Desember 2008


“Hey, Ndi, aku dah baca e-mail-mu yang kemaren.”
“Hah? E-mail yang mana?”
“Sisi lain Arjuna-mu.” Renita terkikik pelan.
“Oh..”
“Yah, kurasa udah jelas lah. Bimo-mu bukan orang yang ‘biasa’. Dia berbeda. Dia bukan sekedar citra cowo stereotip yang selama ini dia berusaha gembar-gemborkan pada dunia. Citra cowo macho nan tangguh. Pujaanmu ini punya ’sisi lain’ yang sepertinya ia tidak ingin sembarang orang tahu.”
“Ya ya. Kamu nggak perlu meyakinkanku lagi tentang itu, Ren.”
“Aku yakin itu. Aku cuma seneng aja menyebutnya lagi. Seneng banget bisa bilang ke kamu ‘nah, kan? Apa kubilang?’ ” Renita terkikik lagi.
“Hhhh…”
“Masih inget kan ‘Blueberry nights’? Kalian berdua hingga lewat jam 1 malam?” senyum lebar sepertinya tak mau beranjak dari wajah Renita.
“Ah, udah deh, Ren. Jangan sebut-sebut itu lagi. Aku…”
“Andai aja ada cermin kamu bisa liat betapa merahnya mukamu sekarang.”
“Oke. Oke. Aku tahu apa yang kamu tunggu. Aku sayang dia. Bener-bener sayang. Aku akui itu. Puas? Lalu apa ada yang berubah?”
“Setidaknya ini satu langkah buatmu. Kamu mengaku pada dirimu sendiri. Kamu menerima apa yang kamu rasa. Masalah Bimo bisa menerima itu lalu membalasnya adalah perkara lain.”

Sampe segitunya ya aku, Ren. Kemaren pagi aku uring-uringan, kesel banget sama Bimo yang makin menjadi-jadi tingkah seenaknya. Bimo agaknya merasakan itu. Siang harinya ia berkali-kali berusaha mencuri waktu untuk bisa berduaan, antara penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kami atau sekedar menebus rasa bersalah meski ia tak tahu pasti di mana letak kesalahannya. Hingga besoknya, Bimo tak juga menyerah. Kami bercakap-cakap via ym seharian penuh. Kebetulan hari itu aku sudah mulai masuk masa libur Natal sementara Bimo masih harus ke kantor. Bimo terus memancing-mancingku untuk berbicara tentang apa yang terjadi kemarin. Menjelang tengah hari pertahananku mulai runtuh. Aku mengatakan betapa mudahnya mood-ku berganti-ganti dan bahwa ya, aku memang agak marah kemarin pagi. Aku tak mengatakan padanya dengan gamblang apa yang membuatku kesal. Tapi aku memberinya isyarat-isyarat bahwa aku memang over-sensitive tentang apapun yang berhubungan dengan dirinya. Bimo menjawab bahwa dia mengerti. Secara tak langsung aku memohon padanya agar bersabar dengan kelakuanku yang emosional dan sentimental, ‘si tukang ngambek’ kalo menurut Bimo. Bimo membalas dengan meminta maaf atas sikapnya selama ini yang terkesan kurang ajar dan suka merepotkanku. Aku bener-bener nggak tahu harus ketawa atau nangis liat kata-kata dia via mobile ym di layar ponselku. Yang jelas kerasa ‘aneh’ aja secara saat itu aku sedang berada di bus transjakarta ke arah stasiun kota. Tapi kami terus melanjutkan percakapan virtual kami sembari aku berbelanja beberapa barang di Glodok, tentu saja diantaranya ada titipan ini itu dari si Bimo. Suasana sudah jauh lebih cair usai kami ‘curhat dan sharing’ tadi. Aku tersenyum kecil mengingat kata-kata yang pernah diucap Bimo dulu bahwa dia sangat anti curhat atau sharing perasaan apapun kepada seorang teman cowo. Waktu itu dia bilang itulah gunanya memiliki pacar (cewe tentunya) : untuk dicurhatin. Hahaha. Yah, sejak awal kami saling mengenal aku sebenarnya juga tahu meskipun Bimo selalu berusaha memberi penekanan pada sifatnya yang ‘super macho’, full of male ego dan stereotip cowo pada umumnya itu, toh ada sesuatu yang tersembunyi di balik semua itu. Dia berbeda bila dibandingkan dengan Deni, Rino, abangku atau cowo-cowo lain yang bener-bener ‘cowo’ tanpa pernah berusaha menonjolkan hal itu. Tapi mungkin memang itulah yang membuatku selalu tertarik padanya : satu sisi tersembunyi yang rapuh dari Bimo.

