Category: cerita


nggak peduli

“Aku nggak peduli pada apapun yang nggak ada hubungannya dengan hidupku. Terserah kamu mau memandang bagaimana padaku. Aku nggak peduli penilaianmu atasku.”
“Tapi, Bim, kita kan bisa selalu berusaha untuk jadi lebih baik lagi.”
“Terserah kalo kamu itu maumu. Aku nggak bisa lagi. Aku nggak mau.”
“Bim..”
“Bagaimanapun, kamu udah menentukan pilhanmu, Ndi. Kamu memilih, kamu ambil beserta segala konsekuensinya.”
“Pilih? Pilihan apa?”
“Kamu tahu lah apa yang aku maksud. Makan dan rasakan itu pilihanmu!”
“Bimo..”suara Andi mulai terdengar seperti rengekan.
“Kalo kamu masi minat untuk tahu : aku nggak pernah benci kamu, aku cuman nggak suka ama pilihan kamu.”

Renita terbelalak mendengar cerita sahabatnya, tak tahu ia harus marah atau gemas pada Andi yang duduk lemas di hadapannya.
“Sudah cukup, Ndi. Berhentilah. Kumohon. Belum cukupkah kamu merusak dirimu sendiri terus-terusan gini? Bimo adalah Bimo, Ndi. Dia tak akan pernah jadi Dimas meski kau terus berusaha memaksakan image-nya pada Bimo. Aku bahkan nggak ngerti kemiripan dari segi apa yang kamu lihat antara Bimo dengan Dimas.”
“Memang Bimo adalah Bimo, Ren. Aku juga tahu itu. Tapi ini udah nggak ada hubungannya lagi ama Dimas. Masa itu udah lama berlalu. Aku tak lagi melihat Dimas di wajah Bimo. Yang kulihat sekarang adalah Bimo. Bimo yang sok lelaki, sok tegar, sok melindungi, sok perhatian meski ia sendiri haus perhatian dan kasih sayang. Ya, ada sejuta kejelekan yang tiada habisnya saat kau berbicara tentang Bimo. Tapi rasanya semua itu tak terlihat lagi. Aku bener-bener sayang Bimo seperti apa adanya dia, komplit dengan segala sifat buruknya.”
“Haduhhh…”
“Dia bilang dia nggak benci aku.”
“Tapi dia juga gak membalas cintamu… Lalu?”

ternyata tahu

Agak terkejut aku juga ketika baru-baru ini aku berbicara dengan seorang teman masa kuliah dulu lewat ruang bercakap virtual Yahoo messenger.
>”Dimas? Anak universitas ABC itu kan? Yang sering dateng ke kampus jemput kamu pake starlet ato apa ya, pokoknya mobil sedan agak kecil gitu kan?” tanya Veronica teman lamaku itu.
>”Eh..kok kamu tau?”
>”Tahu apa?”
>”Eee..”
>”Dimas? Haduh, kayaknya smua anak di kampus tau deh.”
>”Hah? Masa?”
>”Sori ya, Ndi. Bukannya napa-napa si tapi semua anak kampus kita tau deh kalo kamu sering pergi ama Dimas.”
>”Gitu ya…” aku tercenung. Bodohnya selama ini aku mengira teman-teman kampusku tahunya bahwa Dimas adalah suami Sekar.
>”Anak-anak suka becanda gitu bilang kalo lu ama Dimas pacaran. Abis sering banget kalian pergi berduaan, sampe liburan ke Bali aja berdua.”
>”Oh my God! Mereka juga tau tentang itu!” teriakku panik dalam hati.
>”Hahaha. Tapi ya cuman bercanda kok, Ndi. Toh smua orang tau Dimas akhirnya menikah ama Sekar.”
>”Hehehe. Iya..iya…” aku mencoba untuk tetap terdengar santai. Toh masih ada rasa cemas mengganjal dalam hatiku yang tak bisa kusingkirkan. Semacam rasa takut. Takut akan terbongkarnya rahasia besarku.

someones’

He’s cute. He’s kind. He’s caring. His smiles melt me everytime. He’s so easy to love. Yet, he’s someones’ husband.

muter2

>>udah berapa kali sih aq bilang, ndi
>>apaan? nggak ngerti aq kmu ngmgin apa
>>ngomong ya ngomong aja
>>hah?
>>bisa gak sih sekali2 str8 to the point?
>>maksudmu apa, bim?
>>tiap kali ngomong selalu muter-muter dulu, mbulet gak karuan
>>sapa? aku? ngomongin apa?
>>ngomong langsung aja apa sih susahnya?
>>emangnya aku mau ngomongin apa sih, bim?
>>hhhhhh…terserah deh

