama yang lain,tapi biasanya tak selama ini.Dari warung makan pun mereka tak langsung kembali, Andi dan Bimo mampir dulu ke satu mini market di dekat situ. Beberapa kali Andi mendapati Bimo melamun di antara rak-rak penuh barang kebutuhan sehari-hari.
“Cari apa sih, Bim?”
“Oh, enggak kok. Aduh, nggak tau. Aku juga lupa. Hehe.”
“Aneh. Dasar gak mutu. Dicatet dulu dong makanya.”
“Bukan gitu. Toh aku tahu xang aku cari gak ada di rak-rak ini.”
Andi menatap mata Bimo dalam-dalam. . .

Mukamu itu lho. Cerah banget. Keliatan langsung sumringah gitu waktu tau gak ada penghalang atau saingan. Bener-bener deh. Udah gitu langsung aja cepet-cepet masuk tanpa ba-bi-bu. Cerita-cerita gak jelas. Ngakak sekenceng-kencengnya.Manja-manjaan. Ngeluh ini itu. Ngadu. Curhat colongan. Seneng banget dapet perhatian.Semuanya untuk kamu seorang.
Bandingin waktu denger suara ceklek di luar pertanda ada yang dateng, langsung kau hapus senyum cerah dari muka yang gak ganteng-ganteng amat itu. Ngakak en ngomongnya dikurangi banget volume-nya ampe nyaris mute.
Dasar manja en suka caper. Ampyun deh. Sori aja ya, pada satu titik emang aku sempet menggilai kamu. Tapi aku sadar kok, sesebel apapun aku padanya, yang ceklek di luar itu lah belahanku. Bukan kamu.

Hujan rintik-rintik menghantui kota metropolitan yang penuh sesak dengan manusia itu. Meski sekedar titik-titik air kecil namun sudah jauh lebih dari cukup untuk membuat jalanan kram oleh kemacetan. Saat itu sore hari, semua orang berlomba untuk segera tiba di rumah masing-masing. Biasanya Andi sudah pasti bakal memaki-maki dalam hati. Ia berdiri di dalam bus kota yang sedari tadi tak bergerak terperangkap di antara lautan kendaraan. Kakinya terasa makin sakit digigiti nyeri yang menggila. Tapi tidak, Andi tak mengeluh kali ini. Ia tersenyum samar. Mp3 player memainkan lagu ‘Believe again’ oleh Delta Goodrem.

Have you ever stared into the rain
Thought the clouds would never disappear
Have you ever screamed out into the dark
Thinking no one else could hear
I was leaving footprints tainted by my past
On this winding road to you
I’d lost my faith in love
Tonight I believe again
My Heart was a broken place
Now I feel whole again
You bring me honesty
And that’s worth believing in
and I believe
I believe again
Have you ever spun out of control
Like you never saw the road ahead
Have you ever just kept looking back
Ever closer to the edge
I was praying for the light I see in your eyes
I had all but given up
I’d lost my faith in love
Tonight I believe again
My Heart was a broken place
Now I feel whole again
You bring me honesty
And that’s worth believing in
and I believe
I believe again
I believe the impossible is possible to overcome
I believe in miracles
Born from love in everyone
I’d lost my faith in love
Tonight I believe again
My Heart was a broken place
Now I feel whole again
You bring me honesty
And that’s worth believing in
and I believe
I believe again

