Tag Archive: jalan


ke jogja bertiga

Tiba di Jogja senja sudah menjelang. Dari stasiun Tugu kita langsung menyusuri malioboro, tentunya setelah sahabat-sahabatku menunaikan sholat dulu. Jalan kaki hingga perempatan kantor pos besar.
Bergaya di bawah cemerlangnya lampu yang menerangi senja. Hihihi…
0001.jpg

Hari berikutnya kami pergi ke candi Borobudur.
0002.jpg

Mengagumi masa-masa keemasan yang telah lalu berabad-abad.
Edi berpose bak Indiana Jones, tapi kini bersenjatakan GPS device. Huahaha…
0003.jpg
0003a.jpg
Aku mana mau kalah, bergaya nggak jelas…
0004.jpg

 

Cuaca muram, mendung. Hujan mulai rintik berjatuhan.
Kabut menggantung di sekeliling wilayah candi.

0005.jpg

0006.jpg

 Hujan seperti enggan berhenti, kami pun tak mau berhenti bergaya di depan kamera (wakaka)

0007.jpg

 

 Hari berikutnya kami menjelajahi kraton kesultanan Yogyakarta. Ada orang yang terlalu ‘excited’ dan gembiranya bisa berada di situ.

0008.jpg

Seperti biasa, aku pun turut bergaya…hehehe…

0008a.jpg

 

Cuaca amat cerah, panas berdebu. Sangat berkebalikan dengan kemarin sewaktu mendaki Borobudur yang selalu dibayangi awan mendung gelap dan air hujan.

Capek bercampur haus saat menjelajahi istana yang lumayan luas juga ini.

0009.jpg

Dari kraton kami langsung berjalan kaki ke Tamansari. Melihat lorong-lorong gelap dan reruntuhan yang indah nan misterius (ceile…hehehe)

0010.jpg

 

 

hello good-bye

Sebuah padang yang indah oleh jalinan warna-warna bunga dan sesemakan. Seorang anak laki-laki kecil berlari riang menerjang rumput-rumput liar, menyanyi mengikuti suara tawa angin di sela dedaunan. Namun sekejap tawa ceria itu terhenti, terhenyak ke arah satu semak yang merunduk sedih. Anak itu berjongkok untuk melihat ada apa di sana.
Sosok tubuh kecil tergeletak lemah, seekor burung mungil berwarna cerah.
‘Ah, burung ! Kenapa tidur di tempat seperti ini?’
Mahluk itu berusaha menggerak-gerakkan sayapnya yang kusut.
‘Jangan beristirahat di sini, burung. Tempat ini berbahaya.’
Si burung hanya menatap anak kecil dengan pasrah. Sayapnya terkepak lemah. Bercak merah menodai bulu-bulunya yang kekuningan.
‘Ah, kamu terluka rupanya. Kasihan sekali kamu, burung kecil.’
Perlahan si anak meletakkan burung di dalam dekapan tangannya. Si burung mengepak-ngepakkan sayap dengan panik, mencicit lemah.
‘Jangan takut, kecil, aku akan merawatmu sampai kamu sembuh.’

Rumah kecil di tepian padang luas itu.
‘Mau kamu apakan burung mati itu?’
‘Burung ini masih hidup, bu. Akan ku rawat dia sampai sayapnya sembuh dan dia bisa terbang lagi.’
‘Memangnya kamu tahu cara memelihara seekor burung, apalagi yang sakit ?’
‘Tidak. Tapi aku akan berusaha sebisaku. Aku yakin kasih sayang akan membimbingku, ibu.’
‘Ya sudah. Terserah kamu saja. Yang jelas ibu nggak akan ikut campur atau membantumu merawatnya.’

Beberapa hari berlalu, ibu terheran-heran melihat burung kuning kecil itu mencericit riang di sangkarnya, mengepak-ngepakkan sayapnya yang rapuh dengan penuh semangat.
‘Nak, sepertinya kamu berhasil merawat burung ini. Dia sudah sembuh agaknya.’
‘Iya, bu.’
‘Saatnya untuk mengembalikannya ke alam bebas.’
‘….’

