Tag Archive: nggak


wake up late

Hampir jam 7 pagi. Kamarnya masih lelap dalam gelap. Dia kelewatan sholat subuh lagi hari ini. Aku agak merasa bersalah.
Apa aku sudah merusak pola hidup orang dengan gayaku sendiri? Pola hidup yang kata seseorang nggak sehat dan menghancurkan raga? Ah, tapi toh aku nggak tidur semalem miss Ra yang hampir selalu lewat dari tengah malam, aku berusaha membela diri. Aku setuju banget dengan miss Ra yang menyatakan tentang perasaan bersalah membuang-buang waktu beberapa jam untuk tidur. Gelitik-gelitik untuk menuangkan kata-kata itu memang sering muncul di tengah jauh malam. Saat suasana mulai sepi. Usai mr.D2 mengucap selamat malam. Kala pikiran mengejang memikirkan dan menganalisa apa saja yang sudah berlangsung hari ini dan kemarin-kemarin.
Kembali ke soal merusak, aku juga nggak pernah memaksa dia untuk menemani aku menonton atau apapun. Walau kadang aku bisa mengindera rasa sungkannya untuk meninggalkanku sendirian. Tapi itu adalah pilihan yang dia buat sendiri. Sekali lagi, aku tak pernah memaksa. Meminta atau memohon-mohon pun tidak. Soal dia bisa mendeteksi rasa sedihku atau kehilangan itu adalah urusan dia.
Ceramah seseorang tentang pola hidup sehat sempat membuat tercenung. Tapi aku tak pernah bisa merasa hidup lebih sehat dengan tidur lebih banyak. Justru dengan merenung malam-malam membuat denyut hidup jadi lebih terasa. Kadang ada pemahaman dan sudut pandang baru yang didapat. Lagipula, aku juga tak tiap hari tidur larut malam, meskipun bisa dibilang cukup rutin.
Apapun itu, pola hidup tiap orang memang berbeda. Itu adalah pilihan pribadi masing-masing individu. Bahkan seorang pasangan hidup sekalipun tak bisa memaksakan hal satu ini.

(But, please don’t overdo it, ok, miss Ra? Hehehe. I mean it, baby. Don’t want to lose you that soon)

aaargh!
Ternyata nggak gampang ya mengurangi frekuensi dan kuantitas komunikasi. Apalagi untuk orang nggak tegaan kayak gw.
Meski telah merasa aman tersembunyi, saat sore menjelang, panggilan-panggilannya lewat dunia virtual muncul di layar ponsel. Tak tega aku membiarkannya berbalas sunyi. Walau dengan sedikit kesal pada keyakinannya bahwa tiap kata yang dia lontarkan padaku pasti akan dibalas, jari-jariku toh tetap mengetikkan jawaban demi jawaban. Kata-kata dan komentar. Hanyut dalam pembicaraan dangkal tak tentu arah.
Tak tahu apa dia menikmati obrolan macam ini. Aku sendiri sudah bosan, walau tetap saja dengan tololnya terus meladeni. Oh, kumohon. Saat-saat begini aku terpikir bahwa sifat nggak tegaanku adalah satu kutukan yg diturunkan dari nyokap. Nggak tahu napa masih juga kumasukkan kata-katanya yang mengeluhkan betapa lelahnya dia, betapa tak enaknya badannya yang katanya sakit itu ke dalam telingaku yg sebenarnya sudah menolak untuk mencerna hal-hal macam itu.
Toh apa peduliku akan hal itu? Apa urusanku?
Suaranya yang terdengar serak dan berat dan napasnya yang berbunyi-bunyi aneh itu memang sempat membangkitkan rasa iba. Tapi sekali lagi, apa urusanku?
Oh, God! Aku terdengar seperti seorang ego mania yang sama sekali nggak mau mikirin orang lain. Ini sama sekali bukan aku. Tentu saja aku peduli bahwa dia sedang sakit, capek. Aku nggak bisa bohong tentang itu. Tapi lagi dan lagi, apa urusanku? Salahkah bila aku bertanya begitu? Perlukah aku sekhawatir itu pada seorang teman? Atau malah aku kurang menunjukkan perhatian dan belas kasih? Masih pantaskah aku mengaku-ngaku sebagai sahabatnya?
Aaarghh!