Dia memang beda

“Hey, Ndi, aku dah baca e-mail-mu yang kemaren.”
“Hah? E-mail yang mana?”
“Sisi lain Arjuna-mu.” Renita terkikik pelan.
“Oh..”
“Yah, kurasa udah jelas lah. Bimo-mu bukan orang yang ‘biasa’. Dia berbeda. Dia bukan sekedar citra cowo stereotip yang selama ini dia berusaha gembar-gemborkan pada dunia. Citra cowo macho nan tangguh. Pujaanmu ini punya ‘sisi lain’ yang sepertinya ia tidak ingin sembarang orang tahu.”
“Ya ya. Kamu nggak perlu meyakinkanku lagi tentang itu, Ren.”
“Aku yakin itu. Aku cuma seneng aja menyebutnya lagi. Seneng banget bisa bilang ke kamu ‘nah, kan? Apa kubilang?’ ” Renita terkikik lagi.
“Hhhh…”
“Masih inget kan ‘Blueberry nights’? Kalian berdua hingga lewat jam 1 malam?” senyum lebar sepertinya tak mau beranjak dari wajah Renita.
“Ah, udah deh, Ren. Jangan sebut-sebut itu lagi. Aku…”
“Andai aja ada cermin kamu bisa liat betapa merahnya mukamu sekarang.”
“Oke. Oke. Aku tahu apa yang kamu tunggu. Aku sayang dia. Bener-bener sayang. Aku akui itu. Puas? Lalu apa ada yang berubah?”
“Setidaknya ini satu langkah buatmu. Kamu mengaku pada dirimu sendiri. Kamu menerima apa yang kamu rasa. Masalah Bimo bisa menerima itu lalu membalasnya adalah perkara lain.”

Sampe segitunya ya aku, Ren. Kemaren pagi aku uring-uringan, kesel banget sama Bimo yang makin menjadi-jadi tingkah seenaknya. Bimo agaknya merasakan itu. Siang harinya ia berkali-kali berusaha mencuri waktu untuk bisa berduaan, antara penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kami atau sekedar menebus rasa bersalah meski ia tak tahu pasti di mana letak kesalahannya. Hingga besoknya, Bimo tak juga menyerah. Kami bercakap-cakap via ym seharian penuh. Kebetulan hari itu aku sudah mulai masuk masa libur Natal sementara Bimo masih harus ke kantor. Bimo terus memancing-mancingku untuk berbicara tentang apa yang terjadi kemarin. Menjelang tengah hari pertahananku mulai runtuh. Aku mengatakan betapa mudahnya mood-ku berganti-ganti dan bahwa ya, aku memang agak marah kemarin pagi. Aku tak mengatakan padanya dengan gamblang apa yang membuatku kesal. Tapi aku memberinya isyarat-isyarat bahwa aku memang over-sensitive tentang apapun yang berhubungan dengan dirinya. Bimo menjawab bahwa dia mengerti. Secara tak langsung aku memohon padanya agar bersabar dengan kelakuanku yang emosional dan sentimental, ‘si tukang ngambek’ kalo menurut Bimo. Bimo membalas dengan meminta maaf atas sikapnya selama ini yang terkesan kurang ajar dan suka merepotkanku. Aku bener-bener nggak tahu harus ketawa atau nangis liat kata-kata dia via mobile ym di layar ponselku. Yang jelas kerasa ‘aneh’ aja secara saat itu aku sedang berada di bus transjakarta ke arah stasiun kota. Tapi kami terus melanjutkan percakapan virtual kami sembari aku berbelanja beberapa barang di Glodok, tentu saja diantaranya ada titipan ini itu dari si Bimo. Suasana sudah jauh lebih cair usai kami ‘curhat dan sharing’ tadi. Aku tersenyum kecil mengingat kata-kata yang pernah diucap Bimo dulu bahwa dia sangat anti curhat atau sharing perasaan apapun kepada seorang teman cowo. Waktu itu dia bilang itulah gunanya memiliki pacar (cewe tentunya) : untuk dicurhatin. Hahaha. Yah, sejak awal kami saling mengenal aku sebenarnya juga tahu meskipun Bimo selalu berusaha memberi penekanan pada sifatnya yang ‘super macho’, full of male ego dan stereotip cowo pada umumnya itu, toh ada sesuatu yang tersembunyi di balik semua itu. Dia berbeda bila dibandingkan dengan Deni, Rino, abangku atau cowo-cowo lain yang bener-bener ‘cowo’ tanpa pernah berusaha menonjolkan hal itu. Tapi mungkin memang itulah yang membuatku selalu tertarik padanya : satu sisi tersembunyi yang rapuh dari Bimo.

