Category: cerita andi


easter holiday 2009

Andi melihat keluar jendela kereta dengan pandangan kosong. Orang-orang, sawah ladang, rumah-rumah berlompatan menjauhi penglihatannya. Dibukanya ponselnya, dicarinya nama ‘Bimo’ dalam daftar pesan masuknya. Nama itu berbaris dari atas ke bawah memenuhi layar ponselnya. Ia membuka pesan terakhir dari Bimo.
“Ati2 ya. Salam buat ayah ibu.”hanya itu yang dikatakan Bimo, entah kenapa Andi membacanya berkali-kali macam orang merapal mantra. Berulang kali jarinya bergerak untuk menekan pilihan ‘reply’, dan sekian kali pula ia mengurungkan niatnya.
“Duh, belum lagi ada 12 jam berpisah kenapa aku udah nggak tahan pengin ngomong ma dia meski sekedar lewat sms.”
Tapi akhirnya hancurlah pertahanannya, jari-jarinya mulai bergerak mengetikkan pesan,”Mas,..” Andi memang selalu menyebut Bimo dengan panggilan ‘mas’ meski usianya lebih tua 2 tahun 8 bulan dibanding Bimo, panggilan yang tak ada hubungannya dengan usia, hanya menunjukkan kecenderungan bagaimana Andi memposisikan diri dalam relasinya dengan Bimo.
“Mas..” hanya 3 huruf itulah yang sanggup diketikkan jari-jari Andi. Menyerah, ditutupnya layar editor pesan singkat dengan terlebih dahulu menekan pilihan ‘save to drafts’.
“Hhhh..”Andi mendesah panjang. Seharusnya ia gembira. Ia akan menghabiskan libur panjang, bertemu kedua orangtuanya, kakaknya, keponakan yang sedang lucu-lucunya. Seharusnya ia merasa senang. Namun benaknya terlampau penuh dengan Bimo hingga rasa senang sepertinya lenyap dalam ketiadaan Bimo di dekatnya.
Ketika kereta akhirnya tiba di kampung halamannya sekitar pukul 5 dini hari, pikirannya tetap tertuju pada Bimo. Tak sabar ia menanti jam segera beranjak ke pukul 8, saat ia tahu Bimo akan masuk kantor dan menyalakan yahoo messenger. Jam 7 pagi kakaknya beserta istri dan anaknya datang. Bermain dengan keponakannya yang lucu membuat angan Andi sejenak terbebas dari bayang Bimo. Tapi sedikit lepas jam 8 seperti ada semacam ‘alarm’ yang mengingatkannya untuk online. Ia pun segera menyambar ponselnya dan menyendiri di kebun belakang rumah, menyalakan yahoo messenger dan login. Yang pertama dilakukannya tentu saja mencari nama Bimo di daftar kontak.
“Hmm, dia belum online..atau paling masih invis. Mending aku off dulu aja deh.”
Tapi belum sempat dia sign out dari messenger sebuah dialog windows muncul, nama Bimo terpampang di atasnya.
>Halo.
>Ya, mas.
>Pagi2 dah OL kamu. Ini liburan tauk. Kok masi OL juga?
>Ya gpp tho. Mang gak boleh?
>Ya kan liburan mustinya abisin waktu ama keluarga. Ini kok malah usreg aja chatting sendiri.
>Hihihi. Biarin. Abis kangen…
>Kangen? Ma sapa?
>Kangen ma mas…hahaha…
Andi terkejut pada dirinya sendiri, entah dari mana dia mendapat keberanian untuk mengatakan itu meski masih dalam suasana bercanda. Bimo agaknya juga terkejut karena ada jeda cukup lama sebelum ia membalas lagi chat itu.
>Halah. Kangen dari hongkong ya?
>Iya. Kangen nih pengen nyaci maki, mukulin, nguyel2 mas. Hehehe…
>Dasar. Kurang ajar kamu. Udah sana maen ma ponakanmu sana. Unyel2 ponakanmu aja.
>Ngga ah. Tar nangis…
>Hah, payah…
Jadilah sepanjang hari itu, nyaris tanpa henti Andi mengobrol secara virtual dengan Bimo.

