Ça suffit. Quit breaking yourself. Just face it. He won’t be around forever. It’d be better for you to make the quit first.
Februari 14, 2009
Februari 1, 2009
He’s cute. He’s kind. He’s caring. His smiles melt me everytime. He’s so easy to love. Yet, he’s someones’ husband.
Januari 8, 2009
>>udah berapa kali sih aq bilang, ndi
>>apaan? nggak ngerti aq kmu ngmgin apa
>>ngomong ya ngomong aja
>>hah?
>>bisa gak sih sekali2 str8 to the point?
>>maksudmu apa, bim?
>>tiap kali ngomong selalu muter-muter dulu, mbulet gak karuan
>>sapa? aku? ngomongin apa?
>>ngomong langsung aja apa sih susahnya?
>>emangnya aku mau ngomongin apa sih, bim?
>>hhhhhh…terserah deh
Januari 7, 2009
To love is not something to regret about. It is something I should cherish and be grateful of, to be able to dedicate my affection to someone or something, no matter how hard it is. Thousand of times I heard myself saying,’This is it. This is the limit. I can’t take any more than this.’ But, hey, love is just limitless. At least for me and in this case. Though with the passing of time it only grows harder to find it in my heart to keep this feeling alive. My head tells me to quit it. But my heart refuses all the time.
Well, maybe I won’t keep this feeling in its former state : a passionate-almost uncontrollable love. I think I’ll just turn it into a more brotherly love. But surely I won’t change it dramatically into a burning hatred, though it does hurt so much and indeed I was tempted to enter the domain of anger and abhorrence. Fortunately I managed to keep my sensibility and I pray that I can be more gentle, kinder, more loving, not just to one in particular but to all beings.
Desember 31, 2008
“Hey, Ndi, aku dah baca e-mail-mu yang kemaren.”
“Hah? E-mail yang mana?”
“Sisi lain Arjuna-mu.” Renita terkikik pelan.
“Oh..”
“Yah, kurasa udah jelas lah. Bimo-mu bukan orang yang ‘biasa’. Dia berbeda. Dia bukan sekedar citra cowo stereotip yang selama ini dia berusaha gembar-gemborkan pada dunia. Citra cowo macho nan tangguh. Pujaanmu ini punya ’sisi lain’ yang sepertinya ia tidak ingin sembarang orang tahu.”
“Ya ya. Kamu nggak perlu meyakinkanku lagi tentang itu, Ren.”
“Aku yakin itu. Aku cuma seneng aja menyebutnya lagi. Seneng banget bisa bilang ke kamu ‘nah, kan? Apa kubilang?’ ” Renita terkikik lagi.
“Hhhh…”
“Masih inget kan ‘Blueberry nights’? Kalian berdua hingga lewat jam 1 malam?” senyum lebar sepertinya tak mau beranjak dari wajah Renita.
“Ah, udah deh, Ren. Jangan sebut-sebut itu lagi. Aku…”
“Andai aja ada cermin kamu bisa liat betapa merahnya mukamu sekarang.”
“Oke. Oke. Aku tahu apa yang kamu tunggu. Aku sayang dia. Bener-bener sayang. Aku akui itu. Puas? Lalu apa ada yang berubah?”
“Setidaknya ini satu langkah buatmu. Kamu mengaku pada dirimu sendiri. Kamu menerima apa yang kamu rasa. Masalah Bimo bisa menerima itu lalu membalasnya adalah perkara lain.”
Desember 28, 2008
Sampe segitunya ya aku, Ren. Kemaren pagi aku uring-uringan, kesel banget sama Bimo yang makin menjadi-jadi tingkah seenaknya. Bimo agaknya merasakan itu. Siang harinya ia berkali-kali berusaha mencuri waktu untuk bisa berduaan, antara penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kami atau sekedar menebus rasa bersalah meski ia tak tahu pasti di mana letak kesalahannya. Hingga besoknya, Bimo tak juga menyerah. Kami bercakap-cakap via ym seharian penuh. Kebetulan hari itu aku sudah mulai masuk masa libur Natal sementara Bimo masih harus ke kantor. Bimo terus memancing-mancingku untuk berbicara tentang apa yang terjadi kemarin. Menjelang tengah hari pertahananku mulai runtuh. Aku mengatakan betapa mudahnya mood-ku berganti-ganti dan bahwa ya, aku memang agak marah kemarin pagi. Aku tak mengatakan padanya dengan gamblang apa yang membuatku kesal. Tapi aku memberinya isyarat-isyarat bahwa aku memang over-sensitive tentang apapun yang berhubungan dengan dirinya. Bimo menjawab bahwa dia mengerti. Secara tak langsung aku memohon padanya agar bersabar dengan kelakuanku yang emosional dan sentimental, ‘si tukang ngambek’ kalo menurut Bimo. Bimo membalas dengan meminta maaf atas sikapnya selama ini yang terkesan kurang ajar dan suka merepotkanku. Aku bener-bener nggak tahu harus ketawa atau nangis liat kata-kata dia via mobile ym di layar ponselku. Yang jelas kerasa ‘aneh’ aja secara saat itu aku sedang berada di bus transjakarta ke arah stasiun kota. Tapi kami terus melanjutkan percakapan virtual kami sembari aku berbelanja beberapa barang di Glodok, tentu saja diantaranya ada titipan ini itu dari si Bimo. Suasana sudah jauh lebih cair usai kami ‘curhat dan sharing’ tadi. Aku tersenyum kecil mengingat kata-kata yang pernah diucap Bimo dulu bahwa dia sangat anti curhat atau sharing perasaan apapun kepada seorang teman cowo. Waktu itu dia bilang itulah gunanya memiliki pacar (cewe tentunya) : untuk dicurhatin. Hahaha. Yah, sejak awal kami saling mengenal aku sebenarnya juga tahu meskipun Bimo selalu berusaha memberi penekanan pada sifatnya yang ‘super macho’, full of male ego dan stereotip cowo pada umumnya itu, toh ada sesuatu yang tersembunyi di balik semua itu. Dia berbeda bila dibandingkan dengan Deni, Rino, abangku atau cowo-cowo lain yang bener-bener ‘cowo’ tanpa pernah berusaha menonjolkan hal itu. Tapi mungkin memang itulah yang membuatku selalu tertarik padanya : satu sisi tersembunyi yang rapuh dari Bimo.