Petak umpet

>hoi! Ndi?
>
>
>ya. ya? Napa, Bim?
>invis lagi kamu.
>hehe. biasa sok sibuk. namanya juga jam kantor.
>halah. boong!
>beneran lg bnyk kejaan tau!
>ngapain sih kamu?
>ngapain kenapa?
>kamu itu! kayak maen petak umpet aja
>petak umpet? ma sapa? ngaco ah
>iya udah ngaku aja deh. Kyk anak kecil aja pake maen sembunyi2an gini
>sapa maen sembunyi2an? di mana2 tu ya kalo maen petak umpet tu ada musuhnya. lha orang aku aja gak punya lawan maen juga. aneh kamu
>kebanyakan alasan kamu. aku tau kok napa kamu invis. aku tau kamu menghindari sapa. bilang aja napa sih,Ndi? susah banget ya ngomong?
>kamu bicara apa sih, Bim? ngelantur ya? lagian gak ada hubungannya ma kamu. ge er kamu!
>argh, ya udah ah! tauk deh! bikin sinting ngomong ma kamu, Ndi.
>
>
>
Andi menatap layar komputer yang memampangkan window percakapan virtual. Matanya terasa panas dan lembab.

Une chanson française

“Hehe, aku dah punya lagu barunya anggun yang versi perancisnya.”
“Aaa! Bluetooth! Bluetooth!”
“Nanti dulu. Aku pamer dulu dong.” Bimo tersenyum nakal sambil memutar lagu itu di ponselnya.
“Nemu di mana kamu? Download illegal mp3 lagi ya?”
“Ada dehhh… Mau tau aja. Yang penting kan kamu dapet.”
Andi cuma bisa manyun dengan tak sabar. Sambil mendengar lagu yang diputar di ponsel Bimo, khayalan-khayalan indah berkelibasan dalam benaknya. Bimo mulai lagi mendownload lagu-lagu untuknya. Sikap Bimo akhir-akhir ini juga jauh berubah dibanding awal-awal hubungan mereka. Dulu Bimo banyak menempatkan diri sebagai sebagai adik kecil yang menanti kakaknya bertindak. Bila mereka bepergian berdua Andi yang lebih sering ‘maju’ terlebih dahulu meski yang punya keperluan adalah Bimo sekalipun. Kini hal itu agaknya berbalik. Bimo jadi lebih melindungi. Andi makin merasa nyaman di dekat Bimo. Namun di sisi lain ia juga makin merasa waswas karena frekuensi pertengkaran di antara mereka pun bertambah. Antara rasa dekat dengan kesal makin mudah berganti-ganti.
“Hhhh..seandainya…” lamun Andi sambil tersenyum-senyum sendiri.