Menjelang waktu makan malam barulah mereka berpisah.
>Aku off dulu ya, Ndi. Mau pulang. Mam.
>Yawda sana mam dulu. Aku juga mau mam.
Andi kembali dalam kesunyian lepas dari chatting dengan Bimo. Rumahnya kosong kecuali seekor anjing berumur 10 tahun yang terkantuk-kantuk di ruang belakang.

Tapi hari-hari berikutnya Andi tak bisa lagi bercengkrama bersenda gurau bersama ‘mas’-nya melalui messenger karena Bimo juga libur hingga tak memiliki koneksi internet kecuali melalui ponsel. Sayang Bimo bukan tipe yang suka menggunakan mobile internet karena kebetulan operator yang digunakannya menerapkan tarif internet yang cukup mahal. Tapi hal ini tak menghalangi rasa kangen Andi pada Bimo. Maka jadilah sms demi sms terkirim, begitu banyak nyaris tak ubahnya macam dialog via messenger. Banyak di antara sms tersebut hanya berisi gurauan atau bahkan sekedar ‘hahahahihihi’.
Satu siang Andi meng-sms Bimo,
>mas, bisa 3g an gak skrg?
Bimo segera membalas,
>jgn skrg. aq masi di angkot ne. tar 30 menitan lagi mungkin ya
Andi sedikit galau mengetahui Bimo sedang jalan-jalan entah kemana. Sekitar setengah jam kemudian dia mengirim sms lagi.
>gi jjs ya, mas? enaknya….
>ah, cuman ke t4 oom-ku kok. mang ada apa si pake 3g-an sgala?
>aq kangen, mas :D
>halah. gk penting bgt deh
>hihihi. ini cmn mau nunjukin kmeja batik pesenan, mas. mau tanya aja udah cocok apa lum ni?
>oo. bilang kek dari tadi. tp di mms-in aja yah? ngak enak nih lagi banyak org
>yahhhh…..
Andi agak kecewa karena sebetulnya ia ingin sekali bertatap muka dengan ‘mas’-nya meski hanya lewat video call. Walau begitu dengan patuh difotonya juga kemeja-kemeja yang terpampang di rak pamer toko dan dikirimnya hasil jepretannya melalui pesan multimedia.
>tuh. diliat dulu ya, mas. aq binun milih yg mana
>yg bagus mana menurutmu?
>yeee. udah dibilangin aq binun juga. gmn si?
>yah, aq percaya ama pilian kamu. udah deh pokoknya pilihin yg keren ya. yg bikin aq keliatan tmbh ganteng. hehehe
>bweeek. huh, kalo tau gitu mah mending aq td da usa nanya aja. payah ni masnya
>hahaha. ya itu kan cuman alasan kamu aja biar bisa sms kan? :P
>ge er! oya, di sini ada zippo2 murah gitu. 50rb-an. mau gak?
>bagus gak?
>sepintas si lumayan lah. looks like real metal to me. aq kan gk gitu tau juga ttg zippo
>mms-in juga deh
>yeee, awas ya kalo gak jelas lagi!
>hehehe :P
Andi termenung,”Ini mungkin kesempatanku yang terakhir..”

nggak peduli

“Aku nggak peduli pada apapun yang nggak ada hubungannya dengan hidupku. Terserah kamu mau memandang bagaimana padaku. Aku nggak peduli penilaianmu atasku.”
“Tapi, Bim, kita kan bisa selalu berusaha untuk jadi lebih baik lagi.”
“Terserah kalo kamu itu maumu. Aku nggak bisa lagi. Aku nggak mau.”
“Bim..”
“Bagaimanapun, kamu udah menentukan pilhanmu, Ndi. Kamu memilih, kamu ambil beserta segala konsekuensinya.”
“Pilih? Pilihan apa?”
“Kamu tahu lah apa yang aku maksud. Makan dan rasakan itu pilihanmu!”
“Bimo..”suara Andi mulai terdengar seperti rengekan.
“Kalo kamu masi minat untuk tahu : aku nggak pernah benci kamu, aku cuman nggak suka ama pilihan kamu.”

