Tag Archive: pisah


easter holiday 2009

Andi melihat keluar jendela kereta dengan pandangan kosong. Orang-orang, sawah ladang, rumah-rumah berlompatan menjauhi penglihatannya. Dibukanya ponselnya, dicarinya nama ‘Bimo’ dalam daftar pesan masuknya. Nama itu berbaris dari atas ke bawah memenuhi layar ponselnya. Ia membuka pesan terakhir dari Bimo.
“Ati2 ya. Salam buat ayah ibu.”hanya itu yang dikatakan Bimo, entah kenapa Andi membacanya berkali-kali macam orang merapal mantra. Berulang kali jarinya bergerak untuk menekan pilihan ‘reply’, dan sekian kali pula ia mengurungkan niatnya.
“Duh, belum lagi ada 12 jam berpisah kenapa aku udah nggak tahan pengin ngomong ma dia meski sekedar lewat sms.”
Tapi akhirnya hancurlah pertahanannya, jari-jarinya mulai bergerak mengetikkan pesan,”Mas,..” Andi memang selalu menyebut Bimo dengan panggilan ‘mas’ meski usianya lebih tua 2 tahun 8 bulan dibanding Bimo, panggilan yang tak ada hubungannya dengan usia, hanya menunjukkan kecenderungan bagaimana Andi memposisikan diri dalam relasinya dengan Bimo.
“Mas..” hanya 3 huruf itulah yang sanggup diketikkan jari-jari Andi. Menyerah, ditutupnya layar editor pesan singkat dengan terlebih dahulu menekan pilihan ‘save to drafts’.
“Hhhh..”Andi mendesah panjang. Seharusnya ia gembira. Ia akan menghabiskan libur panjang, bertemu kedua orangtuanya, kakaknya, keponakan yang sedang lucu-lucunya. Seharusnya ia merasa senang. Namun benaknya terlampau penuh dengan Bimo hingga rasa senang sepertinya lenyap dalam ketiadaan Bimo di dekatnya.
Ketika kereta akhirnya tiba di kampung halamannya sekitar pukul 5 dini hari, pikirannya tetap tertuju pada Bimo. Tak sabar ia menanti jam segera beranjak ke pukul 8, saat ia tahu Bimo akan masuk kantor dan menyalakan yahoo messenger. Jam 7 pagi kakaknya beserta istri dan anaknya datang. Bermain dengan keponakannya yang lucu membuat angan Andi sejenak terbebas dari bayang Bimo. Tapi sedikit lepas jam 8 seperti ada semacam ‘alarm’ yang mengingatkannya untuk online. Ia pun segera menyambar ponselnya dan menyendiri di kebun belakang rumah, menyalakan yahoo messenger dan login. Yang pertama dilakukannya tentu saja mencari nama Bimo di daftar kontak.
“Hmm, dia belum online..atau paling masih invis. Mending aku off dulu aja deh.”
Tapi belum sempat dia sign out dari messenger sebuah dialog windows muncul, nama Bimo terpampang di atasnya.
>Halo.
>Ya, mas.
>Pagi2 dah OL kamu. Ini liburan tauk. Kok masi OL juga?
>Ya gpp tho. Mang gak boleh?
>Ya kan liburan mustinya abisin waktu ama keluarga. Ini kok malah usreg aja chatting sendiri.
>Hihihi. Biarin. Abis kangen…
>Kangen? Ma sapa?
>Kangen ma mas…hahaha…
Andi terkejut pada dirinya sendiri, entah dari mana dia mendapat keberanian untuk mengatakan itu meski masih dalam suasana bercanda. Bimo agaknya juga terkejut karena ada jeda cukup lama sebelum ia membalas lagi chat itu.
>Halah. Kangen dari hongkong ya?
>Iya. Kangen nih pengen nyaci maki, mukulin, nguyel2 mas. Hehehe…
>Dasar. Kurang ajar kamu. Udah sana maen ma ponakanmu sana. Unyel2 ponakanmu aja.
>Ngga ah. Tar nangis…
>Hah, payah…
Jadilah sepanjang hari itu, nyaris tanpa henti Andi mengobrol secara virtual dengan Bimo.

Menjelang waktu makan malam barulah mereka berpisah.
>Aku off dulu ya, Ndi. Mau pulang. Mam.
>Yawda sana mam dulu. Aku juga mau mam.
Andi kembali dalam kesunyian lepas dari chatting dengan Bimo. Rumahnya kosong kecuali seekor anjing berumur 10 tahun yang terkantuk-kantuk di ruang belakang.

