“Hey, Ndi, aku dah baca e-mail-mu yang kemaren.”
“Hah? E-mail yang mana?”
“Sisi lain Arjuna-mu.” Renita terkikik pelan.
“Oh..”
“Yah, kurasa udah jelas lah. Bimo-mu bukan orang yang ‘biasa’. Dia berbeda. Dia bukan sekedar citra cowo stereotip yang selama ini dia berusaha gembar-gemborkan pada dunia. Citra cowo macho nan tangguh. Pujaanmu ini punya ’sisi lain’ yang sepertinya ia tidak ingin sembarang orang tahu.”
“Ya ya. Kamu nggak perlu meyakinkanku lagi tentang itu, Ren.”
“Aku yakin itu. Aku cuma seneng aja menyebutnya lagi. Seneng banget bisa bilang ke kamu ‘nah, kan? Apa kubilang?’ ” Renita terkikik lagi.
“Hhhh…”
“Masih inget kan ‘Blueberry nights’? Kalian berdua hingga lewat jam 1 malam?” senyum lebar sepertinya tak mau beranjak dari wajah Renita.
“Ah, udah deh, Ren. Jangan sebut-sebut itu lagi. Aku…”
“Andai aja ada cermin kamu bisa liat betapa merahnya mukamu sekarang.”
“Oke. Oke. Aku tahu apa yang kamu tunggu. Aku sayang dia. Bener-bener sayang. Aku akui itu. Puas? Lalu apa ada yang berubah?”
“Setidaknya ini satu langkah buatmu. Kamu mengaku pada dirimu sendiri. Kamu menerima apa yang kamu rasa. Masalah Bimo bisa menerima itu lalu membalasnya adalah perkara lain.”
Desember 31, 2008