Renita terbelalak mendengar cerita sahabatnya, tak tahu ia harus marah atau gemas pada Andi yang duduk lemas di hadapannya.
“Sudah cukup, Ndi. Berhentilah. Kumohon. Belum cukupkah kamu merusak dirimu sendiri terus-terusan gini? Bimo adalah Bimo, Ndi. Dia tak akan pernah jadi Dimas meski kau terus berusaha memaksakan image-nya pada Bimo. Aku bahkan nggak ngerti kemiripan dari segi apa yang kamu lihat antara Bimo dengan Dimas.”
“Memang Bimo adalah Bimo, Ren. Aku juga tahu itu. Tapi ini udah nggak ada hubungannya lagi ama Dimas. Masa itu udah lama berlalu. Aku tak lagi melihat Dimas di wajah Bimo. Yang kulihat sekarang adalah Bimo. Bimo yang sok lelaki, sok tegar, sok melindungi, sok perhatian meski ia sendiri haus perhatian dan kasih sayang. Ya, ada sejuta kejelekan yang tiada habisnya saat kau berbicara tentang Bimo. Tapi rasanya semua itu tak terlihat lagi. Aku bener-bener sayang Bimo seperti apa adanya dia, komplit dengan segala sifat buruknya.”
“Haduhhh…”
“Dia bilang dia nggak benci aku.”
“Tapi dia juga gak membalas cintamu… Lalu?”

ternyata tahu

Agak terkejut aku juga ketika baru-baru ini aku berbicara dengan seorang teman masa kuliah dulu lewat ruang bercakap virtual Yahoo messenger.
>”Dimas? Anak universitas ABC itu kan? Yang sering dateng ke kampus jemput kamu pake starlet ato apa ya, pokoknya mobil sedan agak kecil gitu kan?” tanya Veronica teman lamaku itu.
>”Eh..kok kamu tau?”
>”Tahu apa?”
>”Eee..”
>”Dimas? Haduh, kayaknya smua anak di kampus tau deh.”
>”Hah? Masa?”
>”Sori ya, Ndi. Bukannya napa-napa si tapi semua anak kampus kita tau deh kalo kamu sering pergi ama Dimas.”
>”Gitu ya…” aku tercenung. Bodohnya selama ini aku mengira teman-teman kampusku tahunya bahwa Dimas adalah suami Sekar.
>”Anak-anak suka becanda gitu bilang kalo lu ama Dimas pacaran. Abis sering banget kalian pergi berduaan, sampe liburan ke Bali aja berdua.”
>”Oh my God! Mereka juga tau tentang itu!” teriakku panik dalam hati.
>”Hahaha. Tapi ya cuman bercanda kok, Ndi. Toh smua orang tau Dimas akhirnya menikah ama Sekar.”
>”Hehehe. Iya..iya…” aku mencoba untuk tetap terdengar santai. Toh masih ada rasa cemas mengganjal dalam hatiku yang tak bisa kusingkirkan. Semacam rasa takut. Takut akan terbongkarnya rahasia besarku.

Dia memang beda

“Hey, Ndi, aku dah baca e-mail-mu yang kemaren.”
“Hah? E-mail yang mana?”
“Sisi lain Arjuna-mu.” Renita terkikik pelan.
“Oh..”
“Yah, kurasa udah jelas lah. Bimo-mu bukan orang yang ‘biasa’. Dia berbeda. Dia bukan sekedar citra cowo stereotip yang selama ini dia berusaha gembar-gemborkan pada dunia. Citra cowo macho nan tangguh. Pujaanmu ini punya ‘sisi lain’ yang sepertinya ia tidak ingin sembarang orang tahu.”
“Ya ya. Kamu nggak perlu meyakinkanku lagi tentang itu, Ren.”
“Aku yakin itu. Aku cuma seneng aja menyebutnya lagi. Seneng banget bisa bilang ke kamu ‘nah, kan? Apa kubilang?’ ” Renita terkikik lagi.
“Hhhh…”
“Masih inget kan ‘Blueberry nights’? Kalian berdua hingga lewat jam 1 malam?” senyum lebar sepertinya tak mau beranjak dari wajah Renita.
“Ah, udah deh, Ren. Jangan sebut-sebut itu lagi. Aku…”
“Andai aja ada cermin kamu bisa liat betapa merahnya mukamu sekarang.”
“Oke. Oke. Aku tahu apa yang kamu tunggu. Aku sayang dia. Bener-bener sayang. Aku akui itu. Puas? Lalu apa ada yang berubah?”
“Setidaknya ini satu langkah buatmu. Kamu mengaku pada dirimu sendiri. Kamu menerima apa yang kamu rasa. Masalah Bimo bisa menerima itu lalu membalasnya adalah perkara lain.”

