andi duduk gelisah di bangku sebuah restoran prasmanan dengan menu sundaan. berulangkali dia melihat ke arah pintu masuk rumah makan itu. diliriknya layar ponselnya. sudah jam 12 lebih. padahal seharusnya jam setengah 12 acara makan siang bersama itu sudah dimulai. hari itu adalah hari ulang tahun andi dan andi bermaksud mentraktir beberapa sahabat dekatnya. 4 orang temannya sudah hadir, masing-masing menghadapi piring-piring berisi makanan pesanan mereka. bau masakan sungguh menggoda selera. namun tak seorang pun mulai menikmati hidangan. mereka semua menunggu andi. sementara andi masih menanti kehadiran seorang lagi. tak sabar, jari-jari andi bagai menari di atas keypad qwerty ponselnya.
>mas, kamu jadi dateng gak sih? udah ditungguin nih. kasian dah pada laper.
lincah jari-jari andi mengetik pesan lalu segera mengirimkan lewat messenger di ponselnya.
>ya bentar. gi jln. dikit lg
menit-menit terus berlalu. andi makin tak sabar. dipilihnya sebuah nomor telepon lalu ditekannya tombol dial. layar ponsel menampilkan nama : Bimo, disertai foto seorang pria muda tersenyum ramah.
“tuuut….tuuut…..” tak ada reaksi dari nomor yang dituju. andi kembali pada messenger-nya
>mas, kami mulai duluan ya. tar kamu kalo nyampe langsung pesen makanan aja ok?
>ok
andi pun segera mempersilakan tamu-tamunya untuk menyantap hidangan. dipaksakannya dirinya untuk ikut makan meski hatinya terasa gundah.
lepas dari pukul setengah satu siang baru sosok yang ditunggu-tunggu itu tiba. bimo mendekati meja dengan muka sedikit kusut, senyumnya pada semua orang terlihat agak dipaksakan. disalaminya andi dengan sedikit kaku, segera ditariknya kembali tangannya begitu bersentuhan dengan tangan andi. bimo duduk di kursi yang berhadapan dengan andi. andi baru menyadari bahwa sejak tadi kursi di depannya itu kosong, tak seorang pun teman yang lainnya duduk di situ. dia tak henti-hentinya menatap bimo. terakhir mereka bertemu dua bulan yang lalu saat andi mengantarkan bimo berbelanja untuk memperbarui isi lemari pakaiannya. yah, walau mereka tak lagi tinggal di bawah satu atap, entah kenapa bimo masih melakukan hal yang dulu memang biasa mereka jalani. saat ini, dengan bimo duduk dalam jarak kurang dari satu meter darinya, jantung andi berdegup kencang. selalu begini tiap kali dia bertemu lagi dengan bimo. meski ia telah berulang kali berusaha mengubur dalam-dalam rasa sayangnya pada bimo.
pada pertemuan siang itu bimo sedikit sekali berbicara. sesekali dia berbicara pada andi atau menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya, berkali-kali andi mendapati bimo melihat kepadanya dengan pandangan tajam, raut mukanya menunjukkan rasa bosan sementara dua teman andi yang lain asyik berdiskusi tentang wakil rakyat dan tingkah polahnya. tak ada gunanya mencoba lagi mengajak bimo berbicara, dia lebih banyak menjawab dengan bunyi-bunyian yg seperti gumaman. yang bisa andi lakukan hanyalah menyudahi acara hingga semua bisa pergi ke tempat masing-masing.
tapi ternyata tidak begitu, di depan restoran salah seoran teman andi mengusulkan untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. yang lain setuju kecuali seorang yang harus pergi karena ada acara keluarga. bimo terdiam sejenak.
“ikut ya, mas?” andi melihatnya dengan penuh harap.
“ya.’ lirih jawaban bimo.
di dalam mobil, andi duduk bersebelahan dengan bimo. tanpa sadar dia merapat pada bimo. yah, hanya saat seperti inilah yang tersisa baginya untuk merasakan kedekatan dan kehangatan tubuh bimo. bimo diam saja walau pasti ia merasakan bahwa andi mendempel-dempel terus padanya. tatapan matanya lebih lembut kini, tak segarang tadi sewaktu masih di restoran. ia menjawab pertanyaan-pertanyaan bimo dengan suara lembut.
di pusat perbelanjaan, andi nyaris tak pernah bisa jauh dari bimo. tiap kali ada hal yang menarik perhatian bimo, pasti andi ditarik ke sisinya untuk ikut melihat. begitu pula bila bimo hendak membeli sesuatu, hampir selalu andi ada di sampingnya untuk memberi saran atau sekedar untuk berkata,”bagus” pada setiap pilihan bimo. bimo lalu biasanya akan tersenyum lebar dan langsung menyuruh pelayan toko untuk membungkus barang pilihannya. andi dengan senang hati menjadi ’satelit’ bagi orang yang tak bisa juga berhenti dipujanya. andi yang biasanya pemalu dan penakut itu bisa dengan tegarnya bertanya ini-itu pada penjaga toko, menanyakan perihal benda yang akan dibeli bimo.
tapi seperti juga semua mimpi, rasa hangat itu pun memiliki akhir. saat bimo keluar dari mobil di depan rumahnya, andi hanya bisa mengusap punggung bimo sambil memandang wajahnya dengan sedih. berharap ini bukan untuk terakhir kalinya.