“Aku nggak peduli pada apapun yang nggak ada hubungannya dengan hidupku. Terserah kamu mau memandang bagaimana padaku. Aku nggak peduli penilaianmu atasku.”
“Tapi, Bim, kita kan bisa selalu berusaha untuk jadi lebih baik lagi.”
“Terserah kalo kamu itu maumu. Aku nggak bisa lagi. Aku nggak mau.”
“Bim..”
“Bagaimanapun, kamu udah menentukan pilhanmu, Ndi. Kamu memilih, kamu ambil beserta segala konsekuensinya.”
“Pilih? Pilihan apa?”
“Kamu tahu lah apa yang aku maksud. Makan dan rasakan itu pilihanmu!”
“Bimo..”suara Andi mulai terdengar seperti rengekan.
“Kalo kamu masi minat untuk tahu : aku nggak pernah benci kamu, aku cuman nggak suka ama pilihan kamu.”
Renita terbelalak mendengar cerita sahabatnya, tak tahu ia harus marah atau gemas pada Andi yang duduk lemas di hadapannya.
“Sudah cukup, Ndi. Berhentilah. Kumohon. Belum cukupkah kamu merusak dirimu sendiri terus-terusan gini? Bimo adalah Bimo, Ndi. Dia tak akan pernah jadi Dimas meski kau terus berusaha memaksakan image-nya pada Bimo. Aku bahkan nggak ngerti kemiripan dari segi apa yang kamu lihat antara Bimo dengan Dimas.”
“Memang Bimo adalah Bimo, Ren. Aku juga tahu itu. Tapi ini udah nggak ada hubungannya lagi ama Dimas. Masa itu udah lama berlalu. Aku tak lagi melihat Dimas di wajah Bimo. Yang kulihat sekarang adalah Bimo. Bimo yang sok lelaki, sok tegar, sok melindungi, sok perhatian meski ia sendiri haus perhatian dan kasih sayang. Ya, ada sejuta kejelekan yang tiada habisnya saat kau berbicara tentang Bimo. Tapi rasanya semua itu tak terlihat lagi. Aku bener-bener sayang Bimo seperti apa adanya dia, komplit dengan segala sifat buruknya.”
“Haduhhh…”
“Dia bilang dia nggak benci aku.”
“Tapi dia juga gak membalas cintamu… Lalu?”