‘dealing with grief of loss’ Dang! i felt like i was stabbed right into my heart as i saw a title of a thread in a forum for ‘queer’ folks. ternyata bnyk yg ngalamin gt. not really an homoerotic love, but further beyond than just bestbuddies. is it platonic love? not really sure about the definition. pokoknya satu perasaan dekat yg aneh, susah dijelaskan dg kata2 yg bukan hubungan pacaran sesama jenis tapi juga jauh lebih dalam dari skedar sahabat. ah, binun dah. hehe
Tag Archive: sahabat
dia bilang, dalam dunia persahabatan tak dikenal istilah ‘mantan’. mantan hanya berlaku untuk hubungan pacaran atau suami-istri. lalu bagaimana bila ada 2 orang yang tadinya bersahabat, lalu mengakhiri persahabatan itu, disebut apakah mereka? musuh? apakah orang yang tidak lagi menjalin persahabatan lalu otomatis secara ekstrim menjadi musuh?
ah, tapi itu tak masalah. rasanya topik ini hanyalah alasan baginya. dia risih dengan persahatan kami, tapi di lain pihak dia enggan untuk mengakhirinya. dia tak ingin terlalu banyak kehadiranku dalam hidupnya, namun juga tak ingin kami berpisah sama sekali untuk selamanya. kami tak bersahabat lagi, tapi juga tak saling membenci. kukira hanya libra yang plinplan. aku salah besar.
If you wanna be my friend
You want us to get along
Please do not expect me to
Wrap it up and keep it there
The observation I am doing could
Easily be understood
As cynical demeanour
But one of us misread…
And what do you know
It happened again
A friend is not a means
You utilize to get somewhere
Somehow I didn’t notice
friendship is an end
What do you know
It happened again
How come no-one told me
All throughout history
The loneliest people
Were the ones who always spoke the truth
The ones who made a difference
By withstanding the indifference
I guess it’s up to me now
Should I take that risk or just smile?
What do you know
It happened again
What do you know
(‘Misread’ by Kings of Convenience)
‘A friend is not a means
You utilize to get somewhere
Somehow I didn’t notice
friendship is an end’
Yah, menurutku si betul banget. Temen tu bukan satu alat untuk mencapai satu tujuan. Aku si gak pernah temenan karena ingin dapet ‘sesuatu’, baik fisik/materi maupun abstrak (ilmu, pemikiran, ide, dll, dsb). Temenan ya temenan aja. Asal orangnya ngga rese, nyambung diajak omong udah deh. Masalah beda prinsip sih masi bisa lah di kompromikan. Tapi aku liat sendiri di sekitarku, kebanyakan orang menjalin relasi memang karena ada maunya, entah secara material atau bukan. Jadi begitu ngga merasa dapet apa-apa dari si temen ini ya udah buang aja, lupain seakan-akan ngga kenal. Dan yang seperti ini banyaknya sih justru dari orang-orang yang berlagak sok profesional dan cenderung ambisius. Aku inget keluh kesah temenku, Rina, tentang teman kami (atau mantan teman kami) si Putri yang begitu telah pindah kerja, lebih sukses lagi dan (yang penting) sepertinya udah nggak butuh apa-apa lagi dari kami jadi berlagak seperti orang asing aja. Di telpon, di sms apalagi cuman di ym…wah gak ada yang dibales deh… Aku sendiri udah ngerasa ini sejak lama sebelum Rina mengeluhkannya. Kalo ada perlunya aja si Putri mau menghubungi. Tanya ini lah, itu lah. Kalo nggak ya boro-boro dah mau kontak. Kita berusaha kontak aja gak dibales. Banyak contoh lain. Beberapa malah lebih menyedihkan secara orang-orang itu masih ada dekat di sekitar kita, masih sering bertemu atau kontak fisik. Namun keliatan jelas lah orang-orang yang memang bener-bener ‘efisien’ en ‘profesional’ itu : nggak mau rugi sama sekali! Sedikit di antaranya jadi makin menyebalkan karena melibatkan emosi yang lebih mendalam (contoh paling gampang si mas-e. Hiksssss).