Ancur-ancuran

“Dia bilang : Sorry aja ya. Kalo ama aku, siap-siap aja ancur-ancuran. Gitu, Ren.”
“Bimo bilang gitu ma kamu?”
“Yup.”
“…”
“Kenapa gitu, Ren? Aneh ya?”
“Nggak tau juga. Cuman…” Renita terkikik pelan.
“Apanya yang lucu? Ihh kamu ni.” Andi sedikit kesal karena tak mengerti di mana letak kelucuannya.
“Nggak pa-pa. Selamat aja ya, Ndi. Kamu dan Bimo naik kelas. Hubungan kalian memasuki babak baru agaknya.”
“Hush! Jangan kumat ngawur deh, Ren.”
“Abis aku mulai agak bosen deh denger rengekanmu tiap kali kalian berantem. Kayaknya kalian makin sering berantem, ya? Cuman ngobrol via ym aja ampe berantem. Ampun dah! Mau kamu akui ato nggak kalian tu kayak sepasang kekasih yang udah kelamaan pacaran lalu saking merasa kenalnya satu sama lain jadi suka saling menyerang kelemahan masing-masing.”
“Yee. Biasa aja ah. Ama temen-temen yang lain juga gitu kali.”
“Boong. Ama abangmu sendiri aja kamu nggak pernah seterbuka itu.”
“Aku terbuka kok ama kamu.” Andi tersenyum penuh kemenangan.
“Yah, memang kamu selalu lebih gampang terbuka ama temen cewek kan? Akui aja. Ama cowok, kamu mana ada temen yang sedeket itu? Jadi keterbukaan di antara kita nggak bisa dianggep.” Renita tak mau kalah.
“Bhuuu.”Andi mengerucutkan bibirnya, kesal tak tahu harus membalas apa.
“Nggak usah susah-susah deh, Ndi. Buka aja ym kamu, liat daftar contacts-nya. Siapa cowo yang paling sering ym-an ma kamu?”
“Euh, yang pasti Bimo..lalu Deni, ada Rino…kadang-kadang abangku.”
“Abangmu langsung coret aja. Ama Deni kamu biasa ngomongin apa? Palingan juga gak pernah jauh dari masalah gadgets kan? Rino juga sama aja.”
“Iya sih. Tapi ama Bimo juga suka ngomongin gadgets kok.”
“Ya. Tapi sebagai selingan, bukan menu utama. Kalian kan lebih sering saling bertanya : lagi ngapain? dah makan belum? tar malem makan apa ya? dan baanyak masalah-masalah pribadi lainnya.”
“Aku rasa itu biasa aja deh. Kamu terlalu mendramatisir, Ren. Toh kebanyakan hanya masalah sepele sehari-hari.”
Renita tersenyum penuh arti,”Kurasa kamu sendiri ngerti kok sampe sebatas mana semua itu. Aku cuman menganalisa dari sudut pandang orang ketiga yang bahkan nggak akrab ama Bimo-mu.”
“Nggak ngerti deh maksud kamu apa, Ren. Apa yang aku lakukan selama ini salah? Aku dan Bimo udah kelewat batas? Aku harus kurangi kuantitas dan kualitas percakapanku dengan Bimo?”
“Mana aku tahu. Kan kamu sendiri yang tahu apa yang kamu inginkan dari hubungan itu, mau kamu bawa ke arah mana hubungan itu.”
“Aku nggak…aku nggak tahu, Ren. Bener-bener nggak tahu. Aku bahkan nggak tahu apakah ini adalah awal dari satu babak baru atau awal dari suatu akhir hubungan. Di satu sisi kamu memang benar, kami mungkin telah begitu merasa saling tahu satu sama lain sering hanya dengan berpandangan kami tahu apa yang ingin dikatakan. Satu kata atau sebuah gerakan kecil dariku membuatnya tahu aku sedang marah, sedih, atau lainnya.”
“Ck..ck..ck. Parah kalian ini.”
“Tapi di sisi lain rasa saling mengerti ini juga yang membuat kami makin mudah saling menyakiti. Makin lama makin tak tertahankan. Bimo sepertinya tak sungkan lagi menyerangku dengan berbagai cara dan kata. Ia tahu pasti apa yang bakal bikin aku dongkol, marah ataupun sedih.”
“Masa sih? Bukannya itu satu bukti perhatiannya padamu?”
“Perhatian kok bentuknya negatif? Bhuu..”
“Sumberku berkata lain : kalian sering banget berduaan, dan saat hanya berduaan dan berhadapan langsung, maksudku bukan via ym atau sms atau yang lain, kalian cenderung lebih tenang, tidak saling menyerang seperti bila sedang bersama orang-orang lain atau saat kalian hanya bertemu secara virtual. Kalian lebih ekspresif saling menunjukkan perhatian bila sedang berdua saja.”
“Sumber katamu? Paling juga Deni kan yang kamu maksud? Dasar mata-mata berlidah cabang dia.”
“Hahaha..”
“Sumbermu ngaco tuh….Bimo perhatian padaku hanya bila ia sedang iseng ingin menjahiliku.”
“Ah, masa?”
“Terserah!”
“Yakin?”
“Hhhh…”
“Hahaha..”

