Maret 2009


“Aku nggak peduli pada apapun yang nggak ada hubungannya dengan hidupku. Terserah kamu mau memandang bagaimana padaku. Aku nggak peduli penilaianmu atasku.”
“Tapi, Bim, kita kan bisa selalu berusaha untuk jadi lebih baik lagi.”
“Terserah kalo kamu itu maumu. Aku nggak bisa lagi. Aku nggak mau.”
“Bim..”
“Bagaimanapun, kamu udah menentukan pilhanmu, Ndi. Kamu memilih, kamu ambil beserta segala konsekuensinya.”
“Pilih? Pilihan apa?”
“Kamu tahu lah apa yang aku maksud. Makan dan rasakan itu pilihanmu!”
“Bimo..”suara Andi mulai terdengar seperti rengekan.
“Kalo kamu masi minat untuk tahu : aku nggak pernah benci kamu, aku cuman nggak suka ama pilihan kamu.”

Renita terbelalak mendengar cerita sahabatnya, tak tahu ia harus marah atau gemas pada Andi yang duduk lemas di hadapannya.
“Sudah cukup, Ndi. Berhentilah. Kumohon. Belum cukupkah kamu merusak dirimu sendiri terus-terusan gini? Bimo adalah Bimo, Ndi. Dia tak akan pernah jadi Dimas meski kau terus berusaha memaksakan image-nya pada Bimo. Aku bahkan nggak ngerti kemiripan dari segi apa yang kamu lihat antara Bimo dengan Dimas.”
“Memang Bimo adalah Bimo, Ren. Aku juga tahu itu. Tapi ini udah nggak ada hubungannya lagi ama Dimas. Masa itu udah lama berlalu. Aku tak lagi melihat Dimas di wajah Bimo. Yang kulihat sekarang adalah Bimo. Bimo yang sok lelaki, sok tegar, sok melindungi, sok perhatian meski ia sendiri haus perhatian dan kasih sayang. Ya, ada sejuta kejelekan yang tiada habisnya saat kau berbicara tentang Bimo. Tapi rasanya semua itu tak terlihat lagi. Aku bener-bener sayang Bimo seperti apa adanya dia, komplit dengan segala sifat buruknya.”
“Haduhhh…”
“Dia bilang dia nggak benci aku.”
“Tapi dia juga gak membalas cintamu… Lalu?”

Huah! Kaget gw liat pantulan diri gw sendiri di cermin.
Ndud banget!
Helai-helai rambut putih terselip di antara yang hitam.
Ya, gw udah nggak muda lagi. Temen-temen seangkatan gw rata-rata dah punya ‘buntut’ minimal satu.
And here I am : in an unclear relationship, barely got any money, stuck with a job I don’t really enjoy.
Tapi bukan hal-hal itu yang bikin gw risau.
It’s that I’m not getting any wiser!
Menyedihkan emang. Kadang gw terpikir ingin meneladani Yesus yang tingkah lakunya selalu memancarkan kasih pada segala hal, setiap orang. Tapi wah, susah juga ya. Palagi untuk orang emosional macam gw.
Parahnya, makin tua gw bukannya makin sabar tapi malah makin ngamukan. Terutama beberapa bulan terakhir ini. Gw marah-marah terus tiap hari, mengomel pada hal-hal kecil yang sepele, pikiran gw penuh dengan hal-hal negatif tentang orang lain dan segala hal di sekitarku. Rasanya susah banget untuk berpikir lurus dengan kepala dingin. Kepala jadi puyeng, badan lemes, napsu makan surut (tapi tetep ndud.. :P huhuhu). Boro-boro meniru Yesus untuk mengasihi sesama manusia(dan juga mahluk2 lain tentunya :D ), mengasihi diri sendiri aja gw masi belum bisa. Kasian cintaku, belahan jiwaku (ceile), yang musti bersabar menghadapi tingkahku yang makin hari makin mirip orang gila atau setidaknya orang yang depresi berat. Kalo gw ngeluh begini ama cintaku pasti ia bakal menyalahkan gw yang kurang berserah ama yg di atas (Tuhan maksudnya, bukan si boss..hehehe), secara hampir tiap hari minggu cintaku ngomel2 ngoprak2 gw supaya pergi ke greja (sorry, darling, hehehe). Yah, mungkin juga. Gw emang selalu berlagak nrimo, padahal nggak pernah sekalipun bisa pasrah dengan ikhlas. Sering ngiri deh liat tampang cintaku pas lagi pules bobo, mimik mukanya terlihat begitu tenang dan ceria (meski dalam keadaan bobo…hebat ya?). Andai gw bisa memiliki ketenangan macam itu…..pasti gw bakal tambah ndud aja deh secara tidur mulu….hehehe.

i really love you, pal.

i really do.

tatap mata itu.
kenapa dia selalu mencari mataku.
lalu menusuknya dalam-dalam dengan pandangannya.