Matanya tertuju pada layar ponsel dalam genggamannya. Layar ber-resolusi 240×320 pixels itu menampilkan percakapan virtual via yahoo messenger antara Andi dengan Bimo.
>macet bgt niy. Mn bdiri lg d bis.
>haha. Enak kan? Rasain lu. Makanya beli motor donk.
>dan nambah2in kesemrawutan ini? Ogahhhhh
>ya udah. Klu gtu gak usah ngeluh. Nikmatin aja.
>iy de. Terserah. Huhuh.
Dialog kecil mereka yang penuh kalimat-kalimat tanpa arti sedikit menghibur Andi sore itu. Bahkan ketika bis yang dinaikinya memutuskan untuk masuk ke jalan tol.
Satu ‘keparat’ sempat terucap secara spontan, tapi ia segera kembali tersenyum dan kembali memandangi layar ponselnya. Nyaris tak sadar ketika kernet bus berteriak-teriak,’Pancoran! Pancoran turun sini!.” Ah, rupanya bis itu menepi di dekat turunan keluar tol Pancoran. Satu hal yang sangat berresiko karena biasanya ada mobil polisi berjaga di dekat situ. Dengan panik Andi menembus orang-orang, dengan berkali berujar,”Maaf.” dia menubruk semua yang menghalanginya menuju pintu keluar bus.
Ah, akhirnya berhasil juga dia melepaskan diri dari bus yang sesak macam kaleng sarden itu.

Langit makin gelap. Suara adzan maghrib berkumandang samar di balik gang-gang yang dilalui Andi menuju ke tempat kostnya.
>aku sholat dl ya
>ok deh. Dikit lagi aq pe rmh
Sesampainya di kost, Andi buru-buru mandi sebelum kembali menghadapi layar ponselnya yang mulai terkuras baterainya. Ia masih hanyut berbalasan kata dengan Bimo. Kata-kata yang mereka berdua sama-sama tahu tak bermakna. Andi melirik ke jam meja di dekatnya. 18.36.
>dah stgh 7 lwat lho
>mang napa?
>dah mam lum?
>belum lah. Tar dikit lagi
>oh

Ketika Bimo akhirnya tiba, Andi melihat sesuatu yang aneh. Secercah cahaya di matanya. Senyum lebar mengembang mencerahkan orang yang melihatnya. Akhir-akhir ini Bimo makin ceria. Nyaris tiap kali mereka beradu mata ada senyum di wajah itu.
“Ah, Bimo, betapa inginnya aku memelukmu saat ini. Andai kita bisa begini selamanya. Aku…melihatmu tiap hari..seumur hidup kita.” Andi berusaha menahan air mata yang mendesak keluar untuk berjatuhan membasahi pipi.

“Ke Tebet ya, Pak.”
Taxi bercat biru gelap itu meluncur membelah senja yang bertabur cahaya keemasan.
Dua manusia duduk di bangku belakang : Bimo dan Andi.
Suasana di dalam mobil itu begitu sunyi menyesakkan.
“Aduh, cape banget. Lama juga ya kita jalan-jalan.” Bimo memaksakan diri untuk bersuara, sekedar berusaha memecahkan sepi yang mencekam.
“Hmm.” Sepotong gumaman lirih, hanya itulah yang dia peroleh dari sobatnya. Bimo menatap Andi lekat-lekat. Yang dipandangi malah merenungi langit merah yang menggelap. Beberapa kali mulut Bimo terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi tak ada suara apapun yang terucap. Tapi Bimo terus melekatkan pandangannya pada Andi. Sekali Andi berbalik, membalas tatapan Bimo. Mata mereka beradu pandang, saling mencari sesuatu dalam kilasan mata lawannya. Tapi Bimo segera kalah dalam pertandingan ini dan membuang muka, mengalihkan perhatian pada kelap-kelip lampu menghiasi malam yang mulai datang.
Kesunyian kembali menguasai isi mobil itu. Sang supir beberapa kali mencoba membuka percakapan. Namun akhirnya dia menyerah karena tak ada respon dari kedua pria yang duduk terpaku macam patung di jok belakang taxi.
“Bim..” mendadak Andi bersuara.
“Napa, Ndi?” Bimo sigap berbalik kembali melihat ke arah sobatnya.
“Abis ini ke atm dulu ya? Duit gw bener-bener abis di dompet.”
“Oh. Ya udah gapapa.” gundah semburat di wajah Bimo.