‘Kamu bener-bener sayang ama dia ya?’
‘Aku nggak tau sedalem apa dan bagaimana sayangku padanya.’

‘Menurutmu cinta ini telah membelok ke arah yang salah?’
‘Memangnya ada ya arah yang salah dalam cinta? Aneh-aneh aja, kamu. Kamu sendiri bilang cinta itu anugerah.’

‘Kamu sayang ya ma dia?’
‘Nggak.’
‘Kamu sayang kan ma dia?’
‘Sayang dari Hongkong?’
‘Ah, bilang aja iya. Kamu kan selalu lebih memilih dia.’
‘Terserah deh.’

Aku sayang dia nggak ya?
Kalo nggak sayang napa juga suka kepikiran tentang dia di malam-malam hari nan sepi?
Kalo nggak sayang kok suka sms cuman sekedar nanyain gimana kabarnya?

‘Dia sayang kayaknya ama kamu.’
‘Halah! Khayalan ala dongeng tanpa dasar.’
‘Kalo nggak sayang ngapain juga ngabarin kapan mau pulang?’
‘Ah, itu kan cuman biar aku bisa siap-siap bukain pintu depan aja.’
‘Kalo nggak sayang buat apa pamit tiap kali mau pergi jauh?’
‘Ah, paling juga dia mau nitip jagain kamarnya.’
‘Kalo dia nggak sayang kenapa ampe dibelain petak umpet cuman untuk makan malem bareng?’
‘Ah, dia kan emang suka sok sungkan nggak mau ganggu irama hidup orang.’
‘Kalo nggak sayang napain dia repot-repot cariin kamu bika ambon yang dia bahkan nggak tau wujudnya kayak apa? Aku tau dia bukan tipe yang suka bawain oleh-oleh.’
‘Mungkin dia merasa agak utang budi sama aku secara aku beberapa kali membelikan dia sesuatu.’

‘Ini potonya?’
‘Iye.’
‘Cieee..ampe ada dari berbagai sisi gini. Ampyuun.’
‘Apaan? Cuman gitu aja juga.’
‘Eh.. Eh.. Tapi menurutku dia lumayan manis juga.’
‘Halah.’
‘Iya. Cakep-cakep amat si nggak. Cuman manis aja.’

Rasanya sih aku nggak sesayang itu ama dia.
Kalo nggak sesayang itu kenapa harus terasa sedemikian perih mikirin kepergian dia?
Itu sih mungkin karena sifat posesif ku yang kebangetan, termasuk terhadap semua teman-teman yang aku punya.
Terus kalo nggak sayang kenapa lebih memilih dia dibanding orang yang seharusnya kamu pilih?
Mungkin ada saat-saat dimana aku sedemikian kesalnya. Lagian memangnya tahan ya selalu bersama orang yang penuh ironi dan sarkasme tiap saat?
Ada saat-saat aku pengin nonton dvd dengan santai, dengan konsentrasi tapi tetep bercanda, tanpa harus tiap kali menjawab pertanyaan tentang tokoh, jalan cerita, atau terjemahan kata yang diucapkan dalam film. Lebih-lebih bila pertanyaan-pertanyaan itu diulang lagi dan lagi dan lagi, hingga kepalamu terasa mau pecah?
Ok, tapi dia kan juga suka bertanya pada saat-saat aku menonton dvd? Ya, memang. Tapi tidak sebanyak itu dan tidak se-repetitif itu.
Ada saatnya aku ingin tetap bangun hingga jauh malam. Sekedar menonton dvd ato mengerjakan pekerjaan sampingan. Dan ditemani seseorang.
Lho kok jadi rubrik komparasi? Memangnya ponsel bisa dibandingin? Tentu aja nggak. Manusia nggak ada yang sempurna, semua dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing (Bahkan ‘dia’ yang katamu sedemikian membahagiakannya bagiku pun punya banyak kelemahan). Hanya saja ada saat-saat tertentu manusia bisa sedemikian memuakkan dan ‘irritating’-nya hingga kau lupa bahwa kau mencintainya.
Lalu,
kalo nggak sayang ngapain juga ampe bawain dia kunci kamarmu cuman supaya dia bisa nonton dvd saat kamu nggak ada?
Yah, that’s pure out of pity and mercy. Kasihan gitu loh secara dia tivi aja gak punya.’
Kalo gak sayang kenapa terlihat lemas dan muram tiap kali dia jauh darimu?’
‘Siapa bilang gitu? Nggak ada hubungannya sama skali. Emang gw gampang banget jadi gloomy sih.’
‘Kalo gak sayang kenapa begitu cemas saat dia telat pulang 6 jam dari jadwal?’
’6 jam lebih gitu lho! Wajarlah bila khawatir. Aku juga bakal cemas bila itu terjadi padamu, ra, atau temen yang lain.’