When the world’s brightest light
Is fadin’ away
I’m still here
Sleepless nights
Make my day
And then the promises
Left to stay
Now it’s time for excavation
Reaching to my destination
I can’t hold on
Believe in you
I’m your precious little angel
Please return my wings
So return my wings
Then we can fly away
(so far away
of you)
Fly away
Fly away

“Dia bilang : Sorry aja ya. Kalo ama aku, siap-siap aja ancur-ancuran. Gitu, Ren.”
“Bimo bilang gitu ma kamu?”
“Yup.”
“…”
“Kenapa gitu, Ren? Aneh ya?”
“Nggak tau juga. Cuman…” Renita terkikik pelan.
“Apanya yang lucu? Ihh kamu ni.” Andi sedikit kesal karena tak mengerti di mana letak kelucuannya.
“Nggak pa-pa. Selamat aja ya, Ndi. Kamu dan Bimo naik kelas. Hubungan kalian memasuki babak baru agaknya.”
“Hush! Jangan kumat ngawur deh, Ren.”
“Abis aku mulai agak bosen deh denger rengekanmu tiap kali kalian berantem. Kayaknya kalian makin sering berantem, ya? Cuman ngobrol via ym aja ampe berantem. Ampun dah! Mau kamu akui ato nggak kalian tu kayak sepasang kekasih yang udah kelamaan pacaran lalu saking merasa kenalnya satu sama lain jadi suka saling menyerang kelemahan masing-masing.”
“Yee. Biasa aja ah. Ama temen-temen yang lain juga gitu kali.”
“Boong. Ama abangmu sendiri aja kamu nggak pernah seterbuka itu.”
“Aku terbuka kok ama kamu.” Andi tersenyum penuh kemenangan.
“Yah, memang kamu selalu lebih gampang terbuka ama temen cewek kan? Akui aja. Ama cowok, kamu mana ada temen yang sedeket itu? Jadi keterbukaan di antara kita nggak bisa dianggep.” Renita tak mau kalah.
“Bhuuu.”Andi mengerucutkan bibirnya, kesal tak tahu harus membalas apa.
“Nggak usah susah-susah deh, Ndi. Buka aja ym kamu, liat daftar contacts-nya. Siapa cowo yang paling sering ym-an ma kamu?”
“Euh, yang pasti Bimo..lalu Deni, ada Rino…kadang-kadang abangku.”
“Abangmu langsung coret aja. Ama Deni kamu biasa ngomongin apa? Palingan juga gak pernah jauh dari masalah gadgets kan? Rino juga sama aja.”
“Iya sih. Tapi ama Bimo juga suka ngomongin gadgets kok.”
“Ya. Tapi sebagai selingan, bukan menu utama. Kalian kan lebih sering saling bertanya : lagi ngapain? dah makan belum? tar malem makan apa ya? dan baanyak masalah-masalah pribadi lainnya.”
“Aku rasa itu biasa aja deh. Kamu terlalu mendramatisir, Ren. Toh kebanyakan hanya masalah sepele sehari-hari.”
Renita tersenyum penuh arti,”Kurasa kamu sendiri ngerti kok sampe sebatas mana semua itu. Aku cuman menganalisa dari sudut pandang orang ketiga yang bahkan nggak akrab ama Bimo-mu.”
“Nggak ngerti deh maksud kamu apa, Ren. Apa yang aku lakukan selama ini salah? Aku dan Bimo udah kelewat batas? Aku harus kurangi kuantitas dan kualitas percakapanku dengan Bimo?”
“Mana aku tahu. Kan kamu sendiri yang tahu apa yang kamu inginkan dari hubungan itu, mau kamu bawa ke arah mana hubungan itu.”
“Aku nggak…aku nggak tahu, Ren. Bener-bener nggak tahu. Aku bahkan nggak tahu apakah ini adalah awal dari satu babak baru atau awal dari suatu akhir hubungan. Di satu sisi kamu memang benar, kami mungkin telah begitu merasa saling tahu satu sama lain sering hanya dengan berpandangan kami tahu apa yang ingin dikatakan. Satu kata atau sebuah gerakan kecil dariku membuatnya tahu aku sedang marah, sedih, atau lainnya.”
“Ck..ck..ck. Parah kalian ini.”
“Tapi di sisi lain rasa saling mengerti ini juga yang membuat kami makin mudah saling menyakiti. Makin lama makin tak tertahankan. Bimo sepertinya tak sungkan lagi menyerangku dengan berbagai cara dan kata. Ia tahu pasti apa yang bakal bikin aku dongkol, marah ataupun sedih.”
“Masa sih? Bukannya itu satu bukti perhatiannya padamu?”
“Perhatian kok bentuknya negatif? Bhuu..”
“Sumberku berkata lain : kalian sering banget berduaan, dan saat hanya berduaan dan berhadapan langsung, maksudku bukan via ym atau sms atau yang lain, kalian cenderung lebih tenang, tidak saling menyerang seperti bila sedang bersama orang-orang lain atau saat kalian hanya bertemu secara virtual. Kalian lebih ekspresif saling menunjukkan perhatian bila sedang berdua saja.”
“Sumber katamu? Paling juga Deni kan yang kamu maksud? Dasar mata-mata berlidah cabang dia.”
“Hahaha..”
“Sumbermu ngaco tuh….Bimo perhatian padaku hanya bila ia sedang iseng ingin menjahiliku.”
“Ah, masa?”
“Terserah!”
“Yakin?”
“Hhhh…”
“Hahaha..”

