dengan marah andi menulis di ponselnya “ah, ternyata omdo lagi ya? ya sutra lah dah bosen digituin mulu. cuman kalu butuh doang emg. capedeeeee X(“. dikliknya tombol ‘update status’. lalu dicampakkannya ponselnya dengan kasar ke atas tempat tidur.
belum lagi 5 menit berlalu, ponselnya berbunyi-bunyi lirih. ada pesan masuk via messenger-nya facebook. dari bimo.
>ndi
andi terpaku melihat layar ponselnya. agak lama baru kemudian diketiknya jawaban.
>napa, bim???
>kamu mau pergi nggak hari ini?
>nggak kayaknya. emang napa?
>aku ke tempatmu ya? sekarang?
>oh
andi terdiam lagi, kemudian melanjutkan mengetik.
>ok. dateng aja
>ok deh aku jalan sekarang.
andi tak menjawab. ia terus menatap layar ponsel. menunggu bimo hilang dari daftar kontak yang sedang online di messenger.
tapi nama bimo terus berada di belakang bulatan hijau.
kira-kira 10 menit kemudian ada pesan masuk lagi dari bimo
>jangan lupa sediain snack yang banyak ya
>ya. emang kamu ni dah berangkat belum sih?
>udah dari tadi. napa?
>oh
andi baru teringat pada BB gemini milik bimo yang dia juga yang bantu untuk mengaktifkan BIS-nya. pantas nama bimo tak hilang juga dari daftar kontak online.
mereka lalu terlibat percakapan seru penuh canda via messenger. sampai mendadak bulatan hijau di depan nama bimo berubah menjadi abu-abu.
“ah, kebiasaan”
andi memaki dalam hati
“offline gak pernah pamit. dodols”
tapi sejenak kemudian andi nyaris terlompat kaget mendengar suara,”ndi.”
bimo telah berdiri di depan pintunya, mulutnya tersenyum lebar, menyapa andi dengan wajahnya yang cerah ceria.
“oh, ya ampun, bim. bikin kaget aja. masuk! masuk!”
kemarahan yang menyala-nyala membakar hatinya dan dilampiaskan lewat update status facebook tadi langsung lumer saat melihat wajah bimo yang tak henti-hentinya tersenyum.
“huah, panas banget.” bimo mengipas-kipaskan selembar kertas sambil menyeka dahinya yang basah. dia melihat-lihat ke sekeliling.
“haus ya, mas? mau teh botol dingin?”
“mau banget dong. haus banget keringetan ampe basah kuyup gini.”
“tar aku beli di warung depan. bentar kok.”
“yee, kirain ada.’
“bentar kok. gapapa. cuman di warungnya ibu kos situ.”
andi berlari keluar setelah menyambar dompetnya, dan segera kembali membawa sebotol teh dan beberapa buah teh gelas dingin.
“buset! banyak amat.”
“katanya tadi haus banget.”
setelah tadi larut dalam candaan via dunia virtual, kini mereka asyik bercengkrama dalam dunia nyata. sebenarnya lebih banyak bimo yang berbicara sementara andi mendengarkan dengan penuh perhatian. namun andi memang tak pernah merasa keberatan akan dominasi bimo dalam berbagai hal. sambil mendengarkan celoteh bimo, andi tak henti-hentinya menatap bimo. melihatnya dari ujung kepala hingga kaki. mengagumi wajahnya yang menurutnya sebenarnya tak tampan namun selalu muncul dalam benaknya. tak terasa waktu jadi berlari begitu cepat. bimo yang menyadari itu ketika melihat jam di ponselnya.
“wah, udah jam 5 lebih. wih, mana mendung banget lagi. aku balik dulu deh ya, ndi. gapapa kan?”
“cepet amat, bim.” andi masih ingin berlama-lama berduaan dengan bimo. saat-saat mereka berdua adalah momen yang menyenangkan bagi andi. menyaksikan betapa lepasnya bimo bergurau dengannya, bercerita sambil tak henti-hentinya tertawa. hal seperti tak terjadi saat ada orang lain. bimo selalu menahan diri dalam kehadiran orang lain di sekitar mereka. bimo terlihat begitu nyaman. dan ini juga membuat andi sangat merasa nyaman, dia tak ingin momen-momen ini berlalu. tapi dia tahu bimo harus kembali. besok mereka akan bekerja lagi. kembali hilang tenggelam dalam kesibukan masing-masing. hingga kerinduan mempersatukan mereka lagi. meski hanya lewat dunia virtual.