Tengah-tengah hamparan bunga-bunga biru yang mekar semerbak. Anak kecil memegangi sangkar burung yang diletakkan di atas rumput.
‘Ibu benar. Kamu harus kembali ke tempatmu, ke alam bebas. Tapi kenapa aku merasa berat? Bagaimana bila kau celaka nanti? Bagaimana bila kucing nakal penjaga padang ini menangkapmu? Apa kamu bisa menemukan makan yang cukup untuk bertahan hidup? Bagaimana bila badai salju mendadak menyerang daerah ini?
Aaah, katakan padaku, burung kecil, apakah kau merasa bahagia bersamaku?’
Burung itu tentu saja tidak menjawab pertanyaan si anak. Tatapan kosong namun tajam saja yang dia bisa balik berikan.
Hangat terasa mata dan pipi si anak, air mata meleleh melintas ke bawah sebelum jatuh ke tanah saat dia membuka pintu sangkar burung itu.
‘Pergi! Pergilah, burung kecil! Kembalilah ke tempat seharusnya kau berada.’
Ragu sejenak sebelum melesat keluar dari sangkar, terbang berputar-putar merasai kembalinya kebebasan, lalu hinggap di dahan sebuah pohon tak jauh dari situ.
Terdiam, berpandangan.
Mata anak kecil kembali terasa panas, sengat-sengat perih membuatnya tak kuasa menahan jatuhnya air mata.
‘Ingat-ingatlah, burung kecil, bahwa pernah ada seorang anak yang menyayangimu, begitu sayang hingga dia merelakanmu pergi.’
Si burung masih terpaku, melihat beberapa saat, sebelum terbang dan hilang di balik rerimbunan pohon.
‘Pergilah, hadapi hidup ini dengan tegar.’

‘Halo. Selamat pagi,tante.’
‘Selamat pagi juga.’
‘Andi ada nggak,tante?’
‘Oh, ya, bentar ya.’
(Suara di kejauhan) ‘Andi, ini ada temen kamu nelpon!’
‘Aah, siapa sih, mam? Pagi2 gini juga.’
‘Mana mama tau. Udah sana cepetan. Cewe’ lho.’
‘Hah? Cewe?’
(Suara percakapan kembali berlanjut di telpon) ‘Halo?’
‘Halo, Ndi. Ini Renita. Kamu sibuk gak hari ini? Jalan-jalan yuk kalau nggak sibuk.’
‘Enggg…kemana?’
‘Ya, kemana gitu kek. Eh denger2 di deket kampusnya Beny ada warung baru buka lho. Katanya si menunya lumayan en tempatnya asik gitu. Tau ndiri kan kampusnya Beny di tengah-tengah sawah gitu.’
‘Kampusnya Beny? Buseeet! Itu kan di ujung dunia mana gituuu?!’
‘Hayah, cuman minggir dikit ini. Dari ringroad masuk dikit ke gang.’
‘Tetep aja jauh, non! Btw menunya apaan?’
‘Makanan Jawa Timuran gitu deh. Rawon, soto, tahu telor. Pokonya selera kamu banget deh.’
‘Ya udah. Ya udah. Emang mau jalan ke sana jem berapa?’
‘Gw sih gak ada kuliah hari ini, jadi terserah kamu aja.’
‘Enggg… Jam 11 an aja yah? Gw mau ke kampus dulu paginya.,’
‘Oke deh, kakak.’
‘Tar gw jemput ke kos lu ya?’
‘Ocre.’
‘Tapi tar gw jemput uda siap lho. Males gw tiap kali jemput lu yg bukain pintu temen lu yg ganjen ntu bilang lu masi lagi mandi.’
‘Ahahaha. Si Enny ya? Biasa aja kali. Dia kan emang dari sononya ganjen gitu.’
‘Yaa, pokonya males aja.’
‘Ya udah. Mpe nanti ya.’
‘Jam 11 tet lho! Telat ga jadi!’
‘Iya. Iya. Daah.’

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.