Petak umpet

>hoi! Ndi?
>
>
>ya. ya? Napa, Bim?
>invis lagi kamu.
>hehe. biasa sok sibuk. namanya juga jam kantor.
>halah. boong!
>beneran lg bnyk kejaan tau!
>ngapain sih kamu?
>ngapain kenapa?
>kamu itu! kayak maen petak umpet aja
>petak umpet? ma sapa? ngaco ah
>iya udah ngaku aja deh. Kyk anak kecil aja pake maen sembunyi2an gini
>sapa maen sembunyi2an? di mana2 tu ya kalo maen petak umpet tu ada musuhnya. lha orang aku aja gak punya lawan maen juga. aneh kamu
>kebanyakan alasan kamu. aku tau kok napa kamu invis. aku tau kamu menghindari sapa. bilang aja napa sih,Ndi? susah banget ya ngomong?
>kamu bicara apa sih, Bim? ngelantur ya? lagian gak ada hubungannya ma kamu. ge er kamu!
>argh, ya udah ah! tauk deh! bikin sinting ngomong ma kamu, Ndi.
>
>
>
Andi menatap layar komputer yang memampangkan window percakapan virtual. Matanya terasa panas dan lembab.

Une chanson française

“Hehe, aku dah punya lagu barunya anggun yang versi perancisnya.”
“Aaa! Bluetooth! Bluetooth!”
“Nanti dulu. Aku pamer dulu dong.” Bimo tersenyum nakal sambil memutar lagu itu di ponselnya.
“Nemu di mana kamu? Download illegal mp3 lagi ya?”
“Ada dehhh… Mau tau aja. Yang penting kan kamu dapet.”
Andi cuma bisa manyun dengan tak sabar. Sambil mendengar lagu yang diputar di ponsel Bimo, khayalan-khayalan indah berkelibasan dalam benaknya. Bimo mulai lagi mendownload lagu-lagu untuknya. Sikap Bimo akhir-akhir ini juga jauh berubah dibanding awal-awal hubungan mereka. Dulu Bimo banyak menempatkan diri sebagai sebagai adik kecil yang menanti kakaknya bertindak. Bila mereka bepergian berdua Andi yang lebih sering ‘maju’ terlebih dahulu meski yang punya keperluan adalah Bimo sekalipun. Kini hal itu agaknya berbalik. Bimo jadi lebih melindungi. Andi makin merasa nyaman di dekat Bimo. Namun di sisi lain ia juga makin merasa waswas karena frekuensi pertengkaran di antara mereka pun bertambah. Antara rasa dekat dengan kesal makin mudah berganti-ganti.
“Hhhh..seandainya…” lamun Andi sambil tersenyum-senyum sendiri.