Emang yang bisa ngapus smua hanya waktu ya?
Tidak ada yang namanya kerelaan hati. Bullshit itu

>hoi! Ndi?
>
>
>ya. ya? Napa, Bim?
>invis lagi kamu.
>hehe. biasa sok sibuk. namanya juga jam kantor.
>halah. boong!
>beneran lg bnyk kejaan tau!
>ngapain sih kamu?
>ngapain kenapa?
>kamu itu! kayak maen petak umpet aja
>petak umpet? ma sapa? ngaco ah
>iya udah ngaku aja deh. Kyk anak kecil aja pake maen sembunyi2an gini
>sapa maen sembunyi2an? di mana2 tu ya kalo maen petak umpet tu ada musuhnya. lha orang aku aja gak punya lawan maen juga. aneh kamu
>kebanyakan alasan kamu. aku tau kok napa kamu invis. aku tau kamu menghindari sapa. bilang aja napa sih,Ndi? susah banget ya ngomong?
>kamu bicara apa sih, Bim? ngelantur ya? lagian gak ada hubungannya ma kamu. ge er kamu!
>argh, ya udah ah! tauk deh! bikin sinting ngomong ma kamu, Ndi.
>
>
>
Andi menatap layar komputer yang memampangkan window percakapan virtual. Matanya terasa panas dan lembab.

“Hehe, aku dah punya lagu barunya anggun yang versi perancisnya.”
“Aaa! Bluetooth! Bluetooth!”
“Nanti dulu. Aku pamer dulu dong.” Bimo tersenyum nakal sambil memutar lagu itu di ponselnya.
“Nemu di mana kamu? Download illegal mp3 lagi ya?”
“Ada dehhh… Mau tau aja. Yang penting kan kamu dapet.”
Andi cuma bisa manyun dengan tak sabar. Sambil mendengar lagu yang diputar di ponsel Bimo, khayalan-khayalan indah berkelibasan dalam benaknya. Bimo mulai lagi mendownload lagu-lagu untuknya. Sikap Bimo akhir-akhir ini juga jauh berubah dibanding awal-awal hubungan mereka. Dulu Bimo banyak menempatkan diri sebagai sebagai adik kecil yang menanti kakaknya bertindak. Bila mereka bepergian berdua Andi yang lebih sering ‘maju’ terlebih dahulu meski yang punya keperluan adalah Bimo sekalipun. Kini hal itu agaknya berbalik. Bimo jadi lebih melindungi. Andi makin merasa nyaman di dekat Bimo. Namun di sisi lain ia juga makin merasa waswas karena frekuensi pertengkaran di antara mereka pun bertambah. Antara rasa dekat dengan kesal makin mudah berganti-ganti.
“Hhhh..seandainya…” lamun Andi sambil tersenyum-senyum sendiri.

