Hujan rintik-rintik menghantui kota metropolitan yang penuh sesak dengan manusia itu. Meski sekedar titik-titik air kecil namun sudah jauh lebih dari cukup untuk membuat jalanan kram oleh kemacetan. Saat itu sore hari, semua orang berlomba untuk segera tiba di rumah masing-masing. Biasanya Andi sudah pasti bakal memaki-maki dalam hati. Ia berdiri di dalam bus kota yang sedari tadi tak bergerak terperangkap di antara lautan kendaraan. Kakinya terasa makin sakit digigiti nyeri yang menggila. Tapi tidak, Andi tak mengeluh kali ini. Ia tersenyum samar. Mp3 player memainkan lagu ‘Believe again’ oleh Delta Goodrem.
Have you ever stared into the rain
Thought the clouds would never disappear
Have you ever screamed out into the dark
Thinking no one else could hear
I was leaving footprints tainted by my past
On this winding road to you
I’d lost my faith in love
Tonight I believe again
My Heart was a broken place
Now I feel whole again
You bring me honesty
And that’s worth believing in
and I believe
I believe again
Have you ever spun out of control
Like you never saw the road ahead
Have you ever just kept looking back
Ever closer to the edge
I was praying for the light I see in your eyes
I had all but given up
I’d lost my faith in love
Tonight I believe again
My Heart was a broken place
Now I feel whole again
You bring me honesty
And that’s worth believing in
and I believe
I believe again
I believe the impossible is possible to overcome
I believe in miracles
Born from love in everyone
I’d lost my faith in love
Tonight I believe again
My Heart was a broken place
Now I feel whole again
You bring me honesty
And that’s worth believing in
and I believe
I believe again
Matanya tertuju pada layar ponsel dalam genggamannya. Layar ber-resolusi 240×320 pixels itu menampilkan percakapan virtual via yahoo messenger antara Andi dengan Bimo.
>macet bgt niy. Mn bdiri lg d bis.
>haha. Enak kan? Rasain lu. Makanya beli motor donk.
>dan nambah2in kesemrawutan ini? Ogahhhhh
>ya udah. Klu gtu gak usah ngeluh. Nikmatin aja.
>iy de. Terserah. Huhuh.
Dialog kecil mereka yang penuh kalimat-kalimat tanpa arti sedikit menghibur Andi sore itu. Bahkan ketika bis yang dinaikinya memutuskan untuk masuk ke jalan tol.
Satu ‘keparat’ sempat terucap secara spontan, tapi ia segera kembali tersenyum dan kembali memandangi layar ponselnya. Nyaris tak sadar ketika kernet bus berteriak-teriak,’Pancoran! Pancoran turun sini!.” Ah, rupanya bis itu menepi di dekat turunan keluar tol Pancoran. Satu hal yang sangat berresiko karena biasanya ada mobil polisi berjaga di dekat situ. Dengan panik Andi menembus orang-orang, dengan berkali berujar,”Maaf.” dia menubruk semua yang menghalanginya menuju pintu keluar bus.
Ah, akhirnya berhasil juga dia melepaskan diri dari bus yang sesak macam kaleng sarden itu.
Langit makin gelap. Suara adzan maghrib berkumandang samar di balik gang-gang yang dilalui Andi menuju ke tempat kostnya.
>aku sholat dl ya
>ok deh. Dikit lagi aq pe rmh
Sesampainya di kost, Andi buru-buru mandi sebelum kembali menghadapi layar ponselnya yang mulai terkuras baterainya. Ia masih hanyut berbalasan kata dengan Bimo. Kata-kata yang mereka berdua sama-sama tahu tak bermakna. Andi melirik ke jam meja di dekatnya. 18.36.
>dah stgh 7 lwat lho
>mang napa?
>dah mam lum?
>belum lah. Tar dikit lagi
>oh
Ketika Bimo akhirnya tiba, Andi melihat sesuatu yang aneh. Secercah cahaya di matanya. Senyum lebar mengembang mencerahkan orang yang melihatnya. Akhir-akhir ini Bimo makin ceria. Nyaris tiap kali mereka beradu mata ada senyum di wajah itu.
“Ah, Bimo, betapa inginnya aku memelukmu saat ini. Andai kita bisa begini selamanya. Aku…melihatmu tiap hari..seumur hidup kita.” Andi berusaha menahan air mata yang mendesak keluar untuk berjatuhan membasahi pipi.