Sebuah bilik atm yang terang benderang bagai mercusuar di tengah kegelapan yang meliputi sekitarnya. Andi berdiri di depan atm, berpikir berapa banyak uang tunai yang sebaiknya dia ambil. Bimo bersandar pada dinding di samping atm itu, acuh tak acuh menatap ke arah luar bilik,”Napa sih, Ndi? Akhir-akhir ini kamu diem banget. Kamu nggak pernah panggil aku pake panggilan sayangmu. Kamu cuekin sms en buzz-ku di ym. Kamu bener-bener berubah.”
Andi berpaling ke arah Bimo, wajahnya dihiasi senyum, bukan senyum masam tapi lebih ke arah sedih,”Panggilan sayang?” Andi melebarkan senyumnya,”Kalo gitu kamu mestinya tau dong kenapa.”
“Tau kenapa? Apa yang aku harus tau?”
“Nggak ada.” Andi terus tersenyum, jauh lebih cerah kini,”Yuk, pulang. Dah malem banget nih. Aku laper.”
Tergesa Bimo mengikuti Andi yang melangkah ringan di depannya.
Malam semakin hitam.

I used to believe in something
I thought it was me and you
that we could fulfill a lifetime
and live as lovers do
I was wrong
I’ll pay no mind
I’m leaving it all behind
I won’t ask you what you feel no more
I won’t ask you what you feel no more
I’ll just pay no mind
I’m letting it go this time
’cause I realize I’ve come so far
if I start to wonder where you are
I’ll just pay no mind
The first couple steps were fragile
till I got on my feet
felt I was walking sideways
looking for my release
lovers come and they go
when they leave
you’ll all ever know
Lovers come and they go
when they leave
you’ll all ever know
instead of a review
tell you what I’ll do
I’ll pay no mind
I’m leaving it all behind
I won’t ask you what you feel no more
I won’t ask you what you feel no more
I’ll just pay no mind
I’m letting it go this time
’cause I realize I’ve come so far
if I start to wonder where you are
I’ll just pay no mind
I’m still writing love songs
’bout something that’s passed me by
I know that I’m stronger
you think that’s a lie
but you’re wrong
I’ll pay no mind
I’m leaving it all behind
I won’t ask you what you feel no more
I won’t ask you what you feel no more
I’ll just pay no mind
I’m letting it go this time
’cause I realize I’ve come so far
if I start to wonder where you are
I’ll just pay no mind

(‘Pay no mind’ as performed by Sarah Brightman)

“Kalo kamu mau jadi istriku kamu harus tunduk sepenuhnya padaku.”
Ih, enak aja. Gw emang cinta setengah mati ama lu tapi gw gak sudi disuruh tunduk pada siapapun. Gw adalah manusia yang merdeka. Kalo lu bilang kompromi oke, tapi kalo tunduk ogahhhhh. Memangnya masi jaman ya yang kayak gitu? Aku inget tentang Laura Ingalls sebelum pernikahannya dengan Almanzo Wilder berkata kalo dia nggak mau ngucapin ikrar pernikahan yang berbunyi ‘akan mematuhi segala perkataan suami’ hanya karena dia merasa hal itu mustahil diwujudnyatakan. Lha peristiwa itu udah terjadi lebih dari seabad lalu, masa orang yang di jaman sekarang malah mau balik ke jaman batu?? Udah gitu infotainment lagi yang menampilkan kata-kata macam itu. Ke ruang publik yang dilihat berjuta pemirsa. Nilai-nilai basi yang harusnya udah dibuang jauh bersama dengan dihapuskannya perbudakan.