Lagi-lagi aku inget omongan cintaku tentang ‘menjadi tempat sampah’. Bener banget kamu, say. Emang orang-orang itu kayak gitu. Matre. Bukan sekedar matre dalam arti mata duitan. Tapi matre dalam artian maunya dibantu, diberi saran, masukan, dll, dsb. Tapi begitu kita yang perlu bantuan mereka langsung ngacir ato lepas tangan, dengan entengnya bilang : wah kalo soal itu aku nggak bisa bantu..ato aku nggak berani komen…
Bukannya aku nggak ikhlas membantu. Oh, aku sih selama masih bisa membantu sapa aja dengan apa aja yang aku bisa lakuin si ayo aja (apalagi sama mas-e..huhuhuh..dasar cinta buta…hahaha), terhadap teman-teman yang ‘sibuk’ mengejar tujuan hidup masing-masing, begitu sibuknya mungkin sampe bener-bener cuman fokus ama dirinya sendiri.
Ah, ya sutralah, cintaku. Memang manusia itu macem-macem, seperti kamu sering bilang. Beberapa memang ‘nyebelin’ in their own way, tapi toh teman yang baik juga gak kurang. Miam, temenku, mungkin salah satu contoh yang mendekati sempurna, yang meski udah berkeluarga tak pernah melupakan orang-orang lain di sekitarnya. Ato bahkan Rina yang keliatan jutek dan egois di luarnya tapi toh lebih peka dibanding beberapa temen lain yang sering mengagung-agungkan idealisme dan inspirasinya sendiri. Ya ya, kami memang bukan siapa-siapa. Nggak kaya, nggak pinter, nggak inspiratif atao apalah. Tapi toh hidup tetap berjalan tanpa relasi dengan orang-orang yang aslinya super ego tapi ngaku-ngaku idealis, super profesional en ambisius menggapai tujuan ampe gak punya waktu sedikit pun buat toleh-toleh liat hidup yang berjalan di sekitarnya.
Merasa rugi? Yah, sejujurnya pasti ada rasa itu. Rasa ‘habis manis sepah dibuang’. Boong kalo bilang gak ada dendam sama sekali. Tapi lagi dan lagi : ya, sutralah…. Satu-satunya yang bisa kami lakukan hanya tersenyum mengenang masa lalu yang sepertinya penuh persahabatan indah (walau beberapa terbukti ternyata semu belaka) dan merelakannya berlalu.
aaargh!
Ternyata nggak gampang ya mengurangi frekuensi dan kuantitas komunikasi. Apalagi untuk orang nggak tegaan kayak gw.
Meski telah merasa aman tersembunyi, saat sore menjelang, panggilan-panggilannya lewat dunia virtual muncul di layar ponsel. Tak tega aku membiarkannya berbalas sunyi. Walau dengan sedikit kesal pada keyakinannya bahwa tiap kata yang dia lontarkan padaku pasti akan dibalas, jari-jariku toh tetap mengetikkan jawaban demi jawaban. Kata-kata dan komentar. Hanyut dalam pembicaraan dangkal tak tentu arah.
Tak tahu apa dia menikmati obrolan macam ini. Aku sendiri sudah bosan, walau tetap saja dengan tololnya terus meladeni. Oh, kumohon. Saat-saat begini aku terpikir bahwa sifat nggak tegaanku adalah satu kutukan yg diturunkan dari nyokap. Nggak tahu napa masih juga kumasukkan kata-katanya yang mengeluhkan betapa lelahnya dia, betapa tak enaknya badannya yang katanya sakit itu ke dalam telingaku yg sebenarnya sudah menolak untuk mencerna hal-hal macam itu.
Toh apa peduliku akan hal itu? Apa urusanku?
Suaranya yang terdengar serak dan berat dan napasnya yang berbunyi-bunyi aneh itu memang sempat membangkitkan rasa iba. Tapi sekali lagi, apa urusanku?
