Angin semilir menerobos kasa di atas jendela kamar Andi. Andi berbaring malas di ranjang. Suasana sepi ditambah tidak adanya teman membuatnya malas melakukan apa pun. Teman-teman kost-nya semua pergi dengan kesibukan masing-masing. Bimo sedang ada meeting dadakan di kantornya. Lagipula Bimo bukanlah orang yang dia inginkan ada di dekatnya saat ini. Mereka bertengkar cukup hebat kemarin siang. Di tambah lagi malam harinya Bimo pulang lewat tengah malam tanpa pamit hendak kemana dan saat pulang menelpon Andi untuk membukakan pintu depan dan masuk tanpa mengucap apa-apa meski sekedar terimakasih. Sebenarnya Andi tak begitu ingat apa penyebab awal ia bertengkar dengan Bimo. Ia hanya bisa menampilkan ulang potongan-potongan kalimat yang diucapkan Bimo kemarin dan beberapa hari lalu. Bimo menyatakan kegusarannya tentang saat ia membeli ponsel baru akhir pekan lalu. Waktu itu Bimo berharap Andi lebih banyak mendampinginya mencoba-coba ponsel yang akan dibeli karena ia merasa tak tahu apa-apa tentang ponsel. Tapi saat itu Andi malah menjauh, mengobrol dengan teman lain.
“Tapi toh nggak ada yang nggak beres kan dengan hape barumu?” Andi membela diri.
“Aku cuma berharap kamu bisa memberikan satu perasaan lega dan nyaman waktu itu. Sungguh nggak enak melakukan sesuatu dalam hal yang aku nggak tahu. Macam berjalan dalam keadaan buta. Kau tahu aku mengandalkanmu tentang itu.”
Andi terbelalak menatap wajah Bimo. Ia sungguh tak menyangka Bimo, sobatnya yang selalu kuat itu, akan menggantungkan dirinya pada orang lain meski dalam satu hal kecil sekalipun. Apalagi kepada Andi. Andi yang selalu berada dalam posisi sub ordinat bila sedang berdua dengan Bimo.
“Maaf.”Andi menyesal dengan suara lirih,”Aku bener-bener nggak tahu.”
Selama ini sebenarnya Bimo juga bukannya baru sekali dua kali minta pertolongan Andi. Tak terhitung lagi berapa kali dia menghubungi Andi via yahoo messenger atau email untuk dibantu menterjemahkan dari dan ke bahasa Inggris. Bimo juga tak jarang minta pertimbangan Andi tentang berbagai hal hinga ke hal-hal sepele seperti tentang kemeja atau sepatu yang akan dibelinya. Melihat kenyataan itu Andi sadar bahwa dia tak seharusnya menempatkan diri sebagai sub ordinat dalam relasinya dengan Bimo. Toh posisi mereka dalam hubungan itu seimbang dan saling membutuhkan. Entah kenapa dia tak bisa melepaskan dirinya sendiri dari sudut pandang itu dan selalu terjerumus menempatkan diri sendiri sebagai tokoh yang lemah dan tak berdaya. Hal inilah yang membuat pertemanan mereka selalu terasa gamang. Ini masih ditambah lagi dengan sifat temperamental Andi dan Bimo yang sering agak tertutup dan sulit untuk menyatakan perasaannya. Tapi penyebab utama tentulah Andi yang selalu memposisikan diri sebagai korban. Hal ini yang membuatnya sering menyalahkan Bimo yang dianggapnya sama sekali tidak peka dan tidak peduli. Semuanya salah Bimo karena seharusnya dia yang ‘memimpin’ dalam hubungan ini.

“Hhhh..”Andi mendesah panjang, bangkit duduk di tepi ranjang. Hawa yang sejuk membuatnya benar-benar malas bahkan untuk sekedar keluar makan siang sekalipun. Tapi perutnya mulai terasa keroncongan. Ia mengintip layar ponsel yang tergeletak di dekatnya. Yahoo messenger masih menyala. Bimo masih juga online sejak pagi tadi. Tapi mereka sama sekali tak bertegur sapa via messenger. Andi mengernyit kesal lalu meletakkan kembali ponselnya ke ranjang dengan kasar. Perlahan ia beranjak keluar. Tapi ia tak pergi jauh karena ia bertemu dengan seorang penjual ketoprak. Jadilah menunya siang itu sebungkus ketoprak yang pedas karena menggunakan 5 cabe rawit berwarna jingga cerah. Setelah menyantap ludes ketopraknya, Andi bermaksud menonton televisi. Saat itulah ia sadar bahwa kacamatanya tak ada. Minus mata Andi memang cukup parah hingga ia biasa menggunakan kacamata untuk melihat jauh macam menonton televisi. Andi langsung berlari ke kamar mandi. Lalu mengecek ke meja di teras depan. Di dua tempat itulah dia sering lupa menaruh kacamatanya. Tapi tak ada. Andi mulai panik. Ia segera mengaduk-aduk seisi kamarnya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, bercampur dengan debu yang beterbangan dari benda-benda yang diobrak-abriknya. Ia terus mencari dan mencari hingga terduduk lemas. Rasa sedih, marah, bingung bercampur baur, terasa mnusuk-nusuk di dalam dadanya.
“Ya ampun. Kenapa, Ndi?” suara berat yang khas itu mengagetkan Andi yang masih terduduk di antara tumpukan buku dan kertas-kertas.
“Kacamataku ilang, Bim.”suara Andi bergetar seperti tangis yang ditahan.
“Sudah cari ke kamar mandi? Ke meja teras?”
Andi menggelengkan kepala.
“Pasti ada lah di sini. Mana mungkin hilang gitu aja? Kamu keluar ke mana hari ini?”
“Tadi cuman beli ketoprak di depan gang sana. Tapi itupun aku inget tadi gak pake kacamata.”
“Pasti cuman ketlingsut aja. Kamu sih kalo naruh suka sembarangan.” Bimo berlutut di sebelah Andi, mulai mencari-cari di antara tumpukan barang,”Kamu sih, berantakan banget. Gimana mau enak cari barang.” Nada suara Bimo tetap lembut meski kata-kata yang diucapnya sangat menegur. Andi menatap Bimo yang membongkar-bongkar tumpukan dengan tekun. Saat itulah Bimo menoleh, menatap balik tepat ke arah Andi.
Muka Andi langsung memerah.
“Bayi banget kamu, Ndi. Baru gini aja nangis.” Bimo tersenyum ringan, sedikit mencerahkan hati Andi.
Setengah jam lebih berlalu, pencarian tetap tak membuahkan hasil. Bimo duduk di sebelah Andi.
“Nggak ada, Ndi. Kok bisa sih ilang gitu aja?”
“Nggak tau. Dari tadi pagi kan aku kan emang lebih banyak tidur-tiduran aja jadi ya nggak pake kacamata. Baru siang ini tadi aku mau nonton tv eeh kacamatanya ternyata nggak ada.”
“Terus gimana dong?”
“Aku bener-bener nggak bisa liat jauh tanpa kacamata, Bim.”
“Lalu?”
“Kayaknya harus cari baru deh. Gimana lagi?”
“Ke mana? Ke amba aja gitu?”
“Ya. Males jauh-jauh.”
“Oke deh.”Bimo tersenyum lagi.
Andi tersenyum juga kini. Merasa sedikit menyesal karena telah bertengkar dengan Bimo kemarin. Bagaimanapun ia masih bertanya-tanya, ternyata Bimo juga tak semarah itu padanya sehari yang lalu. Apakah memang mereka tak bisa saling marah dan saling menjauh lama-lama? Jantung Andi berdegup kencang.