“Dia bilang : Sorry aja ya. Kalo ama aku, siap-siap aja ancur-ancuran. Gitu, Ren.”
“Bimo bilang gitu ma kamu?”
“Yup.”
“…”
“Kenapa gitu, Ren? Aneh ya?”
“Nggak tau juga. Cuman…” Renita terkikik pelan.
“Apanya yang lucu? Ihh kamu ni.” Andi sedikit kesal karena tak mengerti di mana letak kelucuannya.
“Nggak pa-pa. Selamat aja ya, Ndi. Kamu dan Bimo naik kelas. Hubungan kalian memasuki babak baru agaknya.”
“Hush! Jangan kumat ngawur deh, Ren.”
“Abis aku mulai agak bosen deh denger rengekanmu tiap kali kalian berantem. Kayaknya kalian makin sering berantem, ya? Cuman ngobrol via ym aja ampe berantem. Ampun dah! Mau kamu akui ato nggak kalian tu kayak sepasang kekasih yang udah kelamaan pacaran lalu saking merasa kenalnya satu sama lain jadi suka saling menyerang kelemahan masing-masing.”
“Yee. Biasa aja ah. Ama temen-temen yang lain juga gitu kali.”
“Boong. Ama abangmu sendiri aja kamu nggak pernah seterbuka itu.”
“Aku terbuka kok ama kamu.” Andi tersenyum penuh kemenangan.
“Yah, memang kamu selalu lebih gampang terbuka ama temen cewek kan? Akui aja. Ama cowok, kamu mana ada temen yang sedeket itu? Jadi keterbukaan di antara kita nggak bisa dianggep.” Renita tak mau kalah.
“Bhuuu.”Andi mengerucutkan bibirnya, kesal tak tahu harus membalas apa.
“Nggak usah susah-susah deh, Ndi. Buka aja ym kamu, liat daftar contacts-nya. Siapa cowo yang paling sering ym-an ma kamu?”
“Euh, yang pasti Bimo..lalu Deni, ada Rino…kadang-kadang abangku.”
“Abangmu langsung coret aja. Ama Deni kamu biasa ngomongin apa? Palingan juga gak pernah jauh dari masalah gadgets kan? Rino juga sama aja.”
“Iya sih. Tapi ama Bimo juga suka ngomongin gadgets kok.”
“Ya. Tapi sebagai selingan, bukan menu utama. Kalian kan lebih sering saling bertanya : lagi ngapain? dah makan belum? tar malem makan apa ya? dan baanyak masalah-masalah pribadi lainnya.”
“Aku rasa itu biasa aja deh. Kamu terlalu mendramatisir, Ren. Toh kebanyakan hanya masalah sepele sehari-hari.”
Renita tersenyum penuh arti,”Kurasa kamu sendiri ngerti kok sampe sebatas mana semua itu. Aku cuman menganalisa dari sudut pandang orang ketiga yang bahkan nggak akrab ama Bimo-mu.”
“Nggak ngerti deh maksud kamu apa, Ren. Apa yang aku lakukan selama ini salah? Aku dan Bimo udah kelewat batas? Aku harus kurangi kuantitas dan kualitas percakapanku dengan Bimo?”
“Mana aku tahu. Kan kamu sendiri yang tahu apa yang kamu inginkan dari hubungan itu, mau kamu bawa ke arah mana hubungan itu.”
“Aku nggak…aku nggak tahu, Ren. Bener-bener nggak tahu. Aku bahkan nggak tahu apakah ini adalah awal dari satu babak baru atau awal dari suatu akhir hubungan. Di satu sisi kamu memang benar, kami mungkin telah begitu merasa saling tahu satu sama lain sering hanya dengan berpandangan kami tahu apa yang ingin dikatakan. Satu kata atau sebuah gerakan kecil dariku membuatnya tahu aku sedang marah, sedih, atau lainnya.”
“Ck..ck..ck. Parah kalian ini.”
“Tapi di sisi lain rasa saling mengerti ini juga yang membuat kami makin mudah saling menyakiti. Makin lama makin tak tertahankan. Bimo sepertinya tak sungkan lagi menyerangku dengan berbagai cara dan kata. Ia tahu pasti apa yang bakal bikin aku dongkol, marah ataupun sedih.”
“Masa sih? Bukannya itu satu bukti perhatiannya padamu?”
“Perhatian kok bentuknya negatif? Bhuu..”
“Sumberku berkata lain : kalian sering banget berduaan, dan saat hanya berduaan dan berhadapan langsung, maksudku bukan via ym atau sms atau yang lain, kalian cenderung lebih tenang, tidak saling menyerang seperti bila sedang bersama orang-orang lain atau saat kalian hanya bertemu secara virtual. Kalian lebih ekspresif saling menunjukkan perhatian bila sedang berdua saja.”
“Sumber katamu? Paling juga Deni kan yang kamu maksud? Dasar mata-mata berlidah cabang dia.”
“Hahaha..”
“Sumbermu ngaco tuh….Bimo perhatian padaku hanya bila ia sedang iseng ingin menjahiliku.”
“Ah, masa?”
“Terserah!”
“Yakin?”
“Hhhh…”
“Hahaha..”
Desember 23, 2008