Oh, God! Aku terdengar seperti seorang ego mania yang sama sekali nggak mau mikirin orang lain. Ini sama sekali bukan aku. Tentu saja aku peduli bahwa dia sedang sakit, capek. Aku nggak bisa bohong tentang itu. Tapi lagi dan lagi, apa urusanku? Salahkah bila aku bertanya begitu? Perlukah aku sekhawatir itu pada seorang teman? Atau malah aku kurang menunjukkan perhatian dan belas kasih? Masih pantaskah aku mengaku-ngaku sebagai sahabatnya?
Aaarghh!
Sebuah ngobrol-ngobrol ngalor ngidul di satu cafe yang lumayan cozy (dan yang penting ada wifi gratisan, hehehe) di bilangan Tebet membuatku berpikir (lagi) tentang persahabatan. Kalo udah ngomongin ini hampir pasti secara nyaris otomatis pikiranku melayang ke orang-orang yang secara fisik berada di dekatku. Mulai dari tempat tinggal dengan the three musketeers-nya maupun di tempat kerja dengan duo wekwek-nya.
The 3 musketeers ini sebut aja terdiri dari a, b, dan c.
Si a terlihat paling stabil dan netral, meski kadang mengarah ke kurang berperasaan saking ‘lurus’nya dia. Tapi di balik sikapnya yang terlihat agak kaku dan menjaga jarak itu kau bisa merasakan bahwa dia memiliki satu kepedulian pada teman-temannya. Tipe ini sepertinya paling enak untuk dijadikan teman yang walopun terlihat nggak begitu dekat tapi masih ada perhatian. Model hubungan dengannya bisa dibilang seperti ‘brothers with equal ranks’. Hubungan ini juga lebih menyenangkan untuk dijalani karena relatif kecil tingkat kerawanan konfliknya.
Si b sepertinya terlihat paling perhatian menjurus ke bawel. Dia bisa melimpahimu dengan kasih sayang yang besar bila dia juga merasa diperhatikan. Sebaliknya bila dia merasa terpinggirkan sedikit saja dia akan menarik diri atau bahkan ‘menyerang’. Bila merasa tersaingi kedudukannya dalam suatu hubungan, dia suka memakai cara-cara yang cenderung demonstratif. Relasi dengannya hampir selalu emosional, dan begitu mudahnya berubah-ubah seturut suasana hati. Hubungan macam ini yang cenderung seperti ‘violent lovers’ paling susah untuk dijaga karena sangat rentan terhadap konflik.
Si c ini memiliki sedikit kemiripan dengan si b. Dia juga suka diperhatikan dan didengar. Namun dia tidak suka menunjukkan kebutuhannya itu dengan merajuk atau cara apapun yang terlalu terlihat. Bila merasa terpinggir dia lebih memilih menghilang atau menyepi secara diam-diam. Dia lebih suka berkomunikasi dengan ‘kode-kode’ kepada orang yang dia tuju daripada menyatakan langsung, terutama bila berada di keramaian orang-orang yang dikenal. Baru bila berdua saja dia berani mengutarakan apa yang dimaksud. Tipe relasi dengannya agak-agak mengarah ke ‘your kid brother’ alias serasa dengan adik laki-lakimu yang meski pada intinya suka diperhatikan dan disayang dia gengsi menunjukkan itu. Lebih parahnya, sebagai adik, dia tidak terlalu merasa terbeban untuk memberikan timbal balik karena cenderung menganggap abangnya cukup mampu untuk berdiri sendiri. Hubungan dengannya tidak terlalu emosional walau kadang sedikit membuat jengkel melihat rendahnya kepedulian dia pada masalah temannya. Meski dia juga masih mau berbagi/mendengar permasalahan dengan teman, namun dia lebih sering lepas tangan atau lebih parah lagi kabur melarikan diri.
Di tempat kerja ada d dan e dengan karakternya sendiri.