Setelah menghabiskan 2 hari 1 malam dari 3 hari long weekend di satu bulan Maret itu berdua saja dengan Andi, agaknya Bimo mulai bosan juga. Itulah yang terbersit dalam pikiran Andi saat sore itu Bimo mengatakan bahwa dia akan pergi ke tempat teman satu angkatannya waktu kuliah dulu.
“Pergi sore-sore gini berarti nginep.” Andi tercenung murung memandangi Bimo mengemasi barang-barangnya, bersiap untuk berangkat. 2 hari ini memang tidak bisa dibilang mengasyikkan. Hari pertama liburan, mereka mengantar Pak Benny, teman kos mereka yang sudah senior, pergi membeli ponsel. Itu pun sebenarnya Bimo yang diajak oleh Pak Benny, Andi tidak begitu akrab dengan Pak Benny yang menurut Andi tipe ‘pendongeng’ itu. Andi ikut mereka pergi hanya karena Bimo yang memohon-mohon padanya agar dia turut serta.
“Aku sebenernya males banget nganter Pak Benny, Ndi.” cetus Bimo pagi itu.
“Ya kalo males napa nggak bilang aja tadi malem. Bilang aja kamu ada acara gitu. Kalu gini kan jadinya kita nggak bisa ke mana-mana.” Andi mengerucutkan bibirnya.
“Kamu ikut aja ya, Ndi?”
“Ikut? Nganter Pak Benny? Ogah. Mendingan tidur aja deh.”
“Tidur mulu. Makin bulet lho kamu.”
“Biarin. Emang udah bulet juga yeee.”
“Plis dong, Ndi. Ikut aja. Pasti garing banget deh pergi ma Pak Benny.”
“Ah, kamu kan temenan lumayan akrab ma dia. Pasti ok aja deh.”Andi tersenyum sinis.
“Ayolah, Ndi. Paling juga cuman bentar kok. Ya?” Bimo memandang Andi lekat-lekat, membuat Andi salah tingkah dan memerah.
“Aaaah, ya sudah deh. Tapi aku cuman penggembira aja lho. Aku gak mau ikut-ikut urusan beli-membeli ini.”Andi akhirnya lumer juga oleh tatapan nan dalam Bimo. Bimo langsung menyeringai cerah. Andi kadang jadi berpikir apa Bimo memang sudah tahu bahwa dia tak pernah bisa tahan terhadap tatap mata Bimo yang dalam itu.
“Yah, mungkin dia emang udah tau. Dan dia tau cara memanfaatkannya.”keluh Andi dalam hati.
Sore hari pertama long weekend itu Andi cemberut saja. Dia merasa agak kesal pada Bimo yang menurutnya melempar tanggung jawab mengantar Pak Benny membeli ponsel. Sepanjang acara ‘jalan-jalan’ mereka tadi Bimo malah hampir sama sekali tidak menemani Pak Benny memilih-milih ponsel, Andi lah yang terkena imbasnya. Bukannya Andi berkeberatan membantu Pak Benny memilih-milih ponsel, tapi bukannya sebenarnya Bimo yang diminta untuk melakukan itu? Tapi itu sore hari. Malam harinya Andi sudah tertawa-tawa lagi dan dia menghabiskan waktu bersama Bimo hingga jauh lewat tengah malam.
Hari kedua long weekend mereka habiskan dengan tidur-tiduran sambil menonton televisi saja. Mereka hanya keluar rumah untuk makan pecel madiun di depot makan langganan mereka. Dan kini sore harinya, Bimo bersiap untuk pergi.
Andi tak merasa kesal. Sedikit kosong, itulah yang mendadak merasuk ke dalam hatinya. Dalam kesunyian dibukanya laptopnya, bermaksud browsing-browsing, membuka-buka facebook atau apalah, sekedar membunuh waktu sendiri. Kemudian Rizky, teman kosnya yang lain, masuk ke kamarnya dan menumpang browsing. Mereka berdua larut dalam pembicaraan seputar berita-berita terbaru, sejenak membuat pikiran Andi teralih dari Bimo yang hendak pergi. Sebelum berangkat Bimo melongok melihat ke dalam kamar Andi, mendapati Andi sedang asyik berbicara dengan Rizky.
“Berangkat, Bim?”Andi mengangkat muka melihat sosok Bimo.