Andi duduk diam terpaku. Di wajahnya sama sekali tak tersirat rasa gembira secercah pun. Tiada senyum meski di sampingnya duduk Bimo yang sangat dipujanya. Es teh manis yang tinggal setumpuk es batu makin merana diaduk-aduk gelisah. Aroma asap rokok yang disemburkan Bimo membuat napsu makan Andi lenyap. Aneh. Padahal dulu dia tak pernah sedikit pun merasa terganggu dengan aroma kuat rokok yang berpadu dengan bau tubuh Bimo. Kini hanya bau samar pun membuat Andi sakit kepala dan mual. Nasi goreng dalam piring dihadapannya tak kunjung ludes.
“Kenapa? Nasi gorengnya nggak enak?” sedikit tak acuh Bimo bertanya.
“Nggak juga. Biasa aja kok. Cuman ternyata aku gak selapar yang kukira.’
“Hmm.” Bimo menghembuskan rokoknya lagi sambil melihat keluar warung.
“Tidak. Aku nggak membenci orang ini. Mana mungkin aku membenci pujaanku sendiri. Tapi…” benak Andi penuh dengan kalimat yang saling kontradiksi, bertarung memperebutkan supremasi atas kesadarannya. Andi mencoba mengalihkan kebingungannya dengan membaca berita dari situs portal berita melalui ponselnya.
“Lagi buka detik ya?” Bimo merapat pada Andi. Hembus napas sobatnya itu makin membuat Andi tersiksa.
“Pinjem dong mau liat hasil F1 kemaren.”
Andi menyerahkan ponselnya sambil menatap Bimo dalam-dalam. Tak ada yang berubah pada Bimo : rambutnya yang ikal sedikit berantakan, wajahnya terkesan agak rusuh karena berewok dan jenggot yang sudah 3 harian belum dicukur. Bimo memang bukan seorang tipe pria metroseksual meski kadang dia terlihat berusaha untuk tampil ekstra rapi, terutama saat dia harus berhadapan dengan klien perusahaan tempat dia bekerja. Tapi di mata Andi Bimo adalah satu contoh spesimen pria sejati yang sesungguhnya lengkap dengan segudang kejelekan stereotip seorang laki-laki pada umumnya.
Dari tingkah laku pun tidak ada yang berubah pada Bimo. Bimo tetap suka tertawa keras-keras, berbicara maupun menelpon dengan suara yang terdengar dari seluruh penjuru rumah, berganti-ganti antara cuek dan penuh perhatian secara dramatis dll. Nggak. Sama sekali nggak ada yang berubah.
“Akukah yang berubah? Aku berusaha untuk nggak peduli, menarik diri. Ah, itu dia! Dia sedikit menahan diri. Tapi itu pun mungkin karena sikapku yang agak dingin padanya akhir-akhir ini.”
“Kenapa sih, Ndi?” teguran Bimo membuyarkan segala keruwetan yang berkecamuk di angan Andi.
“Nggak mungkin aku bilang kenapa ama kamu. Kamulah penyebab semua ini.” keluh Andi dalam hati.

Sejak simcard im3 ku aku pindah dari nokiyemku ke ktouch kehidupan online-ku (ceile istilahna. masudku kehidupan yang berhubungan dengan internet) sedikit berubah. awalnya aku memang agak terganggu. ya seperti udah aku ceritakan di blog-ku yang membahas tentang hape, k-touch-ku ini lemah sekali dalam hal aplikasi java-na. selain lelet dalam menjalankan aplikasi, dia juga tidak support multitasking aplikasi java layaknya ponsel2 SE terbaru. di nokiyemku yang ber-symbian aku terbiasa nyambi2 : sambil browsing masi juga chatting n buka aplikasi lainnya. itu hal yang sama sekali tidak mungkin dilakukan pada k-tuouch v908-ku. Udah gitu jalanin aplikasinya selain lelet kadang suka error da jelas. awalnya sih aku jelas merasa kesal. tapi dengan berjalannya waktu aku mulai merasakan hikmahnya. aku sedikit belajar untuk bersabar. selain itu aku juga belajar untuk tidak memburu-buru diriku sendiri, apalagi kalo cuman untuk kepentingan orang lain (lho kok?). biasanya, bila sedang chatting, apalagi kalo sedang asyik sama mas-e (wekekek), lalu lawan chatting itu menanyakan sesuatu yang harus aku cari-cari dulu via om google ato site lainnya, pasti aku langsung buru-buru menekan tombol task menu (di ponsel nokiyem-ku), buru-buru beralih ke browser untuk men-search apapun yang mereka tanyakan. tapi kini hal itu tak mungkin dilakukan. boro-boro multitasking, jalanin satu aplikasi aja udah leletnya minta ampun. sekarang misalnya aku lagi chatting dan ada yang minta tolong dicarikan sesuatu aku ada alasan untuk berkelit. lha nokiyem-nya? kan nokiyem-nya aku isi kartu simpati yang tarif gprs-na muahals, mana gprs-na da mutu lagi. oya aku juga dah coba telkomsel flash, and it sucks! jadi sori ya mas-e en org2 laen mungkin, gw gak selamanya bisa (en mau) available untuk ngladenin kalian. people does get bored. sometimes. eventually.