Si d juga bawel dan sangat perhatian kepada semua teman. Kadang terlalu mementingkan orang lain hingga malah merugikan dirinya sendiri. namun bila sedang sibuk atau stress berat, dia bisa berubah sama sekali menjadi ‘ganas’ atau paling tidak cuek.
Si e juga sepertinya cukup perhatian. Namun jelas terlihat egoisme-nya jauh lebih besar. Tipe yang sama sekali nggak mau repot apalagi ambil resiko meski untuk temannya. Dia sendiri suka bertingkah manja pada orang-orang di sekitarnya.
Nah, itulah beberapa orang yang kini dekat denganku. Minimal secara jarak fisik. Laen kali mungkin bakal disambung dengan orang-orang laen yang secara fisik jauh tapi tetap dekat di hati. Kalo inget.
Aku tahu kamu samasekali nggak percaya tentang hal ini
aku sendiri pun nggak percaya
aku tahu kami memang banyak
berbicara
bercengkrama
curhat
pacaran
apapun deh istilah yang mau kamu pake
tapi tentang ‘janji-janji’ itu, kebetulan-kebetulan yg menarik itu
itu semua terjadi begitu adanya
tanpa maksud atau prasangka
toh aku sendiri pun tidak percaya ada apa-apa di antara kami
(bukannya mau ngotot menunjukkan bahwa hati kami saling bertaut)
ya, tak ada apa-apa
sekedar saling pengertian mungkin
pengertian yang didapat dari berbagi lewat tukar kata
seperti sudah kubilang : kami memang banyak berbicara
sedikit banyak pengertian pun muncul di antara kami
sedikit aneh memang mengingat hubungan kami yang macam angin berubah-ubah arah dan kecepatan selalu
kamu mungkin jadi berpikir kedekatan kami sedemikian eratnya hingga kami seperti bisa saling berbicara tanpa kata-kata
salah besar
aku tetap merasa asing dan jauh darinya sebagaimanapun kami saling membaca benak masing-masing
(ku masih juga tertohok tiap kali dia menunjukkan betapa dia mengerti jalanku berpikir)
bagaimanapun dia akan tetap jadi orang asing
Aku dan dia
i know i should be prepared for your leave
It can be anytime
All so sudden
Because you always keep your mouth shut of it
Yes, i know
I’ve got no rights to know about it
Just like every other nights
You left like a ghost at the sparkle of dawn
What do you think of me?
Bye-bye
Enigmatic.
Kata itu pernah terucap pada seorang sahabat tersayang (hihihi).
Tapi memang kalau dipikir-pikir lagi, bukankah kebanyakan manusia memang seperti itu.
Membingungkan bagai teka-teki.
Seperti sahabatku itu, yang bahkan tidak tahu apa warna favoritnya sendiri. Hahaha (Oops, sorry, darling).
Seperti juga aku sendiri, yang hingga kini pun belum tahu pasti apa yang sebenarnya ingin aku lakukan dalam hidup ini, tidak yakin siapa sebenarnya yang aku cintai, ragu akan membeli handphone apalagi kali ini dan banyak lagi ketidakpastian lainnya.
Pathetic. Tapi memang begitu kenyataannya.
Dengan mengetahui kenyataan seperti itu, entah kenapa aku masih juga suka gamang dalam menghadapi berbagai tipe orang yang membawa teka-tekinya masing-masing.