“Hemm..” ekspresi muka Bimo yang aneh membuat Andi makin gundah. Dia lekas bangkit dari duduknya untuk mengantar Bimo ke pintu. Bimo mengunci mulutnya rapat-rapat. Wajahnya terlihat datar dengan semburat keras pada garis alisnya. Matanya lagi-lagi menatap dalam, menusuk jauh ke dalam hati Andi. Tapi tatapan dalam itu tak terlihat ramah dan bersahabat kini. Yang dirasakan Andi hanyalah dingin dan gelap.
“Berangkat dulu.” Bimo berucap lirih sekali, lebih mirip seperti menggumam.
“Yo. Ati-ati.” Andi membalas tak kalah pelannya, menatap sedih hingga punggung itu berlalu menjauh. Kembali ke kamarnya Andi tak lagi bersemangat untuk bercanda dengan Rizky.
Hari terakhir liburan dilalui Andi dalam kegelapan nan sunyi. Tak ada pesan atau kabar satu pun dari Bimo, bahkan update status di facebook pun tak ada. Seperti anak ayam kehilangan induknya, Andi menghabiskan waktu berkeliaran di pusat perbelanjaan, membeli barang-barang yang sebetulnya tak ia perlukan. Rasanya sudah berabad-abad bagi Andi, namun ketika ia kembali ke kos ternyata jam baru menunjukkan angka 2. Suasana di kos sepi. Lampu di kamar Rizky yang berhadapan dengan kamar Andi menyala, menunjukkan penghuninya ada. Kamar Bimo sepi, lelap dalam gelap. Andi masuk ke kamarnya. Setelah berganti pakaian dia langsung membaringkan diri di kasur, lampu kamar dibiarkan padam. Kamar hanya diterangi pantulan cahaya langit mendung yang menerobos melalui jendela. Langit agaknya makin gelap karena kamar itu terasa makin temaram. Guruh terdengar bersahutan nun jauh di atas sana. Bersambut dengan suara turunnya hujan menghajar atap fiber di teras di depan kamar Andi. Sulit bagi Andi untuk benar jatuh dalam lelapnya tidur, ia tak merasa mengantuk sama sekali. Diraihnya ponselnya untuk melihat jam. Masih setengah tiga. Didengarnya seseorang membuka gerbang. lalu tak lama kemudian ada yang membuka pintu depan. Dari caranya membuka dan mengunci pintu Andi tahu pasti siapa yang berada di pintu depan. Terdengar seseorang meletakkan sandal dengan kasar dibarengi makian perlahan. Andi menanti suara ketukan di pintu kamarnya. Sunyi. Tapi Andi merasa pasti bahwa orang itu, yang dia yakini adalah Bimo, masih berada di depan kamarnya. Masih sunyi untuk beberapa saat lagi sebelum kemudian terdengar bunyi langkah kaki menjauh dan pintu kamar Bimo dibuka.
“Kenapa kamu nggak masuk ke sini dulu, Bim? Atau sekedar mengetuk pintuku. Seperti biasa selalu kamu lakukan setiba di rumah.” Andi makin resah. Kesunyian terus berlanjut. Agaknya Bimo tertidur di kamarnya. Menjelang jam lima Andi mendengar Rizky keluar dari kamarnya dan menggedor kamar Bimo. Andi bisa mendengar cukup jelas apa yang mereka bicarakan. Rupanya teman-teman kantor mereka, ya, Rizky dan Bimo memang sekantor, mengajak mereka untuk pergi. Entah kemana. Tapi Andi bisa membayangkan kemana mereka hendak pergi. Merasa sedih itu pasti bagi Andi. Melihat betapa Bimo seharian pergi dan kini dia sudah akan pergi lagi. Mereka bahkan belum berbicara sepatah katapun sejak Bimo pergi kemarin sore. Andi lalu berpikir,”Buat apa aku bersedih untuk seseorang yang tak pernah peduli padaku. Berpikir tentang aku sepintaspun aku yakin dia tak pernah. Dia bukan Dimas, Ndi. Terimalah kenyataan itu. Kemiripan mereka berakhir sebatas kemiripan fisik dan kesan semata. Sifat dan tingkah laku mereka bagai bumi dan langit.” Andi terus berusaha meyakinkan diri bahwa Bimo memang tak pernah perduli padanya sedikit pun, bahkan sekedar sebagai seorang teman pun tidak. Dia yakin malam nanti, setibanya Bimo kembali di rumah dia akan langsung masuk ke kamarnya tanpa