you took my hand
and said good-bye
we looked into each others’ eyes
and so i melted away

tiap hari liat tv makin eneg aja. Bukan cuman acaranya aja yang didominasi ama sinetron yang penuh sesak dengan konflik dan alur cerita nggak masuk akal maupun infotainment yang sepertinya lebih senang memberitakan berita2 buruk tentang selebritis daripada sisi baiknya, tapi bahkan sampai iklan-iklan di antara acara-acara yang bikin muak itu juga . baru-baru ini aku baca opini pembaca di satu portal berita online yang menyatakan banyak iklan di media massa yang menipu dan menyesatkan. itu satu hal. dalam postingan kali ini aku akan lebih menyoroti soal pengkotak-kotakkan dalam hubungan produk dengan gender. iklan produk-produk yang stereotype dengan lelaki macam motor besar, rokok, dll (hampir) selalu ditekankan pada kata-kata ‘jantan’, ‘macho’,'tangguh’ dll yang diidentikkan dengan pria. setidaknya dalam alam pikiran si pihak advertising yang membuat iklannya. begitu pula iklan-iklan yang diiidentikkan dengan wanita macam produk2 kecantikan, segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan domestik (bersih-bersih, masak, dsb) sering lekat dengan kata-kata : ‘cantik’, ‘lembut’, ‘putih’, dll. Mungkin banyak pembaca yang bertanya-tanya apa salahnya dengan identifikasi semacam itu? toh memang begitulah yang lumrah terjadi? Yah, mungkin juga. Tapi toh nggak semua pria maupun wanita mau diidentifikasi dengan hal-hal macam itu. yang jelas media massa sebagai satu sarana informasi yang dilihat dan didengar oleh sekian banyak manusia tidak sepantasnya melakukan hal yang menjurus ke pemaksaan nilai macam itu, memaksakan image seperti itulah yang harus diikuti masyarakat. mungkin ada yang menyanggah kalo nggak mau ikut itu ya nggak usah diikuti. Bagi orang-orang berpendidikan yang memiliki prinsip pribadi kuat dan memiliki akses ke sumber informasi alternatif akan mudah menyatakan begitu. tapi kenyataan bahwa sebagian besar pemirsa indonesia masih mengandalkan tv semata sebagai sarana informasi tanpa alternatif lain sungguh mengerikan bila membayangkan dampak ke depannya. tak perlu melihat jauh-jauh ke masa depan, lihat saja tingkah laku orang-orang utamanya kaum muda sekarang pun sudah makin menyedihkan. Apapun itu pemaksaan nilai seperti apapun udah nggak jamannya lagi di masa penggunaan koneksi internet makin meluas. Basi banget hari gini masih maksain nilai-nilai ideal yang kamu sendiri belum tentu yakini sepenuhnya. Pengguna internet yang aktif memanfaatkannya untuk mencari informasi mungkin memang belum begitu besar dibandingkan jumlah penduduk Indonesia, tapi media massa utamanya tv seharusnya sudah berhenti atau setidaknya mengurangi siaran-siaran yang muatannya lebih cenderung ke arah pembodohan daripada mencerahkan.

ewh, ada yang maen2 api rupanya? gimana ya? apa pura2 gak tau aja? padahal dia sendiri selalu pengin tau tentang kontak apapun yang aku lakukan dengan siapapun. apakah ini memang tipikal aquarius? inconsistency and lack of loyalty and faithfulness? i certainly hope not.

Halaman Berikutnya »