Tapi hari-hari berikutnya Andi tak bisa lagi bercengkrama bersenda gurau bersama ‘mas’-nya melalui messenger karena Bimo juga libur hingga tak memiliki koneksi internet kecuali melalui ponsel. Sayang Bimo bukan tipe yang suka menggunakan mobile internet karena kebetulan operator yang digunakannya menerapkan tarif internet yang cukup mahal. Tapi hal ini tak menghalangi rasa kangen Andi pada Bimo. Maka jadilah sms demi sms terkirim, begitu banyak nyaris tak ubahnya macam dialog via messenger. Banyak di antara sms tersebut hanya berisi gurauan atau bahkan sekedar ‘hahahahihihi’.
Satu siang Andi meng-sms Bimo,
>mas, bisa 3g an gak skrg?
Bimo segera membalas,
>jgn skrg. aq masi di angkot ne. tar 30 menitan lagi mungkin ya
Andi sedikit galau mengetahui Bimo sedang jalan-jalan entah kemana. Sekitar setengah jam kemudian dia mengirim sms lagi.
>gi jjs ya, mas? enaknya….
>ah, cuman ke t4 oom-ku kok. mang ada apa si pake 3g-an sgala?
>aq kangen, mas :D
>halah. gk penting bgt deh
>hihihi. ini cmn mau nunjukin kmeja batik pesenan, mas. mau tanya aja udah cocok apa lum ni?
>oo. bilang kek dari tadi. tp di mms-in aja yah? ngak enak nih lagi banyak org
>yahhhh…..
Andi agak kecewa karena sebetulnya ia ingin sekali bertatap muka dengan ‘mas’-nya meski hanya lewat video call. Walau begitu dengan patuh difotonya juga kemeja-kemeja yang terpampang di rak pamer toko dan dikirimnya hasil jepretannya melalui pesan multimedia.
>tuh. diliat dulu ya, mas. aq binun milih yg mana
>yg bagus mana menurutmu?
>yeee. udah dibilangin aq binun juga. gmn si?
>yah, aq percaya ama pilian kamu. udah deh pokoknya pilihin yg keren ya. yg bikin aq keliatan tmbh ganteng. hehehe
>bweeek. huh, kalo tau gitu mah mending aq td da usa nanya aja. payah ni masnya
>hahaha. ya itu kan cuman alasan kamu aja biar bisa sms kan? :P
>ge er! oya, di sini ada zippo2 murah gitu. 50rb-an. mau gak?
>bagus gak?
>sepintas si lumayan lah. looks like real metal to me. aq kan gk gitu tau juga ttg zippo
>mms-in juga deh
>yeee, awas ya kalo gak jelas lagi!
>hehehe :P
Andi termenung,”Ini mungkin kesempatanku yang terakhir..”

pergi (jangan pergi)

(Lagi postingan tentang ketakutanku ditinggalnya pergi. I just can’t help it. Gw bener2 cemas memikirkan ini. Walo gw tau life goes on dan i will survive meski dia pergi. Tapi pasti, kesedihan dan kehilangan yg mendalam akan bakal kurasa.)

‘Aku bakal pergi.’
‘Hah? Pergi? Ke mana?’
‘Satu tempat yang jauh.’
‘Ke mana? Ke mana?’
(Jantung serasa berhenti berdetak)
‘Ke luar.’
‘Oh.’
……..
‘Kok diem gitu?’
‘Ee. Yah, baguslah buatmu. Kalau memang itu yang kamu inginkan.’
‘Yah, semoga memang begitu. Kamu pasti ‘masih’ bosan kan, mendengar ceritaku bahwa materi bukan segalanya? Ada kepuasan batin dalam hal yang kita lakukan. Dan itulah yang aku cari.’
‘Yah. Aku tahu. Tapi…’
(Jantung bagai jatuh ke jurang tak berdasar. Semakin jauh. Jauh. Jauh. Dalam. Gelap)
‘Kenapa? Kok dari tadi diem gitu sih?’
‘Nggak. Ngak papa kok. Aku yakin kamu bakal berhasil di sana. Semua akan baik-baik aja.’
(Kecuali aku. Hatiku yang remuk redam)
‘Makasih. Makasih untuk segala bantuanmu selama ini. Kamu selalu ngedukung aku.’
‘Ah, itu bukan apa-apa kok. Aku seneng bisa bantu kamu meski cuman dikit dan nggak ngefek. Aku..’
‘Yah, …’
‘Jadi sampai kapan waktuku…ee..maksudku kapan kamu berangkat?’
‘Insya Allah sekitar 3 bulan lagi.’
(Brak! Brak! Brak! Jantung menghantam batu-batu tajam yang menghias dasar jurang dengan kejam)
‘Gitu ya? Cepet sekali…’
‘Iya ya? Rasanya kayak masih lama banget.’

Lagu ‘Paranoid Android’ sebagai penanda ada panggilan masuk berbunyi. Aku terlompat dari tidur yang dalam. Nomor tak dikenal, tapi jelas pengguna layanan Indosat bila dilihat dari awalan nomornya. Hanya sekejap, ringtone tak berbunyi lagi. Aku melihat jam di layar ponsel. Jam 4 pagi lewat 4 menit. Aku lihat call records. Ada beberapa misscalls dari nomor yang sama. Karena tak mengerti nomor siapa dan tak bisa berpikir jernih saking ngantuknya, aku putuskan untuk kembali lelap. Berbaring beberapa menit, ‘Paranoid Android’ terdengar kembali. Sekejap kemudian langsung berhenti, bahkan sebelum aku sempat mendekati ponselku. Tanda ketidakseriusan sang penelpon.
“Dasar orang usil gelo’!’ makiku dalam hati.
Kuraih lagi ponselku. Kuaktifkan software blacklist untuk menghadang telepon usil nan pengecut ini lalu segera berbaring lagi untuk meneruskan tidur. Tapi aku malah sibuk mengingat-ingat apa yang sedang kumimpikan tadi sebelum aku terbangun oleh misscall pengganggu itu.
“Oh, my God!” Baru kuteringat. Tadi aku memimpikan si dia. Dia mengucapkan selamat tinggal! Yang bisa kuingat, aku terpaku macam orang lumpuh, lemas tak berdaya. Ah, jadi kalau dipikir-pikir lagi, misscall keparat tadi itu malah menghentikan mimpi buruk yang membuatku hancur berkeping-keping. Jadi haruskah aku berterimakasih pada si pengganggu?