menyapanya dulu. Jam di atas tv sudah menunjukkan jam 10 lebih. Belum ada tanda-tanda Bimo. Andi berpikir untuk mematikan lampu kamar dan segera tidur. Belum sempat ia melakukan itu terdengar suara pintu depan dibuka. Andi diam sediam-diamnya. Ia merasa bersyukur dia sudah mem-mute tv yang sedang menampilkan film horor. Andi cuma berharap Bimo segera berlalu ke kamarnya dan dia bisa tidur dengan tenang. Awalnya ia merasa yakin Bimo akan segera ke kamarnya sendiri. Sunyi di depan kamarnya terasa lama. Kemudian ada ketukan lembut.
“Ya.”Andi menjwab dengan agak malas. Tapi dibukanya juga pintu kamarnya.
“Udah tidur kamu, Ndi?” dengan santainya Bimo langsung masuk ke dalam kamar.
“Ya baru tidur-tiduran aja sih.”
“Tidur mulu. Ndud.”goda Bimo tersenyum lebar.
Andi memanyunkan mulutnya mendengar hinaan Bimo. Tanpa sungkan Bimo duduk di ujung tempat tidur lalu mengganti channel tv. Andi cuma bisa membunyikan ‘hhhhhh’ panjang dalam hati. Bimo lalu mulai mengeluh-ngeluh tentang badannya yang terasa pegal-pegal. Dia menanyakan obat gosok untuk nyeri otot pada Andi.
“Aduh, di mana ya? Rasanya aku nggak pernah liat.” Andi mengaduk-aduk kotak obat. Bimo beranjak ke kamarnya setelah berucap,”Aku ganti baju dulu.” membiarkan Andi sibuk mencari-cari krim untuk nyeri otot itu di rak-rak yang penuh barang. Sesaat kemudian Bimo kembali ke kamar Andi, sudah berganti memakai celana pendek dan singlet, tersenyum lebar sambil menunjukkan sesuatu di tangannya,”Ternyata krimnya ada di kamarku.”
“Yaaaah. Bilang dari tadi kek.”Andi makin manyun. Tapi dia toh tak bisa kesal lama-lama. Malam makin larut, kesunyian rusak oleh suara tawa mereka. Sepi baru berkuasa kembali lewat dari jam satu malam.
Paginya Andi terbangun olah suara ketukan berturut-turut pada pintu kamarnya.
“Ya, sebentar.” teriaknya.
“Ngapain ya Bimo ngetok pagi2 banget gini?”Andi melihat keluar jendela, langit masih terlihat suram.
“Bangun, pemalas.”Bimo langsung duduk di ’singgasana’-nya alias di ujung tempat tidur begitu Andi membukakan pintu.
“Emang jam berapa sih?”
“Jam 7 kurang.”
“Haaaaah?”dengan mata yang baru separuh terbuka Andi berusaha melihat jam kecil di atas tv,”Ampuuuuun!” dengan panik Andi menyambar perlengkapan mandinya.
“Kamar mandi penuh.”kata-kata Bimo menghentikan langkah Andi yang siap lari ke kamar mandi.
“Duuuhhh.”Andi merebahkan diri di tempat tidur kembali.
“Jangan tidur lagi. Dasar males.” Bimo menggelitik Andi yang meringkuk di ujung lain tempat tidur.
“Uuuuh. Ya abis mau napain kamar mandi penuh gitu.”sungut Andi dengan suara serak.
“Nonton gosip kek.” Bimo berbalik menatap layar tv yang sedang menampilkan acara infotainment.
Pagi itu Andi berangkat ke kantor dengan sedikit terhuyung-huyung. Kepalanya terasa berat. Memang sebelum malam ini dia dan Bimo sudah berkali-kali baru tidur selepas tengah malam secara berturut-turut. Tapi pagi ini rasanya sedikit berbeda. Benaknya kembali dipenuhi pertanyaan tentang apakah Bimo pernah peduli sedikit saja padanya. Kalau Bimo sama sekali tak peduli untuk apa dia menggedor pintunya untuk membangunkan. Kalau Bimo tak peduli untuk apa tiap kali mereka usai ‘marahan’ Bimo selalu berusaha melakukan sesuatu untuk Andi, seperti mau memberi semacam ‘tebusan’ atau ’suap’ agar Andi tak marah lagi sekaligus menebus rasa bersalahnya.
“Tapi..ah, semua itu pasti hanya perasaanku saja.”Andi berusaha untuk tersenyum,”Peduli padaku? Haha..Tak mungkin rasanya.” Sudut mata itu terlihat lembab.