Angin semilir menerobos kasa di atas jendela kamar Andi. Andi berbaring malas di ranjang. Suasana sepi ditambah tidak adanya teman membuatnya malas melakukan apa pun. Teman-teman kost-nya semua pergi dengan kesibukan masing-masing. Bimo sedang ada meeting dadakan di kantornya. Lagipula Bimo bukanlah orang yang dia inginkan ada di dekatnya saat ini. Mereka bertengkar cukup hebat kemarin siang. Di tambah lagi malam harinya Bimo pulang lewat tengah malam tanpa pamit hendak kemana dan saat pulang menelpon Andi untuk membukakan pintu depan dan masuk tanpa mengucap apa-apa meski sekedar terimakasih. Sebenarnya Andi tak begitu ingat apa penyebab awal ia bertengkar dengan Bimo. Ia hanya bisa menampilkan ulang potongan-potongan kalimat yang diucapkan Bimo kemarin dan beberapa hari lalu. Bimo menyatakan kegusarannya tentang saat ia membeli ponsel baru akhir pekan lalu. Waktu itu Bimo berharap Andi lebih banyak mendampinginya mencoba-coba ponsel yang akan dibeli karena ia merasa tak tahu apa-apa tentang ponsel. Tapi saat itu Andi malah menjauh, mengobrol dengan teman lain.
“Tapi toh nggak ada yang nggak beres kan dengan hape barumu?” Andi membela diri.
“Aku cuma berharap kamu bisa memberikan satu perasaan lega dan nyaman waktu itu. Sungguh nggak enak melakukan sesuatu dalam hal yang aku nggak tahu. Macam berjalan dalam keadaan buta. Kau tahu aku mengandalkanmu tentang itu.”
Andi terbelalak menatap wajah Bimo. Ia sungguh tak menyangka Bimo, sobatnya yang selalu kuat itu, akan menggantungkan dirinya pada orang lain meski dalam satu hal kecil sekalipun. Apalagi kepada Andi. Andi yang selalu berada dalam posisi sub ordinat bila sedang berdua dengan Bimo.
“Maaf.”Andi menyesal dengan suara lirih,”Aku bener-bener nggak tahu.”
Selama ini sebenarnya Bimo juga bukannya baru sekali dua kali minta pertolongan Andi. Tak terhitung lagi berapa kali dia menghubungi Andi via yahoo messenger atau email untuk dibantu menterjemahkan dari dan ke bahasa Inggris. Bimo juga tak jarang minta pertimbangan Andi tentang berbagai hal hinga ke hal-hal sepele seperti tentang kemeja atau sepatu yang akan dibelinya. Melihat kenyataan itu Andi sadar bahwa dia tak seharusnya menempatkan diri sebagai sub ordinat dalam relasinya dengan Bimo. Toh posisi mereka dalam hubungan itu seimbang dan saling membutuhkan. Entah kenapa dia tak bisa melepaskan dirinya sendiri dari sudut pandang itu dan selalu terjerumus menempatkan diri sendiri sebagai tokoh yang lemah dan tak berdaya. Hal inilah yang membuat pertemanan mereka selalu terasa gamang. Ini masih ditambah lagi dengan sifat temperamental Andi dan Bimo yang sering agak tertutup dan sulit untuk menyatakan perasaannya. Tapi penyebab utama tentulah Andi yang selalu memposisikan diri sebagai korban. Hal ini yang membuatnya sering menyalahkan Bimo yang dianggapnya sama sekali tidak peka dan tidak peduli. Semuanya salah Bimo karena seharusnya dia yang ‘memimpin’ dalam hubungan ini.