>pulang!pulang!
>yoo
>aku pulang dulu ya
>y ud cepetan. aq dah di rmh dr td

Tak membutuhkan waktu lama bagi Andi untuk menunggu Bimo karena kurang dari setengah jam kemudian Bimo sudah berdiri di ambang pintu kamar kostnya, tersenyum lebar begitu cerah.
“Kenapa si kamu?”
“Aku kenapa?”
“Senyum-senyum jelek gitu? Proyek ada yg cair lagi ya?”
“Nggak kok. Nggak napa-napa.” Bimo terus tersenyum lebar sambil melepas sepatunya di luar kamar.
“Nggak mungkin de gak ada apa-apa. Kamu ceria banget sore ini.”
Bimo tak menyahut kata-kata Andi. Dia memilih duduk di tepi ranjang dan menghidupkan televisi, menonton acara sinetron kesukaannya.
“Laper nih. Makan yuk.”
“Tar dulu lah. Ambil napas dulu. Aku juga belum mandi.”
“Mandi ntar aja abis mam.”
“Ogah ah. Gak nyaman aja rasanya.” Bimo mengatur bantal-bantal kemudian merebahkan diri di ranjang.
“Kok malah tiduran? Tar kebablasan deh pasti.” Andi bersungut sementara menyibukkan diri dengan setumpuk koran yang sudah kusut.
“Nggak mungkin tidur juga. Ada kamu.” Bimo tersenyum nakal dengan wajah ngantuknya. Andi cuma bisa membalas dengan tatapan galak. Ia tahu percuma mencoba berdebat dengan Bimo.
Tapi untuk masalah makan malam lain lagi persoalannya. Satu perdebatan kecil adalah semacam ritual yang harus dilakukan sebelum makan malam. Malam itu diskusi mereka menghasilkan pemilihan soto sebagai menu.
Andi dan Bimo menikmati makan malam mereka dengan santai. Usai melahap habis soto yang terhidang mereka tak juga beranjak dari warung makan itu. Entah kenapa kali ini Bimo berlama-lama saat mereka makan berdua saja. Memang mereka selalu ngobrol ngalor ngidul ketika makan bareng, maupun pada kesempatan-kesempatan bersama yang lain,tapi biasanya tak selama ini.Dari warung makan pun mereka tak langsung kembali, Andi dan Bimo mampir dulu ke satu mini market di dekat situ. Beberapa kali Andi mendapati Bimo melamun di antara rak-rak penuh barang kebutuhan sehari-hari.
“Cari apa sih, Bim?”
“Oh, enggak kok. Aduh, nggak tau. Aku juga lupa. Hehe.”
“Aneh. Dasar gak mutu. Dicatet dulu dong makanya.”
“Bukan gitu. Toh aku tahu xang aku cari gak ada di rak-rak ini.”
Andi menatap mata Bimo dalam-dalam. . .

Hujan rintik-rintik menghantui kota metropolitan yang penuh sesak dengan manusia itu. Meski sekedar titik-titik air kecil namun sudah jauh lebih dari cukup untuk membuat jalanan kram oleh kemacetan. Saat itu sore hari, semua orang berlomba untuk segera tiba di rumah masing-masing. Biasanya Andi sudah pasti bakal memaki-maki dalam hati. Ia berdiri di dalam bus kota yang sedari tadi tak bergerak terperangkap di antara lautan kendaraan. Kakinya terasa makin sakit digigiti nyeri yang menggila. Tapi tidak, Andi tak mengeluh kali ini. Ia tersenyum samar. Mp3 player memainkan lagu ‘Believe again’ oleh Delta Goodrem.

Have you ever stared into the rain
Thought the clouds would never disappear
Have you ever screamed out into the dark
Thinking no one else could hear
I was leaving footprints tainted by my past
On this winding road to you
I’d lost my faith in love
Tonight I believe again
My Heart was a broken place
Now I feel whole again
You bring me honesty
And that’s worth believing in
and I believe
I believe again
Have you ever spun out of control
Like you never saw the road ahead
Have you ever just kept looking back
Ever closer to the edge
I was praying for the light I see in your eyes
I had all but given up
I’d lost my faith in love
Tonight I believe again
My Heart was a broken place
Now I feel whole again
You bring me honesty
And that’s worth believing in
and I believe
I believe again
I believe the impossible is possible to overcome
I believe in miracles
Born from love in everyone
I’d lost my faith in love
Tonight I believe again
My Heart was a broken place
Now I feel whole again
You bring me honesty
And that’s worth believing in
and I believe
I believe again

Matanya tertuju pada layar ponsel dalam genggamannya. Layar ber-resolusi 240×320 pixels itu menampilkan percakapan virtual via yahoo messenger antara Andi dengan Bimo.
>macet bgt niy. Mn bdiri lg d bis.
>haha. Enak kan? Rasain lu. Makanya beli motor donk.
>dan nambah2in kesemrawutan ini? Ogahhhhh
>ya udah. Klu gtu gak usah ngeluh. Nikmatin aja.
>iy de. Terserah. Huhuh.
Dialog kecil mereka yang penuh kalimat-kalimat tanpa arti sedikit menghibur Andi sore itu. Bahkan ketika bis yang dinaikinya memutuskan untuk masuk ke jalan tol.
Satu ‘keparat’ sempat terucap secara spontan, tapi ia segera kembali tersenyum dan kembali memandangi layar ponselnya. Nyaris tak sadar ketika kernet bus berteriak-teriak,’Pancoran! Pancoran turun sini!.” Ah, rupanya bis itu menepi di dekat turunan keluar tol Pancoran. Satu hal yang sangat berresiko karena biasanya ada mobil polisi berjaga di dekat situ. Dengan panik Andi menembus orang-orang, dengan berkali berujar,”Maaf.” dia menubruk semua yang menghalanginya menuju pintu keluar bus.
Ah, akhirnya berhasil juga dia melepaskan diri dari bus yang sesak macam kaleng sarden itu.

