Andi melihat keluar jendela kereta dengan pandangan kosong. Orang-orang, sawah ladang, rumah-rumah berlompatan menjauhi penglihatannya. Dibukanya ponselnya, dicarinya nama ‘Bimo’ dalam daftar pesan masuknya. Nama itu berbaris dari atas ke bawah memenuhi layar ponselnya. Ia membuka pesan terakhir dari Bimo.
“Ati2 ya. Salam buat ayah ibu.”hanya itu yang dikatakan Bimo, entah kenapa Andi membacanya berkali-kali macam orang merapal mantra. Berulang kali jarinya bergerak untuk menekan pilihan ‘reply’, dan sekian kali pula ia mengurungkan niatnya.
“Duh, belum lagi ada 12 jam berpisah kenapa aku udah nggak tahan pengin ngomong ma dia meski sekedar lewat sms.”
Tapi akhirnya hancurlah pertahanannya, jari-jarinya mulai bergerak mengetikkan pesan,”Mas,..” Andi memang selalu menyebut Bimo dengan panggilan ‘mas’ meski usianya lebih tua 2 tahun 8 bulan dibanding Bimo, panggilan yang tak ada hubungannya dengan usia, hanya menunjukkan kecenderungan bagaimana Andi memposisikan diri dalam relasinya dengan Bimo.
“Mas..” hanya 3 huruf itulah yang sanggup diketikkan jari-jari Andi. Menyerah, ditutupnya layar editor pesan singkat dengan terlebih dahulu menekan pilihan ‘save to drafts’.
“Hhhh..”Andi mendesah panjang. Seharusnya ia gembira. Ia akan menghabiskan libur panjang, bertemu kedua orangtuanya, kakaknya, keponakan yang sedang lucu-lucunya. Seharusnya ia merasa senang. Namun benaknya terlampau penuh dengan Bimo hingga rasa senang sepertinya lenyap dalam ketiadaan Bimo di dekatnya.
Ketika kereta akhirnya tiba di kampung halamannya sekitar pukul 5 dini hari, pikirannya tetap tertuju pada Bimo. Tak sabar ia menanti jam segera beranjak ke pukul 8, saat ia tahu Bimo akan masuk kantor dan menyalakan yahoo messenger. Jam 7 pagi kakaknya beserta istri dan anaknya datang. Bermain dengan keponakannya yang lucu membuat angan Andi sejenak terbebas dari bayang Bimo. Tapi sedikit lepas jam 8 seperti ada semacam ‘alarm’ yang mengingatkannya untuk online. Ia pun segera menyambar ponselnya dan menyendiri di kebun belakang rumah, menyalakan yahoo messenger dan login. Yang pertama dilakukannya tentu saja mencari nama Bimo di daftar kontak.
“Hmm, dia belum online..atau paling masih invis. Mending aku off dulu aja deh.”
Tapi belum sempat dia sign out dari messenger sebuah dialog windows muncul, nama Bimo terpampang di atasnya.
>Halo.
>Ya, mas.
>Pagi2 dah OL kamu. Ini liburan tauk. Kok masi OL juga?
>Ya gpp tho. Mang gak boleh?
>Ya kan liburan mustinya abisin waktu ama keluarga. Ini kok malah usreg aja chatting sendiri.
>Hihihi. Biarin. Abis kangen…
>Kangen? Ma sapa?
>Kangen ma mas…hahaha…
Andi terkejut pada dirinya sendiri, entah dari mana dia mendapat keberanian untuk mengatakan itu meski masih dalam suasana bercanda. Bimo agaknya juga terkejut karena ada jeda cukup lama sebelum ia membalas lagi chat itu.
>Halah. Kangen dari hongkong ya?
>Iya. Kangen nih pengen nyaci maki, mukulin, nguyel2 mas. Hehehe…
>Dasar. Kurang ajar kamu. Udah sana maen ma ponakanmu sana. Unyel2 ponakanmu aja.
>Ngga ah. Tar nangis…
>Hah, payah…
Jadilah sepanjang hari itu, nyaris tanpa henti Andi mengobrol secara virtual dengan Bimo.
Menjelang waktu makan malam barulah mereka berpisah.
>Aku off dulu ya, Ndi. Mau pulang. Mam.
>Yawda sana mam dulu. Aku juga mau mam.
Andi kembali dalam kesunyian lepas dari chatting dengan Bimo. Rumahnya kosong kecuali seekor anjing berumur 10 tahun yang terkantuk-kantuk di ruang belakang.
Tapi hari-hari berikutnya Andi tak bisa lagi bercengkrama bersenda gurau bersama ‘mas’-nya melalui messenger karena Bimo juga libur hingga tak memiliki koneksi internet kecuali melalui ponsel. Sayang Bimo bukan tipe yang suka menggunakan mobile internet karena kebetulan operator yang digunakannya menerapkan tarif internet yang cukup mahal. Tapi hal ini tak menghalangi rasa kangen Andi pada Bimo. Maka jadilah sms demi sms terkirim, begitu banyak nyaris tak ubahnya macam dialog via messenger. Banyak di antara sms tersebut hanya berisi gurauan atau bahkan sekedar ‘hahahahihihi’.
Satu siang Andi meng-sms Bimo,
>mas, bisa 3g an gak skrg?
Bimo segera membalas,
>jgn skrg. aq masi di angkot ne. tar 30 menitan lagi mungkin ya
Andi sedikit galau mengetahui Bimo sedang jalan-jalan entah kemana. Sekitar setengah jam kemudian dia mengirim sms lagi.
>gi jjs ya, mas? enaknya….
>ah, cuman ke t4 oom-ku kok. mang ada apa si pake 3g-an sgala?
>aq kangen, mas ![]()
>halah. gk penting bgt deh
>hihihi. ini cmn mau nunjukin kmeja batik pesenan, mas. mau tanya aja udah cocok apa lum ni?
>oo. bilang kek dari tadi. tp di mms-in aja yah? ngak enak nih lagi banyak org
>yahhhh…..
Andi agak kecewa karena sebetulnya ia ingin sekali bertatap muka dengan ‘mas’-nya meski hanya lewat video call. Walau begitu dengan patuh difotonya juga kemeja-kemeja yang terpampang di rak pamer toko dan dikirimnya hasil jepretannya melalui pesan multimedia.
>tuh. diliat dulu ya, mas. aq binun milih yg mana
>yg bagus mana menurutmu?
>yeee. udah dibilangin aq binun juga. gmn si?
>yah, aq percaya ama pilian kamu. udah deh pokoknya pilihin yg keren ya. yg bikin aq keliatan tmbh ganteng. hehehe
>bweeek. huh, kalo tau gitu mah mending aq td da usa nanya aja. payah ni masnya
>hahaha. ya itu kan cuman alasan kamu aja biar bisa sms kan? ![]()
>ge er! oya, di sini ada zippo2 murah gitu. 50rb-an. mau gak?
>bagus gak?
>sepintas si lumayan lah. looks like real metal to me. aq kan gk gitu tau juga ttg zippo
>mms-in juga deh
>yeee, awas ya kalo gak jelas lagi!
>hehehe ![]()
Andi termenung,”Ini mungkin kesempatanku yang terakhir..”