“Hhhh..”Andi mendesah panjang, bangkit duduk di tepi ranjang. Hawa yang sejuk membuatnya benar-benar malas bahkan untuk sekedar keluar makan siang sekalipun. Tapi perutnya mulai terasa keroncongan. Ia mengintip layar ponsel yang tergeletak di dekatnya. Yahoo messenger masih menyala. Bimo masih juga online sejak pagi tadi. Tapi mereka sama sekali tak bertegur sapa via messenger. Andi mengernyit kesal lalu meletakkan kembali ponselnya ke ranjang dengan kasar. Perlahan ia beranjak keluar. Tapi ia tak pergi jauh karena ia bertemu dengan seorang penjual ketoprak. Jadilah menunya siang itu sebungkus ketoprak yang pedas karena menggunakan 5 cabe rawit berwarna jingga cerah. Setelah menyantap ludes ketopraknya, Andi bermaksud menonton televisi. Saat itulah ia sadar bahwa kacamatanya tak ada. Minus mata Andi memang cukup parah hingga ia biasa menggunakan kacamata untuk melihat jauh macam menonton televisi. Andi langsung berlari ke kamar mandi. Lalu mengecek ke meja di teras depan. Di dua tempat itulah dia sering lupa menaruh kacamatanya. Tapi tak ada. Andi mulai panik. Ia segera mengaduk-aduk seisi kamarnya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, bercampur dengan debu yang beterbangan dari benda-benda yang diobrak-abriknya. Ia terus mencari dan mencari hingga terduduk lemas. Rasa sedih, marah, bingung bercampur baur, terasa mnusuk-nusuk di dalam dadanya.
“Ya ampun. Kenapa, Ndi?” suara berat yang khas itu mengagetkan Andi yang masih terduduk di antara tumpukan buku dan kertas-kertas.
“Kacamataku ilang, Bim.”suara Andi bergetar seperti tangis yang ditahan.
“Sudah cari ke kamar mandi? Ke meja teras?”
Andi menggelengkan kepala.
“Pasti ada lah di sini. Mana mungkin hilang gitu aja? Kamu keluar ke mana hari ini?”
“Tadi cuman beli ketoprak di depan gang sana. Tapi itupun aku inget tadi gak pake kacamata.”
“Pasti cuman ketlingsut aja. Kamu sih kalo naruh suka sembarangan.” Bimo berlutut di sebelah Andi, mulai mencari-cari di antara tumpukan barang,”Kamu sih, berantakan banget. Gimana mau enak cari barang.” Nada suara Bimo tetap lembut meski kata-kata yang diucapnya sangat menegur. Andi menatap Bimo yang membongkar-bongkar tumpukan dengan tekun. Saat itulah Bimo menoleh, menatap balik tepat ke arah Andi.
Muka Andi langsung memerah.
“Bayi banget kamu, Ndi. Baru gini aja nangis.” Bimo tersenyum ringan, sedikit mencerahkan hati Andi.
Setengah jam lebih berlalu, pencarian tetap tak membuahkan hasil. Bimo duduk di sebelah Andi.
“Nggak ada, Ndi. Kok bisa sih ilang gitu aja?”
“Nggak tau. Dari tadi pagi kan aku kan emang lebih banyak tidur-tiduran aja jadi ya nggak pake kacamata. Baru siang ini tadi aku mau nonton tv eeh kacamatanya ternyata nggak ada.”
“Terus gimana dong?”
“Aku bener-bener nggak bisa liat jauh tanpa kacamata, Bim.”
“Lalu?”
“Kayaknya harus cari baru deh. Gimana lagi?”
“Ke mana? Ke amba aja gitu?”
“Ya. Males jauh-jauh.”
“Oke deh.”Bimo tersenyum lagi.
Andi tersenyum juga kini. Merasa sedikit menyesal karena telah bertengkar dengan Bimo kemarin. Bagaimanapun ia masih bertanya-tanya, ternyata Bimo juga tak semarah itu padanya sehari yang lalu. Apakah memang mereka tak bisa saling marah dan saling menjauh lama-lama? Jantung Andi berdegup kencang.