>pulang!pulang!
>yoo
>aku pulang dulu ya
>y ud cepetan. aq dah di rmh dr td

Tak membutuhkan waktu lama bagi Andi untuk menunggu Bimo karena kurang dari setengah jam kemudian Bimo sudah berdiri di ambang pintu kamar kostnya, tersenyum lebar begitu cerah.
“Kenapa si kamu?”
“Aku kenapa?”
“Senyum-senyum jelek gitu? Proyek ada yg cair lagi ya?”
“Nggak kok. Nggak napa-napa.” Bimo terus tersenyum lebar sambil melepas sepatunya di luar kamar.
“Nggak mungkin de gak ada apa-apa. Kamu ceria banget sore ini.”
Bimo tak menyahut kata-kata Andi. Dia memilih duduk di tepi ranjang dan menghidupkan televisi, menonton acara sinetron kesukaannya.
“Laper nih. Makan yuk.”
“Tar dulu lah. Ambil napas dulu. Aku juga belum mandi.”
“Mandi ntar aja abis mam.”
“Ogah ah. Gak nyaman aja rasanya.” Bimo mengatur bantal-bantal kemudian merebahkan diri di ranjang.
“Kok malah tiduran? Tar kebablasan deh pasti.” Andi bersungut sementara menyibukkan diri dengan setumpuk koran yang sudah kusut.
“Nggak mungkin tidur juga. Ada kamu.” Bimo tersenyum nakal dengan wajah ngantuknya. Andi cuma bisa membalas dengan tatapan galak. Ia tahu percuma mencoba berdebat dengan Bimo.
Tapi untuk masalah makan malam lain lagi persoalannya. Satu perdebatan kecil adalah semacam ritual yang harus dilakukan sebelum makan malam. Malam itu diskusi mereka menghasilkan pemilihan soto sebagai menu.
Andi dan Bimo menikmati makan malam mereka dengan santai. Usai melahap habis soto yang terhidang mereka tak juga beranjak dari warung makan itu. Entah kenapa kali ini Bimo berlama-lama saat mereka makan berdua saja. Memang mereka selalu ngobrol ngalor ngidul ketika makan bareng, maupun pada kesempatan-kesempatan bersama yang lain,tapi biasanya tak selama ini.Dari warung makan pun mereka tak langsung kembali, Andi dan Bimo mampir dulu ke satu mini market di dekat situ. Beberapa kali Andi mendapati Bimo melamun di antara rak-rak penuh barang kebutuhan sehari-hari.
“Cari apa sih, Bim?”
“Oh, enggak kok. Aduh, nggak tau. Aku juga lupa. Hehe.”
“Aneh. Dasar gak mutu. Dicatet dulu dong makanya.”
“Bukan gitu. Toh aku tahu xang aku cari gak ada di rak-rak ini.”
Andi menatap mata Bimo dalam-dalam. . .

Hujan rintik-rintik menghantui kota metropolitan yang penuh sesak dengan manusia itu. Meski sekedar titik-titik air kecil namun sudah jauh lebih dari cukup untuk membuat jalanan kram oleh kemacetan. Saat itu sore hari, semua orang berlomba untuk segera tiba di rumah masing-masing. Biasanya Andi sudah pasti bakal memaki-maki dalam hati. Ia berdiri di dalam bus kota yang sedari tadi tak bergerak terperangkap di antara lautan kendaraan. Kakinya terasa makin sakit digigiti nyeri yang menggila. Tapi tidak, Andi tak mengeluh kali ini. Ia tersenyum samar. Mp3 player memainkan lagu ‘Believe again’ oleh Delta Goodrem.