Love is blind? Sorry, I totally disagree. Not in this case. Love does make judgements.

Nggak ah. Gw nggak sesayang itu padanya. Dia samasekali nggak muncul dalam benakku ketika airmataku berjatuhan oleh rasa kesepian mendalam. Ya, dia nggak ada.
Bahkan dalam mimpi-mimpiku dia tak pernah muncul. Kecuali sekali, itupun sekedar untuk mengucap selamat tinggal.
Nggak mungkin aku sebegitu sayang padanya. Nggak ada getar-getar aneh, bahkan saat berduaan dengannya di kamar hingga jauh malam. Ataupun saat-saat kami pergi berjalan-jalan berdua, dengan tanpa henti-hentinya berbagi cerita dan keluh kesah. Bahkan dengan begitu banyaknya cerita yang kami telah bagi, posisinya mungkin sedikit mendekati ra yang merupakan teman berbagi banyak hal. Tapi tidak. Posisinya belum sepenting itu bagiku.

Lalu apa semua itu?
Sekedar perhatian atau kepedulian yang berlebih?
Rasa sayang seorang abang kepada adiknya?
Cinta platonik seperti yang selalu kubualkan?
Nafsu atau chemistry biologis semata?
Atau memang rasa sayang yang tak kesampaian?
Apa bener aku sebahagia itu saat dia ada di dekatku? Kata mr. J si gitu. Tapi rasanya biasa aja ah. Mungkin dia memang punya aura seorang badut yang menggelitik orang-orang di dekatnya? Mungkin. Tapi itu aja kan bukan alasan yang kuat untuk mencintainya sedemikian rupa.
Bukan pula aroma tubuhnya yang melekat kuat dalam ingatan.
Bukan kilasan senyum mr. D yang menyusup dalam tawanya.
Bukan! Bukan!
Semua itu nggak ada apa-apanya dibanding kesan kuat mr. J yang telah lebih dulu terpatri di dalam benak, meredefinisi pengertian rumah yang dulunya bagiku adalah pa,ma dan abangku. Tapi kenapa lantas jadi begitu mengganggu? Apa karena kebanyakan disebut-sebut oleh mr.J? Atau terlampau sering aku diskusikan dengan ra?

Tapi apapun itu, rasanya aku nggak berniat untuk mewujudnyatakannya dalam rupa yang lebih dari persahabatan. Rasanya lebih enak begini, jadi teman sharing. Lebih dari ini, belum tentu akan baik-baik saja. Bahkan dalam wujud sekedar persahabatan pun, semakin akrab rasanya justru malah makin rentan terhadap konflik, apalagi lebih dari pertemanan. Tapi memang, yang namanya mengontrol perasaan itu susah. Aku nggak percaya ada orang yang bisa 100% mengontrol perasaanya. Hanya mesin yang bisa begitu. Kita tak kan pernah tau kemana dia akan membawa kita. Yang bisa dilakukan hanya melihat. Biarlah sang waktu membuka tabir rahasianya.

Arghhh! Kayaknya cara paling baik sekarang hanyalah to let it go. Gak mau terlalu mikir lagi. Just wait what will happen next. Semakin dipikir makin pusing sendiri. Padahal masalah ini gak serumit itu. Ya sutralah.