Langit makin gelap. Suara adzan maghrib berkumandang samar di balik gang-gang yang dilalui Andi menuju ke tempat kostnya.
>aku sholat dl ya
>ok deh. Dikit lagi aq pe rmh
Sesampainya di kost, Andi buru-buru mandi sebelum kembali menghadapi layar ponselnya yang mulai terkuras baterainya. Ia masih hanyut berbalasan kata dengan Bimo. Kata-kata yang mereka berdua sama-sama tahu tak bermakna. Andi melirik ke jam meja di dekatnya. 18.36.
>dah stgh 7 lwat lho
>mang napa?
>dah mam lum?
>belum lah. Tar dikit lagi
>oh

Ketika Bimo akhirnya tiba, Andi melihat sesuatu yang aneh. Secercah cahaya di matanya. Senyum lebar mengembang mencerahkan orang yang melihatnya. Akhir-akhir ini Bimo makin ceria. Nyaris tiap kali mereka beradu mata ada senyum di wajah itu.
“Ah, Bimo, betapa inginnya aku memelukmu saat ini. Andai kita bisa begini selamanya. Aku…melihatmu tiap hari..seumur hidup kita.” Andi berusaha menahan air mata yang mendesak keluar untuk berjatuhan membasahi pipi.

Kenapa ya?

“Ke Tebet ya, Pak.”
Taxi bercat biru gelap itu meluncur membelah senja yang bertabur cahaya keemasan.
Dua manusia duduk di bangku belakang : Bimo dan Andi.
Suasana di dalam mobil itu begitu sunyi menyesakkan.
“Aduh, cape banget. Lama juga ya kita jalan-jalan.” Bimo memaksakan diri untuk bersuara, sekedar berusaha memecahkan sepi yang mencekam.
“Hmm.” Sepotong gumaman lirih, hanya itulah yang dia peroleh dari sobatnya. Bimo menatap Andi lekat-lekat. Yang dipandangi malah merenungi langit merah yang menggelap. Beberapa kali mulut Bimo terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi tak ada suara apapun yang terucap. Tapi Bimo terus melekatkan pandangannya pada Andi. Sekali Andi berbalik, membalas tatapan Bimo. Mata mereka beradu pandang, saling mencari sesuatu dalam kilasan mata lawannya. Tapi Bimo segera kalah dalam pertandingan ini dan membuang muka, mengalihkan perhatian pada kelap-kelip lampu menghiasi malam yang mulai datang.
Kesunyian kembali menguasai isi mobil itu. Sang supir beberapa kali mencoba membuka percakapan. Namun akhirnya dia menyerah karena tak ada respon dari kedua pria yang duduk terpaku macam patung di jok belakang taxi.
“Bim..” mendadak Andi bersuara.
“Napa, Ndi?” Bimo sigap berbalik kembali melihat ke arah sobatnya.
“Abis ini ke atm dulu ya? Duit gw bener-bener abis di dompet.”
“Oh. Ya udah gapapa.” gundah semburat di wajah Bimo.

Sebuah bilik atm yang terang benderang bagai mercusuar di tengah kegelapan yang meliputi sekitarnya. Andi berdiri di depan atm, berpikir berapa banyak uang tunai yang sebaiknya dia ambil. Bimo bersandar pada dinding di samping atm itu, acuh tak acuh menatap ke arah luar bilik,”Napa sih, Ndi? Akhir-akhir ini kamu diem banget. Kamu nggak pernah panggil aku pake panggilan sayangmu. Kamu cuekin sms en buzz-ku di ym. Kamu bener-bener berubah.”
Andi berpaling ke arah Bimo, wajahnya dihiasi senyum, bukan senyum masam tapi lebih ke arah sedih,”Panggilan sayang?” Andi melebarkan senyumnya,”Kalo gitu kamu mestinya tau dong kenapa.”
“Tau kenapa? Apa yang aku harus tau?”
“Nggak ada.” Andi terus tersenyum, jauh lebih cerah kini,”Yuk, pulang. Dah malem banget nih. Aku laper.”
Tergesa Bimo mengikuti Andi yang melangkah ringan di depannya.
Malam semakin hitam.

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.