Have you ever stared into the rain
Thought the clouds would never disappear
Have you ever screamed out into the dark
Thinking no one else could hear
I was leaving footprints tainted by my past
On this winding road to you
I’d lost my faith in love
Tonight I believe again
My Heart was a broken place
Now I feel whole again
You bring me honesty
And that’s worth believing in
and I believe
I believe again
Have you ever spun out of control
Like you never saw the road ahead
Have you ever just kept looking back
Ever closer to the edge
I was praying for the light I see in your eyes
I had all but given up
I’d lost my faith in love
Tonight I believe again
My Heart was a broken place
Now I feel whole again
You bring me honesty
And that’s worth believing in
and I believe
I believe again
I believe the impossible is possible to overcome
I believe in miracles
Born from love in everyone
I’d lost my faith in love
Tonight I believe again
My Heart was a broken place
Now I feel whole again
You bring me honesty
And that’s worth believing in
and I believe
I believe again

Matanya tertuju pada layar ponsel dalam genggamannya. Layar ber-resolusi 240×320 pixels itu menampilkan percakapan virtual via yahoo messenger antara Andi dengan Bimo.
>macet bgt niy. Mn bdiri lg d bis.
>haha. Enak kan? Rasain lu. Makanya beli motor donk.
>dan nambah2in kesemrawutan ini? Ogahhhhh
>ya udah. Klu gtu gak usah ngeluh. Nikmatin aja.
>iy de. Terserah. Huhuh.
Dialog kecil mereka yang penuh kalimat-kalimat tanpa arti sedikit menghibur Andi sore itu. Bahkan ketika bis yang dinaikinya memutuskan untuk masuk ke jalan tol.
Satu ‘keparat’ sempat terucap secara spontan, tapi ia segera kembali tersenyum dan kembali memandangi layar ponselnya. Nyaris tak sadar ketika kernet bus berteriak-teriak,’Pancoran! Pancoran turun sini!.” Ah, rupanya bis itu menepi di dekat turunan keluar tol Pancoran. Satu hal yang sangat berresiko karena biasanya ada mobil polisi berjaga di dekat situ. Dengan panik Andi menembus orang-orang, dengan berkali berujar,”Maaf.” dia menubruk semua yang menghalanginya menuju pintu keluar bus.
Ah, akhirnya berhasil juga dia melepaskan diri dari bus yang sesak macam kaleng sarden itu.

Langit makin gelap. Suara adzan maghrib berkumandang samar di balik gang-gang yang dilalui Andi menuju ke tempat kostnya.
>aku sholat dl ya
>ok deh. Dikit lagi aq pe rmh
Sesampainya di kost, Andi buru-buru mandi sebelum kembali menghadapi layar ponselnya yang mulai terkuras baterainya. Ia masih hanyut berbalasan kata dengan Bimo. Kata-kata yang mereka berdua sama-sama tahu tak bermakna. Andi melirik ke jam meja di dekatnya. 18.36.
>dah stgh 7 lwat lho
>mang napa?
>dah mam lum?
>belum lah. Tar dikit lagi
>oh

Ketika Bimo akhirnya tiba, Andi melihat sesuatu yang aneh. Secercah cahaya di matanya. Senyum lebar mengembang mencerahkan orang yang melihatnya. Akhir-akhir ini Bimo makin ceria. Nyaris tiap kali mereka beradu mata ada senyum di wajah itu.
“Ah, Bimo, betapa inginnya aku memelukmu saat ini. Andai kita bisa begini selamanya. Aku…melihatmu tiap hari..seumur hidup kita.” Andi berusaha menahan air mata yang mendesak keluar untuk berjatuhan membasahi pipi.

