Sampe segitunya ya aku, Ren. Kemaren pagi aku uring-uringan, kesel banget sama Bimo yang makin menjadi-jadi tingkah seenaknya. Bimo agaknya merasakan itu. Siang harinya ia berkali-kali berusaha mencuri waktu untuk bisa berduaan, antara penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kami atau sekedar menebus rasa bersalah meski ia tak tahu pasti di mana letak kesalahannya. Hingga besoknya, Bimo tak juga menyerah. Kami bercakap-cakap via ym seharian penuh. Kebetulan hari itu aku sudah mulai masuk masa libur Natal sementara Bimo masih harus ke kantor. Bimo terus memancing-mancingku untuk berbicara tentang apa yang terjadi kemarin. Menjelang tengah hari pertahananku mulai runtuh. Aku mengatakan betapa mudahnya mood-ku berganti-ganti dan bahwa ya, aku memang agak marah kemarin pagi. Aku tak mengatakan padanya dengan gamblang apa yang membuatku kesal. Tapi aku memberinya isyarat-isyarat bahwa aku memang over-sensitive tentang apapun yang berhubungan dengan dirinya. Bimo menjawab bahwa dia mengerti. Secara tak langsung aku memohon padanya agar bersabar dengan kelakuanku yang emosional dan sentimental, ‘si tukang ngambek’ kalo menurut Bimo. Bimo membalas dengan meminta maaf atas sikapnya selama ini yang terkesan kurang ajar dan suka merepotkanku. Aku bener-bener nggak tahu harus ketawa atau nangis liat kata-kata dia via mobile ym di layar ponselku. Yang jelas kerasa ‘aneh’ aja secara saat itu aku sedang berada di bus transjakarta ke arah stasiun kota. Tapi kami terus melanjutkan percakapan virtual kami sembari aku berbelanja beberapa barang di Glodok, tentu saja diantaranya ada titipan ini itu dari si Bimo. Suasana sudah jauh lebih cair usai kami ‘curhat dan sharing’ tadi. Aku tersenyum kecil mengingat kata-kata yang pernah diucap Bimo dulu bahwa dia sangat anti curhat atau sharing perasaan apapun kepada seorang teman cowo. Waktu itu dia bilang itulah gunanya memiliki pacar (cewe tentunya) : untuk dicurhatin. Hahaha. Yah, sejak awal kami saling mengenal aku sebenarnya juga tahu meskipun Bimo selalu berusaha memberi penekanan pada sifatnya yang ‘super macho’, full of male ego dan stereotip cowo pada umumnya itu, toh ada sesuatu yang tersembunyi di balik semua itu. Dia berbeda bila dibandingkan dengan Deni, Rino, abangku atau cowo-cowo lain yang bener-bener ‘cowo’ tanpa pernah berusaha menonjolkan hal itu. Tapi mungkin memang itulah yang membuatku selalu tertarik padanya : satu sisi tersembunyi yang rapuh dari Bimo.
Entri Tersimpan
- Tanggal Tulisan :
- Desember 28, 2008 at 8:03 am
- Kategori :
- cerita
- Lakukan Lebih Lanjut :
- You can leave a response, or trackback from your own site.
Blog pada WordPress.com. — Theme: Connections by www.vanillamist.com