i M s o N i a c

Aku liat jam meja norak berwarna pink di atas tivi, hasil acara kado silang taun baru di kantor, jam 23 lewat 14 menit. Harusnya udah tidur. Besok harus kerja. Toh sekarang nggak ada yang ‘harus’ dikerjain.
Tapi otak rasanya masih enggan untuk beristirahat. Berbagai hal, ide-ide, memenuhi benak, memohon untuk diwujudnyatakan meski hanya dalam sepenggal tulisan. Rasanya udah makin mendekati untuk jadi sebuah kebiasaan baru.
Dulu semasa masih menjadi mahasiswa, biasa tidur malam untuk mengerjakan tugas, maen game di pc atau sekedar nonton film malam yg diputar tv5 perancis. Masuk masa kerja, kebiasaan tidur malam ini sempat hilang sejenak sebelum muncul lagi, biasanya untuk membaca novel-novel dalam bentuk e-books. Lalu kebiasaan itu sempat tenggelam lagi cukup lama akibat perpindahan tempat tinggal yang berujung pada pergantian suasana dan lingkungan. Sikon-nya sangat mendukung untuk berangkat ke peraduan sore-sore : lingkungan yang sunyi, teman-teman tukang tidur. Hehehe. Biasanya jam 10an juga sudah beredar di alam mimpi. :-D . Tapi belakangan ini, justru jam 11an malam baru mulai bermunculan ‘peri-peri nakal’ yang memaksaku untuk menari melewati malam yang makin pekat.
Nggak tau awalnya dari mana. Berkenalan dengan seorang penulis yang ‘keturunan vampir’ (hahaha) sudah pasti bisa dituding sebagai salah satu pemicunya. Lalu? Adanya teman baru di lingkungan tempat tinggal yang suka memecah keheningan dengan tawa ngakaknya di tengah malam syahdu juga bisa sedikit banyak dipersalahkan sebagai faktor pendorong. Tapi itu kan faktor eksternal, pasti ada dong sebab yang berasal dari dalam diri. Mungkin kesadaran dan ketakutan akan waktu yg terus berjalan membuat tak ingin lagi membuang waktu tanpa makna dan sekedar menjalani. Duh, dalem banget omongannya. Hehehe. Nggak tau juga ding. Mungkin juga bukan karena apa-apa. Mungkin memang hanya karena faktor luar di atas. Apapun itu, hidup terlalu indah untuk hanya dihabiskan di alam mimpi saat lelap. Hey, meski aku harus berusaha keras untuk tetap bangun saat bekerja. Hahaha.
Selamat tidur, dunia!

Layang-layang

Maen layang-layang.
Tarik. Ulur.
Tarik. Ulur.
Yah, pokoknya berusaha agar layang-layang selalu terbang tinggi dah (dan gak jatuh). Tentunya juga dengan memperhatikan arah dan kekuatan angin. Tapi gimana kalo anginnya angin ribut? Yang muter-muter, mbulet-mbulet gak karuan gitu?
Aw! Aw! Adududuuh…mbundhet semua dah benangnya!
Gara-gara angin sialan.
Huh!
Kalo dah mbundhet gini kan susah mengurainya. Tapi ya pabolebuat. Mau gak mau kudu mengurai sendiri. Ya iyalah. Mosok angin yang disuruh ngerapiin benang yang mbundhet? Yang ada malah jadi tambah amburadul ntar.
Hahaha.

Mimpi

kep@r@t!
baru berapa hari aku membulatkan tekad untuk mengatakan :
sudah cukup!
malam hari aku malah bermimpi : dia mengirim sms panjang lebar padaku, menceritakan segala uneg-uneg tentang perjalanan dan pekerjaannya sekarang, penuh keluhan-keluhannya yang khas.
dan kenapa, paling tidak dalam mimpi itu, aku tidak juga merasa kesal mendengar segala curahan hatinya itu? bukankah aku sudah putuskan untuk nggak mau lagi terlibat dalam segala aspek hidupnya, nggak mau lagi jadi tempat penampungan sampah-sampah bualan, rengekan dan segala kesahnya?
lalu kenapa aku malah tersenyum-senyum bahagia gitu sewaktu membaca sms-nya (nggak tahu kenapa aku melihat diriku sendiri di mimpi itu sedang bersama seorang temanku-sang penghibur, di satu tempat yang asing yang kayaknya di luar jakarta).
aku malah memamer-mamerkan sms dari si geblek itu ke sang penghibur. sang penghibur hanya tertawa-tawa kalem, khasnya.
nggak ada tokoh lain yang muncul di mimpi yang cenderung monokromatis sepia itu. si brengsek hanya muncul lewat sms, nama si brengsek tergambar jelas di layar handphone, dengan font khas nokia, disertai thumbnail photo id tampang culunnya yang membikin makin kesal. sobat-sobatku yang lain, yang aku merasa dekat pada masa-masa belakangan ini entah kenapa malah nggak muncul.

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.