Andi duduk diam terpaku. Di wajahnya sama sekali tak tersirat rasa gembira secercah pun. Tiada senyum meski di sampingnya duduk Bimo yang sangat dipujanya. Es teh manis yang tinggal setumpuk es batu makin merana diaduk-aduk gelisah. Aroma asap rokok yang disemburkan Bimo membuat napsu makan Andi lenyap. Aneh. Padahal dulu dia tak pernah sedikit pun merasa terganggu dengan aroma kuat rokok yang berpadu dengan bau tubuh Bimo. Kini hanya bau samar pun membuat Andi sakit kepala dan mual. Nasi goreng dalam piring dihadapannya tak kunjung ludes.
“Kenapa? Nasi gorengnya nggak enak?” sedikit tak acuh Bimo bertanya.
“Nggak juga. Biasa aja kok. Cuman ternyata aku gak selapar yang kukira.’
“Hmm.” Bimo menghembuskan rokoknya lagi sambil melihat keluar warung.
“Tidak. Aku nggak membenci orang ini. Mana mungkin aku membenci pujaanku sendiri. Tapi…” benak Andi penuh dengan kalimat yang saling kontradiksi, bertarung memperebutkan supremasi atas kesadarannya. Andi mencoba mengalihkan kebingungannya dengan membaca berita dari situs portal berita melalui ponselnya.
“Lagi buka detik ya?” Bimo merapat pada Andi. Hembus napas sobatnya itu makin membuat Andi tersiksa.
“Pinjem dong mau liat hasil F1 kemaren.”
Andi menyerahkan ponselnya sambil menatap Bimo dalam-dalam. Tak ada yang berubah pada Bimo : rambutnya yang ikal sedikit berantakan, wajahnya terkesan agak rusuh karena berewok dan jenggot yang sudah 3 harian belum dicukur. Bimo memang bukan seorang tipe pria metroseksual meski kadang dia terlihat berusaha untuk tampil ekstra rapi, terutama saat dia harus berhadapan dengan klien perusahaan tempat dia bekerja. Tapi di mata Andi Bimo adalah satu contoh spesimen pria sejati yang sesungguhnya lengkap dengan segudang kejelekan stereotip seorang laki-laki pada umumnya.
Dari tingkah laku pun tidak ada yang berubah pada Bimo. Bimo tetap suka tertawa keras-keras, berbicara maupun menelpon dengan suara yang terdengar dari seluruh penjuru rumah, berganti-ganti antara cuek dan penuh perhatian secara dramatis dll. Nggak. Sama sekali nggak ada yang berubah.
“Akukah yang berubah? Aku berusaha untuk nggak peduli, menarik diri. Ah, itu dia! Dia sedikit menahan diri. Tapi itu pun mungkin karena sikapku yang agak dingin padanya akhir-akhir ini.”
“Kenapa sih, Ndi?” teguran Bimo membuyarkan segala keruwetan yang berkecamuk di angan Andi.
“Nggak mungkin aku bilang kenapa ama kamu. Kamulah penyebab semua ini.” keluh Andi dalam hati.

Aku tahu kamu samasekali nggak percaya tentang hal ini
aku sendiri pun nggak percaya
aku tahu kami memang banyak
berbicara
bercengkrama
curhat
pacaran
apapun deh istilah yang mau kamu pake
tapi tentang ‘janji-janji’ itu, kebetulan-kebetulan yg menarik itu
itu semua terjadi begitu adanya
tanpa maksud atau prasangka
toh aku sendiri pun tidak percaya ada apa-apa di antara kami
(bukannya mau ngotot menunjukkan bahwa hati kami saling bertaut)
ya, tak ada apa-apa
sekedar saling pengertian mungkin
pengertian yang didapat dari berbagi lewat tukar kata
seperti sudah kubilang : kami memang banyak berbicara
sedikit banyak pengertian pun muncul di antara kami
sedikit aneh memang mengingat hubungan kami yang macam angin berubah-ubah arah dan kecepatan selalu
kamu mungkin jadi berpikir kedekatan kami sedemikian eratnya hingga kami seperti bisa saling berbicara tanpa kata-kata
salah besar
aku tetap merasa asing dan jauh darinya sebagaimanapun kami saling membaca benak masing-masing
(ku masih juga tertohok tiap kali dia menunjukkan betapa dia mengerti jalanku berpikir)
bagaimanapun dia akan tetap jadi orang asing
Aku dan dia

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.