Seperti temanku yang satu lagi, yang entah kenapa akhir-akhir ini sering merasuk ke dalam benakku (mungkin karena saking bingungnya aku menghadapi teka-teki yang dia sodorkan padaku). Bila diandaikan suatu puzzle yang terberai, yang satu ini mungkin bisa dibayangkan seperti puzzle yang terdiri dari ratusan ribu potongan gambar, berantakan kacau balau, masih untung bila tak ada potongan gambar yang hilang. Di satu sisi dia layaknya stereotip seorang pria pada umumnya : tidak begitu ekspresif, tidak emosional (minimal secara kasat mata), seakan acuh tak acuh dalam menghadapi berbagai masalah (kalau mau lebih bernada lebih positif mungkin bisa disebut berlagak ‘cool’ terhadap apapun yang menghadang). Yah, pokoknya bila kau perhatikan dia dan segala tingkah lakunya sepertinya akan melihat kecenderungan yang datar-datar aja. Variasi ekspresi mukanya sebatas senyum samar, senyum lebar, terbahak-bahak dan tampang ngantuk. Tapi itu pada situasi publik alias ramai (yah, minimal 3-4 orang-lah, hihihi). Pada tataran yang lebih pribadi, seperti antara 2 orang misalnya, baru muncul sisi-sisi lain yang lebih gelap : ada rasa murung, sedih, kecewa, marah, frustasi, kebingungan. ‘Gloominess’ ini memang hanya muncul secara amat sangat jarang sekali (Waduh! Berlebihan! Hehehe), itupun, seperti sudah disebut, hanya pada momen-momen yang cenderung privat.Aku sempat terkejut dan bingung ketika pertama kali menemukan sisi-sisi gelap temanku yang satu ini. Baru dari saat itu aku mulai berpikir bahwa manusia itu bukan seperti lukisan yang terpajang di dinding yang hanya dilihat dari satu sisi. Selama ini aku selalu mengira (dengan naifnya) bahwa aku sudah cukup mengenal teman-temanku, bahwa apa yang aku persepsikan tentang mereka itu adalah mereka yang sesungguhnya.
Di balik tawanya yang nyaring itu ada kemurungan. Sifat cerah ceria dipakai untuk menutupi keremangan dalam hati. Di luar seperti batu karang yang tak tersentuh, kuat kokoh, di dalam ada sejuta kegelisahan yang ingin dicurahkan dan dibagi.
Membingungkan, sekaligus begitu indah. Begitu cantik Tuhan menciptakan manusia dengan segala rahasia di dalamnya.
Jadi, kumohon dengan rendah hati kepada sahabat-sahabatku yang kusayangi (i really mean it, darlings), maafkan bila aku terkesan suka memberi penilaian atau membuat persepsi tentang kalian secara dangkal. Couldn’t help it. But next time, I promise I’ll try to be more careful and deliberate in that, paling tidak kalo pas aku ingat. Hahaha.
PS : Btw ada satu teman lagi yang tak kalah anehnya. Tapi untuk menceritakannya di sini, aku terus terang nggak berani. Takut ada sendal melayang nanti. Hahaha. Mungkin teman-teman juga beberapa sudah bisa menebak siapa orangnya. Orang ini juga di satu sisi mirip dengan persona yang sudah aku ceritakan di atas : punya sisi-sisi yang bertentangan atau bahkan berkebalikan, tapi kali ini bahkan lebih ‘seram’ karena ada kecenderungan untuk ‘meledak’ secara tiba-tiba. Tapi bagaimanapun, memang 2 orang ini ( yang di ‘sini’ dan yang di ‘atas’) sebenarnya memiliki cukup banyak kemiripan meski aku yakin sekali mereka berdua tak akan sudi untuk mengakuinya. Wakakak.
Nah.
Lagi.
Dia berbicara tentang teman.
Tentang persahabatan.
Tentang ‘what friends are for’.
Tentang berbagi masalah dengan teman.
Hmmm…
Nggak ada yang salah ya di sini?
Wowowowow…
Tunggu dulu…
Nggak tau deh
Mungkin memang benar
Himpitan permasalahan bisa membuka
Paling tidak untuk beberapa orang
That’s what friends are for
Dia ngomong tentang berbicara dengan teman
Satu topik yang baru aja aku cerca di posting sebelumnya
Aku tau aku salah
Tak semudah itu untuk berbicara
Untuk berbagi
Butuh kebesaran hati untuk melakukannya
Apalagi untuk mengatakan sejujurnya
Dan mendengarkan tanpa prasangka
(And so he’s leaving)
(Bye-bye)