Desember 23, 2008
When the world’s brightest light
Is fadin’ away
I’m still here
Sleepless nights
Make my day
And then the promises
Left to stay
Now it’s time for excavation
Reaching to my destination
I can’t hold on
Believe in you
I’m your precious little angel
Please return my wings
So return my wings
Then we can fly away
(so far away
of you)
Fly away
Fly away
Desember 23, 2008
“Dia bilang : Sorry aja ya. Kalo ama aku, siap-siap aja ancur-ancuran. Gitu, Ren.”
“Bimo bilang gitu ma kamu?”
“Yup.”
“…”
“Kenapa gitu, Ren? Aneh ya?”
“Nggak tau juga. Cuman…” Renita terkikik pelan.
“Apanya yang lucu? Ihh kamu ni.” Andi sedikit kesal karena tak mengerti di mana letak kelucuannya.
“Nggak pa-pa. Selamat aja ya, Ndi. Kamu dan Bimo naik kelas. Hubungan kalian memasuki babak baru agaknya.”
“Hush! Jangan kumat ngawur deh, Ren.”
“Abis aku mulai agak bosen deh denger rengekanmu tiap kali kalian berantem. Kayaknya kalian makin sering berantem, ya? Cuman ngobrol via ym aja ampe berantem. Ampun dah! Mau kamu akui ato nggak kalian tu kayak sepasang kekasih yang udah kelamaan pacaran lalu saking merasa kenalnya satu sama lain jadi suka saling menyerang kelemahan masing-masing.”
“Yee. Biasa aja ah. Ama temen-temen yang lain juga gitu kali.”
“Boong. Ama abangmu sendiri aja kamu nggak pernah seterbuka itu.”
“Aku terbuka kok ama kamu.” Andi tersenyum penuh kemenangan.
“Yah, memang kamu selalu lebih gampang terbuka ama temen cewek kan? Akui aja. Ama cowok, kamu mana ada temen yang sedeket itu? Jadi keterbukaan di antara kita nggak bisa dianggep.” Renita tak mau kalah.
“Bhuuu.”Andi mengerucutkan bibirnya, kesal tak tahu harus membalas apa.
“Nggak usah susah-susah deh, Ndi. Buka aja ym kamu, liat daftar contacts-nya. Siapa cowo yang paling sering ym-an ma kamu?”
“Euh, yang pasti Bimo..lalu Deni, ada Rino…kadang-kadang abangku.”
“Abangmu langsung coret aja. Ama Deni kamu biasa ngomongin apa? Palingan juga gak pernah jauh dari masalah gadgets kan? Rino juga sama aja.”
“Iya sih. Tapi ama Bimo juga suka ngomongin gadgets kok.”
“Ya. Tapi sebagai selingan, bukan menu utama. Kalian kan lebih sering saling bertanya : lagi ngapain? dah makan belum? tar malem makan apa ya? dan baanyak masalah-masalah pribadi lainnya.”
“Aku rasa itu biasa aja deh. Kamu terlalu mendramatisir, Ren. Toh kebanyakan hanya masalah sepele sehari-hari.”
Renita tersenyum penuh arti,”Kurasa kamu sendiri ngerti kok sampe sebatas mana semua itu. Aku cuman menganalisa dari sudut pandang orang ketiga yang bahkan nggak akrab ama Bimo-mu.”
“Nggak ngerti deh maksud kamu apa, Ren. Apa yang aku lakukan selama ini salah? Aku dan Bimo udah kelewat batas? Aku harus kurangi kuantitas dan kualitas percakapanku dengan Bimo?”
“Mana aku tahu. Kan kamu sendiri yang tahu apa yang kamu inginkan dari hubungan itu, mau kamu bawa ke arah mana hubungan itu.”