il partira

so,

where do you go?

anyway, wherever you go, please don’t forget me

eventhough i know i mean nothing to you

quelle tristesse de vivre sans toi

the world might stop turning for me

meme si tu sais pas de cette amitie

du sentiment

qui mourra jamais

j’ai peur a continuer

cette vie

sans toi pres de moi

alors, ami

embrasses-moi

encore une fois seulement

enfin

hello good-bye

Sebuah padang yang indah oleh jalinan warna-warna bunga dan sesemakan. Seorang anak laki-laki kecil berlari riang menerjang rumput-rumput liar, menyanyi mengikuti suara tawa angin di sela dedaunan. Namun sekejap tawa ceria itu terhenti, terhenyak ke arah satu semak yang merunduk sedih. Anak itu berjongkok untuk melihat ada apa di sana.
Sosok tubuh kecil tergeletak lemah, seekor burung mungil berwarna cerah.
‘Ah, burung ! Kenapa tidur di tempat seperti ini?’
Mahluk itu berusaha menggerak-gerakkan sayapnya yang kusut.
‘Jangan beristirahat di sini, burung. Tempat ini berbahaya.’
Si burung hanya menatap anak kecil dengan pasrah. Sayapnya terkepak lemah. Bercak merah menodai bulu-bulunya yang kekuningan.
‘Ah, kamu terluka rupanya. Kasihan sekali kamu, burung kecil.’
Perlahan si anak meletakkan burung di dalam dekapan tangannya. Si burung mengepak-ngepakkan sayap dengan panik, mencicit lemah.
‘Jangan takut, kecil, aku akan merawatmu sampai kamu sembuh.’

Rumah kecil di tepian padang luas itu.
‘Mau kamu apakan burung mati itu?’
‘Burung ini masih hidup, bu. Akan ku rawat dia sampai sayapnya sembuh dan dia bisa terbang lagi.’
‘Memangnya kamu tahu cara memelihara seekor burung, apalagi yang sakit ?’
‘Tidak. Tapi aku akan berusaha sebisaku. Aku yakin kasih sayang akan membimbingku, ibu.’
‘Ya sudah. Terserah kamu saja. Yang jelas ibu nggak akan ikut campur atau membantumu merawatnya.’

Beberapa hari berlalu, ibu terheran-heran melihat burung kuning kecil itu mencericit riang di sangkarnya, mengepak-ngepakkan sayapnya yang rapuh dengan penuh semangat.
‘Nak, sepertinya kamu berhasil merawat burung ini. Dia sudah sembuh agaknya.’
‘Iya, bu.’
‘Saatnya untuk mengembalikannya ke alam bebas.’
‘….’

Tengah-tengah hamparan bunga-bunga biru yang mekar semerbak. Anak kecil memegangi sangkar burung yang diletakkan di atas rumput.
‘Ibu benar. Kamu harus kembali ke tempatmu, ke alam bebas. Tapi kenapa aku merasa berat? Bagaimana bila kau celaka nanti? Bagaimana bila kucing nakal penjaga padang ini menangkapmu? Apa kamu bisa menemukan makan yang cukup untuk bertahan hidup? Bagaimana bila badai salju mendadak menyerang daerah ini?
Aaah, katakan padaku, burung kecil, apakah kau merasa bahagia bersamaku?’
Burung itu tentu saja tidak menjawab pertanyaan si anak. Tatapan kosong namun tajam saja yang dia bisa balik berikan.
Hangat terasa mata dan pipi si anak, air mata meleleh melintas ke bawah sebelum jatuh ke tanah saat dia membuka pintu sangkar burung itu.
‘Pergi! Pergilah, burung kecil! Kembalilah ke tempat seharusnya kau berada.’
Ragu sejenak sebelum melesat keluar dari sangkar, terbang berputar-putar merasai kembalinya kebebasan, lalu hinggap di dahan sebuah pohon tak jauh dari situ.
Terdiam, berpandangan.
Mata anak kecil kembali terasa panas, sengat-sengat perih membuatnya tak kuasa menahan jatuhnya air mata.
‘Ingat-ingatlah, burung kecil, bahwa pernah ada seorang anak yang menyayangimu, begitu sayang hingga dia merelakanmu pergi.’
Si burung masih terpaku, melihat beberapa saat, sebelum terbang dan hilang di balik rerimbunan pohon.
‘Pergilah, hadapi hidup ini dengan tegar.’

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.