“Aku nggak…aku nggak tahu, Ren. Bener-bener nggak tahu. Aku bahkan nggak tahu apakah ini adalah awal dari satu babak baru atau awal dari suatu akhir hubungan. Di satu sisi kamu memang benar, kami mungkin telah begitu merasa saling tahu satu sama lain sering hanya dengan berpandangan kami tahu apa yang ingin dikatakan. Satu kata atau sebuah gerakan kecil dariku membuatnya tahu aku sedang marah, sedih, atau lainnya.”
“Ck..ck..ck. Parah kalian ini.”
“Tapi di sisi lain rasa saling mengerti ini juga yang membuat kami makin mudah saling menyakiti. Makin lama makin tak tertahankan. Bimo sepertinya tak sungkan lagi menyerangku dengan berbagai cara dan kata. Ia tahu pasti apa yang bakal bikin aku dongkol, marah ataupun sedih.”
“Masa sih? Bukannya itu satu bukti perhatiannya padamu?”
“Perhatian kok bentuknya negatif? Bhuu..”
“Sumberku berkata lain : kalian sering banget berduaan, dan saat hanya berduaan dan berhadapan langsung, maksudku bukan via ym atau sms atau yang lain, kalian cenderung lebih tenang, tidak saling menyerang seperti bila sedang bersama orang-orang lain atau saat kalian hanya bertemu secara virtual. Kalian lebih ekspresif saling menunjukkan perhatian bila sedang berdua saja.”
“Sumber katamu? Paling juga Deni kan yang kamu maksud? Dasar mata-mata berlidah cabang dia.”
“Hahaha..”
“Sumbermu ngaco tuh….Bimo perhatian padaku hanya bila ia sedang iseng ingin menjahiliku.”
“Ah, masa?”
“Terserah!”
“Yakin?”
“Hhhh…”
“Hahaha..”
Desember 16, 2008
Emang yang bisa ngapus smua hanya waktu ya?
Tidak ada yang namanya kerelaan hati. Bullshit itu
Desember 4, 2008
Petak umpet
Posted by aito under cerita, cerita andi | Tag: andi, bimo, petak, umpet |Leave a Comment
>hoi! Ndi?
>
>
>ya. ya? Napa, Bim?
>invis lagi kamu.
>hehe. biasa sok sibuk. namanya juga jam kantor.
>halah. boong!
>beneran lg bnyk kejaan tau!
>ngapain sih kamu?
>ngapain kenapa?
>kamu itu! kayak maen petak umpet aja
>petak umpet? ma sapa? ngaco ah
>iya udah ngaku aja deh. Kyk anak kecil aja pake maen sembunyi2an gini
>sapa maen sembunyi2an? di mana2 tu ya kalo maen petak umpet tu ada musuhnya. lha orang aku aja gak punya lawan maen juga. aneh kamu
>kebanyakan alasan kamu. aku tau kok napa kamu invis. aku tau kamu menghindari sapa. bilang aja napa sih,Ndi? susah banget ya ngomong?
>kamu bicara apa sih, Bim? ngelantur ya? lagian gak ada hubungannya ma kamu. ge er kamu!
>argh, ya udah ah! tauk deh! bikin sinting ngomong ma kamu, Ndi.
>
>
>
Andi menatap layar komputer yang memampangkan window percakapan virtual. Matanya terasa panas dan lembab.
Desember 4, 2008
Une chanson française
Posted by aito under cerita, cerita andi | Tag: andi, bimo, chanson, français |Leave a Comment
“Hehe, aku dah punya lagu barunya anggun yang versi perancisnya.”
“Aaa! Bluetooth! Bluetooth!”
“Nanti dulu. Aku pamer dulu dong.” Bimo tersenyum nakal sambil memutar lagu itu di ponselnya.
“Nemu di mana kamu? Download illegal mp3 lagi ya?”
“Ada dehhh… Mau tau aja. Yang penting kan kamu dapet.”
Andi cuma bisa manyun dengan tak sabar. Sambil mendengar lagu yang diputar di ponsel Bimo, khayalan-khayalan indah berkelibasan dalam benaknya. Bimo mulai lagi mendownload lagu-lagu untuknya. Sikap Bimo akhir-akhir ini juga jauh berubah dibanding awal-awal hubungan mereka. Dulu Bimo banyak menempatkan diri sebagai sebagai adik kecil yang menanti kakaknya bertindak. Bila mereka bepergian berdua Andi yang lebih sering ‘maju’ terlebih dahulu meski yang punya keperluan adalah Bimo sekalipun. Kini hal itu agaknya berbalik. Bimo jadi lebih melindungi. Andi makin merasa nyaman di dekat Bimo. Namun di sisi lain ia juga makin merasa waswas karena frekuensi pertengkaran di antara mereka pun bertambah. Antara rasa dekat dengan kesal makin mudah berganti-ganti.
“Hhhh..seandainya…” lamun Andi sambil tersenyum-senyum sendiri.